Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Hari Pertama Menjadi Kekasih

Hari Pertama Menjadi Kekasih

Mereka memulai hubungan dengan penuh kebahagiaan.

Suara gesekan dedaunan kering yang tersapu angin pagi di halaman kampus menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi langkah Raka. Udara dingin masih menyelimuti sudut-sudut koridor, namun dada Raka terasa dipenuhi kehangatan yang tak biasa. Di jemarinya, genggaman tangan Alya terasa begitu pas—hangat, halus, dan begitu nyata.

"Kamu masih senyum-senyum sendiri dari tadi, Ka," tegur Alya seraya melirik kekasihnya itu dengan sudut mata yang berbinar. Rona merah tipis terlukis samar di pipinya.

Raka tidak melepas genggamannya, justru mempereratnya sedikit. "Gimana nggak senyum? Dari semalam aku masih merasa ini semua kayak mimpi. Kita beneran jadian, kan, Al?"

Alya tertawa kecil, suara khas yang selalu berhasil menenangkan bising di kepala Raka. "Beneran, Raka. Mau aku buktikan pakai apa lagi? Mau aku cubit pipi kamu biar sadar?"

"Jangan dicubit, dicium aja gimana?" goda Raka santai, membuat Alya serta-merta mencubit pinggangnya pelan. "Aduh! Iya, iya, bercanda. Tapi serius, Al, aku bahagia banget hari ini. Hari pertama kita sebagai sepasang kekasih."

"Aku juga bahagia, Ka," jawab Alya pelan, suaranya mendadak menyerap nada emosional yang lebih dalam. Matanya menatap lurus ke depan, menyusuri jalan setapak taman fakultas. "Tapi di saat yang sama, ada rasa takut yang sedikit nyelip di kepala aku."

Langkah Raka terhenti. Ia memutar tubuhnya, memotong jalan Alya hingga gadis itu terpaksa berhenti dan menatapnya penuh tanya. "Takut kenapa, Al? Ada yang ganggu pikiran kamu?"

Alya menghela napas panjang, merapikan helai rambutnya yang tertiup angin. "Hubungan kita kan baru dimulai. Aku takut ekspektasi kita tinggi, terus nanti malah saling menyakiti. Kita udah berteman lama, Ka. Kalau sampai gagal, aku nggak cuma kehilangan pacar, tapi juga sahabat terbaik aku."

Raka menatap mata kecokelatan Alya dengan tatapan paling hangat yang ia miliki. Ia mengangkat tangan kanannya, menyapu lembut sisa angin di pipi Alya. "Lihat aku, Al. Kita mulai ini bukan karena impulsif. Kita udah saling kenal dari masa-masa paling berantakan kita. Aku janji, apa pun yang terjadi nanti, kita bakal hadapi berdua. Jangan takut sama hal yang belum terjadi."

"Janji ya?" bisik Alya seraya tersenyum tipis.

"Janji, Alya," tegas Raka yakin.

Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik saat ponsel di saku celana Raka bergetar hebat secara berturut-turut. Nada dering khusus panggilan darurat terdengar nyaring. Raka merogoh jiwanya yang mendadak diselimuti kecemasan, lalu menatap layar ponselnya. Nama kakaknya, Maya, tertera di sana.

"Kenapa, Ka? Dari Siapa?" tanya Alya melihat perubahan ekspresi di wajah Raka.

"Mbak Maya," jawab Raka penuh keraguan. Ia menggeser ikon hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya. "Halo, Mbak?"

"Raka! Kamu di mana sekarang?!" suara di ujung telepon terdengar gemetar, diiringi isak tangis yang tertahan. Suasana di latar belakang telpon terdengar bising dengan sirine dan teriakan orang-orang.

"Aku di kampus, Mbak. Ada apa? Kenapa Mbak menangis?" Raka mulai panik, firasat buruk mendadak menghantam dadanya.

"Ayah, Ka... Ayah jatuh di pabrik. Tiba-tiba pingsan dan muntah darah. Sekarang kami di ruang gawat darurat Rumah Sakit Medika. Kondisinya kritis!"

Ponsel di genggaman Raka hampir saja merosot jatuh jika Alya tidak refleks menahannya. Dunia seolah berhenti berputar bagi Raka. Seluruh warna kebahagiaan yang beberapa menit lalu mewarnai paginya, mendadak luntur digantikan oleh kegelapan yang pekat.

"Ka? Raka! Kenapa?" Alya memegang kedua bahu Raka yang mendadak kaku dan dingin.

Raka menatap Alya dengan pandangan kosong, tenggorokannya terasa sangat tercekat. "Ayah... Ayah masuk RS, Al. Kondisinya kritis."

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian koridor Rumah Sakit Medika. Raka berlari tanpa peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya, sementara Alya menyusul tepat di belakangnya tanpa melepaskan tas punggung Raka yang sempat tertinggal. Bau karbol yang menyengat dan aroma obat-obatan segera menyambut mereka begitu memasuki area Instalasi Gawat Darurat.

"Mbak Maya!" teriak Raka saat melihat sosok wanita paruh baya duduk tersungkur di kursi tunggu dengan tangan menutupi wajah.

Maya mendongak, matanya sembap dan merah. Ia langsung berdiri dan memeluk adiknya erat-erat. "Raka... Ayah, Ka..."

"Gimana kondisi Ayah sekarang, Mbak? Dokter bilang apa?" Raka mencecar pertanyaan dengan napas terengah-engah, matanya terus menatap pintu kaca bening yang membatasi ruang tindakan.

"Dokter masih di dalam. Tadi jantung Ayah sempat berhenti sebentar..." jawab Maya diiringi tangisan yang pecah kembali. "Pabrik tempat Ayah kerja meledak sebagian karena kebocoran gas, Ayah kena paparan toksik dan benturan keras di dada."

Alya melangkah mendekat, merangkul bahu Maya untuk memberikan kekuatan. "Mbak Maya yang tenang ya. Dokter pasti lagi mengusahakan yang terbaik buat Paman."

"Terima kasih ya, Alya, kamu udah mendampingi Raka ke sini," bisik Maya pelan.

Tidak lama kemudian, pintu ruang IGD terbuka. Seorang dokter berseragam hijau melangkah keluar seraya melepas maskernya. Wajahnya tampak guratan kelelahan yang mendalam. Raka segera maju mendekati sang dokter.

"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Raka dengan suara bergetar.

Dokter itu menghela napas panjang, menatap Raka dan Maya secara bergantian. "Kami berhasil mengembalikan denyut jantung Pak Subroto. Namun, kondisinya sangat kritis akibat pendarahan internal dan paparan racun yang merusak fungsi parunya. Beliau harus segera dipindahkan ke ICU dan menjalani operasi darurat."

"Lakukan yang terbaik, Dok! Tolong selamatkan ayah saya!" seru Raka panik.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi ada prosedur administrasi dan biaya deposit operasi sebesar seratus lima puluh juta rupiah yang harus diselesaikan segera sebelum tindakan dapat dilakukan. Pihak asuransi pabrik masih membekukan klaim karena dugaan kelalaian kerja," jelas Dokter tersebut dingin namun penuh empati.

Dada Raka terasa dihantam batu besar. Seratus lima puluh juta rupiah. Angka yang sama sekali tak terjangkau oleh keluarganya yang hanya mengandalkan gaji buruh pabrik dan usahanya yang baru merintis.

"Seratus lima puluh juta? Tapi Dok, kami nggak punya uang sebanyak itu sekarang!" cegat Maya terperanjat.

"Tolong usahakan secepatnya, Bu. Kami hanya punya waktu kurang dari enam jam sebelum kondisi organ dalam Pak Subroto melorot drastis," tambah Dokter sebelum akhirnya pamit kembali ke dalam ruangan.

Raka terduduk lemas di lantai koridor yang dingin. Tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Kebahagiaan menjadi kekasih Alya beberapa jam lalu kini menguap tanpa sisa, berganti beban berat yang seolah siap meremukkan tulang-tulangnya.

Alya berlutut di hadapan Raka, memegang kedua tangan cowok itu yang gemetar. "Raka, lihat aku."

Raka menengadah dengan mata yang mulai digenangi air mata. "Al... aku harus gimana? Aku nggak punya uang sebanyak itu. Aku nggak bisa biarin Ayah meninggal cuma gara-gara uang."

"Kita cari caranya sama-sama, Ka," tegas Alya tanpa ragu sedikit pun. "Aku punya tabungan dari hasil mengajar les dan sisa simpanan semesteran. Kita kumpulkan semua yang kita punya."

"Tapi itu uang kamu buat bayar kuliah, Al! Aku nggak mau nyusahin kamu di hari pertama kita pacaran!" jawab Raka seraya menggeleng kuat.

Alya menatap Raka tajam, matanya memancarkan keseriusan yang luar biasa. "Dengar Raka! Kita pacaran bukan cuma buat senang-senang pas cuaca cerah. Kalau kamu jatuh, aku ikut ngerasain sakitnya. Uang bisa dicari lagi, tapi nyawa Ayah kamu nggak ada gantinya. Kita hadapi ini bareng-bareng, paham?"

Raka menatap Alya terkagum sekaligus haru. Di tengah badai yang tiba-tiba menerjang, gadis yang baru saja resmi menjadi tambatan hatinya itu berdiri kokoh menjadi sandarannya.

°˖✧✿✧˖°

Empat jam berlalu dalam kepanikan yang mencekat. Raka dan Alya kembali ke rumah Raka untuk mengumpulkan seluruh berkas berharga, sertifikat rumah tua milik keluarga, dan tabungan yang mereka miliki. Namun, total angka yang terkumpul masih jauh dari harapan—baru mencapai empat puluh juta rupiah.

Raka berdiri di pinggir jalan depan rumahnya, memandangi layar ponselnya dengan keputusasaan yang makin membuncah. Ia sudah menghubungi seluruh kerabat dan teman-temannya, namun nihil. Tidak ada yang sanggup meminjamkan uang sebesar itu dalam waktu singkat.

Lihat selengkapnya