Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Pengakuan di Bawah Langit Senja

Pengakuan di Bawah Langit Senja

Raka akhirnya mengungkapkan perasaannya.

Langit barat mendadak terbakar oleh warna jingga keemasan yang bergradasi keunguan. Sisa-sisa awan mendung menggantung tipis di atas dermaga tua yang sudah tak terpakai di pinggiran kota. Suara deburan ombak yang membentur tiang-tiang kayu lapuk menyatu dengan deru angin laut yang membawa aroma garam mendalam.

Di ujung dermaga, Alya berdiri memeluk tubuhnya sendiri. Angin sore meniup rambut hitamnya hingga berantakan menutupi sebagian wajahnya. Matanya sembap, memantulkan bayangan matahari yang perlahan tenggelam di garis horison.

Setelah insiden baku hantam di kampus tadi siang, pikiran Alya benar-benar buntu. Ia meninggalkan Dion di ruang kesehatan, mengabaikan puluhan telepon yang masuk, dan lari ke satu-satunya tempat yang paling sering ia datangi ketika dunia terasa terlalu bising. Tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dua orang.

Suara langkah kaki yang menginjak papan kayu yang berderit memecah kesunyian. Alya tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah itu terlalu familiar, ritme yang sudah ia hafal luar kepala selama bertahun-tahun.

Raka berjalan pelan, menghentikan langkahnya tepat tiga meter di belakang Alya. Buku-buku jari tangan kanannya tampak memar merah kebiruan, kemejanya kusut, dan matanya menyiratkan kelelahan batin yang amat sangat.

"Aku tahu kamu bakal di sini," suara Raka terdengar serak, terbawa angin senja.

Alya tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap lurus ke arah lautan lepas. "Kenapa kamu ke sini, Ka?"

"Karena kalau aku nggak menyelesaikan ini sekarang, aku nggak akan pernah punya kesempatan lagi," balas Raka jujur. Ia melangkah maju dua tindak, kini berdiri di samping Alya, ikut menatap garis pantai yang kian memerah.

"Kamu udah mengacaukan semuanya hari ini, Raka," bisik Alya. Suaranya datar, tetapi sarat akan kepedihan. "Kamu mukul Dion, kamu bikin keributan di depan anak-anak kampus, dan kamu..."

"Dan aku ngancam hubungan persahabatan kita?" potong Raka pelan. Ia terkekeh pendek, sebuah tawa pahit yang tak sampai ke mata. "Aku tahu, Al. Aku kekanak-kanakan. Aku membiarkan amarah menguasai kepalaku."

"Kenapa, Ka?" Alya akhirnya memalingkan wajahnya, menatap Raka lurus-lurus. Matanya yang berkaca-kaca kembali digenangi air mata. "Kenapa harus dengan cara se-ekstrem ini? Kalau ada hal yang kamu ganjal, kenapa nggak bicarak baik-baik dari dulu?"

Raka menoleh, mengunci pandangan mereka. "Karena aku takut, Alya. Aku takut kehilangan kamu."

°˖✧✿✧˖°

Kata-kata Raka menggantung di udara, mengalahkan deru ombak yang menghantam tiang dermaga. Alya menahan napasnya, merasakan sesuatu yang berat menghimpit dadanya.

"Takut kehilangan aku?" desis Alya. "Tapi dengan cara kamu seperti ini, kamu justru bikin aku semakin jauh, Raka! Kamu dorong aku ke sudut!"

"Aku tahu aku salah!" bentak Raka pada dirinya sendiri, suaranya meninggi sebelum akhirnya merendah penuh penyesalan. "Aku tahu aku salah cara, Al. Tapi bayangkan ada di posisiku selama ini. Bayangkan gimana rasanya berdiri di sebelah orang yang kamu cintai setiap hari, tapi kamu harus menahan diri untuk nggak meluk dia saat dia sedih, kamu harus nahan diri untuk nggak menggenggam tangannya saat dia senyum."

Alya tertegun. Telinganya berdengung mendengar kata 'cinta' yang keluar begitu polos dan jujur dari bibir sahabat terbaiknya.

"Selama ini aku berusaha keras jadi 'Raka si sahabat yang baik'," lanjut Raka, matanya memerah menahan gejolak emosi. "Aku dengarin semua cerita kamu, aku ikut senang saat kamu senang, aku siap 24 jam waktu kamu butuh bantuan. Aku pikir, cukup ada di dekat kamu aja udah bikin aku bahagia."

"Terus kenapa tiba-tiba semuanya berubah?" tanya Alya lirih.

"Karena Dion datang!" seru Raka, melangkah satu tahap lebih dekat hingga Alya bisa merasakan hangat napasnya. "Saat aku lihat cara dia natap kamu di kafe, saat aku lihat kamu tertawa lepas sama dia dan membiarkan dia menyentuh kamu... rasa takut itu meledak, Al. Aku sadar, posisi 'sahabat' yang selama ini aku agung-agungkan itu rentan banget. Siapa pun bisa menggeser aku kalau kamu membuka hati buat pria lain."

"Kamu nggak pernah tergantikan buat aku, Raka!" teriak Alya melepaskan rasa frustrasinya. "Kenapa kamu nggak bisa paham itu?!"

Lihat selengkapnya