Milikku Seorang
Raka merasa sangat beruntung memiliki Alya.
Suara gesekan dedaunan kering yang tertiup angin sore di pelataran taman kota terdengar bagaikan melodi yang begitu menenangkan. Angin sepoi-sepoi membawa kesegaran di tengah hangatnya sinar mentari yang mulai meredup keemasan. Di atas sebuah kursi kayu bercat putih yang beralaskan bayangan pohon rindang, Raka duduk termangu seraya memandangi wajah Alya. Jemari mereka saling bertautan rapat, seakan tak ada satu pun celah yang mampu memisahkan rapatnya jemari itu.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu terus sih, Ka?" tanya Alya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. Pipi mulusnya merona merah, terpapar sinar jingga yang menembus celah dedaunan.
Raka tidak segera menjawab. Ia menyapu helai rambut Alya yang tertiup angin pelan, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu dengan kelembutan yang luar biasa. "Aku cuma masih nggak percaya aja, Al. Dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidupku, memiliki kamu itu rasanya kayak keberuntungan paling besar yang pernah aku dapat."
Alya tertawa kecil, suara tawa yang selalu berhasil mengusir segala keletihan di kepala Raka. "Kamu ini makin hari makin pinter gombal ya? Padahal dulu pas awal kenal di kelas seminar, kamu pendiam banget kayak patung."
"Aku serius, Alya," potong Raka dengan nada suara yang bergetar penuh kejujuran. Mata cokelatnya menatap dalam-dalam ke manik mata Alya. "Aku merasa sangat beruntung memiliki kamu. Kamu itu bukan cuma pacar buat aku, tapi juga arah pulang. Setiap kali aku merasa dunia lagi acak-acakan, cuma dengan ngeliat kamu tersenyum, semuanya terasa bakal baik-baik aja."
Alya menghentikan tawanya, meresapi setiap kata yang diucapkan Raka. Ia merapatkan posisi duduknya, menyandarkan kepalanya yang ringan di bahu tegap Raka. "Aku juga merasa beruntung bisa ada di samping kamu, Ka. Terima kasih ya udah selalu jagain aku dan menghargai aku apa adanya."
"Aku janji bakal jaga perasaan ini sekuat yang aku bisa, Al," bisik Raka seraya mengecup puncak kepala Alya dengan lembut. "Kamu milikku seorang, dan aku bakal pastikan kamu selalu merasa aman sama aku."
Alya mengangkat kepalanya, membalas tatapan Raka dengan binar kebahagiaan yang membuncah. "Janji ya, Raka? Nggak bakal ada yang bisa ngerusak bahagia kita hari ini?"
"Nggak akan pernah ada, Al. Aku janji," jawab Raka tegas, menggenggam erat kedua tangan Alya di atas pangkuannya.
Namun, di tengah suasana hangat yang tercipta di antara mereka berdua, sebuah bayangan panjang melintas menutupi pancaran sinar matahari sore. Suara derap langkah kaki bersepatu kulit mahal menghentakkan rumput taman, merusak kedamaian yang baru saja mekar di antara Raka dan Alya.
"Wah, wah... romantis sekali pemandangan sore ini," suara bariton yang sarat dengan nada sindiran tajam mengejutkan mereka berdua.
Raka dan Alya mendongak seketika. Senyum bahagia di wajah Raka mendadak luntur, berganti tegang saat mengenali sosok yang kini berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kainnya.
"Dion?" cicit Alya, suaranya berubah menjadi kaku.
°˖✧✿✧˖°
Dion menyunggingkan senyum meremehkan, memandang Raka dan Alya bergantian dengan tatapan dingin penuh dominasi. Kehadirannya seketika mengubah udara sore yang hangat menjadi mencekam. Raka secara refleks menggeser posisi duduknya sedikit ke depan, pasang badan untuk melindungi Alya yang memegang lengannya rapat-rapat.
"Mau apa kamu ke sini, Dion?" tanya Raka dengan suara menahan amarah, tatapannya menyalang tajam.
Dion tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar janggal di tengah keheningan taman. "Santai sedikit, Raka. Kenapa harus se-tegang itu? Saya cuma kebetulan lewat dan melihat kalian berdua lagi asyik melepas rindu."
"Kami nggak punya urusan apa-apa lagi sama kamu, Dion," pangkas Alya tegas, berani menatap mantan kekasihnya itu dari balik bahu Raka. "Hubungan kita sudah berakhir bulan lalu, dan aku minta kamu berhenti mengikuti atau mengawasi aku!"
Dion mengalihkan pandangannya penuh minat pada Alya, melangkah satu tapak lebih dekat yang membuat Raka langsung berdiri tegak dari bangku taman.
"Aku nggak pernah mengawasi kamu, Alya," ujar Dion santai, namun matanya memancarkan kepemilikan yang kuat. "Aku cuma mau memastikan kalau kamu nggak melakukan kesalahan fatal dengan memilih pria yang salah. Kamu itu terbiasa dengan kenyamanan, Alya. Kamu pikir pria seperti Raka ini sanggup memenuhi semua kebutuhan hidupmu nanti?"
"Jaga mulutmu, Dion!" bentak Raka, dadanya kempas-kempis menahan emosi yang mulai membakar kepalanya. "Aku mungkin nggak sejiwa finansial kamu yang bergelimang harta, tapi aku punya ketulusan dan kerja keras buat membahagiakan Alya. Sesuatu yang nggak pernah kamu punya!"
Dion tertawa makin keras, menepuk tangannya perlahan seakan sedang menyaksikan pertunjukan komedi. "Ketulusan? Kerja keras? Raka, Raka... di dunia nyata, retorika manis seperti itu nggak bisa dipakai buat bayar tagihan rumah sakit, nggak bisa buat beli rumah impian, dan nggak bisa jamin masa depan!"
"Aku nggak butuh harta kamu, Dion!" potong Alya dengan suara meninggi, matanya memerah karena amarah. "Aku lebih bahagia hidup sederhana sama Raka daripada harus terkekang di dalam sangkar emas yang kamu tawarkan! Raka menghargai aku sebagai manusia, bukan sekadar barang pajangan!"
Dion menyipitkan matanya, rasa tersinggung mulai menjalar di wajah tampannya yang dingin. "Kamu bakal menyesal dengan ucapanmu ini, Alya. Kamu belum tahu seberapa jauh aku bisa bertindak kalau kemauanku diabaikan."
"Jangan pernah berani mengancam Alya di hadapanku!" geram Raka seraya maju satu langkah, menunjuk tepat ke wajah Dion. "Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku bertindak lebih jauh!"
Dion memiringkan kepalanya, memandang Raka dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Kamu pikir kamu siapa, Raka? Kamu cuma remahan kayu di jalanan. Kita lihat saja seberapa kuat pertahanan cinta murah kalian ini saat badai yang sebenarnya datang."
Setelah mengucapkan kalimat sarat ancaman tersebut, Dion berbalik badan dan melangkah pergi menuju mobil sedan mewahnya yang terparkir di pinggir jalan. Raka menatap punggung Dion hingga kendaraan itu menghilang di balik tikungan jalan raya, meninggalkan gemuruh emosi yang masih menyisa di dalam dadanya.
°˖✧✿✧˖°
Alya memegang lengan Raka yang masih tampak tegang, mengusapnya perlahan untuk menenangkan kekasihnya. "Raka... tenang ya? Jangan dimasukkan ke hati ucapan Dion tadi."
Raka menoleh ke arah Alya, menarik napas panjang seraya mencoba meredakan amarahnya yang membumbung. Ia memegang kedua bahu Alya, menatapnya penuh penyesalan. "Maaf ya, Al. Hari yang harusnya indah buat kita malah dirusak sama Dion."
"Ini bukan salah kamu, Ka," balas Alya lembut, menyunggingkan senyum menenangkan. "Dion memang selalu kayak gitu, nggak pernah bisa terima kalau ada hal yang bergerak di luar kendalinya. Yang penting sekarang kita harus tetap tenang dan jangan sampai terprovokasi."
Raka menggenggam erat tangan Alya, mengajak gadis itu kembali duduk di kursi taman. Namun, bayang-bayang ancaman Dion terus berputar di kepalanya bagaikan benang kusut yang sulit diurai. "Tapi aku khawatir, Al. Dion punya uang dan kekuasaan dari keluarganya. Aku takut dia ngelakuin hal curang buat merusak kehidupan kamu atau keluarga kita."
Alya menggelengkan kepalanya keras-keras, menatap Raka dengan keteguhan luar biasa di matanya. "Lihat aku, Raka. Jangan biarkan ketakutan itu mengikis kepercayaan kita. Apa pun yang Dion rencanakan, kita bakal hadapi itu bareng-bareng. Aku percaya sama kamu, dan kamu harus percaya sama aku."
Raka meresapi setiap kata yang diucapkan Alya. Kehangatan di dalam dada pria itu perlahan kembali menyala, mengusir kabut kecemasan yang sempat membayanginya. "Terima kasih ya, Alya. Kamu benar. Aku nggak boleh lemah cuma gara-gara gertakan orang kayak Dion."
"Nah, gitu dong! Itu baru Raka kekasih aku," goda Alya seraya mencubit pelan pipi Raka, membuat pria itu akhirnya tertawa lepas.
Namun, kebahagiaan mereka seakan terus diuji tanpa henti. Hanya berselang beberapa menit setelah ketegangan mereda, ponsel di saku celana Raka bergetar hebat. Sebuah nada panggilan masuk memecah suasana damai sore itu. Raka merogoh gawai tersebut dan melihat layar yang menampilkan nama adik perempuannya, Maya.
"Halo, Maya? Ada apa?" tanya Raka santai, mencoba menjaga suaranya tetap tenang di depan Alya.