Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Pujian yang Membuat Salah Tingkah

Pujian yang Membuat Salah Tingkah

Alya memuji Raka dan membuatnya semakin percaya diri.

Aroma kopi hitam dingin bercampur bau lem akrilik menguar samar di udara studio arsitektur lantai tiga yang remang. Di luar, guyuran hujan deras menghantam kaca jendela bertingkat, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek keraguan mendalam di dalam dada Raka. Cowok berkaus hitam itu mengusap wajahnya yang lelah dengan kedua telapak tangan. Matanya yang sembap menatap lekat-lekat pada miniatur maket galeri seni modern yang berdiri ganjil di atas meja kayu panjang.

"Kenapa garis proporsi atap ini terasa sekaku ini, ya?" bisik Raka pada dirinya sendiri. Suaranya yang serak hampir tenggelam dalam deru angin di luar.

Raka meraih pensil 2B yang sudah tumpul, jemarinya bergetar pelan saat mencoba memperbaiki arsir siluet pada kertas kalkir di samping maket. Setiap kali ia menambahkan garis baru, rasa tidak puas justru semakin merayapi pikirannya. Di matanya, karya ini masih jauh dari kata sempurna. Ia merasa konsep desain buatannya terlalu biasa, kurang berani, dan sama sekali tidak memiliki keunikan visual yang bisa memikat dewan juri pameran nasional besok pagi.

"Mungkin aku memang tidak berbakat untuk proyek sepadat ini," gumam Raka seraya menghela napas panjang dan berulang kali meremas kertas kalkir tersebut hingga membentuk bola kecil yang padat. Dengan perasaan gusar dan putus asa, ia melemparnya asal ke arah tempat sampah di sudut ruangan.

Namun lemparan itu meleset dari sasaran dan jatuh tepat di dekat sepasang sepatu kets putih yang bersih dan rapi.

"Kalau diremas dan dibuang seperti itu, kertasnya tidak bisa membela keindahannya sendiri, Ka," ucap sebuah suara lembut dan jernih yang sangat familiar di telinga Raka.

Raka tersentak kaget. Kepala cowok itu mendongak secara refleks. Di hadapannya, Alya berdiri anggun sambil mendekap bundel kertas kerja dan sebuah termos kecil berisi teh herbal hangat. Gadis itu mengenakan kardigan rajut warna krem yang sedikit basah di bagian bahunya akibat percikan air hujan di lorong kampus.

"Alya? Kamu belum pulang jam segini?" tanya Raka gagap. Jemarinya buru-burung merapikan penggaris besi dan pisau pemotong di meja agar tidak terlihat berantakan.

"Bagaimana aku bisa tenang pulang kalau temanku masih mengurung diri di studio sepi ini pada jam tujuh malam?" Alya tersenyum manis. Gadis itu membungkuk anggun, memungut bola kertas kalkir yang tadi dilempar Raka, lalu membukanya perlahan-lahan dengan kehati-hatian yang luar biasa seolah memegang barang berharga.

"Jangan dilihat, Al! Itu cuma draf sampah. Aku salah menghitung skala pencahayaan di bagian atrium utama," kata Raka cepat. Wajahnya mulai terasa panas karena malu.

Alya tidak mengabaikan larangan Raka begitu saja. Gadis berambut sebahunya itu justru meratakan kembali lipatan kertas kalkir di atas meja kayu, lalu memiringkan kepalanya untuk mengamati setiap garis pensil buatan Raka dengan cermat dan seksama. Matanya yang jernih berbinar pelan menyusuri tiap detail sudut yang tergambar di sana.

"Kamu bilang gambar secantik ini sampah?" Alya menatap Raka dengan dahi berkerut heran. "Kamu sedang bergurau, ya?"

"Aku serius, Al," jawab Raka seraya menundukkan kepala, enggan menatap mata Alya. "Komposisi atap lengkung itu terlalu ekstrem. Lalu pencahayaan alaminya pasti bakal memantul tidak beraturan kalau dihitung memakai rumus simulasi standar. Aku berencana merombaknya total dari awal malam ini."

"Kamu salah besar, Raka," tegas Alya pelan namun penuh keyakinan. Gadis itu menarik kursi kayu di sebelah Raka lalu duduk mendekat. "Coba kamu perhatikan garis ini baik-baik. Lengkungan atap ini bukan kesalahan hitung. Ini justru bentuk kejeniusan visual yang sangat berani dan segar!"

Raka menengadah dengan raut bingung. "Kejeniusan? Jangan menghiburku hanya karena kamu kasihan padaku, Al."

"Aku tidak pernah memuji seseorang hanya karena kasihan, Ka. Kamu tahu betul watakku," jawab Alya mantap seraya menatap lurus mata Raka. "Pola celah atap yang kamu buat ini akan membiarkan sinar matahari jatuh membentuk bayangan abstrak yang hidup di lantai atrium pada jam dua siang. Itu bukan kebetulan teknis, tapi sentuhan rasa seni yang tinggi. Tidak ada mahasiswa lain di kelas kita yang terpikir membuat ruang yang bernapas lega seperti ini!"

Kata-kata Alya bergema di dalam ruangan studio yang sunyi. Raka terpaku seketika. Tenggorokannya terasa mendadak kering saat menyadari betapa dekatnya posisi duduk Alya sekarang, hingga aroma harum samar lavender dari pakaian gadis itu tercium jelas olehnya.

°˖✧✿✧˖°

Pujian jujur dari Alya menghantam dada Raka seperti gelombang hangat yang meluap tiba-tiba. Cowok yang biasanya selalu tenang, dingin, dan teratur dalam bertindak itu mendadak kehilangan kontrol atas koordinasi tubuhnya sendiri. Jemarinya yang bermaksud meraih gelas kopi dingin justru menyenggol penggaris besi panjang di tepi meja.

*Klantang!*

Penggaris besi itu jatuh berdentang nyaring ke lantai semen studio, memecah kesunyian malam dengan suara keras yang mengejutkan mereka berdua.

"A-aduh, maafkan aku! Aku teledor sekali," kata Raka terburu-buru. Ia refleks membungkuk untuk mengambil penggaris tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan, Alya juga membungkuk untuk membantu memungutnya.

Dahi mereka hampir saja berbenturan di bawah meja kayu. Raka bisa melihat dengan sangat jelas sepasang mata cokelat jernih milik Alya yang menatapnya dari jarak hanya beberapa sentimeter saja. Wajah Alya terlihat begitu dekat hingga helaan nafas gadis itu terasa lembut menyentuh pipinya. Sensasi hangat mendadak menjalar cepat dari leher hingga membakar kedua telinga Raka. Raka dengan cepat menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh permukaan besi membara.

"Kamu kenapa, Ka? Kok wajahmu mendadak memerah begitu dan kelihatan sangat gugup?" tanya Alya sambil terkikik manis saat ia kembali berdiri tegak dan meletakkan penggaris besi itu di atas meja.

"Nggak... aku tidak apa-apa. Aku cuma kaget saja," jawab Raka dengan suara yang agak serak dan patah-patah. Cowok itu berusaha keras menutupi wajahnya yang kini memerah padam dengan berpura-pura sibuk memeriksa sambungan lem akrilik pada dinding maketnya. "Kamu serius tadi tidak sekadar menyenangkan hatiku saja?"

Alya menghela napas halus dengan raut penuh ketulusan. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua telapak tangan seraya menatap Raka dari samping. Senyum tipis mengembang manis di bibirnya yang kemerahan.

"Raka, dengarkan aku baik-baik ya," kata Alya lembut namun penuh kesungguhan yang tak tergoyahkan. "Sejak awal semester satu, aku selalu memperhatikan cara kerjamu di laboratorium maupun studio. Kamu itu sangat teliti, punya kepekaan visual tentang ruang yang jarang dimiliki orang lain, dan detail karya maketmu selalu rapi luar biasa. Masalahmu cuma satu: kamu terlalu keras membandingkan dirimu dengan orang lain sampai tidak sadar betapa hebatnya bakat alamimu sendiri."

Dada Raka berdesir hebat mendengar pengakuan Alya. Setiap kata pujian yang keluar dari mulut gadis itu terasa bagaikan sengatan listrik bertegangan rendah yang membuat detak jantungnya berdegup tak beraturan. Ia meremas pinggiran meja kayu, mencoba mencari tumpuan agar tidak kelihatan goyah di hadapan gadis yang selama ini secara diam-diam mengisi relung hatinya.

"Tapi... hasil render digital tiga dimensi milik Bayu kelihatan jauh lebih megah dan mewah dari maketku, Al," cicit Raka, masih berusaha mempertahankan sikap rendah diri yang sudah menjadi perisai perlindungannya selama bertahun-tahun.

"Kemegahan visual belum tentu memiliki kedalaman jiwa dan rasa, Raka," potong Alya cepat tanpa ragu sedikit pun. "Karyamu punya cerita dan kehangatan. Dan jujur saja dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu kagum setiap kali memperhatikanmu menggambar."

°˖✧✿✧˖°

Keheningan yang sarat akan rasa canggung di antara mereka mendadak terpecah ketika pintu kayu studio didorong kasar dari luar. Suara langkah sepatu yang berat berkumandang menggelegar di lorong. Bayu, mahasiswa berprestasi yang dikenal sangat percaya diri dan selalu merasa paling unggul, melangkah masuk seraya mengibaskan jaketnya yang sedikit basah.

"Wah, wah, ternyata masih ada pasangan setia yang nongkrong di studio malam-malam begini," celetuk Bayu dengan nada menyindir yang khas. Ia membawa laptop canggih di bawah ketiaknya dan berjalan menghampiri meja kerja Raka.

Lihat selengkapnya