Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Alya Mulai Bertanya

Alya Mulai Bertanya

Alya penasaran dengan sikap Raka yang berubah.

Pagi itu, sinar matahari merayap perlahan melintasi deretan jendela kaca perpustakaan kampus, membiaskan berkas cahaya emas ke atas meja-meja kayu yang tersusun rapi. Suasana yang biasanya menenangkan kini terasa amat menghimpit bagi Alya. Di hadapannya, sebundel draf revisi maket arsitektur terpapar terbuka, tetapi jemarinya yang memegang pena terus menari tanpa arah di tepi kertas, meninggalkan deretan coretan tak beraturan.

Di sebelah Alya, Dion tampak sibuk menatap layar laptop sembari mengetik dengan cepat. Namun, pandangan Alya berulang kali teralih ke arah pintu masuk perpustakaan. Setiap kali pintu kayu berukir itu mengayun terbuka, dadanya berdesir cemas. Ia menggeledah setiap sosok yang melangkah masuk, berharap—sekaligus takut—akan menemukan Raka di sana.

"Al, kamu dari tadi ngelamun terus. Ada bagian draf yang bingung?" tanya Dion, memecah keheningan di meja mereka seraya menurunkan layar laptopnya sedikit.

Alya tersentak pelan, menyapu helaian rambutnya ke belakang telinga. "Eh, enggak kok, Yon. Aku cuma... sedikit kurang tidur aja."

"Soal kejadian semalam ya?" Dion bersandar di kursi, menyilangkan tangan di dada. "Aku minta maaf ya, Al. Niatku cuma mau bantu kamu selesaikan draf, tapi malah bikin persahabatan kamu sama Raka jadi tegang."

Alya menggeleng cepat, ada penyesalan yang membayang jelas di matanya. "Bukan salah kamu, Yon. Raka yang emosinya lagi nggak jelas. Aku sendiri masih nggak ngerti kenapa dia bisa bereaksi sejauh itu."

"Kalau boleh jujur," Dion memajukan tubuhnya, menatap Alya dengan intens, "dia kelihatan cemburu berat, Al. Cara dia natap aku semalam itu bukan natap sahabat kamu, tapi natap saingan."

Alya tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan dipaksakan. "Cemburu? Nggak mungkinlah, Yon. Aku sama Raka itu udah berteman dari zaman SMA. Kita udah saling tahu busuk-busuknya. Nggak pernah ada rasa apa-apa di antara kita."

"Yakin nggak ada?" goda Dion dengan nada skeptis. "Kadang orang yang paling dekat sama kita justru orang yang paling lambat kita sadari perasaannya. Atau malah dia yang baru nyadar sekarang."

Ucapan Dion menghantam pikiran Alya bagai cermin yang tiba-tiba dipasang di depan wajahnya. Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja ia kubur sepanjang malam kini menyeruak kembali, menuntut jawaban. Kenapa Raka begitu marah melihat Dion? Kenapa matanya memancarkan rasa takut kehilangan yang begitu dalam?

"Aku... aku nggak tahu, Yon," bisik Alya lirih, pandangannya meredup menatap cangkir kopi dingin di depannya. "Yang pasti, Raka berubah. Dan aku perlu nanya langsung ke dia."

°˖✧✿✧˖°

Tekad Alya untuk mencari jawaban membawanya melangkah menuju koridor lantai dua Gedung Fakultas Ekonomi—wilayah kekuasaan Raka. Angin siang berembus membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya menguap dari pepohonan di halaman kampus. Langkah kaki Alya terasa berat, namun rasa penasaran yang menggerogoti dadanya jauh lebih kuat daripada ketakutan akan rasa canggung.

Dari kejauhan, di bangku semen di bawah pohon tempat Raka biasa menghabiskan waktu luangnya, Alya melihat sosok pria itu. Raka duduk sendirian, memangku laptop yang terbuka, tetapi matanya menatap kosong ke arah lapangan basket. Wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.

"Raka," panggil Alya pelan saat ia sudah berdiri hanya beberapa langkah di samping bangku.

Raka tersentak, bahunya menegang seketika. Ia mendongak, dan untuk sejenak, binar lega terpancar di matanya sebelum dengan cepat berganti menjadi tatapan serba salah dan serba canggung.

"Alya..." suara Raka terdengar parau. Ia bergegas menutup laptopnya dan berdiri. "Kamu... kamu ngapain ke sini?"

"Aku mau bicara," kata Alya singkat. Ia menunjuk area kosong di bangku semen. "Boleh aku duduk?"

"Tentu," Raka menggeser duduknya berikan ruang, gerakannya kaku tak seperti biasanya. "Soal semalam, Al... aku mau minta maaf. Aku—"

"Aku ke sini bukan buat dengar permintaan maaf impulsif kamu, Ka," potong Alya tenang namun tegas, menatap lurus ke dalam mata Raka. "Aku ke sini karena aku bingung. Dan aku benci merasa bingung sama sahabatku sendiri."

Raka menunduk, jemarinya meremas tepi celana jeans-nya. "Aku tahu aku salah. Sikapku di studio semalam kasar banget sama kamu dan Dion."

"Bukan cuma soal semalam, Raka!" Alya memajukan tubuhnya, menuntut jawaban. "Ini soal perubahan kamu beberapa minggu terakhir ini. Kenapa kamu tiba-tiba jadi posesif? Kenapa kamu marah cuma karena aku pergi sama teman lain?"

"Aku cuma nggak suka Dion, Al. Perasaanku nggak enak sama dia," kilih Raka, mencoba mencari alasan aman yang justru membuat Alya makin gemas.

"Bukan soal Dion!" seru Alya, menyela jawaban Raka dengan cepat. "Kemarin-kemarin waktu aku kerja kelompok sama Bayu atau Aris, kamu santai aja. Tapi semalam... kalimat kamu di studio semalam itu maksudnya apa, Raka?"

Raka membatu. Tenggorokannya terasa kering menyumbat kata-kata yang ingin diucapkannya.

"Kamu bilang kamu tak suka melihatku dengannya," bisik Alya menirukan ucapan Raka semalam dengan nada yang menuntut kebenaran. "Kamu bilang kamu nggak pernah cuma menganggap aku sahabat. Maksud kamu apa, Ka? Jawab aku dengan jujur."

°˖✧✿✧˖°

Keheningan merayap di antara mereka berdua, menghapus keriuhan mahasiswa yang lalu-lalang di kejauhan. Raka membuang muka, tak sanggup menahan tatapan mata Alya yang begitu jernih dan mendesak.

"Kenapa kamu diam?" desak Alya lagi, suaranya mulai bergetar oleh rasa emosi yang tertahan. "Kita udah kenal bertahun-tahun, Ka. Kamu selalu cerita apa aja sama aku. Kenapa sekarang buat jawab pertanyaan sederhana ini aja kamu harus buang muka?"

Lihat selengkapnya