Raka Mulai Bermimpi
Raka mulai memikirkan pernikahan.
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis di sudut ruang kerja Raka, memantulkan berkas cahaya ke atas permukaan meja kayu yang tertutup tumpukan berkas. Di antara dokumen-dokumen desain dan cetakan foto proyek, ada satu benda yang selalu mencuri perhatiannya: bingkai kayu berukuran kecil berisi foto berdua dirinya dan Alya. Dalam gambar itu, Alya tersenyum lepas dengan latar belakang lampu Senopati yang samar, sementara Raka menatapnya dari samping dengan tatapan yang kini ia pahami sebagai kepasrahan seorang pria yang telah menemukan pelabuhan hatinya.
Raka menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memutar-mutar pena di jarinya. Pikiran pria itu tidak lagi tertuju pada draf arsitektur yang harus ia selesaikan sebelum tenggat waktu. Sebaliknya, bayangan masa depan yang sebelumnya samar kini perlahan merapat, membentuk sebuah angan yang begitu nyata.
"Kamu melamun lagi, Ka?"
Suara lembut Alya membuyarkan lamunan Raka. Wanita itu melangkah masuk membawa dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul tipis. Gaun santai berwarna biru muda yang dikenakannya menyapu lantai kayu dengan irama yang tenang.
Raka tersenyum, menggeser beberapa berkas untuk memberikan ruang bagi cangkir kopi yang diletakkan Alya. "Nggak melamun, Al. Cuma lagi ngeliat foto kita."
Alya ikut menatap bingkai foto itu, lalu tertawa kecil seraya mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja Raka. "Foto lama itu lagi? Kamu nggak bosan apa? Padahal kita udah punya ratusan foto baru di ponsel."
"Beda rasanya, Al," sahut Raka pelan, menyilangkan jemarinya di atas meja. Tangannya terulur meraih jemari Alya yang hangat. "Foto ini ngingetin aku sama awal semuanya. Momen pas aku sadar kalau aku nggak bisa cuma jadi sahabat kamu."
Alya membalas genggaman tangan Raka, memiringkan kepalanya dengan tatapan jahil. "Terus, apa yang ada di pikiran kamu sekarang? Muka kamu serius banget dari tadi."
Raka menarik napas panjang. Ada kehangatan ajaib yang mendadak memenuhi dadanya. Pertanyaan Alya sederhana, tetapi respon di dalam benaknya bergema sangat kuat. Bayangan rumah kecil dengan jendela kaca besar, taman mini di halaman belakang, dan aroma masakan Alya setiap pagi mendadak menggusur seluruh keraguan yang pernah bermalam di hatinya.
"Al," panggil Raka dengan nada suara yang bergetar halus.
"Kenapa, Ka?"
"Aku semalam mimpi," ujar Raka pelan, matanya terkunci pada manik mata Alya. "Aku mimpi kita bangun di rumah yang sama. Bukan cuma sebagai dua orang yang pacaran dan sering jalan bareng, tapi sebagai suami istri."
Alya terpaku sejenak. Genggaman tangannya mengencang refleks, sementara rona merah merambat perlahan di pipinya. "Ka... kamu serius?"
"Aku serius banget, Al," bisik Raka, menyulut keberanian yang selama ini terpendam. "Aku mulai memikirkan pernikahan. Aku mau bikin mimpi itu jadi kenyataan sama kamu."
°˖✧✿✧˖°
Pernyataan Raka di pagi hari itu memicu gelombang emosi baru dalam hubungan mereka. Di satu sisi, kehangatan dan kepastian menyelimuti hati Alya, namun di sisi lain, kenyataan tentang latar belakang keluarga dan restu yang belum sepenuhnya terikat kuat menjadi batu ganjalan yang tak bisa diabaikan. Sore harinya, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota, mencari udara segar untuk mencerna percakapan yang kian mendalam.
Daun-daun kering berguguran disapu angin sore. Raka dan Alya berjalan berdampingan, jemari mereka saling mengunci dengan erat.
"Ka, soal yang kamu omongin tadi pagi..." Alya membuka suara, memecah keheningan di antara langkah kaki mereka. "Aku masih kerasa kayak mimpi."
Raka menoleh, menatap wajah Alya dari samping. "Kenapa? Kamu ngerasa aku terlalu cepat ya?"
"Bukan cepat, Ka," sahut Alya cepat, menghentikan langkahnya di bawah pohon rindang. Ia membalikkan badan menghadap Raka sepenuhnya. "Aku bahagia banget dengarnya. Jujur, aku juga impiin hal yang sama. Tapi kamu tau kan situasi kita nggak semudah itu?"
Raka mengangguk pelan, memahami arah pembicaraan Alya. "Soal Ayah kamu?"
"Iya," desah Alya lirih, pandangannya meredup. "Ayah memang udah mulai luluh setelah kejadian badai waktu itu, tapi beliau masih punya ekspektasi tinggi. Beliau masih sering membandingkan kamu sama standar keluarga besar."
"Al, dengar aku," kata Raka seraya memegang kedua bahu Alya dengan lembut. "Aku tau aku bukan Dion yang punya latar belakang keluarga pengusaha besar. Tapi aku punya keseriusan, aku punya pekerjaan yang makin stabil, dan yang paling penting, aku punya komitmen penuh buat bahagiain kamu."
"Aku tau itu, Ka. Aku sangat percaya sama kamu," balur Alya, matanya berkaca-kaca. "Tapi pernikahan itu bukan cuma menyatukan kita berdua. Pernikahan itu menyatukan dua keluarga. Aku takut kamu bakal terluka kalau Ayah ngasih syarat-syarat yang berat."
Raka tersenyum tipis, merapatkan jemarinya di pipi Alya untuk mengusap setitik air mata yang hendak jatuh. "Aku siap terima syarat apa pun dari Ayah kamu, Al. Kalau aku harus ngebuktiin diri seribu kali lagi demi bisa menikahi kamu, bakal aku lakuin."
"Kamu yakin sanggup?" tanya Alya berbisik, menatap dalam-dalam pada binar keberanian di mata Raka.
"Sangat yakin," jawab Raka mantap. "Mimpi aku bukan cuma tentang nikah muda atau sekadar status. Mimpi aku itu hidup semati sama kamu. Dan aku nggak bakal mundur cuma karena jalan menuju ke sana agak mendaki."
Alya menarik napas lega, memeluk pinggang Raka dengan erat di bawah naungan pohon taman. Kesepakatan tersirat telah dibuat: Raka resmi memulai langkahnya untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, mengunci niatnya tanpa ragu.
°˖✧✿✧˖°
Langkah pertama Raka untuk membuktikan keseriusannya diuji dua minggu kemudian. Demi memenuhi ekspektasi keluarga Alya dan menunjukkan kemampuannya sebagai calon kepala rumah tangga yang mapan, Raka mengambil risiko besar dengan mengajukan tender proyek pembangunan kompleks komersial bernilai miliaran rupiah. Proyek ini tidak hanya menguras energinya, tetapi juga menyita seluruh waktunya.
Malam itu, jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Raka masih berkutat dengan maket arsitektur dan kalkulasi anggaran di studio pribadinya. Matanya merah karena kurang tidur, dan beberapa cangkir kopi kosong menumpuk di tepi meja.
Pintu studio terbuka perlahan. Alya masuk membawakan wadah bekal berisi makanan hangat.
"Ka... kamu belum makan malam juga?" tanya Alya dengan nada khawatir yang sangat jelas.
Raka mendongak, mencoba tersenyum meski garis lelah mengukir jelas di wajahnya. "Eh, Al. Belum sempat nih. Dikit lagi draf rancangan anggarannya selesai."
Alya meletakkan bekal di meja, lalu menarik kursi mendekati Raka. Ia menatap tumpukan cetakan biru yang berserakan. "Ka, kamu udah kerja 16 jam hari ini. Kesehatan kamu bisa drop kalau terus-terusan gini."