Mimpi-Mimpi Alya
Raka Mengetahui Cita-cita dan Harapan Alya
Awan kelabu mengumpul pekat di atas atap perpustakaan tua Kampus Nusantara, menghembuskan aroma tanah basah dan desir angin sore yang kian dingin. Raka mempercepat langkah kakinya menyusuri selasar kayu yang berderit perlahan. Di sudut gazebo berukir limasan yang tertutup rimbun daun anyelir gantung, langkah pemuda itu mendadak terhenti.
Sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat tua tergeletak kesepian di atas bangku kayu manis. Lembar-lembar kertas di dalamnya berkibar dipermainkan angin gerimis.
"Buku milik siapa yang tertinggal di tempat sepi ini?" bisik Raka pada dirinya sendiri sambil menoleh ke sekeliling halaman. "Apakah ada mahasiswa yang lupa membawanya pulang?"
"Kenapa tidak disimpan di dalam tas saja?" pikirnya heran.
Tak ada satu orang pun di sana. Raka melangkah mendekat, lalu memungut buku itu agar tidak basah. Ketika ia merapatkan sampulnya, sebuah lembaran kertas tebal terlepas dan jatuh meluncur tepat di atas sepatu ketsnya.
Raka membungkuk dan mengambil lembaran bergambar itu. Matanya seketika terpaku menatap detail lukisan di atas kertas tersebut.
Di atas kertas sketsa tebal itu, terlukis sebuah bangunan megah bergaya tropis modern lengkap dengan panggung terbuka di tepi danau, dikelilingi anak-anak yang memegang instrumen musik tradisional dan biola. Di pojok kanan bawah, tertulis goresan tinta rapi bertuliskan: *Konservatori Senja: Rumah Musik Anak Negeri — Alya Rahmani*.
"Alya Rahmani?" gumam Raka, napasnya tertahan sejenak. "Apakah ini benar-benar buatan Alya?"
Hatinya berdesir hebat. Selama dua tahun mengenal Alya sebagai mahasiswi akuntansi yang tenang, pendiam, dan selalu duduk menyendiri di barisan belakang kelas, Raka tidak pernah membayangkan gadis itu menyimpan bakat melukis dan impian seluas ini.
"Apakah ini benar-benar karya tangan Alya sendiri?" tanyanya dalam hati dengan rasa kagum yang merayap cepat. "Kenapa dia tidak pernah bercerita pada siapa pun di kampus?"
Raka memberanikan diri membuka halaman berikutnya dari jurnal itu. Tulisan tangan Alya terlihat sangat halus namun tegas:
*'Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku menghitung angka-angka milik orang lain. Aku bermimpi membangun ruang bagi anak-anak jalanan untuk mengenal nada dan harapan, tempat di mana musik menjadi bahasa kebebasan mereka.'*
"Raka! Apa yang sedang kamu lakukan di sana?!"
Suara melengking bergetar memecah kesunyian gerimis. Raka tersentak kaget dan menoleh seketika. Alya berdiri lima langkah di depan gazebo dengan payung transparan yang gemetar dalam genggamannya. Wajah gadis itu tampak pucat pasi, matanya melebarkan rasa terkejut dan ketakutan yang luar biasa.
"Alya! Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengintip!" ucap Raka panik sambil buru-buru menutup buku tersebut. "Buku ini tertinggal di bangku kayu, dan lembaran sketsamu terlepas karena tiupan angin."
"Jangan baca buku itu!" teriak Alya dengan nada memohon yang emosional. Langkahnya tergesa-gesa mendekati Raka. "Kembalikan padaku, Raka! Tolong kembalikan sekarang juga!"
"Aku sungguh tidak bermaksud lancang, Alya," sahut Raka lembut, berusaha menenangkan raut cemas di wajah gadis di hadapannya. "Aku hanya merapikan kertas yang jatuh ini."
Alya merebut jurnal itu dari tangan Raka dengan jemari yang bergetar hebat. Dada gadis itu berombak naik turun seiring napasnya yang memburu.
"Kamu sudah melihat dan membaca semuanya, kan?" tanya Alya pelan, matanya menatap Raka dengan tatapan defensif. "Katakan padaku, apa saja yang sudah kamu baca?"
"Aku hanya melihat lukisan bangunan konservatori dan membaca satu paragraf tentang impianmu mendirikan rumah musik," jawab Raka jujur tanpa bermaksud menutupi. "Apakah itu cita-cita yang selama ini kamu sembunyikan, Alya?"
"Bukan urusanmu, Raka!" pangkas Alya cepat dengan mata berkaca-kaca. "Lupakan apa yang kamu lihat hari ini! Anggap saja kamu tidak pernah menemukan buku ini dan tidak pernah mengenal mimpiku!"
"Tapi kenapa harus dilupakan?" desak Raka prihatin. "Impianmu itu sangat indah dan bermakna, Alya! Kenapa kamu harus takut jika orang lain mengetahuinya?"
°˖✧✿✧˖°
Raka menatap lekat pancaran mata Alya yang berkaca-kaca di bawah naungan atap gazebo. Hujan gerimis kini berubah menjadi guratan air yang mengalir deras, menciptakan tirai transparan di antara mereka dan dunia luar.
"Kenapa kamu harus begitu takut dan defensif, Alya?" tanya Raka memecah keheningan yang kaku. "Sketsa yang kamu buat itu sangat luar biasa. Gagasanmu tentang rumah musik anak negeri itu adalah hal indah yang jarang dipikirkan orang lain."
"Indah?" Alya tertawa getir, senyum pahit mengukir bibirnya yang pucat. "Bagi orang asing seperti kamu mungkin itu terlihat indah, Raka. Tapi bagi keluargaku, itu adalah sebuah penyimpangan besar yang tidak diampuni."
"Maksudmu penyimpangan besar?" piker Raka semakin penasaran. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memastikan suaranya terdengar lembut di antara deru hujan. "Apakah keluarga melarangmu bermimpi?"
"Ayahku menuntutku menjadi akuntan publik atau konsultan keuangan perusahaan besar," ungkap Alya dengan suara yang nyaris tenggelam oleh guruh. "Di keluarga Rahmani, seni dianggap sebagai jurang kegagalan. Musik dianggap hanya hobi sampah yang membuang waktu dan biaya."
"Tapi bakatmu bukan sekadar hobi membuang waktu, Alya," potong Raka tegas. "Aku melihat jiwa dan ketulusan di dalam lukisan serta tulisan tulisanmu. Kamu tidak akan bisa membohongi nuranimu sendiri selamanya."
"Lalu aku harus bagaimana, Raka?" tanya Alya lirih, matanya berkaca-kaca. "Apakah aku harus melawan ayahku sendiri? Aku tidak punya keberanian sebesar itu."
"Bukan melawan secara kasar, tapi menunjukkan bukti nyata," sahut Raka mantap. "Kamu punya bakat luar biasa."
Alya menatap Raka dengan raut tidak percaya. Kehangatan dan kejujuran dalam nada bicara pemuda itu perlahan meruntuhkan benteng pertahanan kaku yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
"Kamu benar-benar berpikir bahwa impianku ini bernilai, Ka?" tanya Alya lirih, ketegangan di bahunya mulai mengendur. "Kamu tidak sedang berpura-pura mengasihaniku, kan?"
"Aku bersumpah demi apa pun yang aku miliki, aku tidak mengasihanimu," balas Raka bersungguh-sungguh. "Selama dua tahun ini aku sering melihatmu melamun menatap jauh ke luar jendela kelas saat kuliah Ekonomi Mikro. Sekarang aku paham apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam pikiranmu."
"Aku selalu merasa terasing dan kesepian di kelas itu, Raka," aku Alya pelan. "Setiap kali melihat angka di papan tulis, jiwaku menangis."
Alya perlahan duduk di tepi bangku kayu gazebo. Ia mengusap sampul kulit jurnalnya dengan penuh kasih sayang.
"Sejak kecil aku selalu menyelinap ke studio musik tua milik paman di desa," cerita Alya. "Di sana aku belajar menekan tuts piano dan mengoleskan cat air. Aku bermimpi agar anak-anak kurang beruntung bisa merasakan keajaiban seni tanpa harus bersembunyi ketakutan seperti aku."
"Itu cita-cita yang sangat mulia dan langka, Alya," sahut Raka sambil ikut duduk di ujung bangku lain. "Lalu kenapa kamu memilih menyembunyikannya rapat-rapat dari semua teman-teman di kampus?"
"Karena dunia ini sangat kejam pada pemimpi yang tidak punya daya, Raka," bisik Alya pelan dengan nada sedih. "Jika ayahku tahu buku catatan ini ada, dia akan memusnahkan dan membakarnya tanpa ragu sedikit pun."
"Apakah ayahmu sekeras itu?" tanya Raka keputusasaan.
"Jauh lebih keras dari yang bisa kamu bayangkan, Raka," jawab Alya pilu. "Dia tidak pernah mau mendengar alasan apa pun dari bibirku."
°˖✧✿✧˖°
Tekanan di dalam dada Alya seolah memuncak mencapai batasnya. Dengan jemari yang gemetar, ia merogoh saku dalam tas kainnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem berstempel emas yang tampak sangat resmi. Ia menyodorkan amplop itu ke hadapan Raka.
"Buka dan bacalah isinya," ujar Alya pelan dengan nada pasrah. "Agar kamu tahu betapa dekat dan jauhnya mimpiku ini."
Raka menerima amplop tersebut, lalu membuka lipatan kertas resmi berstempel *Vienna Conservatory of Music & Arts*. Matanya membelalak lebar membaca baris-baris kalimat di dalamnya.
"Ini... surat konfirmasi kelulusan tahap awal beasiswa internasional?" seru Raka tak percaya. "Alya, kamu berhasil lolos seleksi awal berkas dan portofolio awal di Wina! Ini prestasi yang sangat luar biasa!"
"Ya, aku memang lolos," jawab Alya dengan helaan napas berat. "Tapi batas akhir pengiriman berkas fisik lengkap dan rekaman video audisi final adalah tiga hari dari sekarang."