Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Cerita Tentang Keluarga

Cerita Tentang Keluarga

Mereka mulai membuka kisah kehidupan masing-masing.

Hujan bulan November mengguyur kaca jendela Kedai Kopi Selasar tanpa ampun, menyisakan jejak lelehan air yang memburamkan pendar lampu jalanan kota tua. Di sudut ruangan bernuansa kayu jati itu, aroma seduhan biji kopi arabika berpadu dengan wangi khas tanah basah yang terbawa angin malam. Raka duduk bersandar pada kursi rotan, jemarinya yang liat mengetuk-ngetuk cangkir porselen putih yang tinggal menyisakan ampas pekat di dasarnya. Matanya menatap kosong ke arah deretan rintik air, sementara Alya yang duduk tepat di hadapannya sibuk menyeka butiran air hujan dari ujung rambut ikalnya dengan saputangan biru muda.

"Kamu selalu begini kalau hujan turun, Ka," ujar Alya seraya melipat saputangannya perlahan. Suaranya lembut namun menyimpan nada selidik yang khas. "Tatapannya melayang entah ke mana. Seakan ada jurang tak berdasar yang sedang kamu pandangi di luar sana. Ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?"

Raka menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis—senyuman getir yang sangat dipahami Alya sebagai perisai pertahanan yang dipasang. "Tidak ada yang kusembunyikan, Al. Hanya sedikit lelah saja setelah lembur dua hari berturut-turut di kantor proyek."

"Bohong," sanggah Alya cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan meja marmer bundar. Manik matanya yang kecokelatan mengunci pandangan pemuda itu. "Dua bulan kita bekerja berdampingan, aku sudah hafal luar kepala kapan kamu bicara jujur dan kapan kamu sedang membangun dinding benteng tebal untuk mengusir orang."

"Aku tidak sedang membangun benteng apa pun," balas Raka seraya mengangkat alis. "Kenapa kamu selalu merasa harus menganalisis setiap gerak-gerikku?"

"Karena kamu menarik untuk dianalisis, dan karena aku peduli padamu," timpal Alya jujur, membuat Raka sempat tertegun sesaat. "Kamu selalu tahu kapan aku sedang gugup menghadapi klien, kapan aku belum makan siang, tapi giliran tentang dirimu sendiri, kamu bungkam seribu bahasa seolah duniaku tak boleh menyentuh duniamu."

Raka mendengus pelan, menundukkan kepalanya sejenak sembari mengaduk sendok kecil di cangkirnya yang kosong. "Hidupku tidak semenarik itu untuk dibahas, Al. Hanya rangkaian rutinitas biasa yang membosankan dan kelabu."

"Biar aku yang menilai apakah itu membosankan atau tidak," potong Alya seraya tersenyum menggoda. Gadis itu lalu meraih tas kanvasnya untuk mengambil dompet kecil. "Malam ini kita punya banyak waktu luang sampai badai reda."

Namun, gerakan sikunya yang tergesa justru menyenggol tumpukan buku catatan bersampul kulit hitam milik Raka di pinggir meja. Buku tebal itu meluncur jatuh ke lantai papan ubin, mengeluarkan bunyi debuk tumpul sebelum terbuka tepat di halaman belakang. Selembar foto bertepi gerigi yang warnanya sudah menguning terlempar keluar, mendarat tepat di dekat ujung sepatu kulit Alya.

"Astaga, maaf! Biar kuambilkan sekarang," kata Alya seraya membungkuk.

"Jangan, biar aku saja!" seru Raka panik dengan nada refleks yang meninggi dan terdengar cemas.

Namun tangan Alya sudah lebih dahulu memungut foto tersebut. Pandangannya langsung terpaku pada sosok yang tercetak di sana: seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis rahang kokoh yang sangat mirip dengan Raka, berdiri gagah di depan gerbang rumah tua bercat putih. Di pergelangan tangan kiri pria itu melingkar sebuah jam tangan perak berukir lambang elang kembar yang begitu khas.

Napas Alya tercekat seketika. "Ini... apakah ini ayahmu, Ka?"

Raka terdiam mematung, tangannya terkulai lemas di atas pangkuan. "Iya. Itu foto terakhir ayahku sebelum beliau pergi meninggalkan kami dua belas tahun yang lalu tanpa kabar berita."

Alya menelan ludah dengan susah payah, jemarinya gemetar memegang tepi foto itu. "Jam tangan perak berukir elang kembar ini... dari mana ayahmu mendapatkannya, Raka?"

"Itu plakat kenang-kenangan kehormatan dari konsorsium lama tempatnya bekerja," jawab Raka lirih, matanya menatap iris Alya dengan keheranan mendalam. "Kenapa wajahmu pucat sekali, Al? Apa arti jam tangan itu bagimu?"

Alya menggigit bibirnya, menatap foto itu dengan perasaan campur aduk sebelum meletakkannya perlahan ke atas meja marmer. "Karena jam tangan itu hanya dibuat lima buah di dunia untuk para pendiri yayasan konsorsium. Kakekku memiliki satu di lemari besi ruang kerjanya. Raka... apakah keluarga kita sebenarnya saling mengenal di masa lalu?"

Raka terhenyak mendengar pertanyaan itu. Keheningan merayap turun di antara mereka, diiringi dentang jam dinding kuno yang berdetik pelan, membuka tabir rahasia yang selama ini terkunci rapat.

°˖✧✿✧˖°

Raka menatap foto ayahnya dengan tatapan nanar, lalu jemarinya yang hangat perlahan menyentuh permukaan foto itu seolah hendak menyapu debu kenangan yang menempel di sana.

"Mungkin ini saatnya aku berhenti menutup diri darimu," bisik Raka, suaranya parau menembus desau angin basah. "Ibuku selalu berpesan agar aku tidak pernah mengungkit nama Ayah di hadapan siapa pun di kota ini. Namun melihatmu malam ini, rasanya beban ini terlalu mencekik jika terus kupikul sendirian dalam kegelapan yang menyiksa batinku."

Alya menggeser duduknya lebih rapat ke meja. "Keluargaku sendiri bukan tempat yang hangat untuk dibanggakan, Raka. Jika kamu bersedia membaginya, aku berjanji akan mendengarkan setiap kalimatmu tanpa prasangka apa pun."

"Ayahku bernama Baskara Suryanegara," tutur Raka pelan, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Dulu beliau adalah kepala arsitek di firma rancang bangun swasta terkemuka. Kehidupan kami sangat bahagia sampai petaka tahun 2014 tiba. Suatu hari, firma tempatnya bernaung dituduh melakukan manipulasi spesifikasi dan penggelapan dana proyek jembatan antarprovinsi. Semua dokumen persetujuan ditandatangani memakai stempel Ayah, padahal malam itu Ayah sedang mendampingi ibuku yang dirawat di rumah sakit."

"Apakah ayahmu sengaja dikorbankan oleh orang-orang di atasnya?" tanya Alya terkesiap, dadanya mendadak sesak oleh firasat ganjil.

"Tepat sekali, Al," sahut Raka dengan rahang mengeras. "Ayah dijadikan kambing hitam oleh dewan komisaris konsorsium tersebut. Ketika surat penangkapan terbit, Ayah terpaksa menghilang tanpa jejak demi melindungi ibu dan aku dari kejaran aparat suruhan yang bengis. Kami kehilangan segalanya dalam semalam—rumah disita paksa, tabungan dibekukan, dan nama keluarga kami dicap sebagai penipu ulung di setiap surat kabar."

"Tuhan... itu pasti mimpi buruk yang menyiksa untukmu yang masih remaja saat itu," bisik Alya haru, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata membayangkan penderitaan pemuda di depannya.

"Yang paling menyakitkan bukan kemiskinan mendadak itu, Al," lanjut Raka seraya menatap Alya lekat-lekat. "Melainkan melihat ibuku harus banting tulang mencuci pakaian tetangga sampai jarinya melepuh, sembari setiap malam menangis di sudut dapur memeluk jaket tua Ayah. Aku tumbuh besar dengan rasa bersalah yang amat pekat karena tak mampu berbuat apa-apa. Sejak malam pemakaman Ibu tiga tahun lalu, aku bersumpah dalam hati akan mencari dalang di balik kehancuran nama baik ayahku."

Lihat selengkapnya