Pertemuan dengan Keluarga Alya
Raka berusaha mendapatkan kepercayaan keluarga Alya.
Mobil hitam milik Raka berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi di kawasan Menteng. Di balik kemudi, jemari Raka menggenggam erat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Udara dingin dari penyejuk kabin sama sekali tidak mampu mengusir rasa hangat yang membanjiri leher dan dahi pria itu. Di sampingnya, Alya duduk dengan gaun brokat bernuansa pastel, berulang kali merapikan lipatan kain di pangkuannya.
"Ka, tangan kamu dingin banget," bisik Alya seraya meraih jemari Raka. Ia memberikan remasan lembut, mencoba menyalurkan rasa tenang. "Tenang aja, ya? Aku ada di samping kamu kok."
Raka menoleh, mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Aku cuma nggak mau merusak malam ini, Al. Ini pertama kalinya aku diundang secara resmi setelah badai tuduhan kemarin berhasil kita selesaikan."
"Ayah sama Ibu udah dengar klarifikasi dari kepolisian dan tim hukum kamu," sahut Alya cepat. Pandangannya terpaut pada mata Raka yang penuh kegelisahan. "Mereka tau Dion cuma rekayasa kasus itu karena iri. Jadi kamu nggak perlu merasa tertekan lagi."
"Dengar klarifikasi itu satu hal, Al," ujar Raka seraya menghela napas panjang. "Tapi diterima sebagai calon menantu di rumah ini adalah hal lain. Ayah kamu punya standar yang sangat tinggi, dan aku paham kenapa beliau seprotektif itu sama kamu."
Alya tersenyum manis, memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi pria yang lagi di samping aku ini kan nggak gampang menyerah? Mana Raka yang waktu itu berani majang foto kita di pameran?"
Raka terkekeh pelan, rasa tegang di dadanya sedikit terangkat oleh candaan Alya. "Pria itu masih ada di sini, Al. Cuma sekarang dia lagi deg-degan setengah mati."
"Ya udah, ayo keluar," ajak Alya seraya membuka pintu mobil. "Ingat ya, kunci malam ini cuma satu: jadi diri kamu sendiri. Jangan berusaha jadi orang lain hanya demi mengesankan Ayah."
Raka melepas sabuk pengamannya dan mengangguk pelan. "Siap, Putri Menteng. Mari kita temui sang raja."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak membelah taman depan yang tertata rapi. Setiap langkah kaki Raka terasa berat, seolah membawa beban mempertaruhkan seluruh masa depannya. Pertemuan resmi ini adalah peristiwa pemicu dari babak baru perjuangan mereka. Raka tahu betul bahwa untuk memenangkan hati Alya sepenuhnya, ia harus menembus benteng terkuat yang memagari kehidupan wanita itu: kepercayaan penuh dari keluarga besar Alya.
°˖✧✿✧˖°
Pintu jati berukir indah itu terbuka lebar, menyambut kedatangan mereka dengan aroma kayu cendana dan kemewahan yang tenang. Di ruang tamu yang luas dengan lampu kristal menggantung di langit-langit, dua sosok paruh baya sudah menunggu. Pak Surya, ayah Alya, berdiri tegap dengan kemeja batik sutra gelap, sementara Bu Rini, ibunya, menyambut dengan senyuman hangat namun menyirat kewaspadaan.
"Selamat malam, Tante, Om," sapa Raka dengan nada suara yang sebisa mungkin dibuat tenang dan berwibawa. Ia melangkah maju, menjabat tangan Pak Surya dan mencium tangan Bu Rini dengan penuh hormat.
"Selamat malam, Raka," balas Bu Rini ramah. "Mari duduk. Alya sudah banyak cerita soal kamu akhir-akhir ini."
"Terima kasih banyak, Tante," ujar Raka seraya duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Alya mendaratkan tubuh tepat di sampingnya, mengisyaratkan dukungan tanpa suara.
Pak Surya duduk di kursi tunggal utama, menatap Raka dengan pandangan yang dalam dan selidik. "Bagaimana perkembangan proyek revitalisasi kamu setelah kasus tuduhan palsu kemarin dipulihkan, Raka?"
Raka memperbaiki posisi duduknya, menatap langsung mata Pak Surya tanpa rasa gentar. "Semua sudah berjalan sesuai jadwal kembali, Om. Pihak kepolisian sudah membersihkan nama baik studio kami, dan investor utama justru makin percaya karena integritas tim kami teruji di masa krisis."
"Bagus kalau begitu," sahut Pak Surya singkat. Tangannya menopang dagu di pegangan kursi. "Tapi dalam bisnis dan kehidupan, integritas teknis saja tidak cukup. Sebagai seorang ayah, yang paling saya pedulikan adalah jaminan masa depan putri saya."
Alya hendak memotong, "Yah, Raka kan udah—"
"Biarkan Raka yang menjawab, Alya," potong Pak Surya tegas namun tidak kasar.
Raka menyentuh lengan Alya pelan, memberinya isyarat bahwa ia sanggup menghadapi pertanyaan ini. "Saya sangat paham kekhawatiran Om Surya. Alya adalah putri tunggal yang sangat berharga di rumah ini. Saya mungkin belum memiliki kekayaan melimpah atau latar belakang keluarga konglomerat, tapi saya jamin seluruh dedikasi, kerja keras, dan hidup saya terarah untuk memastikan Alya bahagia dan aman."
"Bahagia itu kata yang sangat abstrak, Raka," seloroh Pak Surya dingin. "Bagaimana kamu mendefinisikan tanggung jawab kamu kalau suatu saat krisis finansial atau persoalan besar menghantam rumah tangga kalian?"
"Tanggung jawab bagi saya adalah tidak lari saat badai datang, Om," tegas Raka. "Seperti saat nama saya dicemarkan kemarin, saya tidak menyembunyikan Alya di balik punggung saya. Saya menghadapi proses hukumnya hingga bersih, karena saya mau Alya bangga memiliki pasangan yang jujur."
Pak Surya menyandarkan punggungnya, terdiam sejenak mencerna jawaban Raka. Atmosfer di ruang tamu itu bergeser dari sekadar sapaan santai menjadi ujian keseriusan. Raka baru saja mengunci komitmennya di hadapan orang tua Alya, menandai titik plot pertama di mana niatnya bukan lagi sebatas wacana di antara mereka berdua, melainkan tantangan nyata yang kini resmi dipertaruhkan di meja keluarga.
°˖✧✿✧˖°
Makan malam dimulai dengan suasana yang formal. Berbagai hidangan lezat tersaji di atas meja kayu panjang, namun rasa makanan seolah hambar bagi Raka yang harus terus menjaga fokus mentalnya. Di tengah hidangan utama, pintu depan kembali terbuka. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi masuk bersama seorang pemuda yang sangat dikenal Raka: Dion dan ayahnya, Pak Pakusadewo, yang merupakan relasi bisnis lama Pak Surya.
Kehadiran mereka yang tak diundang mendadak mengubah suhu ruangan menjadi sangat tegang.
"Ah, Surya! Maaf kami datang terlambat," sapa Pak Pakusadewo seraya melangkah santai menuju ruang makan. Dion berdiri di belakang ayahnya dengan senyum tipis yang terkesan meremehkan ke arah Raka.
Bu Rini tampak terkejut, namun tetap menyambut santun. "Mari gabung, Pak Pakusadewo. Kami baru saja mulai."