Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Janji di Tepi Danau

Janji di Tepi Danau

Mereka berjanji untuk saling menjaga.

Rintik hujan tipis menyisakan aroma tanah basah yang menyeruak hangat di sekitar Danau Kampus. Mentari sore perlahan menembus awan kelabu, membiaskan pijar keemasan di atas permukaan air yang tenang. Raka berjalan berdampingan dengan Alya menyusuri jalan setapak berkonblok di tepi danau. Di balik ketenangan sore itu, ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka. Raka melirik Alya yang memeluk buku catatannya erat-erat, menyadari ada jarak tak kasatmata yang belakangan ini makin menebal.

"Alya, kamu kelihatan cape banget hari ini?" sapa Raka memecah keheningan, suaranya lembut namun menyimpan kecemasan.

Alya menoleh tipis, menyunggingkan senyum singkat yang tidak sampai ke matanya. "Agak capek aja, Ka. Banyak tugas organisasi dan Laporan Akhir yang harus selesai minggu ini."

"Kamu selalu maksain diri sendiri, Al. Kan aku udah bilang, kalau ada apa-apa cerita sama aku," kata Raka seraya menghentikan langkahnya di dekat sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang.

Alya ikut menghentikan langkah, memandang lurus ke arah riak air danau yang memantulkan bayangan langit sore. Ia menghela napas panjang, menahan letupan beban yang menghimpit dadanya.

"Aku cuma nggak mau selalu merepotkan kamu, Raka," jawab Alya pelan. "Lagian, kamu juga punya banyak urusan sendiri. Aku rasa kita perlu belajar mengatasi masalah masing-masing."

Raka mengerutkan kening, melangkah satu tapak mendekati Alya. "Nggak ada yang direpotkan, Alya. Kita kan pacaran. Dari awal kita janji buat jalanin semuanya bareng-bareng. Kenapa belakangan ini kamu terkesan makin jauh dan mau nanggung semuanya sendiri?"

"Karena aku merasa kita mulai kehilangan arah, Ka!" potong Alya, suaranya sedikit meninggi namun sarat kelelahan jiwa. "Tiap kali ada masalah, kita malah saling menyalahkan atau pura-pura semuanya baik-baik saja. Aku takut kita cuma bertahan karena kebiasaan, bukan karena kita saling menjaga."

Raka tertegun, tatapan matanya meredup mendengar kejujuran Alya yang menohok jiwanya. Ia menyapu rambutnya yang sedikit basah oleh sisa gerimis, menyadari betul ketakutan yang dialami kekasihnya itu.

"Aku minta maaf kalau sikapku bikin kamu ngerasa kayak gitu, Al," cicit Raka dengan nada penuh penyesalan. "Tapi percaya sama aku, aku nggak pernah mau kehilangan kamu."

Alya menatap mata Raka, mencari kesungguhan di sana. "Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Raka. Tapi kalau begini terus, kita cuma bakal saling melukai. Kita butuh komitmen yang lebih jelas, bukan cuma kata-kata manis di saat tenang."

Raka menggenggam jemari Alya yang dingin, menatapnya penuh tekad. "Kalau gitu, kasih aku kesempatan buat ngebuktiinnya, Al. Sore ini, di tepi danau ini, aku mau kita buat janji baru. Janji yang bener-bener saling menguatkan, bukan cuma formalitas."

Alya menatap genggaman tangan Raka, mengangguk pelan seraya menyapu bening air mata di sudut matanya. "Oke, Raka. Mari kita bicarakan semuanya dengan jujur sore ini."

°˖✧✿✧˖°

Raka menarik napas dalam-dalam, menuntun Alya untuk duduk di bangku kayu tepi danau yang membasah. Udara sore berembus pelan, menerpa wajah mereka yang saling berhadapan. Di tengah kesepakatan untuk saling terbuka, Raka tahu ada satu nama yang selalu menjadi kerikil tajam dalam hubungan mereka—Dion.

"Al, sebelum kita melangkah lebih jauh," buka Raka dengan nada hati-hati, "aku mau tanya satu hal yang jujur. Apakah ini ada hubungannya sama Dion?"

Alya mengalihkan pandangannya ke tengah danau, matanya menyiratkan ketegangan yang mendalam. "Kenapa kamu selalu bawa-bawa nama Dion setiap kali kita ada masalah, Ka?"

"Karena Dion selalu ada di sekitar kamu, Alya!" tegas Raka, genggaman tangannya melonggar. "Tadi siang aku lihat dia lagi ngobrol sama kamu di depan perpustakaan. Dia kasih kamu berkas sesuatu, kan? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"

Alya mendengus getir, memandang Raka dengan kekecewaan yang makin membuncah. "Dion cuma nawarin bantuan sponsorship buat acara BEM minggu depan, Raka. Dan aku belum ambil keputusan apa-apa soal itu!"

"Kenapa harus dari Dion, Al?" bentak Raka pelan namun menajam. "Kamu tahu sendiri Dion itu punya niat buruk sama hubungan kita! Dia selalu cari celah buat jatuhin aku dan dapetin kamu! Kenapa kamu masih mau nemuin dia tanpa sepengetahuanku?"

"Karena dia memegang kendali atas dana kegiatan kampus kita, Raka!" balas Alya seraya berdiri tegak dari duduknya. "Aku mencoba profesional sebagai ketua panitia! Kamu pikir aku nyaman harus ngobrol sama Dion? Nggak, Raka! Tapi aku harus bertahan demi timku!"

Raka ikut berdiri, pasang badan di depan Alya. "Tapi kamu bisa minta bantuan aku, Al! Aku bisa cari alternatif sponsor lain! Kamu nggak perlu mengorbankan perasaan kamu dan bikin aku cemas setengah mati tiap kali lihat kamu sama dia!"

"Kamu cemas atau kamu cuma cemburu dan nggak percaya sama aku, Raka?" semprot Alya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Setiap kali aku berusaha menyelesaikan masalahku sendiri, kamu selalu merasa dikesampingkan. Kamu menuntut aku buat terbuka, tapi kamu sendiri selalu bertindak emosional tanpa memikirkan posisiku!"

Raka terdiam mematung, dadanya berombak naik turun menahan amarah dan penyesalan yang bercampur aduk. Katakatan Alya menembus pertahanannya, menyadarkan Raka bahwa kepeduliannya selama ini sering kali berubah menjadi sikap protektif yang menekan.

"Aku cuma mau menjaga kamu, Alya..." pangkas Raka dengan suara serak yang bergetar. "Aku takut kalau Dion memanfaatkan posisinya buat ngerusak kamu dan memisahkan kita."

Alya menyapu air matanya dengan kasar, menatap Raka lurus-lurus. "Kalau kamu beneran mau menjaga aku, jagalah dengan cara mempercayaiku, Raka! Bukan dengan mencurigai setiap langkah yang aku ambil!"

°˖✧✿✧˖°

Keheningan kembali menyergap pelataran Danau Kampus saat bayang-bayang pepohonan kian memanjang. Raka terpaku menatap Alya yang berdiri gemetar menahan tangis. Penyesalan mendalam merayap di dadanya, menyadarkan Raka betapa sikap protektifnya justru menjadi benalu yang merusak kepercayaan mereka.

"Maafin aku, Alya," tutur Raka pelan, melangkah maju mendekati Alya tanpa berani menyentuh tangannya lagi. "Aku salah. Aku terlalu fokus sama rasa takutku kehilangan kamu sampai-sampai aku nggak ngeliat beban berat yang lagi kamu pikul."

Alya menunduk, mengusap dadanya yang terasa sesak. "Aku capek bertengkar kayak gini terus, Ka. Tiap kali Dion muncul, kita selalu berakhir saling melukai."

Lihat selengkapnya