Kebahagiaan Sederhana
Hari-hari mereka dipenuhi kebersamaan kecil yang membahagiakan.
Mentari pagi menembus celah jendela kaca sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan kampus, membiaskan pijar keemasan yang menimpa permukaan meja kayu tempat Raka dan Alya duduk berhadapan. Di atas meja, dua cangkir kopi hangat yang menyebarkan aroma khas bersanding dengan dua piring kecil roti panggang. Suasana pagi itu begitu tenang, hanya diiringi gemericik air mancur taman di luar dan gesekan lembut angin pada dedaunan.
"Kamu makin pintar milih tempat nongkrong ya, Ka," puji Alya seraya mengaduk perlahan kopi hitam di hadapannya. Pipi mulusnya terpapar sinar matahari pagi, menciptakan rona hangat yang membuat Raka tak bisa mengalihkan pandangannya.
Raka tersenyum tipis, merapikan letak cangkirnya sendiri. "Aku cari tempat yang nggak terlalu bising, Al. Biar aku bisa dengar suara kamu tanpa harus tertutup bising kendaraan."
"Halah, gombal terus dari pagi," balas Alya seraya terkekeh pelan. Ia menyendok sepotong kecil roti panggang lalu mengunyahnya penuh nikmat. "Tapi serius, aku suka tempat ini. Tenang banget."
"Hari-hari belakangan ini terasa tenang banget ya, Al?" tutur Raka lembut, tatapannya menyapu wajah Alya penuh kehangatan. "Cuma duduk bertiga sama kopi dan kamu, rasanya semua rasa lelah habis kuliah langsung hilang."
Alya menopang dagu dengan kedua tangannya, membalas tatapan Raka dengan pijar mata yang berbinar bahagia. "Itu yang dinamakan kebahagiaan sederhana, Raka. Kita nggak perlu hal-hal mewah buat merasa utuh. Cukup kebersamaan kecil kayak gini setiap hari."
"Kebersamaan kecil yang membahagiakan," ulangi Raka pelan, menyunggingkan senyum tulus. "Aku rasanya nggak mau waktu berjalan cepat kalau lagi sama kamu."
"Ya jangan berhenti di sini dong jalannya," goda Alya seraya mencubit pelan punggung tangan Raka. "Kita kan masih harus masuk kelas jam delapan nanti. Ayo dihabiskan kopinya."
Raka meraih genggaman tangan Alya di atas meja, menyatukan jemari mereka rapat-rapat. "Aku janji, Al. Mau sesibuk apa pun kita nanti, kebiasaan kecil ini bakal terus kita jaga."
"Janji ya, Ka?" desis Alya pelan seraya mempererat genggamannya. "Kebersamaan sederhana ini milik kita berdua."
Namun, kehangatan pagi yang mendamaikan itu mendadak terusik saat pintu kedai kopi terdorong terbuka kasar. Suara denting bel pintu berbunyi nyaring, disusul derap langkah kaki tegas yang mendekat ke arah meja mereka. Sesosok pria bersetelan kemeja mahal berdiri menjulang di samping meja, menatap genggaman tangan Raka dan Alya dengan pandangan dingin nan penuh kebencian.
Dion.
"Wah, wah... betapa manisnya pemandangan pagi ini," sindir Dion dengan suara bariton yang sarat dengan nada celaan. "Pangeran miskin dan putri panggungnya sedang menikmati sarapan murah."
Raka seketika melepaskan genggaman tangannya, berdiri tegak pasang badan di depan Alya. "Mau apa kamu ke sini, Dion?"
Dion menyunggingkan senyum sinis. "Aku cuma mau mengingatkan kalian berdua, kebahagiaan murahan ini nggak akan bertahan lama."
°˖✧✿✧˖°
Alya ikut berdiri di samping Raka, menatap Dion dengan pandangan tajam nan penuh amarah. "Dion! Berhenti mengganggu kehidupan kami! Kamu nggak punya hak apa pun buat datang dan merusak kedamaian kami!"
Dion tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang memancarkan dominasi mutlak. "Aku tidak sedang merusak, Alya. Aku hanya datang membawa kenyataan. Kamu pikir hubungan romantis penuh kepalsuan dengan pria tanpa masa depan seperti Raka ini bisa memberi kamu kepastian?"
"Kepastian apa yang kamu maksud, Dion?!" gertak Raka seraya maju satu langkah, menyembunyikan Alya di balik bahu tegapnya. "Kamu mengukur segala sesuatunya pakai uang dan kekuasaan. Kamu nggak pernah tahu rasanya ketulusan yang kami miliki!"
"Ketulusan?" Dion memiringkan kepalanya, memandang Raka dari atas ke bawah dengan raut wajah penuh hinaan. "Ketulusan tidak bisa dipakai buat bayar tagihan, Raka. Kamu bahkan tidak tahu kalau perusahaan keluarga Alya sedang berada di ujung tanduk, bukan?"
Kata-kata Dion membuat Alya terperanjat kaget. Wajahnya seketika pucat pasi. "Kamu... apa yang kamu katakan, Dion?!"
Dion memindahkan fokus tatapannya pada Alya, tersenyum penuh kemenangan. "Ayahmu baru saja mengajukan pinjaman modal besar ke bank milik keluargaku minggu lalu, Alya. Dan tebak siapa yang memegang keputusan akhir untuk menyetujui atau menolak pinjaman itu?"
Dada Raka serasa dihantam beban berat. Ia menoleh perlahan menatap Alya yang tampak terguncang hebat. "Al... apa ini benar?"
Alya menggelengkan kepala dengan bibir gemetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku... aku nggak tahu, Ka. Ayah nggak pernah cerita soal masalah bisnis keluarga ke aku..."
"Tentu saja dia tidak cerita," potong Dion dingin. "Karena ayahmu tahu, kamu terlalu sibuk bersenang-senang dengan pria medioker ini! Tapi tenang saja, Alya. Aku pria yang sangat pemurah."
Dion melangkah satu tapak lebih dekat, menatap Raka dan Alya secara bergantian dengan raut wajah yang tak menoleransi bantahan.
"Pilihan ini sangat sederhana," tegas Dion seraya melipat tangan di dada. "Tinggalkan Raka dan kembalilah padaku. Maka detik ini juga, aku akan menandatangani persetujuan suntikan dana untuk perusahaan ayahmu. Tapi kalau kamu tetap memilih bertahan dalam kebahagiaan murahanmu bersama Raka... jangan salahkan aku jika besok pagi perusahaan ayahmu dinyatakan bangkrut total."
"Kamu iblis, Dion!" bentak Alya murka, air matanya meledak tak terbendung. "Kamu memanfaatkan kesulitan keluargaku buat memaksakan kehendakmu!"
"Ini bukan soal iblis atau bukan, ini soal bisnis dan kenyataan," sahut Dion santai. "Bagaimana Raka? Kamu mau melihat keluarga kekasihmu hancur jalanan hanya demi mempertahankan egomu?"
Raka mengepalkan tangannya begitu keras hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Amarah dan rasa tidak berdaya berkecamuk hebat di dalam dadanya.
°˖✧✿✧˖°
Suasana di dalam kedai kopi yang tadinya hangat kini berubah membeku bagaikan ruang pendingin. Pelanggan lain di sudut ruangan mulai berbisik-bisik, sementara kasir kedai menatap tegang ke arah meja mereka. Dion tetap berdiri dengan senyum kemenangan di wajahnya, menikmati kehancuran yang baru saja ia ciptakan dalam hitungan menit.