Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Seseorang dari Masa Lalu

Seseorang dari Masa Lalu

Seorang lelaki bernama Faris kembali ke kehidupan Alya.

Kabut tipis masih menggantung rendah di atas halaman kedai kopi tua itu saat Raka menarik kursi kayu di hadapan Alya. Cangkir tembikar berisi kopi hitam yang mengepul menjadi saksi keheningan melingkupi mereka berdua. Alya menunduk, memainkan ujung selendangnya dengan jemari yang tak berhenti bergetar.

"Kenapa kamu mengajakku bertemu di sini pagi-pagi begini, Alya?" tanya Raka, suaranya lembut namun tak mampu menyembunyikan kecemasan yang menggantung di dadanya.

Alya mengangkat wajahnya lambat-lambat. Matanya yang biasanya hangat kini dibayangi lingkaran hitam dan sorot kebingungan yang pekat. "Ada yang harus aku ceritakan, Ka. Soal kemarin sore... setelah kamu pulang dari kantor Ayah."

Raka mencondongkan badannya ke depan, meletakkan telapak tangannya di atas meja. "Soal dokumen lama dari ayahmu itu? Apa isinya sebenarnya?"

"Bukan cuma soal dokumen itu, Ka," sela Alya, napasnya terdengar berat dan tertahan. "Kemarin sore, saat aku sedang menunggumu di taman depan rumah... ada sebuah mobil berhenti."

"Mobil siapa?" Raka mengerutkan keningnya, menangkap sinyal bahaya dari nada bicara kekasihnya.

Alya menggigit bibir bawahnya, menatap lurus ke dalam mata Raka. "Faris. Faris sudah kembali dari Jerman."

Nama itu menghantam dada Raka bagai pukulan tak kasatmata. Nama yang selama tiga tahun terakhir hanya menjadi bayang-bayang semu dalam kisah masa lalu Alya. Faris—mantan tunangan Alya yang mendadak menghilang ke Eropa tanpa kepastian saat bisnis keluarganya diterpa krisis.

"Faris?" bisik Raka, suaranya mendadak terasa kering. "Untuk apa dia kembali sekarang?"

"Dia datang ke rumah," jawab Alya lirih. "Dia menemui Ayah dan Ibu. Dia membawa dokumen penyelesaian utang masa lalu antara keluarganya dan keluarga kita. Dokumen yang selama ini ditahan Ayah."

Raka mengepalkan jemarinya di atas meja. "Jadi amplop cokelat yang ditunjukkan ayahmu kemarin... itu dari Faris?"

"Iya," Alya mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Faris kembali bukan cuma membawa dokumen itu, Ka. Dia... dia datang untuk menagih janji pernikahan kami yang belum pernah dibatalkan secara resmi oleh kedua keluarga."

"Tapi itu tiga tahun lalu, Alya!" tegas Raka, berusaha menahan nada suaranya agar tidak meninggi di tempat umum. "Dia meninggalkanmu tanpa kabar! Dia membiarkanmu berjuang sendiri saat keluarga kalian dalam masalah!"

"Aku tahu, Raka! Aku tahu betul!" potong Alya, suaranya bergetar menahan tangis. "Tapi Ayah... Ayah merasa berutang budi pada keluarga Faris. Ayah menganggap kepulangan Faris membawa kehormatan keluarga kami kembali."

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Raka, menatap Alya dengan pandangan menuntut sekaligus rapuh. "Bagaimana perasaanmu saat melihat dia berdiri lagi di hadapanmu?"

Alya terdiam sejenak, memandang cangkir kopinya yang mulai dingin. "Aku kaget, Ka. Hatiku campur aduk. Dulu aku sangat membencinya karena pergi begitu saja, tapi kemarin... dia minta maaf di depan Ayah dan Ibu dengan tulus."

"Dan kamu memaafkannya?" Raka tertawa miris, memalingkan wajahnya ke arah jalanan yang mulai ramai. "Jadi perjuangan kita selama enam bulan ini... kerja kerasku membuktikan diri di depan ayahmu... langsung menguap begitu saja cuma karena mantan tunanganmu muncul kembali?"

"Jangan bicara seperti itu, Raka!" seru Alya meraih tangan Raka, namun Raka menarik tangannya secara perlahan. "Aku mencintaimu! Kamu tahu seberapa keras aku berdiri di sampingmu melawan kehendak Ayah!"

"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu kelihatan ragu, Alya?" tanya Raka tajam, matanya menatap tepat ke manik mata Alya. "Aku bisa melihatnya di matamu. Kehadiran Faris menguncangmu."

Alya menundukkan kepala, tak sanggup membalas tatapan itu. "Dia membawa jawaban atas semua krisis keluarga kami, Ka. Sesuatu yang bahkan usaha konveksimu yang sukses pun belum tentu bisa selesaikan dalam waktu singkat."

Raka bersandar di kursi kayunya, meresapi setiap kata yang diucapkan Alya. Rasa hangat kopi di hadapannya telah lenyap, berganti dinginnya ketakutan yang merayap cepat memenuhi rongga dadanya.

°˖✧✿✧˖°

Siang harinya, Raka berdiri di samping mobilnya di pelataran parkir area konveksi miliknya. Pikiran pemuda itu kacau balau, membuat beberapa instruksi kerja kepada anak buahnya terabaikan. Baru saja ia hendak masuk ke dalam kantor, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di samping kendaraan tuanya.

Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berstelan jas rapi melangkah keluar. Penampilannya elegan, dengan jam tangan mewah dan gestur tubuh yang penuh rasa percaya diri. Raka langsung mengenali wajah itu dari foto-foto lama yang pernah tak sengaja ia lihat di kamar Alya. Faris.

Faris berjalan mendekati Raka dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Raka, bukan?"

Raka berdiri tegak, merapikan kemejanya dan menatap pria di hadapannya tanpa ragu. "Ya, saya Raka. Ada perlu apa Anda datang ke tempat saya, Mas Faris?"

Faris menyapu pandangannya ke sekeliling bengkel konveksi Raka yang bising oleh suara mesin jahit. "Tempat yang lumayan untuk seseorang yang merintis dari bawah. Aku menghargai kerja kerasmu."

"Saya tidak butuh penilaian dari Anda," potong Raka dingin. "Katakan saja maksud kedatangan Anda ke sini."

Faris terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Langsung ke intinya, ya? Baik. Aku ke sini cuma mau minta kamu mundur dari kehidupan Alya, Raka."

"Atas dasar apa Anda menyuruh saya mundur?" tanya Raka, suaranya tenang namun menyimpam amarah yang tertahan. "Anda pergi meninggalkan Alya selama tiga tahun tanpa kabar. Sekarang Anda datang tiba-tiba dan merasa punya hak?"

"Aku punya hak karena aku adalah masa depannya yang sebenarnya," ujar Faris mantap. "Aku pergi ke Eropa bukan untuk bersenang-senang, Raka. Aku membereskan aset keluargaku agar bisa kembali dan menyelamatkan posisi keluarga Alya. Dan sekarang, semua kewajibanku sudah selesai."

"Alya bukan barang yang bisa kamu tinggalkan lalu kamu ambil lagi setelah urusanmu selesai, Faris!" tegas Raka, melangkah satu tapak lebih dekat. "Kami sudah berjuang bersama. Kami saling mencintai."

"Cinta saja tidak cukup untuk menjaga tatanan keluarga seperti keluarga Subroto," balas Faris dengan senyum miring. "Kamu pikir Pak Subroto benar-benar menerimamu hanya karena kamu menang proyek di PT Nusantara? Dia hanya memanfaatkan ambisimu untuk menekan harga diri keluargaku agar kami cepat kembali."

Raka tertegun, namun ia berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap tenang. "Jangan coba-coba memanipulasi saya dengan cerita rekaanmu."

"Tanya pada Pak Subroto sendiri kalau tidak percaya," tantang Faris santai. "Alya terbiasa hidup dalam perlindungan penuh. Bersamamu, dia harus ikut bersusah payah, mengurus bahan baku, bahkan sampai menunggumu di rumah sakit. Apakah itu yang dinamakan membahagiakan wanita?"

"Aku membahagiakannya dengan kejujuran dan kerja keras, bukan dengan melarikan diri saat krisis!" tembak Raka tepat di sasaran.

Raut wajah Faris sedikit berubah kaku, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali. "Keras kepala. Tapi ingat satu hal, Raka. Malam ini, keluarga besar Subroto mengadakan jamuan makan malam untuk menyambut kepulanganku. Dan Alya... dia sendiri yang berjanji akan hadir mendampingiku di meja itu."

Raka merasa jantungnya terhenti sejenak. "Alya... berjanji hadir?"

"Ya. Kalau kamu tidak percaya, datang saja sendiri ke Restoran Tirta Asri nanti malam," bisik Faris seraya berbalik menuju mobilnya. "Lihat dengan mata kepalamu sendiri di mana seharusnya posisi Alya berada."

Mobil sedan hitam itu berlalu meninggalkan debu yang membumbung, menyisakan Raka yang berdiri mematung di bawah terik matahari siang, dengan dada bertabur keraguan yang kian meluas.

°˖✧✿✧˖°

Malam harinya, Restoran Tirta Asri bernuansa privat itu dipenuhi lampu-lampu gantung kristal yang hangat. Di sudut ruangan VIP, meja panjang dilapisi kain putih tebal dihiasi jajaran hidangan mewah. Raden Mas Subroto duduk di kepala meja, didampingi Ibu Rahayu. Di sisi kanan mereka, Faris duduk anggun dengan kemeja batik tulis bernilai tinggi, sementara di sisi kiri, Alya duduk terpaku dengan gaun malam berwarna hijau zamrud.

Raka berdiri di balik pilar kayu berukir, agak jauh dari area makan tersebut. Ia memaksakan diri datang, mengabaikan rasa sakit di tangan kirinya yang masih dibebat, hanya demi melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri.

"Alya, cobalah masakan ini," ujar Faris lembut, memindahkan sepotong daging ke piring Alya. "Ini masakan kesukaanmu dulu saat kita masih sering jalan bersama."

Alya hanya tersenyum tipis, hampir tak menyentuh makanan di piringnya. "Terima kasih, Faris. Tapi aku sedang tidak terlalu lapar."

Pak Subroto berdeham pelan, memecah kecanggokkan. "Faris, ayahmu sudah menyampaikan padaku soal niat kelanjutan hubungan kalian. Dokumen pembebasan lahan di wilayah selatan yang kamu bawa kemarin sungguh sangat membantu kelangsungan yayasan keluarga kita."

"Sudah menjadi kewajiban saya, Om Subroto," sahut Faris sopan. "Keluarga kita sudah terikat sejak dulu. Saya hanya ingin menuntaskan apa yang sempat tertunda tiga tahun lalu. Saya ingin melamar Alya secara resmi bulan depan."

Ibu Rahayu tersenyum lebar, mengelus lengan Alya. "Dengar itu, Alya. Faris sungguh-sungguh menunjukkan tanggung jawabnya sebagai laki-laki."

Alya menoleh cepat ke arah ibunya, lalu beralih memandang ayahnya. "Ibu, Ayah... kita tidak bisa membicarakan ini tanpa mempertimbangkan perasaan Alya. Alya sudah punya Raka."

Suasana meja makan seketika mendadak dingin. Pak Subroto meletakkan garpunya dengan dentang keras di atas piring porselen.

"Raka adalah masa lalu pendek dalam perjuangan bisnismu, Alya," ujar Pak Subroto tegas. "Dia memang pemuda yang gigih, Ayah mengakui itu. Tapi Faris adalah takdir dan pasangan yang sepadan untuk keluarga kita."

Lihat selengkapnya