Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Cinta yang Terlalu Ingin Memiliki

Cinta yang Terlalu Ingin Memiliki

Rasa sayang Raka mulai berubah menjadi sikap posesif.

Mentari sore membiaskan warna jingga keemasan yang hangat menembus celah dedaunan pohon angsana di taman kampus. Di atas bangku kayu, Alya duduk seraya memangku laptop yang menampilkan draf artikel jurnal ilmiah. Di sampingnya, Raka duduk tegak dengan pandangan mata yang tak pernah lepas mengawasi setiap gerak-gerik Alya. Suasana yang semula tenang mendadak berubah agak kaku saat seorang mahasiswa laki-laki dari jurusan seni melangkah mendekati mereka membawa sebendel berkas.

"Alya, ini draf brosur untuk pameran minggu depan. Bisa tolong dicek sebentar?" tanya mahasiswa itu dengan senyum ramah.

Alya mendongak lalu menyunggingkan senyum hangatnya. "Oh iya, Rio. Taruh di sini ya, nanti langsung aku periksa."

"Makasih banyak ya, Al. Nanti kalau ada revisi kabari aku lewat WhatsApp aja," ujar Rio santai.

Belum sempat Alya membalas, Raka berdiri tiba-tiba dari duduknya. Langkah kakinya maju satu tapak, memotong jarak antara Alya dan Rio dengan wajah yang tegang. Pandangannya menajam, memancar hawa ketidaksukaan yang amat jelas.

"Revisinya biar ditaruh di sekretariat saja, Rio. Kamu nggak perlu WhatsApp Alya malam-malam," potong Raka dengan nada suara yang dalam dan dingin.

Rio tertegun sejenak, menatap Raka dengan kening berkerut heran. "Lho, kan cuma urusan pameran kampus, Ka. Lagian biar cepat beresnya."

"Tetap saja, urusan organisasi ada jalur resminya," gertak Raka seraya menyilangkan kedua tangan di dada. "Alya sibuk dan tidak punya waktu untuk melayani pesan pribadi soal hal seperti ini."

Alya menghela napas panjang, merapikan letak laptopnya lalu berdiri di sebelah Raka. Wajah cantiknya memancarkan rasa tidak enak hati atas sikap kekasihnya itu.

"Maaf ya, Rio. Nanti drafnya aku taruh di meja sekretariat seperti biasa kok. Biar aku periksa dulu sekarang," selak Alya mencoba mencairkan suasana.

Rio mengangguk pelan, meski jelas terpancar rasa canggung dari raut wajahnya. "Oke deh, Al. Aku pamit dulu kalau begitu."

Setelah langkah kaki mahasiswa itu menjauh dan menghilang di balik tikungan koridor, Alya berpaling menatap Raka. Kerutan samar terpancar di dahinya yang mulus, menahan rasa sesak yang perlahan mulai mengendap di dalam dadanya.

"Raka, kamu kenapa sih?" tanya Alya dengan suara pelan namun sarat penekanan. "Kenapa kamu harus bersikap kaku dan seposesif itu sama Rio?"

Raka menoleh, menatap mata Alya dengan binar posesif yang tak lagi disembunyikannya. "Aku cuma menjaga kamu, Al. Aku nggak suka lihat cowok lain cari-cari alasan buat menghubungi kamu di luar jam kuliah."

"Tapi itu cuma urusan pameran kampus, Raka!" balas Alya seraya melipat kedua tangannya. "Kamu belakangan ini makin aneh. Semua teman laki-lakiku kamu batasi. Kamu selalu periksa ponselku, kamu selalu menanyakan aku ada di mana setiap jam."

Raka meraih kedua bahu Alya, menggenggamnya erat seraya menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. "Aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai kamu, Alya. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Aku cuma ingin kamu sepenuhnya jadi milikku."

Alya melepaskan pegangan tangan Raka di bahunya secara perlahan. Senyum manis yang biasanya selalu menghiasi bibirnya kini memudar, berganti raut kelelahan jiwa. "Cinta yang terlalu ingin memiliki itu menyiksa, Raka. Rasa sayang kamu ini makin lama bukan membuatku merasa aman, tapi justru membuatku merasa tercekik."

°˖✧✿✧˖°

Kata-kata Alya melayang kaku di udara sore yang dingin. Raka terpaku di tempatnya berdiri, merasakan keheningan menusuk di antara mereka berdua. Emosi yang membakar dadanya bukannya mereda, melainkan kian menyala karena rasa takut akan kehilangan yang amat sangat.

"Tercekik kamu bilang, Al?" ulangi Raka dengan suara bergetar. "Aku cuma mau memastikan tidak ada pria lain yang mencoba masuk ke dalam hidupmu! Apakah salah kalau aku berusaha melindungi hubungan kita?"

Alya melangkah mundur satu tapak, memandang Raka dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kecewa mendalam.

"Melindungi tidak sama dengan mengontrol, Raka!" tegas Alya, suaranya mulai meninggi menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokan. "Kamu melarang aku ikut rapat malam, kamu cemburu sama semua temanku, bahkan kamu menungguku di depan kelas setiap hari seolah aku ini tahanan kamu!"

"Aku menunggumu karena aku ingin jalan sama kamu!" balas Raka dengan dada yang berombak naik turun. "Aku tidak ingin ada cowok lain yang mengambil kesempatan saat aku tidak ada di sampingmu!"

"Itu namanya tidak percaya padaku, Raka!" pangkas Alya seraya merapikan tasnya dengan jemari yang gemetar. "Kalau kamu percaya sama aku, kamu tidak perlu bersikap seposesif ini. Cinta itu memberi ruang, bukan mengurung!"

Alya berbalik badan, berencana melangkah pergi meninggalkan area taman kampus. Namun baru dua langkah berjalan, Raka dengan cepat menarik pergelangan tangan Alya, menahannya rapat-rapat.

"Jangan pergi dulu, Al! Kita belum selesai bicara!" tahan Raka dengan nada perintah yang keras.

"Lepasin tangan aku, Raka!" jerit Alya seraya memutar tubuhnya, berjuang melepaskan cengkeraman tangan pria itu. "Kamu makin keterlaluan!"

Di tengah ketegangan yang membara di antara mereka berdua, sebuah derap langkah kaki bersepatu kulit yang mantap terdengar memotong keheningan taman. Sesosok pria bersetelan kemeja formal berwarna biru gelap berjalan mendekat dari arah pelataran parkir. Pandangan matanya tajam, menyiratkan dominasi dan kesenangan terselubung melihat keretakan di hadapannya.

Dion.

"Wah, wah... pemandangan yang sangat tidak elegan," sindir Dion seraya menyunggingkan senyum dinginnya yang sarat celaan. "Seorang pria yang mengaku mencintai wanita, tapi memperlakukannya seperti barang milik yang bisa dipaksa."

Raka seketika melepaskan tangan Alya, memutar tubuhnya pasang badan di depan gadis itu. Matanya menyalang tajam menatap musuh utamanya. "Jangan ikut campur, Dion! Ini urusan internal aku sama Alya!"

Dion tertawa pelan, sebuah tawa kering yang meremehkan. "Bagaimana aku bisa tidak ikut campur jika wanita seanggun Alya diperlakukan secara kasar di tempat umum seperti ini? Sikap posesifmu itu bukan bukti cinta, Raka. Itu hanya bukti betapa rendahnya rasa percaya dirimu."

°˖✧✿✧˖°

Alya melangkah keluar dari belakang bahu Raka, berdiri tegak di sampingnya seraya menatap Dion dengan pandangan yang tak kalah dingin.

Lihat selengkapnya