
SIAPA FARIS?
Raka Mulai Mencari Tahu Hubungan Mereka
Hujan gerimis membungkus sudut kota Jakarta dengan aroma tanah basah yang begitu pekat. Di dalam apartemen Alya yang hangat dan beraroma vanila, Raka berdiri membeku di depan rak buku kayu mahoni berukir halus. Niat awalnya sore itu amat sederhana, ia hanya ingin mengambil kunci mobil miliknya yang tertinggal di antara selipan majalah arsitektur. Namun, tatkala jemarinya menggeledah bagian belakang rak, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah amplop cokelat kusam yang tersembunyi rapat di balik deretan ensiklopedia tua berdebu.
Amplop tersebut terjatuh keras ke lantai kayu poles, menghamburkan lembaran kertas dan sebuah foto tua. Raka berlutut pelan memungutnya, namun pandangan matanya seketika terpaku pada foto berukuran sedang dengan pinggiran yang memudar kekuningan.
Di dalam foto itu, Alya tampak tersenum tipis merangkul bahu seorang pria bertubuh jangkung dengan tatapan mata tajam namun memancarkan kehangatan yang asing. Pria itu mengenakan kemeja katun biru muda dengan lipatan lengan hingga siku. Ketika Raka membalikkan foto tersebut dengan jari yang mendadak dingin, ia menemukan torehan tinta hitam pudar yang terbaca amat jelas: "Bersamamu di saat-saat tergelap dalam hidupku, Faris — Oktober 2021."
Dada Raka terasa seperti dihantam beban seberat tonase besi. Jantungnya berdegup kencang, memukul rongga dadanya dengan ritme yang kacau dan menyakitkan.
"Raka? Kamu sedang mencari apa di situ?" suara Alya mendadak terdengar dari arah dapur, diiringi denting halus baki kayu yang diletakkan di atas meja makan.
Raka berusaha secepat mungkin memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop cokelat, namun gerakannya terpatah-patah karena gelombang kecemasan yang menguasai sarafnya. Langkah kaki Alya terhenti tepat dua meter di belakangnya. Mata bening Alya membulat sempurna saat menyadari objek di genggaman Raka.
"Alya... tolong jelaskan padaku, siapa pria di foto ini?" tanya Raka pelan seraya memutar tubuhnya secara perlahan. Suaranya serak menahan emosi yang membakar dadanya dari dalam.
Wajah Alya seketika berubah pucat pasi, seperti kehilangan seluruh aliran darah dalam sekejap. Ia menggeser pandangannya ke arah dinding, lalu menghela napas panjang yang terdengar berat. "Raka, kembalikan amplop itu sekarang. Kamu tidak berhak membuka barang pribadiku tanpa izin."
"Aku tidak sengaja menemukan amplop ini saat mengambil kunci mobil, Al!" potong Raka dengan nada suara yang mulai meninggi seraya mengacungkan foto tersebut ke udara. "Tapi foto ini... tulisan manis di belakangnya... dan ekspresi bahagiamu dengannya! Siapa sebenarnya sosok bernama Faris ini? Kenapa nama itu tak pernah kamu sebutkan selama dua tahun hubungan kita?"
Alya melangkah mundur seraya mengepalkan jemarinya rapat-rapat di samping gaun kasualnya. "Ada bagian dari masa lalu yang memang sengaja diselimuti rahasia, Raka. Itu hanya bagian dari masa lalu yang sudah mati dan tak perlu kamu usik lagi!"
"Masa lalu yang sudah mati?" Raka tertawa hambar dengan nada ketidakpercayaan yang membumbung tinggi. "Jika masa lalu ini memang sudah mati dan tak berarti, kenapa kamu menyembunyikannya di tempat paling tersembunyi di rumah ini? Kenapa matamu selalu memancarkan ketakutan setiap kali ada hal yang bersinggungan dengan tahun 2021?"
"Raka, tolong! Jangan mulai membakar situasi dengan rasa cemburu yang berlebihan!" seru Alya dengan mata yang digenangi air mata emosional. "Hubunganku dengannya di masa lalu tidak seperti tuduhan liar yang ada di dalam kepalamu saat ini!"
"Lalu seperti apa yang sebenarnya terjadi, Alya?" tantang Raka dengan tatapan menusuk. "Beri aku satu jawaban yang jujur! Jelaskan padaku agar aku tidak merasa seperti pria bodoh yang selama dua tahun ini hanya mengisi posisi kosong yang ditinggalkan pria lain!"
Alya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia memilih bungkam, membiarkan derai air matanya menetes menimpa karpet di bawah kakinya. Keheningan yang menyiksa merayap tebal di antara mereka berdua. Angin malam menampar kaca jendela, seolah menegaskan tembok tebal yang baru saja terbangun di antara dua hati yang sebelumnya amat dekat.
Raka mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas pinggiran foto itu dengan rasa kecewa sebelum meletakkannya kembali di atas rak. "Jika kamu menolak untuk jujur padaku malam ini, Alya... maka aku sendiri yang akan mencari tahu siapa Faris dan apa sebenarnya hubungan kalian di masa lalu."
"Jangan, Raka! Aku mohon jangan pernah lakukan itu!" teriak Alya panik seraya menahan lengan Raka yang berbalik melangkah menuju pintu utama apartemen.
"Kepercayaan dibangun di atas keterbukaan, Alya. Tapi malam ini, aku sadar kamu memelihara rahasia besar di belakangku," bisik Raka dingin tanpa menoleh lagi. Pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Alya yang terduduk lemas di atas sofa dengan derai tangis yang pecah dalam kesendirian.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi di kota Jakarta gagal mencairkan rasa dingin yang membeku di dalam benak Raka. Di sebuah kafe berarsitektur industrial yang sepi di kawasan Selatan, Raka duduk termenung di sudut meja kayu. Di hadapannya duduk Bram, sahabat karibnya sejak masa kuliah yang kini berprofesi sebagai analis data dan memiliki jaringan informasi eksekutif yang sangat luas.
Raka menggeser ponsel pintar miliknya ke tengah meja, menampilkan foto digital dari gambar Faris dan Alya yang sempat ia abadikan sebelum meninggalkan apartemen semalam.
"Kamu benar-benar yakin ingin menggali arsip lama ini, Ka?" tanya Bram seraya mengamati detail wajah pria di layar ponsel dengan kening berkerut dalam. "Kadang-kadang, rahasia masa lalu disimpan rapat bukan untuk membohongi orang lain, melainkan untuk melindungi jiwa orang yang menyimpannya."
"Aku butuh kepastian yang nyata, Bram," jawab Raka tegas dengan nada dingin. Tangannya memutar-mutar cangkir espresso yang sudah tak lagi berasap. "Alya menunjukkan reaksi panik yang tak wajar saat aku menyebut nama Faris semalam. Jika pria ini hanya sebatas teman lama atau mantan kekasih biasa, untuk apa ada ketakutan sebesar itu di matanya?"
Bram menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja. "Tahun 2021 yang tertera di balik foto itu... jika ingatanku tidak salah, merupakan periode paling kelam bagi keluarga Alya. Perusahaan properti milik ayahnya diterpa krisis keuangan dahsyat, dan ayahnya sempat dirawat dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Medika Sentosa."
Raka menatap sahabatnya dengan pandangan tajam melubangi. "Kamu tahu sesuatu tentang peristiwa masa itu?"
"Alya sempat menghilang total dari kegiatan alumni selama delapan bulan," papar Bram pelan. "Saat itu beredar rumor kencang bahwa seorang pemuda kaya bernama Faris Kencana mengambil alih seluruh beban utang keluarga Alya dan membiayai pengobatan ayahnya hingga sembuh total."
Raka tertegun sejenak. "Faris Kencana? Siapa sebenarnya keluarga Kencana itu?"
"Faris adalah putra tunggal pemilik Kencana Group," terang Bram seraya mengetikkan beberapa kata kunci di laptopnya. "Namun secara misterius, pada akhir tahun 2021 nama Faris lenyap sama sekali dari media massa. Ada yang bilang dia pergi ke luar negeri, tapi ada juga desas-desus bahwa dia terlibat masalah hukum."
"Bisa kamu lacak ke mana Faris pergi dan apa hubungannya dengan Alya?" desak Raka dengan pandangan membara.
Bram menatap Raka dengan kecemasan seorang sahabat. "Aku bisa meminta bantuan rekanku di bagian arsip medis untuk memeriksa berkas tahun 2021. Tapi ingat, Raka... begitu lembaran masa lalu ini terbuka, kebenaran yang kamu temukan mungkin akan mengubah hubunganmu dengan Alya selamanya."
"Aku tidak peduli pada risikonya," sahut Raka tanpa ragu sedikit pun. "Aku harus tahu apakah aku dicintai sebagai diriku sendiri, atau aku hanya sekadar tempat pelarian dari sosok pahlawan masa lalunya yang hilang."
°˖✧✿✧˖°