Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Jangan Samakan Aku dengan Mereka

Jangan Samakan Aku dengan Mereka

Raka meminta Alya percaya bahwa cintanya berbeda dari lelaki lain.

Suasana sudut kantin kampus sore itu terasa sangat mengimpit. Cahaya matahari yang memerah membiaskan bayangan panjang di atas meja kayu yang melengkung. Di hadapan Raka, Alya duduk tertunduk rapat seraya meremas jemarinya sendiri. Wajah gadis itu pucat, dibayangi ketakutan yang mendalam akibat pengalaman pahit masa lalunya dengan para lelaki yang pernah singgah dan memanfaatkannya. Raka menatap Alya dengan pandangan terluka sekaligus dipenuhi rasa duka yang mendalam.

"Al, tatap aku," pinta Raka pelan, mencoba menjangkau jemari Alya yang bergetar di atas meja.

Alya menarik tangannya perlahan, menggelengkan kepala seraya enggan menatap mata Raka. "Aku nggak bisa, Raka. Setiap kali aku mencoba percaya, rasa takut itu datang lagi. Semua lelaki pada akhirnya sama saja. Mereka mendekatiku cuma karena menginginkan sesuatu dari diriku."

"Tolong jangan katakan itu, Al," potong Raka dengan nada suara yang bergetar menahan perih di dadanya. "Kamu tidak bisa terus-menerus mengurung diri dalam bayang-bayang kesalahan orang lain. Aku ada di sini buat kamu, bukan buat memanfaatkan kamu."

Alya mendongak, matanya yang basah menatap Raka dengan binar keraguan yang tajam. "Bagaimana aku bisa yakin, Raka? Mantan kekasihku dulu juga mengucapkan hal yang sama persis seperti yang kamu katakan sekarang. Tapi apa akhirnya? Dia memanfaatkan namaku, lalu meninggalkanku begitu saja setelah tujuannya tercapai!"

"Tapi aku bukan dia, Alya!" seru Raka dengan nada tegas namun menyiratkan ketulusan yang murni. "Aku Raka! Pria yang berdiri di sampingmu saat semua orang membelakangimu. Kenapa kamu harus menyamakan aku dengan mereka yang sudah menyakitimu?"

"Karena aku takut, Raka!" bentak Alya histeris, air mata akhirnya meleleh membasahi pipinya. "Aku takut kalau aku menyerahkan seluruh kepercayaanku kepadamu, kamu hanya akan menjadi orang berikutnya yang menghancurkan hatiku!"

Raka menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dalam dadanya. Ia memajukan badannya, menatap lurus ke dalam manik mata Alya tanpa ada sedikit pun kebohongan yang tersisa.

"Aku mengerti ketakutanmu, Al. Tapi menyamakan aku dengan lelaki masa lalumu itu tidak adil buatku," tutur Raka dengan nada rendah yang amat dalam. "Cintaku padamu tidak didasari oleh motivasi licik. Aku mencintaimu karena kamu adalah Alya, bukan karena statusmu atau apa pun yang kamu miliki."

"Kata-kata manis itu terlalu mudah diucapkan, Raka," cicit Alya seraya menyapu air matanya kasar. "Di dunia ini, rasa percaya yang hancur tidak bisa dipulihkan hanya dengan janji-janji di atas kertas."

"Kalau begitu biarkan aku membuktikannya padamu," pangkas Raka mantap. "Beri aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa cintaku benar-benar berbeda dari lelaki mana pun yang pernah kamu temui."

°˖✧✿✧˖°

Alya terdiam membisu mendengarkan kesungguhan nada suara Raka. Namun, trauma masa lalu yang berakar begitu dalam tidak mudah terkikis begitu saja. Ia menggeser duduknya menjauh, menatap Raka dengan tatapan defensif yang amat kuat.

"Aku butuh waktu, Raka," bisik Alya pelan seraya merapikan tasnya. "Aku tidak bisa langsung percaya begitu saja. Rasa curiga ini selalu muncul setiap kali kamu berbuat baik padaku."

Raka menatap Alya dengan rasa perih yang teramat sangat. "Apakah selama ini setiap perhatian yang kuberi selalu kamu anggap sebagai ancaman terselubung, Al?"

"Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri, Raka!" tegas Alya seraya berdiri dari kursinya. "Aku tidak ingin menjadi wanita bodoh untuk kedua kalinya!"

Sebelum Raka sempat berdiri untuk menahan Alya, langkah kaki seseorang bergema nyaring di atas lantai keramik kantin. Sesosok pria dengan kemeja mewah bergaris biru melangkah mendekat seraya menyunggingkan senyum meremehkan.

Dion.

"Pemandangan yang sangat menarik," cemooh Dion seraya menatap Alya dan Raka bergantian. "Ternyata benteng pertahananmu masih belum bisa ditembus oleh pria miskin ini ya, Alya?"

Raka seketika pasang badan, berdiri tegak menyembunyikan Alya di balik punggungnya. Matanya menyalang tajam. "Mau apa kamu ke sini, Dion?! Jangan pernah berani ikut campur urusan kami!"

Dion tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang memancarkan superioritas. "Aku tidak ikut campur, Raka. Aku hanya ingin mengingatkan Alya agar tidak terjebak dalam ilusi cintamu. Pria seperti kamu hanya akan menjadi beban untuk wanita sekelas Alya."

"Jaga mulutmu, Dion!" bentak Alya dari balik bahu Raka, suaranya sarat amarah. "Kamu tidak ada bedanya dengan lelaki penjilat lainnya! Jangan berlagak paling tahu soal kami!"

Dion memiringkan kepalanya, menatap Alya dengan senyum penuh tipu daya. "Aku memang tidak sempurna, Alya. Tapi setidaknya aku tidak menjual janji palsu seperti Raka. Bukankah kamu tahu bahwa Raka diam-diam menemui pengurus yayasan minimalismu kemarin sore?"

Alya terperanjat mendengar ucapan Dion. Tubuhnya mendadak kaku, dan matanya melebar menatap punggung Raka. "Raka... apa maksud Dion? Kamu menemui pengurus yayasanku tanpa memberitahuku?"

Raka memutar badannya, memegang kedua bahu Alya dengan wajah yang panik. "Al, jangan dengarkan Dion! Aku bisa jelaskan semuanya!"

"Penjelasan apa lagi, Raka?!" jerit Alya penuh kekecewaan, menyapu tangan Raka dari bahunya. "Kenapa kamu harus melakukan hal itu di belakangku?!"

°˖✧✿✧˖°

Dion tersenyum puas menyaksikan keretakan yang berhasil ia ciptakan di antara Raka dan Alya. Ia melangkah maju satu tapak, menambah minyak pada kobaran api kecurigaan Alya.

"Dia menemui pengurus yayasanmu untuk meminta rekomendasi beasiswa atas namamu, Alya," beber Dion dengan suara dingin yang penuh bisa. "Ternyata kecurigaanmu benar, kan? Raka memanfaatkan kepopuleranmu untuk kepentingannya sendiri!"

Lihat selengkapnya