Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Semua Orang Memuji Alya

Semua Orang Memuji Alya

Banyak orang mengagumi kecantikan dan kebaikan Alya.

Suara riuh gemuruh tepuk tangan membahana di dalam aula utama kampus yang megah. Cahaya lampu sorot kuning keemasan memancar tepat ke tengah panggung, menyoroti sosok Alya yang berdiri anggun mengenakan gaun batik modern berwarna biru gelap. Senyum manis tak henti-hentinya mengembang dari bibirnya saat ia menerima cangkir piala penghargaan sebagai Ketua Panitia Bakti Sosial Kampus Terbaik tahun ini. Di sudut jajaran kursi penonton bagian depan, Raka duduk tegak seraya bertepuk tangan paling kencang. Matanya tak pernah lepas memandangi Alya dengan binar kebanggaan yang meluap-luap dari dadanya.

"Hebat banget pacar kamu itu, Ka," bisik Dimas, sahabat Raka yang duduk tepat di sebelah kirinya, seraya menyenggol pelan bahu Raka.

Raka tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, senyum lebar terukir di wajahnya. "Iya, Dim. Dia memang selalu totalitas kalau bikin acara kemanusiaan kayak gini."

"Bukan cuma masalah totalitas kerjaan aja, Ka," pangkas Dimas seraya mengamati sosok Alya di panggung. "Lihat tuh auditorium, hampir semua pasang mata memandang ke arah dia. Alya itu udah cantik, baik hati, ramah sama siapa aja, cerdas pula. Bener-bener definisi cewek sempurna yang dikagumi semua orang di kampus ini."

"Aku setuju banget sama ucapan Dimas, Ka," sahut Siska, teman seangkatan mereka yang duduk di barisan depan. Siska menoleh sebentar ke belakang menatap Raka. "Kemarin aja pas acara panti asuhan, Alya rela nungguin anak-anak panti makan duluan sampai dia sendiri lupa makan siang. Banyak senior dan dosen yang puji kebaikan hatinya. Kamu beruntung banget bisa dapetin Alya, Ka."

Dada Raka berdesir hangat mendengar gelombang pujian yang terus mengalir untuk kekasihnya. Ada rasa bangga yang luar biasa mekar di dalam jiwanya, namun di sisi lain, ada bisikan kecil kecemasan yang mendadak menyusup samar di relung hatinya.

Acara penganugerahan pun usai. Para hadirin mulai memadati area atrium gedung untuk menikmati sesi ramah tamah. Alya berjalan turun dari panggung, mengapit piala tembaganya dengan anggun. Belum sempat ia melangkah mendekati Raka, puluhan mahasiswa, junior, hingga para dosen muda langsung mengerumuninya untuk memberikan ucapan selamat dan berswafoto bersama.

"Selamat ya, Alya! Kamu luar biasa banget hari ini!" seru seorang mahasiswa tingkat akhir seraya menyodorkan sebuket bunga mawar merah.

Alya menerima bunga itu dengan binar mata bahagia dan senyum yang amat tulus. "Terima kasih banyak ya, Kak! Ini semua berkat kerja keras seluruh tim panitia juga kok, bukan cuma aku sendiri."

"Tetap aja kepemimpinan dan kebaikan kamu yang bikin acara ini sukses besar, Al," puji salah satu junior wanita yang ikut berfoto di sampingnya. "Udah cantik, nggak pernah sombong lagi!"

Raka berdiri beberapa meter dari kerumunan itu, memilih mengamati dari jauh agar tidak mengganggu momen kebahagiaan Alya. Ia menggenggam erat botol air mineral dingin yang sengaja ia siapkan untuk Alya. Melihat betapa bersinarnya Alya di mata semua orang, Raka menyunggingkan senyum tipis, meski di dalam dadanya mulai merambat rasa kecil hati yang perlahan menggerogoti ketenangannya.

Alya akhirnya berhasil menerobos kerumunan para pengagumnya. Langkah kakinya yang ringan berpacu menghampiri Raka yang sedang bersandar di pilar gedung.

"Raka!" panggil Alya riang, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan.

Raka menyambutnya dengan senyuman hangat, menyodorkan botol air mineral yang langsung disambut Alya dengan senang hati. "Selamat ya, Al. Kamu bener-bener bersinar banget malam ini."

"Makasih banyak ya, Ka," jawab Alya seraya meneguk air minumnya pelan, lalu menatap Raka dengan lembut. "Tapi dari tadi aku nyariin kamu. Kenapa kamu malah berdiri jauh-jauh di sini? Kenapa nggak naik ke panggung pas aku dipanggil tadi?"

Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tertawa kecil mencoba menutupi kecanggungannya. "Aku nggak mau mengganggu momen kamu, Al. Lagi pula, semua orang lagi fokus memuji dan mengagumi kamu. Kalau aku maju, nanti malah ngerusak pemandangan panggung."

Alya menghentikan cegukannya, matanya menyipit menatap Raka dengan kerutan samar di dahinya. "Kamu bicara apa sih, Ka? Ngerusak pemandangan gimana maksud kamu?"

°˖✧✿✧˖°

Alya menggeser posisi berdiri agar lebih berhadapan rapat dengan Raka, mengabaikan beberapa pasang mata yang masih terus memandangi ke arah mereka di atrium auditorium.

"Maksud aku, kamu itu pusat perhatian malam ini, Al," terang Raka pelan, suaranya diatur agar tidak terdengar oleh orang lain di sekitar mereka. "Semua orang memuji kecantikan kamu, kebaikan kamu, kepintaran kamu. Sementara aku... aku cuma cowok biasa dari jurusan teknik yang penampilannya pas-pasan."

Alya menghela napas panjang, memasang wajah sedikit cemberut namun sarat akan kasih sayang. Ia merogoh tangan Raka, menggenggam jemari kekasihnya itu erat-erat. "Raka, dengerin aku ya. Aku nggak peduli seberapa banyak orang yang memuji atau mengagumi aku di luar sana. Di mata aku, yang paling berharga itu tetap kamu. Tanpa dukungan kamu yang selalu sabar nemenin aku rapat sampai malam, aku nggak bakal bisa berdiri di atas panggung itu."

Raka menatap genggaman tangan Alya, merasakan kehangatan tulus yang mengalir ke dadanya. "Aku cuma merasa... kadang aku nggak seimbang buat berdiri di samping kamu, Al. Banyak cowok hebat di kampus ini yang jauh lebih pantas mendapat perhatian kamu."

"Jangan pernah bicara konyol kayak gitu lagi ya, Ka!" gertak Alya pelan seraya mencubit lembut punggung tangan Raka. "Aku milih kamu karena ketulusan dan kebaikan hati kamu, bukan karena status atau penilaian orang lain. Faham?"

Raka menyunggingkan senyum leganya kembali, mengangguk perlahan. "Iya, iya, paham kekasihku yang paling baik hati."

"Nah, gitu dong! Ayo ah, aku lapar banget. Kita cari makan malam yuk!" ajak Alya riang seraya mengapit lengan Raka tanpa ragu di hadapan kerumunan orang.

Namun, baru saja mereka melangkah tiga tapak menuju pintu keluar auditorium, sebuah suara langkah sepatu kulit berhak keras bergema memotong keramaian. Langkah mereka terhenti seketika saat sesosok pria tinggi bersetelan kemeja mewah berwarna abu-abu gelap berdiri menghalangi jalan mereka.

Dion.

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat akan dominasi dan nada kemarahan yang terselubung rapi. Dion memegang sebuket bunga lily putih berukuran besar di tangan kirinya.

"Selamat atas penghargaanmu malam ini, Alya," tutur Dion dengan suara baritonnya yang tenang namun menekan. "Bunga lily ini sangat cocok untuk menggambarkan kecantikan dan kebaikanmu yang dipuji semua orang di auditorium ini."

Alya menarik lengannya dari genggaman Raka, memasang raut wajah dingin tanpa ekspresi. "Terima kasih, Dion. Tapi kamu tidak perlu repot-repot membawa bunga sebesar ini ke kampusku."

Dion mengabaikan penolakan halus Alya, ia justru melemparkan pandangan meremehkan ke arah Raka yang berdiri kaku di samping Alya.

"Tentu saja tidak repot, Al," sahut Dion seraya memajukan langkahnya. "Orang sepertimu berhak mendapatkan apresiasi terbaik dari orang yang sepadan. Bukan sekadar botol air mineral murah dari pria yang bahkan tidak punya keberanian berdiri di sampingmu saat semua orang memujimu."

Raka mengepalkan jemarinya kuat-kuat, matanya menyalang tajam menatap musuh bebuyutannya itu. "Jaga ucapanmu, Dion! Alya tidak butuh barang-barang mahalmu untuk merasa dihargai!"

Dion tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang memancarkan penghinaan mutlak. "Kamu yakin, Raka? Mari kita lihat seberapa tahan harga diri dan hubungan murahanmu ini saat kenyataan sebenarnya menghantam keluargamu besok pagi."

°˖✧✿✧˖°

Kata-kata Dion melayang gantung di udara bagaikan ancaman terselubung yang amat berbisa. Suasana hangat paska acara penghargaan seketika lenyap, berganti aura tegang yang membeku di antara mereka bertiga.

Lihat selengkapnya