Tatapan yang Membuat Raka Curiga
Raka melihat kedekatan Alya dengan Faris.
Malam beranjak semakin larut, menyisakan bias lampu kota Jakarta yang menembus jendela kaca sebuah restoran mewah bergaya minimalis industrial di kawasan Senopati. Suasana di dalam ruangan itu terasa hangat, diiringi alunan musik jazz pelan yang mengalir dari pengeras suara sudut ruangan. Di salah satu meja sudut yang agak tersembunyi di balik tanaman hias besar, Raka duduk seorang diri sembari menatap layar laptopnya yang menampilkan berkas penawaran proyek arsitektur terbaru. Namun, konsentrasinya buyar seketika saat matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal melangkah masuk ke dalam restoran.
Alya. Kekasih sekaligus partner kerjanya di firma arsitektur, berjalan anggun mengenakan blazer krem. Yang membuat dahi Raka berkerut tajam bukanlah kehadiran Alya di tempat itu, melainkan sosok pria yang berjalan tepat di sampingnya—Faris. Pria yang selama ini dikenal sebagai kompetitor bisnis sekaligus mantan rekan kerja mereka yang kerap bersaing secara tidak sehat. Raka langsung menutup layar laptopnya dengan gerakan perlahan, mengalihkan seluruh perhatiannya ke arah meja tempat Alya dan Faris kini duduk berhadapan.
Jarak meja Raka dengan meja pasangan itu terpaut sekitar tiga meter, cukup dekat untuk melihat gerak-gerik mereka jika Raka sedikit memicingkan mata. Alya tampak meletakkan tas tangannya di atas kursi, sementara Faris melambaikan tangan memanggil pelayan restoran. Raka menegakkan punggungnya, dadanya mendadak bergemuruh hebat diserang gelombang rasa curiga yang mendadak meluap. Mengapa Alya bisa berada di tempat ini bersama Faris? Mengapa kekasihnya itu tidak pernah bercerita apa pun tentang janji temu ini?
"Selamat malam, Kak. Ada yang bisa saya bantu untuk pesanannya?" tanya seorang pelayan pria tiba-tiba datang menghampiri meja Raka, membuyarkan lamunannya.
Raka menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari meja Alya. "Belum, Mas. Saya masih nunggu teman. Tolong bawakan air mineral dingin dulu saja."
"Baik, segera saya siapkan," jawab pelayan itu berlalu.
Raka kembali fokus memperhatikan meja di seberang sana. Dari tempatnya duduk, ia melihat Faris menyerahkan sebuah map dokumen berwarna merah kepada Alya. Wanita itu membuka map tersebut, membaca isinya dengan seksama sementara Faris berbicara sambil tersenyum tipis. Ada sorot keakraban yang terjalin di antara mereka—sesuatu yang belum pernah disaksikan Raka sebelumnya dalam hubungan profesional Alya dengan klien mana pun.
Jantung Raka berdegup kencang, memompa adrenalin kemarahan dan kecurigaan secara bersamaan. Selama ini, Alya selalu bersikap profesional dan terbuka mengenai urusan pekerjaan di firma mereka. Namun, pertemuan rahasia di tempat eksklusif ini bersama Faris—pria yang paling diwaspadai Raka—menjadi peristiwa pemicu yang menanamkan duri keraguan pertama di dalam hati Raka. Kepercayaan yang selama ini ia bangun tanpa syarat kini mulai terkikis oleh tatapan-tatapan sinis dan pikiran negatif yang berkecamuk di dalam benaknya.
°˖✧✿✧˖°
Raka masih terpaku di tempat duduknya, mengawasi setiap gerak-gerik di meja seberang dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas. Ia melihat Alya menganggukkan kepalanya pelan merespons perkataan Faris, lalu merogoh tasnya untuk mengeluarkan ponsel dan mencatat sesuatu. Gestur tubuh Alya tampak begitu santai, sama sekali tidak mencerminkan keterpaksaan. Hal itu justru membuat dada Raka terasa semakin panas.
"Pesanan air mineralnya, Kak," ucap pelayan restoran yang datang meletakkan gelas di atas meja Raka.
"Terima kasih," balas Raka singkat tanpa menyentuh gelas tersebut.
Tak berselang lama, Alya terlihat menutup map merah itu dan berdiri dari kursinya. Faris ikut berdiri, mengulurkan tangan untuk bersalaman. Alya menyambut uluran tangan itu, namun yang membuat Raka hampir melompat dari kursinya adalah saat tangan kiri Faris terulur menyentuh lembut pundak Alya sambil mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Raka. Alya hanya tersenyum tipis merespons sentuhan tersebut sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar restoran seorang diri, meninggalkan Faris yang kembali duduk sendirian.
Raka mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan kecemburuan melebur menjadi satu, menciptakan titik plot pertama yang mengubah keraguan kecil menjadi keyakinan bahwa Alya sedang menyembunyikan rahasia besar darinya. Tanpa berpikir panjang lagi, Raka membatalkan pesanannya, meletakkan selembar uang pecahan besar di atas meja, lalu bangkit berdiri dan melangkah cepat keluar restoran untuk menyusul Alya.
Udara malam ibu kota menyambut langkah tergesa-gesa Raka begitu ia keluar ke area parkir. Ia melihat Alya baru saja membuka pintu mobil sedan putih miliknya yang terparkir di sudut halaman. Raka mempercepat langkahnya, memanggil nama wanita itu dengan suara tegas.
"Alya!" panggil Raka menghentikan gerakan wanita tersebut.
Alya terperanjat kaget, menoleh ke sumber suara dengan mata membelalak lebar. Wajahnya yang semula tenang mendadak berubah pucat pasi saat melihat Raka berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan raut wajah yang mengeras.
"Raka? Kamu... kamu kok bisa ada di sini?" tanya Alya terbata-bata, menutup pintu mobilnya kembali dengan pelan.
Raka melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah. Sorot matanya menghujam tajam ke manik mata Alya. "Seharusnya aku yang tanya sama kamu, Al. Sedang apa kamu di restoran itu, dan bareng siapa kamu tadi di dalam?"
Alya menelan ludahnya dengan susah payah, menghindari tatapan mengintimidasi dari kekasihnya. "Aku... aku cuma lagi meeting urusan pekerjaan, Ka."
"Pekerjaan?" potong Raka dengan nada sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Meeting sama siapa sampai harus sembunyi-sembunyi di sudut restoran mahal, dan bahkan pakai sentuhan fisik di pundak segala?!"
Wajah Alya merona merah, bukan karena malu melainkan karena tersinggung atas tuduhan yang terlontar begitu saja. "Kamu merhatiin aku, Raka? Kamu ngikutin aku ke sini?"
"Aku nggak perlu ngikutin kamu buat tahu apa yang barusan aku lihat dengan mata kepala aku sendiri, Alya!" seru Raka, emosinya tak lagi bisa terbendung. "Kamu ketemuan sama Faris! Pria yang jelas-jelas mau menjatuhkan firma kita! Kenapa kamu bisa duduk berdua sama dia dan nerima dokumen rahasia tanpa sepengetahuan aku?!"
Alya tertegun sejenak, napasnya mulai memburu menahan amarah yang mendesak naik. "Jadi dari tadi kamu mengawasi aku dari meja lain? Kamu meragukan aku semahal itu, Raka?"
"Bukan aku yang mulai meragukan, Al, tapi kelakuan kamu sendiri yang mancing kecurigaan aku!" bentak Raka emosional, menatap Alya dengan tatapan penuh kekecewaan. Pertengkaran di area parkir itu menandai keretakan nyata pertama dalam hubungan mereka, di mana benteng kepercayaan yang kokoh mulai runtuh digantikan oleh prasangka dan tuduhan tajam.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, suasana di dalam studio arsitektur milik Raka dan Alya terasa sangat dingin dan mencekan. Tidak ada sapaan pagi seperti biasanya. Raka duduk di balik meja kerjanya di ruang utama, menatap layar monitor dengan tatapan kosong sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan pertemuan Alya dan Faris semalam. Pintu ruangan kerja terbuka, dan Alya melangkah masuk dengan membawa setumpuk berkas desain revisi.