Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Surat Kecil dari Alya

Surat Kecil dari Alya

Alya menuliskan perasaannya kepada Raka.

Malam baru saja melarut di kawasan Sudirman, menyisakan deretan gedung menjulang tinggi yang memantulkan kerlip lampu kota di balik kaca jendela apartemen Raka. Keheningan merambat masuk ke dalam ruangan, hanya diselingi oleh detak jam dinding dan dengung halus penyejuk udara. Raka duduk di tepi tempat tidurnya, menyandarkan punggung pada kepala ranjang seraya mengusap wajahnya yang lelah setelah seharian memimpin rapat proyek.

Di atas meja samping tempat tidur, sebuah amplop kertas berwarna krem bertekstur kasar menarik perhatiannya. Amplop itu diletakkan Alya secara diam-diam ke dalam tas kerja Raka sebelum wanita itu pamit pulang tadi sore. Di bagian depan amplop, terukir tulisan tangan Alya yang rapi: Untuk Raka, dibaca saat kamu sendirian.

Raka meraih amplop tersebut dengan hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca tipis yang mudah retak. Ia membuka perekatnya perlahan, mengeluarkan selembar kertas tebal beraroma wangi vanila yang sangat khas dari Alya. Jemari Raka bergetar halus saat membentangkan lipatan kertas tersebut.

"Raka..." Raka membaca baris pertama secara lirih, menyuarakan tulisan Alya di dalam heningnya malam.

"Kalau kamu baca surat ini, berarti aku udah sampai di rumah dan kamu lagi sendirian di kamar kamu," tulis Alya dalam surat itu. "Aku sengaja nulis ini karena kadang-kadang, kalau ngomong langsung di depan kamu, keberanian aku suka hilang mendadak."

Raka tersenyum tipis, bayangan wajah Alya yang sering merona merah setiap kali tersipu muncul dengan jelas di benaknya. Ia melanjutkan bacaannya dengan saksama.

"Kita udah lewat banyak hal, Ka. Dari cuma temen biasa, foto berdua di Senopati malam itu, sampai semua perdebatan kecil yang bikin aku sadar betapa sabarnya kamu menghadapi aku," lanjut isi surat tersebut. "Selama ini aku selalu simpan perasaan ini di balik kata 'nanti'. Aku takut kalau aku terus terang, suasana di antara kita bakal berubah canggung."

Raka meremas pinggiran kertas itu pelan, matanya menyusuri setiap kata dengan detak jantung yang kian berpacu keras.

"Tapi aku sadar, makin aku sembunyiin, perasaan ini makin mendesak buat keluar," tulis Alya lebih lanjut. "Surat kecil ini adalah kejujuran pertama aku yang paling utuh buat kamu. Aku menyayangi kamu, Raka. Lebih dari sekadar sahabat, lebih dari sekadar teman berbagi cerita."

Suara napas Raka tertahan. Pengakuan tertulis di kertas itu menghantam dadanya dengan gelombang kehangatan yang luar biasa. Surat kecil dari Alya menjadi peristiwa pemicu dari keterbukaan emosional yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Raka. Rahasia perasaan yang selama ini tersimpan rapat akhirnya terurai secara sah di atas kertas krem tersebut, mengubah konstelasi hubungan mereka secara drastis dalam satu malam.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan paginya, matahari memancarkan sinar hangat menerobos jendela kaca studio arsitektur milik Raka. Pria itu tidak bisa berkonsentrasi pada layar komputernya. Surat kecil dari Alya tersimpan rapi di dalam saku dalam jasnya, terasa begitu hangat menempel di dada kirinya.

Pintu studio terdorong pelan. Alya melangkah masuk membawakan sebuah berkas laporan. Ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan celana kain warna hangat, tampak begitu anggun namun ada sedikit kecanggokan dalam setiap gerakannya.

"Pagi, Ka," sapa Alya pelan, matanya tidak berani menatap Raka secara langsung saat meletakkan berkas di meja.

Raka berdiri dari kursinya, melangkah mengikis jarak di antara mereka. "Pagi, Al."

Alya merapikan ujung kemejanya, memainkan jemarinya yang gelisah. "Kamu... udah baca surat yang aku selipin kemarin?"

Raka menarik napas panjang, mengeluarkan surat itu dari saku jasnya dan menggenggamnya rapat-rapat. "Udah, Al. Semalam langsung aku baca."

Alya menunduk, merona merah melingkupi kedua pipinya. Dialog di antara mereka mendadak sarat akan muatan emosional yang mendalam. "Maaf ya kalau tulisan aku terkesan mendadak atau bikin kamu bingung. Aku cuma... nggak mau simpan itu sendirian lagi."

"Kenapa harus minta maaf, Alya?" tanya Raka lembut seraya meraih tangan Alya yang bergetar pelan. "Surat kamu ini hal paling indah yang aku terima tahun ini."

Alya mendongak, matanya berbinar menatap Raka. "Kamu beneran nggak merasa terganggu?"

"Terganggu?" Raka terkekeh halus, membalas tatapan Alya dengan keseriusan tanpa ragu. "Aku justru merasa lega luar biasa. Selama ini aku takut berjuang sendiri, Al. Aku takut cuma aku yang punya perasaan mendalam ini. Tapi surat kamu ngebuktiin kalau kita berdiri di pijakan yang sama."

"Jadi... kita gimana sekarang, Ka?" bisik Alya ragu, mencari kepastian atas melangkahnya hubungan mereka ke jenjang baru.

"Surat ini bikin aku makin yakin, Al," tegas Raka seraya meremas lembut jemari Alya. "Kita bukan lagi dua orang yang saling menebak perasaan. Mulai hari ini, aku mau kita jalani hubungan ini secara terbuka dan resmi. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi keraguan."

Alya mengangguk pelan, senyuman lega terukir indah di bibirnya. Keputusan untuk mengakui perasaan lewat surat dan respons tegas Raka mengunci titik plot pertama mereka. Garis keraguan telah dilewati; perasaan yang tertuang di atas kertas kini mewujud menjadi komitmen nyata di dunia nyata.

°˖✧✿✧˖°

Dua hari setelah pengakuan itu, kebahagiaan mereka mulai diuji oleh hadirnya ketegangan dari pihak luar. Sore itu, Raka dan Alya sedang memeriksa sampel material bangunan di sebuah kafe terbuka ketika Dion—mantan kekasih Alya—tiba-tiba melangkah mendekati meja mereka dengan wajah tegang.

Dion menatap Alya, lalu mengalihkan pandangannya pada Raka dengan tatapan tajam. "Alya, aku butuh bicara sama kamu sebentar. Sendirian."

Alya menggeser duduknya mendekat ke arah Raka. "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Dion. Semua urusan kita udah selesai."

"Ini soal surat rekomendasi dari ayah kamu buat proyek keluarga kita!" potong Dion dengan nada suara yang ditinggikan. "Ayah kamu baru saja membatalkan kerjasama secara memihak gara-gara kamu dekat sama pria ini!"

Raka berdiri dari kursinya, memasang badan protektif di depan Alya. "Dion, bicara dengan nada sopan. Ini tempat umum."

Lihat selengkapnya