Lelaki yang Mulai Berharap
Raka mulai membayangkan masa depan bersama Alya.
Aroma kopi arabika bercampur bau hujan basah menyusup lembut di antara cangkir-cangkir keramik yang bersandar di atas meja kayu kedai kecil itu. Raka menggenggam cangkirnya dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir ke jemarinya yang dingin. Di seberang meja, Alya sedang merapikan lembar-lembar sketsa dengan ketelitian yang selalu membuat Raka terkagum. Helai rambut Alya jatuh bebas melingkupi pipinya, membiarkan jemari Raka meremas ujung kemejanya sendiri karena menahan dorongan untuk menyisirkannya.
"Kamu selalu menatapku seolah aku ini lukisan setengah jadi yang rumit," bisik Alya tanpa mendongak, ujung bibirnya terangkat membentuk ukiran senyum tipis.
Raka tertawa pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. "Bukan lukisan rumit, Al. Tapi karya seni yang selalu punya kejutan di setiap goresan kuasnya."
"Gombalanmu makin tidak bermutu dari hari ke hari," jawab Alya seraya meletakkan pensil gambarnya di atas meja.
Wanita itu lalu merogoh tas kanvas cokelatnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil bersalut logam perak dengan gantungan berbentuk daun maple kering. Ia menggeser benda itu perlahan melewati permukaan meja menuju arah Raka. Raka menatap benda itu dengan dahi berkerut halus.
"Ini kunci studio baru yang kemarin kukontrak di kawasan Dago," kata Alya pelan, matanya menatap Raka dengan binar hangat yang jarang terpancar sebelumnya. "Aku ingin kamu memegang kunci duplikatnya."
Raka terpaku sejenak. "Kamu serius, Al? Ini kan ruang pribadi tempat kamu melahirkan karya-karyamu."
"Justru karena itu," sela Alya cepat, tatapannya mengunci mata Raka tanpa ragu. "Aku tidak ingin melukis masa depanku sendirian lagi. Kunci itu tanda bahwa kamu berhak masuk kapan pun kamu mau."
Kata-kata Alya merambat seperti aliran listrik hangat yang menembus dada Raka. Di dalam lipatan kunci itu, terselip sepucuk kertas kecil bergaris biru bertuliskan tangan Alya yang rapi: 'Untuk lelaki yang mengajariku kembali percaya pada esok hari.'
"Al... kamu tahu apa artinya ini buat aku?" suara Raka serak, tertahan di tenggorokan oleh gelombang emosi yang mendadak membuncah.
Alya tersenyum menyipitkan mata. "Artinya aku memberimu izin untuk mulai membayangkan hal-hal gila yang dulu takut kita bicarakan."
"Seperti... sarapan bersama di hari Minggu tanpa harus buru-buru pulang?" tanya Raka dengan napas bergetar bahagia.
"Atau memilih warna cat tembok rumah yang tidak bikin kita bertengkar," timpal Alya tertawa manis.
"Aku serius, Alya. Aku mulai membayangkan bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan menemukan wajahmu adalah hal pertama yang kukenali," tegas Raka dengan pandangan membara penuh keyakinan.
Alya mengangguk perlahan, meremas jemari Raka yang berada di atas meja. "Aku juga mulai berharap, Raka. Jangan biarkan mimpi ini patah di tengah jalan."
Di tengah gemericik air hujan yang membasahi kaca jendela kedai, dada Raka bergemuruh hebat. Harapan yang selama ini terkunci rapat di balik benteng ketakutan akibat kegagalan masa lalu, kini terbuka lebar-lebar. Lelaki itu kini berani memimpikan sebuah esok yang nyata bersama Alya.
°˖✧✿✧˖°
Mobil sedan tua milik Raka melaju pelan membelah jalan berliku menuju daerah bukit berbatu di pinggiran kota Bandung. Kabut tipis menyelimuti pepohonan pinus, memberikan nuansa magis pada sore yang sejuk. Alya menatap keluar jendela dengan binar penasaran yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kita sebenarnya mau ke mana, Ka? Kamu seperti sedang membawa rahasia besar," tanya Alya seraya menoleh pada Raka yang sibuk mengendalikan kemudi.
Raka tersenyum misterius tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan beraspal basah. "Sebentar lagi sampai. Ini hadiah kecil untuk langkah baru kita."
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan pagar besi tua yang berkarat namun kokoh. Di balik pagar itu, berdiri sebuah rumah gaya kolonial beratap tinggi dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput liar dan pohon kamboja tua.
"Rumah siapa ini?" gumam Alya terpana sewaktu mereka melangkah keluar dari mobil.
"Rumah kita... kalau kamu setuju," jawab Raka mantap seraya merangkul bahu Alya lembut. "Aku sudah berdiskusi dengan pemiliknya kemarin. Bangunan ini punya pencahayaan alami yang sempurna untuk studiomu."
Alya menahan napas, matanya berembun menatap jendela-jendela kayu berukuran besar di lantai dua. "Raka... ini terlalu indah. Tapi bukankah harganya sangat mahal?"
"Aku sudah menabung sejak dua tahun lalu, Al. Aku menjual saham kecilku di galeri lama," terang Raka jujur tanpa beban. "Tempat ini akan jadi hunian kita, sekaligus ruang pameran karya lukismu."
"Kamu merencanakan semua ini sendirian tanpa memberitahuku?" selidik Alya dengan nada haru yang campur aduk.
"Aku ingin memberimu kepastian, Alya," sahut Raka serius, mengikis jarak di antara mereka. "Aku ingin kamu tahu bahwa impianmu tidak akan berdiri sendirian di udara."
"Terima kasih, Ka... Aku tidak pernah merasa dihargai sejauh ini oleh seorang lelaki," bisik Alya sambil menyandarkan kepalanya di dada Raka.
°˖✧✿✧˖°
Kegembiraan sore itu di rumah bukit mendadak suram ketika malam tiba dan mereka kembali ke studio Alya. Sebuah amplop cokelat tebal berstempel maskapai internasional tergeletak di atas meja kerja Alya. Raka yang tak sengaja merapikan tumpukan kertas melihat nama lembaga seni ternama di Paris tertera di amplop tersebut.
"Al, ini amplop apa?" tanya Raka dengan nada suara yang perlahan berubah berat.
Alya tertegun di ambang pintu dapur dengan dua cangkir teh hangat di tangannya. Langkahnya mendadak kaku sejenak sebelum mendekati Raka. "Itu... surat balasan aplikasi residensi seni dua tahun lalu."