Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Hari yang Tak Ingin Berakhir

Hari yang Tak Ingin Berakhir

Momen romantis membuat keduanya semakin yakin.

Matahari sore meredup anggun di balik cakrawala pantai Anyer, membiaskan spektrum warna jingga dan keunguan yang memantul di atas permukaan laut. Deru ombak bergulung halus membentur pasir putih, menyisakan busa-busa putih yang membasahi kaki Raka dan Alya. Di sepanjang garis pantai yang mulai sepi dari wisatawan, Raka berjalan perlahan seraya menggenggam erat tangan Alya. Jemari mereka saling menaut rapat, seolah menolak untuk terpisah walau hanya sejenak.

"Ka, liat deh warnanya," bisik Alya seraya menghentikan langkahnya. Mata indahnya menatap lurus ke arah langit yang memerah. "Aku rasa, ini matahari terbenam paling indah yang pernah aku liat seumur hidup."

Raka menoleh, namun alih-alih menatap langit, pandangannya justru tertuju penuh pada profil samping wajah Alya yang diterpa cahaya keemasan. "Buat aku, yang paling indah itu bukan langitnya, Al. Tapi fakta kalau aku bisa berdiri di sini, menikmati momen ini bareng kamu."

Alya menatap Raka, bibirnya menyunggingkan senyum hangat seraya menyikut pelan pinggang pria itu. "Bisa aja gombalnya. Nanti kalau air lautnya mendadak makin pasang gara-gara gombalan kamu gimana?"

"Aku nggak bercanda, Alya," jawab Raka dengan nada suara yang bergetar halus namun terdengar sangat jujur. Ia memutar tubuhnya, berhadapan sepenuhnya dengan Alya. "Setiap detik yang kita laluin hari ini... dari perjalanan pagi tadi, ketawa bareng di mobil, makan es krim sambil kepanasan, sampai berdiri di pantai ini... aku rasanya nggak mau hari ini selesai."

"Sama, Ka," sahut Alya pelan, matanya berbinar menatap Raka. "Aku juga ngerasa hal yang sama. Hari ini rasanya ajaib banget. Semuanya berjalan sempurna tanpa ada beban kerjaan atau masalah orang lain."

"Kalau gitu, ayo kita bikin hari ini bertahan lebih lama," kata Raka seraya menarik pelan tangan Alya menuju sebuah saung kayu kecil yang berdiri tak jauh dari bibir pantai.

Di saung itu, Raka telah menyiapkan kejutan kecil: sebuah lampu lentera hangat dan dua cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan aroma manis. Mereka duduk bersisian di atas alas kain tenun, menikmati tiupan angin laut sore yang membawa kesegaran.

"Kamu nyiapin ini semua sendiri, Ka?" tanya Alya terkejut seraya meraih cangkir cokelatnya.

"Iya, dibantu mas-mas pengelola pantai dikit tadi pas kamu lagi ke kamar mandi," jawab Raka seraya terkekeh pelan. "Aku cuma mau memastikan, hari yang indah ini ditutup dengan cara yang layak."

Alya menyesap cokelat panasnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Raka. "Makasih ya, Raka. Hari ini benar-benar bikin aku makin yakin sama kamu."

Kata-kata Alya merambat masuk ke dalam dada Raka, membakar rasa canggung dan menggantinya dengan kehangatan murni. Momen romantis di bibir pantai ini menjadi peristiwa pemicu dari sebuah kesadaran baru dalam diri mereka berdua: bahwa hari yang manis ini bukan sekadar kencan biasa, melainkan awal dari keyakinan mutlak yang mendalam bahwa mereka tidak sanggup lagi hidup tanpa satu sama lain.

°˖✧✿✧˖°

Malam makin merambat pekat, namun kehangatan di saung tepi pantai itu justru kian mekar. Suara deru ombak kini bersahutan dengan denting instrumen musik akustik yang diputar Raka melalui pengeras suara portabel kecil. Cahaya temaram dari lentera memancarkan nuansa keemasan yang membingkai wajah Alya dengan begitu anggun.

Raka memiringkan posisi duduknya, menatap Alya yang masih betah menyandarkan kepala di bahunya. "Al..."

"Hm?" sahut Alya pelan tanpa mengubah posisinya. Ia memejamkan mata, menikmati detak jantung Raka yang berirama konstan di dekat telinganya.

"Kamu ingat nggak, dulu kita pertama kali ketemu pas proyek pameran tiga tahun lalu?" tanya Raka seraya membelai lembut rambut panjang Alya.

Alya tertawa kecil, memori lama terputar kembali di benaknya. "Inget bangetlah! Kamu waktu itu kaku banget, jutek, terus kalau bicara soal draf desain irit kata banget."

"Ya kan waktu itu aku belum kenal kamu," bela Raka seraya terkekeh. "Aku cuma fokus kerja. Siapa yang sangka, cewek rese yang waktu itu protes gara-gara pencahayaan stan kurang terang, sekarang malah jadi orang paling penting di hidup aku."

Alya menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Raka. Dialog mereka di tengah keheningan malam pantai itu terasa makin intens. "Terus, sekarang gimana? Masih ngerasa aku rese?"

"Sekarang..." Raka meraih kedua tangan Alya, menggenggamnya rapat-rapat di atas pangkuan mereka. "...aku ngerasa kamu itu rumah, Al. Tempat di mana aku bisa berhenti lari dan jadi diri aku sendiri tanpa rasa takut."

Alya menahan napas sejenak, matanya berkaca-kaca menatap keseriusan di wajah Raka. "Ka... kamu tau nggak? Hari ini bikin aku mikir banyak hal."

"Mikirin apa, Al?"

"Mikirin kita," jawab Alya tulus, suaranya halus namun mantap. "Selama ini aku selalu ragu sama yang namanya komitmen jangka panjang. Trauma masa lalu bikin aku takut kalau kebahagiaan itu cuma sementara. Tapi seharian ini bareng kamu... ngeliat cara kamu merawat aku, mendengarkan aku, bikin semua ketakutan itu hilang. Aku makin yakin kalau kamu adalah orangnya."

Raka tersenyum lebar, ada kepuasan dan kebahagiaan luar biasa yang meluap di dadanya. "Aku juga makin yakin, Alya. Sangat yakin. Aku nggak mau cari yang lain lagi."

keyakinan yang kini mengikat kedua hati mereka menandai titik plot pertama yang mengunci arah alur cerita. Keputusan emosional telah diambil di bawah sinar rembulan malam pantai: dari sekadar dua insan yang saling menyukai, Raka dan Alya resmi memantapkan langkah untuk saling memiliki secara penuh, mengubah garis hubungan mereka menjadi sebuah ikatan komitmen yang tegas.

°˖✧✿✧˖°

Keindahan malam yang seolah tak ingin berakhir itu mendadak diuji oleh kenyataan ketika mereka harus berkemas kembali ke penginapan. Saat Raka merapikan lentera dan barang-barang mereka di saung, ponsel Alya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat. Layar ponsel menyala terang, memunculkan rentetan notifikasi pesan dan panggilan tak terawab dari nomor yang sangat mereka kenal.

Alya meraih ponselnya, dan raut wajahnya yang tadinya cerah mendadak berubah tegang.

"Siapa yang telepon, Al?" tanya Raka seraya melangkah mendekat, menyadari perubahan ekspresi wanita itu.

Alya menatap Raka dengan ragu. "Dion, Ka... Dia ngirim pesan beruntun dari tadi sore."

Lihat selengkapnya