Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Jawaban Alya

Jawaban Alya

Alya menerima cinta Raka.

Angin malam berembus pelan menyusuri teras kafe beratap terbuka di sudut kota. Lampu-lampu gantung temaram membiaskan warna keemasan pada meja kayu tempat Raka dan Alya duduk berhadapan. Di atas meja, dua cangkir kopi yang sudah mulai mereda uapnya menjadi saksi bisu bagi keheningan yang cukup panjang. Raka menatap jemarinya sendiri yang bertautan di atas meja, mencoba meredam detak jantungnya yang bergemuruh tak karuan sejak sepuluh menit lalu—sejak ia memberanikan diri mengutarakan seluruh isi hatinya kepada Alya.

Alya menatap Raka dengan pijar mata yang sulit diartikan. Ia memperbaiki posisi duduknya, menopang dagu dengan satu tangan seraya menatap lelaki di hadapannya itu dengan cermat.

"Jadi, kamu serius sama semua ucapan kamu barusan, Ka?" tanya Alya pelan, memecah kesunyian yang sempat membelenggu mereka.

Raka mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Alya tanpa keraguan sedikit pun. "Aku nggak pernah seberani ini seumur hidupku, Al. Semua yang aku ucapkan tadi murni dari hati aku yang paling dalam. Aku sayang sama kamu, bukan cuma sebagai sahabat."

Alya menghela napas panjang, lalu mengukir senyum tipis di bibirnya. "Kamu tahu kan, Ka? Kita udah berteman hampir empat tahun. Aku kenal kamu luar dalam, begitu juga kamu ke aku."

"Justru karena itu, Al," potong Raka cepat, suaranya sedikit gemetar namun sarat ketegasan. "Aku tahu semua kebiasaan buruk kamu, dan kamu tahu semua kekuranganku. Tapi makin hari, aku makin sadar kalau aku nggak mau cuma jadi orang yang nunggu kamu di batas garis pertemanan."

Alya meriah cangkir kopinya, menyesapnya sedikit untuk menenangkan pikirannya sendiri. "Aku sempat takut, Ka. Gimana kalau perasaan ini cuma sesaat? Gimana kalau nanti kita malah merusak hubungan baik yang udah kita bangun lama?"

"Aku juga pernah mikir begitu," jawab Raka seraya memberanikan diri mengulurkan tangan, menyentuh pelan punggung tangan Alya di atas meja. "Tapi rasa takut kehilangan kamu sebagai teman kalah besar dibandingkan rasa takut aku kalau harus ngeliat kamu jalan sama orang lain. Aku mau berjuang buat kamu, Al."

Alya menatap tangan Raka yang menyentuh tangannya, merasakan kehangatan yang merambat perlahan ke dadanya. Rasa ragu yang selama ini menggelayuti pikirannya seolah menguap begitu saja melihat kesungguhan di mata Raka.

"Kamu yakin bisa sabar menghadapi aku yang kadang suka egois ini?" goda Alya, kini dengan binar bahagia yang mulai terpancar jelas dari matanya.

Raka terkekeh pelan, rasa tegang yang menjepit dadanya perlahan meluntur. "Aku udah lulus ujian sabar menghadapi kamu selama empat tahun terakhir, Al. Jadi buat seumur hidup pun, aku siap."

Alya menggigit bibir bawahnya, menahan tawa gembiranya sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku nggak punya alasan lagi buat nolak kamu, Raka."

Mata Raka melebar, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Maksud kamu... kamu terima cinta aku, Al?"

"Iya, Raka. Aku terima," jawab Alya mantap, menggenggam erat jemari Raka. "Aku juga sayang sama kamu. Mulai malam ini, kita bukan cuma sekadar sahabat lagi."

Dada Raka serasa sesak oleh kebahagiaan yang meluap. "Makasih, Alya. Terima kasih banyak. Aku janji bakal bikin kamu bahagia."

°˖✧✿✧˖°

Mentari pagi menembus celah dedaunan di taman kampus, menciptakan pola-pola cahaya di sepanjang jalan setapak. Hari baru telah tiba, menandai babak baru dalam hidup Raka dan Alya. Keduanya berjalan bersisian dengan jemari yang saling bertautan erat. Senyum tak pernah lepas dari wajah Raka sejak ia menjemput Alya di depan gang rumahnya pagi tadi.

"Kamu dari tadi senyum-senyum terus, Ka. Nggak pegel tuh pipi?" tegur Alya seraya melirik kekasih barunya itu dengan tawa kecil.

"Gimana nggak senyum? Rasanya kayak mimpi, Al. Sekarang aku bisa pegang tangan kamu di depan umum tanpa harus nyari alasan," balas Raka jujur, semakin mempererat genggaman tangannya.

Alya menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Raka sambil terus berjalan. "Aku juga seneng banget, Ka. Tapi jujur, rasanya masih agak canggung ya? Biasa panggil nama santai, sekarang statusnya udah beda."

"Nanti juga biasa, Al. Yang penting hatinya udah pas," kata Raka santai.

Namun, suasana manis itu mendadak terganggu ketika langkah mereka terhenti di depan koridor gedung fakultas. Sesosok pria bersetelan kemeja rapi berdiri menyandarkan tubuhnya di pilar gedung. Dion. Mantan kekasih Alya yang dikenal berasal dari keluarga berpengaruh dan berkecukupan itu menatap dingin ke arah genggaman tangan Raka dan Alya.

"Wah, wah... lihat siapa yang pagi-pagi sudah pamer kemesraan," sindir Dion seraya melangkah mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.

Alya menghentikan langkahnya, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Dion? Mau apa kamu ke sini?"

Dion tidak menjawab Alya, melainkan mengalihkan pandangannya penuh kemarahan pada Raka. "Jadi ini alasan kamu makin susah dihubungi belakangan ini, Al? Kamu berpaling ke cowok medioker kayak Raka ini?"

"Jaga ucapan kamu, Dion!" potong Raka menangkah, memasang badan di depan Alya. "Kamu sama Alya udah selesai dari enam bulan yang lalu. Kamu nggak punya hak buat mengatur hidup dia lagi!"

Dion tertawa meremehkan, menatap Raka dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Raka, Raka... kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma remahan kayu yang kebetulan ada pas Alya lagi kesepian. Kamu nggak punya apa-apa buat diandalkan."

"Dion, cukup!" bentak Alya tajam, matanya menyipit marah. "Aku memilih Raka karena dia pria yang baik dan menghargai aku. Sesuatu yang nggak pernah aku dapatkan dari kamu! Sekarang tolong pergi dari hadapan kami!"

Dion maju satu langkah, menatap Alya dengan senyum penuh ancaman. "Kamu yakin mau buang aku demi dia, Al? Kamu pikir masa depan kamu bakal terjamin sama cowok yang bayar uang semesteran aja masih kotor-keteteran?"

Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan emosi yang mulai membakar dadanya. "Dion, keluar dari kampus ini sebelum aku panggil keamanan!"

Dion menepuk bahu Raka dengan kasar sebelum berbalik pergi. "Kita lihat seberapa tahan hubungan murahan kalian ini, Raka. Jangan senang dulu."

°˖✧✿✧˖°

Siang harinya, udara terasa membakar di sekitar kantin luar kampus. Raka duduk sendirian di meja sudut seraya memesan es teh manis untuk meredakan emosinya yang masih tersisa dari kejadian pagi tadi. Alya sedang ada kuliah tambahan, sehingga Raka memutuskan untuk menunggunya di sana. Namun, ketenangannya kembali terusik ketika suara kursi ditarik secara kasar menyentuh pendengarannya.

Dion duduk tepat di hadapan Raka, ditemani oleh dua orang pria bertubuh tegap di belakangnya.

"Kamu lagi, Dion?" desis Raka dingin, menatap musuhnya itu tanpa rasa takut. "Nggak puas merusak suasana pagi tadi?"

Dion menyandarkan punggungnya di kursi, memandang Raka dengan raut wajah penuh kesombongan. "Aku datang ke sini mau menawarkan penawaran yang sangat rasional buat kamu, Raka. Penawaran yang bisa mengubah hidup kamu dalam semalam."

Raka menyilangkan dada. "Aku nggak tertarik sama apa pun yang keluar dari mulut kamu."

Dion merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah buku cek di atas meja kayu yang lusuh itu. Ia mengambil pulpen mahal dari saku kemejanya dan mulai menuliskan nominal di atas lembaran cek tersebut sebelum menyodorkannya ke arah Raka.

Lihat selengkapnya