Aku Tak Suka Melihatmu Dengannya
Raka mulai menyadari rasa cemburunya.
Lampu gantung berbahan tembaga mengayun pelan di langit-langit kafe, memantulkan cahaya kekuningan yang temaram di atas permukaan meja kayu. Aroma biji kopi yang sangrai bercampur dengan wangi tanah basah sisa hujan sore itu. Di pojok ruangan, suara gemericik mesin pembuat espresso beradu dengan denting sendok yang menyentuh cangkir keramik.
Raka duduk menyandar di kursi kulit hitam, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berkala. Pandangannya tak pernah lepas dari pintu masuk kafe yang terbuat dari kaca tebal. Setiap kali genta kecil di atas pintu berdenting, dadanya berdesir pelan, hanya untuk kecewa saat melihat orang asing yang melangkah masuk.
"Kamu sudah nunggu lama, Ka?"
Suara lembut itu memecah lamunan Raka. Ia menengadah dan menemukan Alya berdiri di samping mejanya. Perempuan itu mengenakan sweater rajut berwarna krem yang agak kebesaran, menyisipkan beberapa helai rambut hitamnya ke belakang telinga. Senyum tipis mengembang di bibirnya, namun ada yang berbeda kali ini. Alya tidak datang sendirian.
Di belakang Alya, seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja flanel biru gelap melangkah maju. Tangannya membawa dua cangkir kopi dalam nampan kayu kecil. Pria itu memberikan senyuman ramah yang justru membuat rahang Raka mengeras secara reflek.
"Sori ya kalau bikin kamu nunggu," lanjut Alya seraya duduk di kursi depan Raka. "Jalanan macet banget habis hujan tadi."
"Nggak apa-apa. Aku baru sampai sepuluh menit lalu," jawab Raka dengan nada suara yang sengaja ditahan datar. Matanya melirik pria di sebelah Alya yang kini ikut duduk dengan santai.
"Kenalin, Ka. Ini Dion, teman seproyekku yang baru," kata Alya sambil menunjuk pria di sampingnya. "Dion, ini Raka."
Dion mengulurkan tangannya dengan percaya diri. "Dion. Alya sering cerita soal kamu."
Raka menerima uluran tangan itu, menjabatnya dengan genggaman yang sedikit lebih erat dari biasanya. "Raka."
"Dion tadi kebetulan lewat kampus, jadi sekalian aku tebeng ke sini. Daripada naik ojek hujan-hujan, kan?" ujar Alya polos tanpa menyadari ketegangan kecil yang mulai merayap di antara dua pria di mejanya.
"Oh, begitu," sahut Raka pendek. Matanya memperhatikan bagaimana Dion dengan alami meletakkan cangkir capuchino di depan Alya.
"Ini buat kamu, Al. Kurang gula seperti biasa, kan?" kata Dion halus.
"Wah, makasih banyak ya, Yon. Kamu paham banget," balas Alya sambil tersenyum lebar.
Raka mengepalkan tangannya di bawah meja. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menghimpit dadanya. Rasa panas yang asing merambat dari perut hingga ke lehernya. Ia membuang muka ke arah jendela luar, memperhatikan tetesan air hujan yang mengalir di kaca, berusaha menekan perasaan aneh yang mulai menguasai pikirannya.
"Kamu pesan apa, Ka? Mau aku pesankan minum lagi?" tanya Alya melihat cangkir Raka yang sudah dingin.
"Nggak usah. Ini masih ada," jawab Raka singkat. Ia menatap Alya lurus-lurus, berharap perempuan itu menangkap sinyal ketidaksukaannya, namun Alya justru sibuk mendengarkan Dion yang mulai bercerita tentang pekerjaan mereka.
"Jadi proyek renovasi perpustakaan itu ternyata ada masalah di struktur atapnya, Al," kata Dion dengan nada bersemangat. Tangannya bergerak menjelaskan. "Aku pikir kita harus merombak ulang gambarnya malam ini."
"Serius? Padahal tenggat waktunya lusa," sahut Alya dengan wajah cemas. Ia mendaki pandangannya ke arah Dion, mengabaikan keberadaan Raka sejenak.
"Tenang aja, kan ada aku. Nanti malam aku bantu kamu selesaikan di studio," balas Dion mengedipkan mata tipis.
Raka meletakkan cangkirnya ke piring alas dengan bunyi berdenting yang cukup keras, menarik perhatian Alya dan Dion seketika.
°˖✧✿✧˖°
"Ada apa, Ka?" tanya Alya heran. "Kamu kaget ya?"
"Nggak," potong Raka cepat. "Cuma ngerasa kafe ini tiba-tiba gerah banget."
Dion terkekeh pelan, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang ber-AC dingin. "Gerah? Padahal di luar hujan lebat begini, Bro."
Raka tidak meladeni ucapan Dion. Matanya terkunci pada Alya. "Al, bukannya malam ini kita ada janji mau cari buku bekas di Blok M?"
Alya menepuk jidatnya pelan. "Astaga, Ka! Aku lupa banget. Tapi gimana ya... proyek ini mendadak banget. Dion tadi bilang kalau batas pengumpulan revisinya dimajukan."
"Kan bisa dikerjakan besok pagi, Al," celeguk Raka. Suaranya terdengar makin tegas, menolak mengalah.
"Nggak bisa, Raka. Besok pagi dosen pembimbing sudah harus terima draf kasarnya," potong Dion sebelum Alya sempat menjawab. "Lagipula, aku sama Alya yang paling tahu detail perubahannya. Kalau ditunda, nanti malah berantakan."
"Aku nggak bicara sama kamu," balas Raka dingin, menatap Dion dengan pandangan tajam yang menusuk.
Atmosfer di meja itu seketika menjadi canggung dan berat. Alya membelalakkan matanya, merasa tidak enak dengan sikap kasar Raka yang di luar kebiasaannya.
"Raka! Kenapa sih bicara kayak gitu ke Dion?" tegur Alya dengan nada berbisik namun penuh penekanan. "Dion cuma mau bantu aku."
"Aku cuma tanya sama kamu, Al. Kenapa dia yang sibuk menjawab?" Raka menyilangkan dada, mempertahankan posisinya.
Dion mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba bersikap dewasa meski senyum tipis di bibirnya terkesan meremehkan. "Oke, oke. Sori kalau aku terkesan ikut campur. Aku cuma mau memastikan pekerjaan kelompok kami beres."
"Kalau memang pekerjaan kelompok, kenapa harus dikerjakan malam-malam berdua saja di studio?" sembur Raka tanpa sadar mengeluarkan ketakutan yang bersarang di dadanya.
Alya mengerutkan dahi, matanya memancarkan rasa tidak percaya atas ucapan sahabatnya itu. "Raka, kamu kenapa sih? Kamu ngomong apa? Kita selalu profesional kalau masalah tugas kampus."
"Aku cuma ngingetin kamu, Al. Kamu sering lupa waktu kalau sudah keasyikan ngerjain tugas," kilih Raka, berusaha menutup-nutupi alasan sebenarnya dari amarahnya.
"Tapi nggak usah curiga berlebihan begitu dong," balas Alya. Suaranya mulai meninggi. "Dion ini teman baikku. Dia sudah banyak bantu aku minggu ini."
Frasa 'banyak bantu aku' serasa menyentil saraf sensitif di otak Raka. Selama ini, ialah yang selalu ada di samping Alya, orang pertama yang dicari Alya ketika butuh bantuan. Kehadiran Dion yang mendadak mengambil alih peran itu memicu letupan kecemburuan yang hebat dalam dirinya.
"Ooh, jadi sekarang dia lebih bisa diandalkan daripada aku?" cerca Raka dengan senyum sinis yang dipaksakan.
"Raka! Kamu kenal aku udah berapa lama sih? Kenapa tiba-tiba jadi childish begini?" Alya menatap Raka intens, mencoba mencari jawaban di mata pria itu.
"Aku nggak childish, Al. Aku cuma..." Raka menghentikan kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-kata bahwa ia cemburu, bahwa ia membenci fakta bahwa Alya tersenyum pada pria lain.
Dion berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya pelan. "Al, kayaknya aku tunggu di luar aja deh. Kamu selesaikan dulu urusan kamu sama teman kamu ini."
"Nggak usah, Yon. Kamu duduk aja," panggil Alya, namun Dion hanya tersenyum tipis dan melangkah menuju kasir untuk membayar minunya.
"Lihat kan, Ka? Kamu bikin orang lain nggak nyaman!" seru Alya berbisik tajam setelah Dion menjauh.