Restu yang Belum Pasti
Keluarga Alya memiliki keraguan terhadap Raka.
Kabut tipis masih menggantung rendah di atas pepohonan saat mobil tua berwarna abu-abu itu berhenti di depan gerbang kayu berukir khas Jawa. Raka menggenggam kemudi lebih erat dari yang seharusnya. Jemarinya dingin, bertentangan dengan telapak tangannya yang hangat dan berkeringat. Di sampingnya, Alya duduk tegak, menatap rumah joglo beratap tinggi di ujung jalan setapak batu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kamu yakin kita harus melakukan ini sekarang, Ya?" Raka memecah keheningan, suaranya sedikit serak.
Alya menoleh, mencoba mengukir senyum menenangkan, meski garis tipis di keningnya tak mampu menyembunyikan kecemasan. "Mau kapan lagi, Ka? Ayah dan Ibu sudah menunggu di dalam. Kalau kita tunda lagi, mereka justru bakal makin curiga."
Raka menghembuskan napas panjang. Ia melepas sabuk pengaman, lalu meraih jemari Alya yang bergetar. "Aku cuma nggak mau kehadiran aku malah bikin suasana keluarga kamu jadi makin keruh. Aku tahu posisiku."
"Jangan bicara begitu," potong Alya cepat, meremas balik jemari Raka. "Kamu sudah berjuang sejauh ini. Kita hadapi ini sama-sama, ya?"
"Alya, kamu tahu kan seberapa besar jurang di antara kita?" Raka menatap mata Alya dalam-dalam, mencari kepastian. "Keluargamu bangsawan terpandang, sementara aku... cuma orang biasa yang sedang merintis usaha kecil-kecilan. Aku takut harapanmu terlalu tinggi."
"Harapanku nggak tinggi, Ka. Aku cuma mau kamu ada di sampingku waktu aku bilang ke Ayah kalau aku sudah memilih," jawab Alya mantap. "Ayo masuk."
Keduanya turun dari mobil. Langkah kaki Raka terasa begitu berat menapak jalan setapak batu menuju pendopo. Setiap langkahnya seolah diiringi gema detak jantungnya sendiri. Bau harum bunga melati dan kayu jati tua menyambut kedatangan mereka begitu memasuki teras utama. Di sana, di atas kursi kayu berukir yang megah, duduk Raden Mas Subroto—ayah Alya—bersama istrinya, Ibu Rahayu.
"Sugeng siang, Ayah, Ibu," sapa Alya lirih seraya mendekat dan sungkem menyapa kedua orang tuanya.
"Selamat siang, Om, Tante," timpal Raka, membungkukkan badan seraya mengulurkan tangan dengan penuh takzim.
Raden Mas Subroto hanya mengangguk pelan, menyambut uluran tangan Raka tanpa kehangatan yang berarti. Matanya yang tajam menatap Raka dari atas ke bawah, menilai setiap detail penampilan pemuda di hadapannya. Sementara itu, Ibu Rahayu tersenyum tipis—sebuah senyuman formalitas yang tak sampai ke mata.
"Duduklah, Raka," ujar Pak Subroto singkat, suaranya berat dan berwibawa. "Suatu kehormatan kamu mau menyempatkan waktu datang ke rumah tua kami ini."
"Terima kasih atas kesempatannya, Pak Subroto. Justru saya yang sangat berterima kasih karena sudah diizinkan berkunjung," balas Raka dengan nada secermat mungkin.
"Jadi, Alya bilang kamu baru saja membuka cabang usaha baru di kota?" tanya Ibu Rahayu membuka percakapan, tangannya sibuk merapikan cangkir teh porselen di atas meja.
"Betul, Tante. Usaha konveksi dan sablon kami alhamdulillah mulai berkembang. Kami baru menyewa kedai kecil di area kampus," terang Raka mencoba ramah.
Pak Subroto menyeruput teh hangatnya lambat-lambat sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya dengan dentang halus. "Kedai kecil, ya? Mengembangkan usaha itu bagus, Raka. Tapi masa depan keluarga bukan cuma soal semangat. Di keluarga kami, kepastian dan keturunan itu membawa tanggung jawab nama besar."
Alya langsung memotong sebelum Raka sempat menjawab. "Ayah, Raka bekerja sangat keras. Dia membangun semuanya dari nol dengan keringatnya sendiri."
"Ayah tidak bilang dia tidak bekerja keras, Alya," sahut Pak Subroto dingin. "Ayah hanya bertanya, sampai mana kapasitas usaha kecil itu bisa menjamin kehidupanmu kelak? Kamu terbiasa hidup dalam lingkaran keluarga yang stabil dan punya posisi sosial yang jelas."
Raka menahan napas. Kalimat itu menghantam dadanya tepat di sasaran. "Saya paham kekhawatiran Bapak. Saya mungkin belum punya posisi sosial atau kekayaan melimpah hari ini. Tapi saya berjanji akan bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan dan masa depan Alya."
Pak Subroto terkehak pelan, tanpa rasa humor. "Janji adalah modal paling murah dalam sebuah hubungan, Raka. Restu kami tidak dibeli dengan Janji."
°˖✧✿✧˖°
Suasana di pendopo berubah menjadi begitu tegang. Keheningan menggantung tebal, hanya diselingi suara gesekan daun pisang di pekarangan yang tertiup angin sore. Alya menggenggam erat gaunnya, matanya menatap sang ayah dengan kilatan kekecewaan yang tertahan.
"Ayah tidak bisa menilai Raka cuma dari modal usaha atau latar belakang keluarganya!" pangkas Alya dengan nada yang mulai meninggi, mengabaikan kode dari ibunya agar tetap tenang.
"Alya, jaga bisik bicaramu di depan Ayahmu," tegur Ibu Rahayu halus namun tegas. "Keluarga kita punya tatanan. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Mas Danu, putra Pak Cokro, minggu lalu baru saja menyelesaikan studi magisternya di Inggris dan sudah ditunjuk memegang perusahaan keluarganya. Ayah dan Ibu hanya melihat mana yang sudah pasti."
"Tapi Alya nggak cinta sama Mas Danu, Bu!" seru Alya, suaranya bergetar menahan tangis. "Kenapa selalu ukuran materi dan posisi yang jadi patokan?"
Raka menyentuh lengan Alya pelan, memintanya untuk meredakan emosi. Ia lalu menatap orang tua Alya dengan tatapan lurus. "Pak Subroto, Bu Rahayu, saya sangat mengerti jika Bapak dan Ibu membandingkan saya dengan pria lain yang jauh lebih mapan. Itu hal yang wajar bagi orang tua yang menyayangi putrinya."
"Bagus kalau kamu sadar diri, Raka," timpal Pak Subroto tanpa keraguan. "Maka dari itu, sebelum kamu melangkah lebih jauh dan memberi harapan hampa pada Alya, pikirkan kembali apakah kamu benar-benar sanggup berdiri di sampingnya tanpa merasa kerdil?"
"Saya tidak merasa kerdil, Pak," tegas Raka dengan nada suara yang tetap terjaga ramah namun berpendirian. "Kerja keras saya adalah harga diri saya. Saya mencintai Alya dengan tulus, dan saya membuktikannya lewat tindakan nyata, bukan sekadar menumpang nama besar keluarga."
Pak Subroto bangkit dari kursi kayunya, melipat tangan di dada seraya berdiri menjulang di depan Raka. "Kata-kata yang indah. Tapi di dunia nyata, ketulusan tidak bisa membayar tagihan rumah sakit, tidak bisa menjaga martabat keluarga saat ada krisis, dan tidak bisa membeli kehormatan. Jika kamu memang pria bersikap dewasa, buktikan kata-katamu."
"Buktikan bagaimana, Pak?" tantang Raka tenang.
"Dalam enam bulan ke depan, tunjukkan pada saya bahwa usahamu bukan sekadar main-main," ujar Pak Subroto tajam. "Jika kamu bisa melipatgandakan usahamu dan mengamankan kontrak besar dengan vendor tingkat nasional, saya akan mempertimbangkan untuk mendengarkan niatmu lagi. Tapi jika gagal, kamu harus mundur dari kehidupan Alya secara sukarela."
"Ayah! Itu tidak adil!" teriak Alya, berdiri menyejajarkan diri dengan Raka. "Syarat itu tidak masuk akal untuk usaha yang baru berjalan satu tahun!"
"Ini keputusan Ayah, Alya. Kalau Raka memang laki-laki sejati seperti yang kamu agung-agungkan, dia tidak akan lari dari tantangan ini," balas Pak Subroto dingin.
Raka memandang Alya yang matanya sudah berkaca-kaca, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Pak Subroto. Rasa gengsi dan harga dirinya sebagai lelaki membakar dadanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan orang tua perempuan yang dicintainya.
"Baik, Pak Subroto. Saya terima tantangan Bapak," ucap Raka mantap, membuat Alya terperanjat menatapnya.
"Raka, jangan! Kamu nggak perlu membuktikan apa-apa sama Ayah!" bisik Alya panik.
"Nggak, Ya. Ini harus dilakukan," sahut Raka lembut pada Alya, lalu kembali menatap Pak Subroto. "Enam bulan dari sekarang, saya akan datang lagi ke rumah ini dengan hasil kerja keras saya. Dan saat hari itu tiba, saya berharap Bapak memberikan restu tanpa syarat lagi."
Pak Subroto menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Kita lihat saja nanti, Pemuda. Waktu akan membuktikan siapa yang benar-benar bertahan dan siapa yang cuma pandai bersilat lidah."
°˖✧✿✧˖°
Dua bulan telah berlalu sejak pertemuan mencekam di rumah orang tua Alya. Tekanan yang dipikul Raka semakin berat setiap harinya. Ia bekerja tanpa kenal lelah, hampir 18 jam sehari di bengkel konveksi kecilnya. Mata merah dan lingkaran hitam di bawah matanya menjadi saksi bisu betapa ambisinya telah menggerogoti kesehatannya.
Di sudut bengkel yang bising oleh suara mesin jahit, Alya berdiri mengamati Raka yang sedang memeriksa lembaran kain dengan wajah tegang.
"Ka, kamu sudah makan belum hari ini?" tanya Alya seraya meletakkan bungkus nasi dan botol air mineral di atas meja potong.
Raka tidak langsung menoleh. Tangannya masih sibuk mencatat angka-angka di buku laporan bulanan. "Nanti saja, Ya. Aku harus menyelesaikan kalkulasi penawaran untuk PT Nusantara Perkasa. Batas pengirimannya sore ini."
Alya menghela napas, mendekati Raka lalu mengambil pena dari tangan pria itu secara paksa. "Kamu bisa sakit kalau begini terus, Raka! Lihat muka kamu, sudah pucat banget."
"Aku nggak punya waktu buat sakit, Alya!" bentak Raka tanpa sengaja, suaranya meninggi di tengah deru mesin jahit.
Seketika suasana menjadi hening. Pekerja konveksi lainnya sempat menoleh sebelum kembali berpura-pura sibuk. Raka langsung menyesali ucapannya begitu melihat perubahan ekspresi di wajah Alya.
"Maaf... Maafkan aku, Ya," bisik Raka seraya memegang pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Aku cuma... aku terlalu stres dengan tenggat waktu ini. Ini satu-satunya vendor besar yang bisa menyelamatkan target enam bulan dari ayahmu."
Alya memegang jemari Raka, berusaha meredakan emosi di antara mereka. "Aku tahu kamu berjuang buat kita, Ka. Tapi kalau kamu sampai ambruk, semua ini nggak ada artinya. Ayahku memang keterlaluan memberi syarat itu, tapi bukan berarti kamu harus menyiksa dirimu sendiri."