Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Foto Berdua

Foto Berdua

Kenangan indah mereka mulai tersimpan dalam sebuah foto.

Hujan baru saja reda di kawasan Senopati, menyisakan aroma tanah basah dan kilau genangan air yang memantulkan lampu-lampu jalanan Jakarta. Di sudut café yang mulai sepi, Raka menggenggam kamera mirrorless milik Alya dengan hati-hati. Layar kecil di bagian belakang kamera itu menampilkan bayangan mereka berdua yang terpantul dari cermin besar di lorong menuju toilet café.

"Al, sini sebentar," panggil Raka dengan nada suara yang sedikit ragu namun bersemangat. "Cobain posisi di sebelah kanan aku. Pencahayaannya lebih bagus di situ."

Alya mendongak dari cangkir matcha latte milik-Nya yang sudah dingin. Ia merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan sebelum melangkah mendekati Raka. "Bukannya kamu paling males kalau disuruh foto berdua, Ka? Tumben banget malam ini nawarin diri."

"Bukan males, Al. Cuma belum nemu momen yang pas aja," balas Raka seraya terkekeh pelan. Ia menggeser bahunya agar memberi ruang untuk Alya. "Lagian, dari kemarin foto di galeri kamu isinya cuma foto aku sendirian, foto kamu sendirian, atau foto makanan. Masa kita nggak punya foto berdua yang beneran niat?"

Alya berdiri tepat di samping Raka. Ia menatap pantulan mereka berdua di layar kamera kecil itu. Raka mengenakan jaket denim kesayangannya, sementara Alya memakai rajut berwarna krem yang hangat. Ada kecanggok yang mengalir halus di antara mereka, namun diiringi oleh kehangatan yang tak bisa dimungkiri.

"Yakin nih mau ambil foto sekarang?" goda Alya seraya menyikut pelan pinggang Raka. "Nanti kalau kamu nyesel punya foto bareng aku gimana?"

"Ngapain nyesel?" Raka menatap Alya langsung melalui pantulan cermin, bukan layar kamera. matanya memancarkan keseriusan yang membuat napas Alya tertahan sejenak. "Setiap detik sama kamu itu bernilai, Al. Aku justru takut kalau aku nggak abadiin sekarang, aku bakal lupa betapa bahagianya aku malam ini."

Pipi Alya merona merah. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar kamera untuk menyembunyikan rasa gugupnya. "Ya udah, buruan jepret sebelum lampunya makin dimatiin sama mas-mas café-nya."

Raka mengangkat kamera lebih tinggi, menyejajarkan lensa dengan cermin. "Satu... dua... tiga..."

Cklik.

Suara rana kamera memecah keheningan di antara mereka. Gambar pertama tercipta. Di foto itu, Raka tersenyum tipis seraya menatap lensa, sementara Alya tertawa kecil dengan telapak tangan yang sedikit menutupi mulutnya karena malu. Foto itu terasa sangat jujur, tanpa rekayasa pose yang kaku.

"Coba liat hasilnya, Ka," pinta Alya penasaran. Ia memajukan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka terkikis habis. Aroma wangi lavender dari tubuh Alya mengusik indra penciuman Raka.

Raka menekan tombol pemutaran ulang di kamera. "Nih, liat deh. Senyum kamu kelewat lebar di sini, Al."

"Ih, kok gitu!" protes Alya berpura-pura kesal. "Kamu yang dadakan bilang tiga! Aku kan belum siap."

"Tapi jujur, ini bagus banget," bisik Raka pelan, matanya tak lepas dari wajah Alya yang terpapar sinar layar kamera. "Ini bakal jadi foto favorit aku mulai sekarang."

Alya menatap Raka, menangkap kehangatan di mata pria itu. "Beneran?"

"Beneran, Alya."

Di balik kesederhanaan momen di sudut café malam itu, sebuah benih baru telah tertanam. Foto itu bukan sekadar jepretan gambar biasa, melainkan awal dari dokumen perjalanan perasaan yang selama ini mereka sembunyikan di balik sekat persahabatan.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, Raka duduk di meja kerjanya dengan pikiran yang tak sepenuhnya fokus pada tumpukan berkas di hadapannya. Ia berulang kali memeriksa ponselnya, menunggu pesan dari Alya. Kenangan foto semalam terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang tak ingin ia hentikan.

Pintu ruangan terbuka, dan Alya melangkah masuk membawakan dua cangkir kopi panas dari kedai depan kantor. Ia meletakkan salah satu cangkir di meja Raka dengan senyuman khasnya.

"Pagi, Ka. Serius amat mukanya dari tadi," sapa Alya seraya mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja Raka.

Raka mendongak, langsung mengulas senyum. "Pagi, Al. Thanks kopinya. Nggak kok, ini cuma lagi liat hasil foto semalam yang udah aku pindahin ke HP."

Alya memiringkan kepalanya, matanya berbinar. "Oh ya? Udah dipindah? Coba aku mau liat!"

Raka menyodorkan ponselnya ke arah Alya. Di layar berukuran enam inci itu, foto berdua mereka semalam terpampang jelas. Raka telah mengedit warnanya sedikit, memberikan nuansa hangat yang dramatis namun tetap alami.

"Wah, kamu pinter juga ngeditnya," puji Alya dengan mata berbinar-binar. "Kelihatan kayak foto di majalah-majalah indie gitu ya."

"Bukan salah editannya, Al," sahut Raka santai seraya menyeruput kopinya. "Objek fotonya emang udah bagus dari asalnya."

Alya tertawa kecil, meski rona merah kembali menghiasi pipinya. "Bisa aja kamu gombal pagi-pagi gini. Tapi Ka, sejujurnya... foto ini bikin aku mikir."

Raka menaikkan sebelah alisnya, memajukan tubuhnya menopang dagu di atas meja. "Mikirin apa?"

"Mikirin kita," jawab Alya pelan, suaranya mendadak berubah serius. Dialog mereka di ruang kerja yang sepi itu terasa makin intim. "Selama ini kita cuma jalan tanpa pernah benar-benar tau arahnya ke mana. Foto ini... rasanya kayak bukti pertama kalau kita bukan cuma sekadar dua orang yang kebetulan sering nongkrong bareng."

Raka menatap Alya dalam-dalam. Kata-kata wanita itu menghantam dadanya tepat di sasaran. "Kalau aku bilang... aku mau foto ini jadi awal dari hubungan yang lebih jelas, kamu gimana?"

Alya menggigit bibir bawahnya, menatap mata Raka yang penuh harap. "Kamu serius, Ka? Kita udah berteman lama banget. Aku takut kalau kita melangkah lebih jauh, kita malah merusak apa yang udah ada."

"Aku nggak pernah seserius ini, Al," potong Raka cepat, berusaha meyakinkan Alya. "Aku nggak mau kita terjebak di zona aman selamanya cuma karena takut. Foto berdua ini kenangan indah, tapi aku mau buat ribuan kenangan lain sama kamu. Bukan sebagai temen, tapi sebagai orang yang berhak menjaga kamu."

Alya menghela napas panjang, memegang cangkir kopinya yang hangat. "Kasih aku waktu buat cerna semuanya ya, Ka. Momen semalam itu indah banget, dan aku nggak mau ambil keputusan cuma karena terbawa suasana."

"Aku bakal tunggu, Al. Berapa lama pun yang kamu butuhin," jawab Raka tulus.

Keputusan telah diambil. Keputusan Raka untuk menyatakan niatnya secara terbuka membuat hubungan mereka bergeser dari garis aman. Foto berdua yang kini tersimpan di ponsel mereka masing-masing bukan lagi sekadar kenangan manis, melainkan sebuah tonggak perubahan arah dari alur hidup mereka berdua.

°˖✧✿✧˖°

Dua hari setelah percakapan di kantor, ketegangan halus mulai menyelimuti interaksi mereka. Raka berusaha tetap bersikap biasa, namun rasa cemas tak bisa dibohongi. Sore itu, mereka dijadwalkan menemui klien penting di sebuah restoran outdoor di kawasan Kemang. Namun, langit Jakarta yang mendung mendadak mencurahkan hujan deras tanpa ampun.

Raka dan Alya terjebak di bawah kanopi restoran yang sempit, menunggu taksi yang tak kunjung datang karena kemacetan total.

Lihat selengkapnya