Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Cemburu Pertama

Cemburu Pertama

Raka melihat Alya berbicara akrab dengan lelaki lain.

Sore itu, halaman kampus mulai dipenuhi mahasiswa yang baru saja menyelesaikan perkuliahan. Matahari menggantung rendah di ufuk barat, menyisakan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan.

Raka berjalan keluar dari gedung fakultas sambil membawa beberapa buku di tangan. Hari itu sebenarnya ia ingin segera pulang. Sejak pagi, pikirannya dipenuhi tugas kuliah, presentasi kelompok, dan pesan dari ibunya yang mengingatkan agar ia tidak terlalu sering tidur larut malam.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya.

Alya.

Gadis itu berdiri di dekat taman kampus, tepat di bawah pohon ketapang yang rindang. Ia mengenakan gamis berwarna biru muda dengan hijab putih sederhana. Wajahnya tampak cerah, dan senyum yang terukir di bibirnya terlihat begitu lepas.

Di hadapan Alya, berdiri seorang lelaki yang tidak pernah Raka lihat sebelumnya.

Lelaki itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Rambutnya tertata rapi, dan di tangannya terdapat sebuah map berwarna hitam. Sesekali ia tertawa, lalu Alya ikut tertawa menanggapi sesuatu yang dikatakannya.

Raka memperlambat langkah.

Awalnya ia tidak merasa ada yang aneh. Alya memang dikenal ramah kepada siapa saja. Ia mudah tersenyum, senang membantu teman, dan tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan kedekatan.

Tetapi entah mengapa, melihat Alya berbicara seakrab itu dengan lelaki lain membuat langkah Raka terasa berat.

Ia berhenti beberapa meter dari taman.

“Raka!”

Suara itu membuatnya menoleh.

Fardhan, teman sekelasnya, datang sambil menenteng tas. “Dari mana? Aku cari dari tadi.”

“Dari kelas.”

“Pulang sekarang?”

Raka tidak langsung menjawab. Matanya kembali mengarah ke taman.

Fardhan mengikuti pandangannya.

“Oh,” katanya pelan. “Alya.”

Raka mengangguk singkat.

“Yang sama dia itu siapa?”

“Mana aku tahu.”

“Lho, bukannya kalian dekat?”

Raka mengerutkan kening. “Dekat bagaimana?”

Fardhan tertawa kecil. “Jangan pura-pura. Hampir setiap hari aku lihat kalian bareng. Makan bareng, belajar bareng, kadang pulang juga bareng.”

Raka tidak menjawab.

Di taman, lelaki itu menyerahkan sesuatu kepada Alya. Sebuah buku yang dibungkus sampul cokelat. Alya menerimanya dengan kedua tangan, lalu tersenyum.

“Terima kasih, ya. Aku memang sedang mencari buku ini.”

Raka tidak mendengar kalimat itu dengan jelas. Jarak mereka terlalu jauh. Namun, ia melihat Alya tersenyum kepada lelaki tersebut, dan senyum itu terasa berbeda dari biasanya.

Atau mungkin hanya perasaannya sendiri.

“Rak, kenapa bengong?”

“Enggak.”

“Kalau enggak, kenapa wajahmu seperti habis lihat nilai ujian?”

Raka menghela napas. “Aku mau ke kantin dulu.”

“Bukannya mau pulang?”

“Batal.”

Fardhan mengangkat bahu. “Ya sudah, aku ikut.”

Raka melangkah menuju kantin, tetapi baru beberapa langkah, ia menoleh lagi. Alya masih berbicara dengan lelaki itu.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Bukan marah. Bukan pula kecewa.

Lebih seperti perasaan asing yang perlahan tumbuh, mengusik ketenangan yang selama ini ia miliki.

Di kantin, Raka duduk di bangku pojok. Fardhan memesan dua gelas es teh dan sepiring gorengan. Namun, Raka hanya menatap meja.

“Rak, kamu kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

“Dari tadi jawabannya itu terus.”

Raka mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Alya.

Raka: Kamu masih di kampus?

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Alya: Iya. Kenapa?

Raka menatap layar.

Raka: Enggak. Cuma nanya.

Alya: Kamu sudah pulang?

Raka melirik ke arah pintu kantin.

Raka: Belum.

Alya: Aku mungkin pulang agak sore. Ada urusan sebentar.

Raka mengetik sesuatu, lalu menghapusnya.

Ia ingin bertanya, urusan apa?

Bersama siapa?

Lelaki tadi?

Namun, semua pertanyaan itu terasa terlalu berlebihan. Mereka bukan pasangan. Mereka hanya dua orang yang semakin dekat, dua sahabat yang sering berbagi cerita, dan dua hati yang belum pernah mengucapkan perasaan masing-masing.

Raka akhirnya hanya membalas:

Raka: Oke. Hati-hati.

Ia meletakkan ponselnya di meja.

Fardhan menatapnya dengan senyum penuh arti.

“Rak.”

“Apa?”

“Kamu cemburu?”

Raka langsung mengangkat wajah.

“Cemburu apaan?”

Fardhan tertawa.

“Belum jadi siapa-siapa sudah mulai begitu.”

Raka diam.

Kalimat itu sederhana, tetapi justru terasa seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju perasaan yang selama ini ia sembunyikan.

Belum jadi siapa-siapa.

Benar.

Lalu, mengapa ia merasa tidak nyaman melihat Alya bersama lelaki lain?

°˖✧✿✧˖°

Malamnya, Raka duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang sejuk. Lampu taman menyala redup. Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan sesekali melintas.

Di atas meja terdapat buku yang belum selesai dibaca. Namun, sejak satu jam lalu, tidak satu pun halaman berhasil ia pahami.

Pikirannya kembali pada kejadian sore tadi.

Alya.

Lelaki berkemeja putih.

Buku bersampul cokelat.

Senyum yang terlihat begitu akrab.

Raka mengusap wajahnya.

“Kenapa aku jadi begini?” gumamnya.

Ia mengambil ponsel, membuka media sosial, lalu melihat unggahan Alya. Gadis itu mengunggah foto langit sore dari taman kampus. Tidak ada foto lelaki tadi. Tidak ada keterangan yang aneh.

Hanya tulisan sederhana:

Hari yang panjang, tapi menyenangkan.

Raka menatap tulisan itu cukup lama.

Menyenangkan.

Apa yang menyenangkan?

Bertemu lelaki itu?

Ia segera menggeleng.

“Raka, kamu sudah gila.”

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Alya.

Alya: Kamu belum tidur?

Raka tersenyum tipis. Entah mengapa, pesan sederhana itu membuat dadanya terasa lebih ringan.

Raka: Belum. Kamu?

Alya: Belum juga. Lagi baca buku.

Raka: Buku yang tadi?

Alya membalas beberapa detik kemudian.

Alya: Iya. Kamu lihat, ya?

Raka terdiam.

Ia tidak menyangka Alya menyadari kehadirannya.

Raka: Kebetulan lewat.

Alya: Harusnya panggil aku.

Raka: Kamu lagi sibuk.

Alya: Enggak sibuk, kok. Tadi cuma ngobrol sama Kak Dimas.

Nama itu muncul di layar.

Dimas.

Raka mengingat wajah lelaki tadi.

Raka: Oh.

Alya: Dia senior di jurusan aku. Tadi dia ngasih buku referensi buat tugas. Aku sudah cari di perpustakaan, tapi enggak ketemu.

Raka membaca pesan itu berulang kali.

Senior.

Buku referensi.

Tugas.

Semuanya terdengar masuk akal.

Namun, rasa tidak nyaman di dalam dirinya belum sepenuhnya hilang.

Alya: Kamu kenapa?

Raka: Kenapa?

Alya: Jawabanmu pendek-pendek.

Raka menghela napas.

Raka: Capek aja.

Alya: Kalau capek, istirahat. Jangan terlalu banyak mikir.

Raka tersenyum kecil.

Andai Alya tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Andai ia tahu bahwa sejak sore tadi, ada sesuatu yang berubah dalam diri Raka.

Ia ingin bertanya lebih banyak tentang Dimas. Ingin tahu seberapa dekat hubungan mereka. Ingin tahu apakah Alya sering berbicara dengannya. Namun, ia takut pertanyaannya justru akan terdengar seperti tuntutan.

Akhirnya, Raka hanya membalas:

Raka: Iya. Kamu juga istirahat.

Alya: Selamat malam, Raka.

Raka: Selamat malam, Alya.

Percakapan berakhir.

Tetapi Raka masih menatap layar ponselnya.

Selamat malam, Alya.

Dua kata yang biasanya membuatnya tersenyum.

Malam itu, dua kata tersebut justru membuatnya semakin sadar bahwa perasaannya kepada Alya telah berkembang jauh lebih dalam daripada yang ia akui.

Keesokan harinya, Raka datang ke kampus lebih pagi dari biasanya. Ia berharap bisa bertemu Alya sebelum perkuliahan dimulai.

Ketika tiba di kelas, Alya belum datang.

Raka duduk di kursinya, membuka buku, dan mencoba bersikap biasa.

Tidak lama kemudian, Nayla masuk bersama Bariha Zhafira. Mereka menyapa Raka, lalu duduk di bangku depan.

“Raka, kamu lihat Alya?” tanya Nayla.

“Belum.”

“Katanya tadi ada urusan di perpustakaan.”

Raka mengangguk.

Bariha memperhatikan wajahnya. “Kamu kenapa?”

“Kenapa semua orang nanya begitu?”

Nayla tertawa. “Karena wajahmu kelihatan seperti orang yang kurang tidur.”

“Aku memang kurang tidur.”

“Pasti mikirin sesuatu.”

“Enggak.”

Nayla menatap Bariha, lalu keduanya saling tersenyum.

Raka tahu mereka sedang menyembunyikan sesuatu.

“Apa?” tanyanya.

“Enggak ada,” jawab Nayla.

Beberapa menit kemudian, Alya muncul di pintu kelas.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Alya tersenyum, lalu berjalan menuju tempat duduknya. Ketika melewati Raka, ia berhenti.

“Pagi.”

“Pagi.”

“Kamu sudah sarapan?”

“Sudah.”

“Bohong,” kata Alya sambil tertawa kecil. “Wajahmu seperti belum makan.”

Raka tersenyum. “Nanti aku makan.”

Alya menggeleng. “Jangan lupa.”

Kemudian ia duduk.

Raka menatap punggungnya sejenak.

Ia ingin mengajak Alya bicara tentang Dimas. Namun, sebelum sempat membuka percakapan, dosen masuk ke kelas.

Pelajaran dimulai.

Tetapi pikiran Raka tidak sepenuhnya berada di sana.

°˖✧✿✧˖°

Hari-hari berikutnya, Raka mulai menyadari bahwa rasa cemburu itu bukan sesuatu yang mudah dihilangkan.

Setiap kali Alya menerima pesan, ia tanpa sadar melirik layar ponsel gadis itu. Setiap kali Alya berbicara dengan lelaki lain, ia merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya.

Ia tahu sikap itu tidak baik.

Alya berhak memiliki teman.

Alya berhak berbicara dengan siapa saja.

Alya berhak menjalani hidupnya tanpa harus menjelaskan setiap langkah kepada Raka.

Namun, pengetahuan itu tidak selalu mampu mengalahkan perasaan.

Suatu siang, Raka dan Alya duduk di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas kelompok. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja panjang yang dipenuhi buku.

Alya sedang membaca sebuah artikel ketika ponselnya bergetar.

Ia melihat layar, lalu tersenyum.

Raka berusaha tetap fokus pada laptopnya.

“Kenapa?” tanyanya tanpa mengangkat wajah.

“Enggak apa-apa.”

“Dari siapa?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Alya menatapnya.

“Dari Kak Dimas.”

Raka berhenti mengetik.

“Oh.”

“Dia nanya soal buku.”

“Buku lagi?”

Alya mengangguk. “Iya. Dia mau pinjam buku yang kemarin.”

Raka menghela napas.

“Memangnya enggak bisa lewat orang lain?”

Alya mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Raka baru sadar bahwa nada suaranya terdengar berbeda.

“Enggak. Cuma nanya.”

Alya menutup bukunya.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu kenapa akhir-akhir ini?”

“Kenapa?”

“Kamu sering aneh.”

Raka menatap layar laptopnya.

“Aneh bagaimana?”

“Kadang kamu diam. Kadang seperti mau ngomong sesuatu, tapi enggak jadi. Terus kalau aku cerita tentang orang lain, kamu langsung berubah.”

Raka tidak menjawab.

Alya menunggu.

“Kalau ada masalah, bilang.”

“Enggak ada masalah.”

“Raka.”

Nada suara Alya lebih lembut.

Justru itu yang membuat Raka semakin sulit menyembunyikan perasaannya.

Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak suka melihat Alya terlalu dekat dengan lelaki lain. Ingin mengatakan bahwa setiap senyum Alya kepada orang lain membuat hatinya terasa tidak tenang.

Namun, ia juga takut.

Takut Alya menganggapnya berlebihan.

Takut hubungan mereka berubah.

Takut setelah semua yang mereka lalui, Alya justru memilih menjauh.

“Aku cuma capek,” katanya akhirnya.

Alya menghela napas.

“Kalau memang capek, jangan dipaksakan.”

Raka mengangguk.

Mereka kembali mengerjakan tugas.

Tetapi suasana di antara mereka telah berubah.

Biasanya, perpustakaan dipenuhi percakapan kecil. Alya sering bercerita tentang keluarganya, tentang dosen yang lucu, atau tentang makanan yang ingin ia coba. Raka selalu mendengarkan, sesekali menimpali dengan candaan.

Hari itu, semuanya terasa kaku.

Raka tahu ia telah membuat Alya tidak nyaman.

Namun, ia tidak tahu bagaimana memperbaikinya.

Sore harinya, mereka berjalan keluar dari perpustakaan. Di depan gedung, Alya menerima telepon.

“Halo, Kak Dimas?”

Raka yang berada di sampingnya langsung diam.

Alya berbicara beberapa saat, lalu mengangguk.

“Iya, nanti aku kirim.”

Setelah menutup telepon, Alya melihat Raka.

“Kamu mau langsung pulang?”

“Iya.”

Lihat selengkapnya