Rasa Bangga Seorang Kekasih
Raka merasa bangga berjalan bersama Alya.
Cahaya keemasan matahari sore menyelinap di antara celah dedaunan pohon angsana yang berjejer rapi di sepanjang jalan koridor kampus. Angin semilir berhembus pelan, membawa kesegaran di tengah riuh rendah aktivitas mahasiswa yang berlalu-lalang. Di atas trotoar batu alam yang bersih, Raka melangkah pelan dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang di bibirnya. Di sampingnya, Alya berjalan mengimbangi langkahnya, mengapit erat lengan kanan Raka dengan jemarinya yang lentik. Alya mengenakan gaun kasual berwarna krem sederhana, namun pesonanya memancar begitu hangat.
"Kamu kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri, Ka?" tanya Alya seraya mendongak kecil, memandang wajah kekasihnya dengan kening berkerut heran.
Raka menoleh, menatap mata bening Alya yang berbinar terpapar sinar sore. "Nggak apa-apa, Al. Aku cuma lagi merasa jadi cowok paling beruntung di dunia sore ini."
"Halah, mulai deh gombalnya," balas Alya seraya terkekeh pelan. Pipi mulusnya merona merah, menambahkan kesan manis yang selalu berhasil melelehkan dada Raka. "Memangnya ada apa sampai merasa beruntung banget?"
"Ya kamu lihat aja sendiri," ujar Raka seraya memberi isyarat mata ke sekeliling mereka. "Hampir semua orang yang kita lewati memperhatikan kamu. Dan kamu di sini, berjalan di samping aku, melingkarkan tangan kamu di lengan aku. Ada rasa bangga yang luar biasa meluap di dalam dada aku, Al."
Alya menghentikan langkahnya sejenak, membuat Raka ikut berhenti. Gadis itu menyapu pandangan ke sekitar area taman kampus, di mana beberapa mahasiswa memang sempat menoleh dan berbisik-bisik kagum melihat keanggunan Alya. Namun, Alya segera memindahkan pandangannya kembali pada Raka, menatap lurus ke dalam mata pria itu dengan ketulusan yang melimpah.
"Raka, dengerin aku ya," tutur Alya dengan suara lembut yang menenangkan jiwa. "Mereka boleh memandang atau menilai apa saja dari luar. Tapi rasa bangga itu bukan milik aku sendiri, ini milik kita berdua. Aku yang justru merasa sangat bangga bisa berjalan bersisian sama kamu."
"Tapi aku cuma cowok biasa, Al," bisik Raka pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kerendahan hati. "Kadang aku berpikir, kebaikan dan kecantikan kamu itu terlalu indah untuk bersanding sama aku."
Alya menggelengkan kepala dengan tegas. Ia melepaskan pegangan di lengan Raka, lalu beralih meraih kedua telapak tangan pria itu, menggenggamnya rapat-rapat di depan dada mereka.
"Jangan pernah bicarakan hal itu lagi, Ka," gertak Alya pelan namun penuh penekanan. "Bagi aku, rasa bangga seorang kekasih itu bukan karena harta atau status sosial. Rasa bangga itu ada karena ketulusan kamu, karena kesabaran kamu nemenin aku dari nol, dan karena cara kamu memperlakukan aku dengan sangat terhormat."
Raka meresapi setiap kalimat yang keluar dari bibir Alya. Kehangatan melingkupi dadanya, mengikis habis segala rasa ragu yang sempat bersarang. "Terima kasih ya, Al. Kamu selalu tahu cara bikin aku merasa berharga."
"Sama-sama, Raka tercinta," goda Alya seraya mengedipkan sebelah matanya riang. "Sekarang ayo kita lanjut jalan. Katanya mau traktir aku es krim di kedai dekat gerbang?"
"Siap, Tuan Putri!" jawab Raka tertawa lebar seraya kembali merangkul jemari Alya dengan erat.
Namun, kedamaian sore yang indah itu mendadak terancam sirna. Di ujung koridor yang tenang, derap langkah sepatu yang keras berdentam melintasi jalanan paving block. Sesosok pria bersetelan kemeja formal berwarna hitam mahal berdiri menghadang jalur jalan mereka. Pandangan matanya tajam, sarat dengan kebencian dan rasa cemburu yang membakar.
Dion.
"Rupanya pasangan romantis ini sedang memamerkan kebahagiaan murahan di depan umum," sindir Dion dengan suara bariton yang menusuk telinga.
Raka refleks menarik Alya sedikit ke belakang tubuhnya, memasang mode siaga. "Mau apa lagi kamu ke sini, Dion?"
Dion menyunggingkan senyum mengejek yang amat dingin. "Aku hanya ingin menyadarkanmu, Raka. Rasa banggamu berdiri di sebelah Alya itu hanyalah ilusi semu yang sebentar lagi akan hancur berantakan."
°˖✧✿✧˖°
Alya melangkah keluar dari belakang bahu Raka, menatap Dion dengan raut wajah yang dipenuhi rasa jengkel dan kemarahan yang membuncah.
"Dion! Berhenti mengganggu kami!" seru Alya dengan nada bersiap melawan. "Kamu tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa aku berjalan atau kepada siapa aku merasa bangga!"
Dion tertawa pelan, sebuah tawa kering yang meremehkan. "Aku tidak sedang mengaturmu, Alya. Aku hanya prihatin melihat wanita sehebat kamu bersanding dengan pria yang tidak punya masa depan. Raka hanya memanfaatkan kepopuleran dan kebaikanmu untuk menutupi kekurangan dirinya sendiri!"
"Jaga mulutmu, Dion!" bentak Raka seraya melangkah maju satu tapak, dadanya membusung menantang Dion. "Aku mencintai Alya dengan tulus! Aku tidak pernah memanfaatkan apa pun dari dirinya!"
"Tulus?" Dion memiringkan kepalanya, memasang raut wajah penuh hinaan yang teramat sangat. "Ketulusanmu itu tidak ada harganya di dunia nyata, Raka. Kamu merasa bangga berjalan dengan Alya sore ini, tapi apakah kamu tahu kalau dalam hitungan hari, tempat tinggalmu dan keluarga Alya akan ditimpa bencana besar karena ulah egomu sendiri?"
Kata-kata Dion membuat Alya terperanjat kaget. Kerutan cemas langsung terpancar di dahinya yang halus. "Apa maksudmu, Dion?! Bencana apa yang kamu bicarakan?!"
Dion merapikan letak kemeja mewahnya seraya melipat kedua tangan di dada, menikmati perubahan raut wajah Alya dan Raka.
"Ayahmu baru saja menandatangani surat utang modal proyek yang dijamin oleh konsorsium milik keluargaku, Alya," terang Dion dengan senyum penuh kemenangan. "Dan Raka... rumah kontrakan yang ditinggali ibumu di kampung halaman baru saja terdaftar dalam area eksekusi lahan untuk pembangunan kawasan komersial baru milik perusahaanku."
Raka merasa aliran darahnya membeku seketika. Matanya membelalak tak percaya mendengar pernyataan kejam tersebut. "Kamu... kamu bohong, Dion! Lahan kontrakan Ibu tidak mungkin dijual begitu saja!"
"Tentu saja bisa," balas Dion dingin dan santai. "Semua orang punya harga, Raka. Ibumu yang sakit-sakitan itu akan ditendang keluar dari rumahnya minggu depan jika aku tidak memberikan instruksi penundaan."
"Kamu iblis, Dion!" teriak Alya murka, air mata mulai menggenang di sudut mata cantiknya. "Kamu menggunakan kekuasaan dan kekayaan keluargamu hanya untuk menghancurkan hidup orang-orang yang tidak bersalah!"
"Aku melakukan ini karena kamu membangkang, Alya," potong Dion dengan nada suara yang meninggi penuh dominasi. "Pilihanmu sangat jernih dan sederhana sore ini. Tinggalkan Raka, ikut denganku sekarang juga, dan jadilah kekasihku. Maka detik ini juga aku akan membatalkan penggusuran rumah ibu Raka dan memutihkan utang bisnis ayahmu."
Dion melangkah satu tapak lebih dekat, menunjuk dada Raka dengan jari telunjuknya yang dipenuhi amarah tersembunyi.