Cinta yang Harus Dibuktikan
Raka bertekad membuktikan kesungguhannya.
Malam berangkulat dingin di atas balkon apartemen Raka, menyisakan kerlip lampu jalanan Jakarta yang memantul samar pada permukaan kaca jendela. Di atas meja kayu, dua cangkir teh yang telah mendingin berdiri membisu, menjadi saksi bisu dari pertengkaran kecil yang baru saja surut. Raka menyandarkan punggungnya pada pagar besi, menggenggam erat jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin. Di hadapannya, Alya berdiri merapatkan mantel rajutnya, menatap ke arah kegelapan kota dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku nggak pernah meragukan rasa sayang kamu, Ka," ujar Alya pelan. Suaranya gemetar menahan getaran emosi yang meletup di dadanya. "Tapi kamu harus paham, cinta aja nggak cukup buat meyakinkan keluarga aku."
Raka melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Al, aku tau apa yang diomongin Ayah kamu kemarin malam di ruang tamu itu menyakitkan. Beliau bilang aku cuma laki-laki yang pinter berjanji tanpa ada jaminan masa depan yang jelas. Tapi apa kamu juga mikir hal yang sama?"
Alya menoleh, menatap langsung ke dalam mata Raka. Rona merah di sekitar kelopak matanya mempertegas rasa lelah yang amat sangat. "Aku nggak pernah mikir gitu! Tapi Raka, kita ini hidup di dunia nyata, bukan cuma di dalam foto-foto manis yang kita ambil di Senopati. Kalau kamu cuma diem dan berharap Ayah bakal luluh sendiri tanpa ada tindakan nyata, kita nggak bakal pernah kemana-mana."
"Aku nggak diam, Alya!" sahut Raka dengan nada suara yang meninggi tanpa sengaja. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas. "Aku kerja tiap hari sampai subuh, aku susun draf proyek revitalisasi itu, aku tahan bentakan Dion di depan umum... Semuanya aku lakuin buat membuktikan kalau aku pantas! Kurang apa lagi?"
"Bukan cuma soal kerja keras, Ka," bisik Alya lirih, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. "Ayah butuh liat kesungguhan yang berani diuji. Beliau mau liat kamu berdiri tegak di hadapan keluarga besar, bukan cuma bicara di belakang aku. Kamu berani nggak?"
Raka terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata Alya menghantam dadanya tepat pada sasaran yang paling rentan. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar, menyadari bahwa ketakutan akan penolakan selama ini telah membuatnya memilih jalan aman.
"Aku cuma takut bikin situasi makin buruk, Al," aku Raka, suaranya melunak mendadak. "Aku takut kalau aku terlalu agresif, Ayah kamu makin jauh dari kita."
Alya melangkah maju, meraih ujung lengan kemeja Raka dengan jemarinya yang bergetar. "Kalau kamu takut terus, berarti cinta kita emang cuma sebatas ini, Ka. Dan aku nggak bisa berjuang sendirian."
Keheningan merayap kembali di antara mereka, diselingi deru angin malam yang membawa kepedihan mendalam. Pernyataan Alya menjadi peristiwa pemicu dari sebuah kesadaran baru dalam diri Raka. Pria itu menyadari bahwa masa bertahan telah usai. Jika ia tidak ingin kehilangan Alya selamanya, ia harus berhenti bersembunyi di balik bayang-bayang keraguan dan mulai menunjukkan pembuktian cinta yang sesungguhnya.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, Raka duduk di meja kerjanya dengan pandangan yang tak lagi goyah. Di hadapannya, terhampar draf rencana besar yang bukan lagi sekadar proyek arsitektur, melainkan cetak biru dari masa depannya bersama Alya. Keputusan telah diambil. Pria itu tidak akan lagi menunggu restu datang secara cuma-cuma; ia akan menjemputnya dengan pembuktian yang tak terbantahkan.
Pintu studio terbuka perlahan, dan Alya melangkah masuk membawakan map berkas revisi. Wajah wanita itu tampak tenang, namun ada jarak tak kasat mata yang terbentang di antara mereka sejak perdebatan di balkon semalam.
"Ini berkas yang kamu minta kemarin, Ka," kata Alya datar seraya meletakkan map tersebut di meja.
Raka menahan tangan Alya sebelum wanita itu sempat menariknya kembali. "Al, tunggu sebentar. Ada hal penting yang mau aku omongin."
Alya menatap pertautan tangan mereka sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke mata Raka. "Kalau kamu mau ngebahas perdebatan semalam lagi, aku lagi nggak ada energi, Ka."
"Bukan ngebahas yang semalam," potong Raka cepat, suaranya sarat akan tekad yang belum pernah ditunjukkannya sebelumnya. "Aku mau kamu ikut aku nanti malam."
Alya mengerutkan dahi. "Ke mana?"
"Ke rumah Ayah kamu," jawab Raka mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Aku udah minta izin ke Ibu kamu tadi pagi buat datang secara resmi."
Alya terperangah, matanya membelalak tak percaya. "Kamu gila, Ka? Ayah baru aja nolak mentah-mentah proposal investasi proyek kamu kemarin! Beliau lagi emosi banget sama kamu."
"Aku nggak peduli seberapa marah Ayah kamu, Al," balas Raka seraya berdiri dari kursinya, menatap Alya dari jarak yang sangat dekat. "Kemarin malam kamu bilang cinta kita harus dibuktikan, kan? Kamu tanya apa aku berani berdiri tegak di hadapan keluarga kamu?"
"Iya, tapi nggak secara mendadak gini juga, Raka!" seru Alya cemas. "Ayah bisa aja ngusir kamu di depan semua orang!"
"Biarin beliau usir aku sepuluh kali," sahut Raka tegas, menangkup kedua bahu Alya dengan lembut. "Aku bakal tetep balik buat kesebelas kalinya. Aku udah buat keputusan, Al. Aku bakal bicarain lamaran kita secara terbuka di depan Ayah dan keluarga besar kamu nanti malam."
Alya menahan napasnya, merasakan getaran tekad yang luar biasa dari tubuh Raka. Keraguan di wajah wanita itu perlahan meleleh, berganti menjadi rasa haru yang teramat sangat.
"Kamu beneran yakin sama keputusan ini, Ka?" bisik Alya bergetar.
"Aku nggak pernah seyakin ini seumur hidup aku, Alya," jawab Raka tulus. "Aku bakal buktiin kalau cinta aku ke kamu bukan cuma omosong."
Keputusan berani Raka untuk menantang arus penolakan dan mendatangi rumah keluarga Alya menandai titik plot pertama yang mengunci alur cerita. Taruhan telah dinaikkan; tidak ada lagi jalan untuk mundur bagi Raka dalam memperjuangkan haknya untuk mencintai Alya secara sah.
°˖✧✿✧˖°
Malam harinya, hujan deras mengguyur kawasan perkotaan, menciptakan ketegangan yang kian pekat di dalam mobil Raka. Di kursi penumpang, Alya berulang kali meremas jemarinya sendiri yang basah oleh keringat dingin. Di sampingnya, Raka tetap fokus memegang kemudi dengan rahang yang terkatup rapat, menyembunyikan rasa cemas yang berkecamuk di dalam dadanya.
Saat kendaraan mereka berhenti di pelataran rumah mewah keluarga Alya, sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenal Raka sudah terparkir di sana. Dion baru saja turun dari mobil itu bersama ayahnya, membawa beberapa bingkisan mahal menuju pintu depan.
"Ka... Dion ada di dalam," cicit Alya panik seraya menahan lengan Raka. "Ayah pasti ngundang mereka buat makan malam keluarga."
Raka menatap ke arah pintu depan yang terbuka lebar, memancarkan cahaya lampu gantung kristal yang megah. "Nggak apa-apa, Al. Malah bagus kalau Dion ada di sana."
"Bagus gimana?" tanya Alya tak paham. "Dion pasti bakal manfaatin situasi ini buat memojokkan kamu lagi di depan Ayah!"