Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Ketika Semua Mata Tertuju Padanya

Ketika Semua Mata Tertuju Padanya

Popularitas Alya mulai membuat Raka tidak nyaman.

Cahaya lampu sorot panggung terpancar terang menembus ruangan aula utama gedung kesenian kota, membiaskan pijar keemasan yang menyelimuti sosok Alya. Di tengah ruangan yang megah itu, puluhan wartawan media kampus dan fotografer lokal berkumpul, kamera mereka tak henti-hentinya memancarkan kilatan lampu kilat. Alya, yang mengenakan gaun anggun berwarna biru pastel, tersenyum ramah menjawab setiap pertanyaan dengan kecerdasan dan keluwesan yang memikat. Di barisan penonton bagian belakang, Raka berdiri kaku, bersandar pada pilar beton dingin seraya menggenggam erat dua botol minuman yang mulai melonggar embun dinginnya.

"Alya, bagaimana rasanya menjadi tokoh muda paling berpengaruh di kampus tahun ini?" seru seorang jurnalis pria seraya mengarahkan mikrofon.

Alya menyunggingkan senyum manis yang membuat seluruh isi aula terpesona. "Semua ini berkat kerja sama tim dan dukungan dari orang-orang terdekatku. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk setiap kegiatan sosial yang kami jalankan."

"Luar biasa! Alya memang tiada duanya!" sorak salah satu mahasiswa dari barisan depan, disusul tepuk tangan riuh yang membahana di seluruh ruangan.

Di sudut belakang, Raka menghela napas panjang. Rasa bangga yang biasanya mekar di dadanya kini perlahan tergantikan oleh ganjalan yang makin mengusik. Ia melihat betapa Alya begitu dipuja, dikelilingi oleh banyak pria berpenampilan rapi dan berpendidikan tinggi yang tak henti-hentinya melempar pujian. Raka melihat ke arah pakaiannya sendiri—hanya kemeja flanel sederhana dan sepatu kets yang mulai pudar warnanya.

"Kamu pacarnya Alya, kan?" sapa seorang mahasiswa bertokoh rapi yang tiba-tiba berdiri di samping Raka, menatap Raka dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.

Raka menoleh tipis, mengangguk pelan. "Iya, aku Raka."

"Hebat ya Alya. Sekarang semua mata tertuju padanya. Sejujurnya, aku heran kenapa cewek sepopuler dan secantik dia masih betah sama cowok biasa kayak kamu," celoteh pria itu tanpa beban, lalu tertawa kecil sebelum melangkah pergi meninggalkan Raka yang terpaku membisu.

Kata-kata itu merayap bagaikan racun yang merusak ketenangan pikiran Raka. Kebersamaan mereka yang dulunya sederhana dan penuh kehangatan kini terasa makin tergeser oleh kepopuleran Alya yang membumbung tinggi. Setiap kali berjalan di area kampus, semua mata tertuju pada Alya, dan bisik-bisik perbandingan mengenai ketidaksepadaan mereka selalu menembus telinga Raka.

Acara pers itu akhirnya selesai. Alya melangkah turun dari atas panggung, menerobos kerumunan pengagumnya yang masih mencoba meminta foto bersama. Dengan senyum riang, Alya menghampiri Raka yang berdiri kaku di dekat pilar.

"Raka! Kamu sudah lama nunggu di sini?" tanya Alya riang seraya menyapu keringat tipis di dahi dengan jemarinya.

Raka menyodorkan botol minuman tanpa banyak ekspresi. "Lumayan. Selamat ya, pertemuannya sukses besar."

Alya menerima botol itu, lalu mengerutkan keningnya melihat raut wajah Raka yang tampak murung dan berjarak. "Kamu kenapa, Ka? Kok nada bicara kamu dingin begitu? Ada masalah?"

"Nggak ada apa-apa, Al," jawab Raka pelan seraya memalingkan pandangannya. "Aku cuma merasa tempat ini terlalu bising. Dan kamu... terlalu sibuk jadi pusat perhatian semua orang."

Alya menghentikan cegukannya, menatap Raka dengan tatapan heran nan terluka. "Maksud kamu apa bicara begitu, Raka? Aku melakukan ini semua juga buat kegiatan kita, buat kebaikan bersama."

"Tapi aku merasa makin nggak nyaman, Al!" pangkas Raka dengan nada yang sedikit meninggi, membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh. "Setiap kali kita jalan, semua mata tertuju sama kamu. Dan aku cuma dianggap benalu yang nggak sepadan berdiri di samping kamu."

°˖✧✿✧˖°

Alya terperanjat mendengar nada bicara Raka yang tidak biasa. Ia memegang lengan Raka, mengajak pria itu melangkah keluar menuju pelataran gedung yang lebih sepi di bawah naungan pohon angsana.

"Raka, bicaralah yang jelas," pinta Alya dengan suara gemetar, matanya menatap Raka penuh keheranan. "Kenapa kepopuleranku malah membuat kamu tidak nyaman? Selama ini kita selalu saling mendukung, kan?"

Raka melepaskan pegangan tangan Alya secara perlahan, menghela napas berat yang sarat akan beban di dada. "Dulu iya, Al. Tapi sekarang semuanya beda. Kamu sudah jadi milik publik. Semua orang memuja kamu, membandingkan aku sama cowok-cowok hebat yang mengelilingi kamu. Aku merasa kehilangan Alya yang dulu... Alya yang cuma ada buat kebersamaan sederhana kita."

"Aku tidak pernah berubah, Raka!" tegas Alya seraya melangkah mendekat, membalas tatapan Raka dengan keteguhan. "Perasaanku sama kamu masih sama persis seperti dulu. Kenapa kamu harus mendengarkan omongan orang lain yang cuma melihat dari luar?"

"Karena omongan mereka itu kenyataan, Al!" balas Raka dengan suara pecah, menatap Alya dengan kemarahan pada dirinya sendiri. "Aku cuma cowok biasa yang nggak punya apa-apa! Sementara kamu... kamu dipuja semua orang. Setiap kali mata orang-orang tertuju sama kamu, aku makin sadar betapa jauhnya jarak di antara kita!"

Alya menggelengkan kepala keras-keras, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jarak itu cuma ada di pikiran kamu sendiri, Raka! Aku tidak pernah peduli soal status atau kepopuleran! Aku cuma peduli sama kamu!"

"Tapi aku peduli, Alya!" bentak Raka, napasnya memburu. "Aku capek didikte sama pandangan meremehkan orang-orang setiap hari!"

Sebelum Alya sempat membalas ucapan Raka, derap langkah sepatu kulit yang tegas bergema di atas jalan setapak pelataran. Sesosok pria bersetelan kemeja formal berwarna biru tua melangkah mendekat dengan gaya angkuh yang teramat khas.

Dion.

"Betapa menyedihkannya melihat pertengkaran sepasang kekasih ini," sindir Dion dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya.

Raka seketika pasang badan, berdiri di depan Alya seraya menatap Dion dengan pandangan tajam penuh dendam. "Mau apa kamu ke sini, Dion?!"

Dion memiringkan kepalanya, memandang Raka dengan tatapan penuh penghinaan. "Aku hanya lewat dan kebetulan mendengar keluhanmu, Raka. Ternyata kamu sadar diri juga ya. Kamu memang tidak akan pernah sanggup mendampingi wanita sebesar Alya."

"Jaga mulutmu, Dion!" gertak Alya dari balik bahu Raka, suaranya sarat akan amarah yang membakar. "Jangan pernah ikut campur urusan kami!"

Dion tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang memancarkan kekuasaan mutlak. "Aku harus ikut campur, Alya. Karena popularitasmu yang makin tinggi itu justru membuat keluargamu dalam bahaya jika kamu tetap memelihara pria tidak berguna ini di sampingmu."

Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa maksudmu, Dion?! Jangan membawa-bawa keluarga Alya lagi!"

Dion merapikan letak jam tangan mewahnya, menatap Raka dan Alya bergantian dengan pandangan mematikan. "Keluarga Alya baru saja mengajukan perpanjangan izin operasional yayasan sosial mereka ke lembaga yang dipimpin oleh ayahku. Dan kamu tahu apa artinya itu, bukan?"

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya