Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Kisah yang Belum Selesai

Kisah yang Belum Selesai

Alya mengungkap sebagian masa lalunya.

Gerimis tipis mengayomi kawasan Senopati, membiaskan cahaya lampu jalanan pada kaca jendela kafe yang temaram. Di sudut ruangan yang jauh dari kebisingan kota, Raka mengaduk cangkir kopinya yang mulai mendingin. Aromanya bercampur dengan wangi hujan yang meresap halus melalui celah pintu. Di hadapannya, Alya duduk termangu, memandangi pusaran cairan gelap di cangkirnya sendiri tanpa niat untuk mengusiknya.

"Al," panggil Raka pelan. Suaranya memecah keheningan yang hinggap cukup lama di antara mereka. "Kamu lebih banyak diam dari tadi. Ada masalah di kantor?"

Alya mendongak perlahan. Kelopak matanya menyimpankan bayangan keletihan yang tak biasa. Ia mengusap jemarinya yang dingin, lalu membetulkan letak selendang tipis di lehernya.

"Bukan soal kantor, Ka," jawab Alya. Suaranya hampir tenggelam oleh gesekan daun-daun di luar sana. "Ada hal lain yang terus mengganggu pikiran aku beberapa hari ini."

Raka menundukkan tubuhnya sedikit ke depan, menaruh perhatian penuh pada wanita di depannya. "Soal apa? Kamu tahu kamu selalu bisa cerita apa aja ke aku."

Alya menghela napas panjang, sebuah tarikan napas berat yang membawa emosi tertahan. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat berukuran sedang yang tampak agak kusam di bagian sudutnya. Kertas itu tidak menunjukkan nama pengirim, hanya ada bekas segel pita merah yang sudah koyak.

"Ini alasan kenapa aku sering tiba-tiba hilang fokus," kata Alya seraya menggeser amplop itu ke tengah meja. "Ini dari seseorang di masa lalu aku."

Raka menatap amplop itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke mata Alya. "Masa lalu? Maksud kamu... soal keluarga kamu atau orang lain?"

"Orang yang pernah punya peran besar sebelum aku kenal kamu, Ka," bisik Alya. Jemarinya bergetar halus saat menyentuh permukaan amplop. "Aku selalu berpikir bab itu udah benar-benar tertutup rapat. Aku mikir aku udah menyelesaikan semuanya waktu aku memutuskan buat melangkah sama kamu."

Raka memiringkan kepalanya, merasakan ada riak kecemasan yang mendadak menyusup ke dadanya. "Tapi ternyata belum?"

"Ternyata belum," aku Alya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca menatap Raka. "Surat ini datang dua hari lalu. Dia minta aku menemui dia untuk menyelesaikan satu urusan yang tertunda lima tahun lalu. Dan isi surat ini... bikin aku sadar kalau ada bagian dari hidup aku yang belum pernah kamu ketahui sama sekali."

Raka meraih amplop cokelat itu, menyentuh pinggirannya dengan cermat. "Kamu mau aku membukanya?"

"Jangan sekarang," tahan Alya cepat, menumpukkan tangannya di atas jemari Raka. "Aku mau aku sendiri yang cerita ke kamu. Tapi aku takut, Ka. Aku takut kalau kamu tahu rahasia ini, cara kamu memandang aku bakal berubah total."

Raka menggenggam erat jemari Alya yang dingin, menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya. "Al, kita udah melewati banyak hal. Nggak ada rahasia masa lalu yang bisa bikin aku berubah pikiran soal kamu."

"Kamu belum tahu apa isi cerita itu, Raka," balas Alya menggeleng pelan. "Kisah ini belum selesai, dan aku terpaksa harus menghadapinya lagi."

Penemuan surat dari masa lalu Alya serta pengakuannya yang jujur menjadi peristiwa pemicu dari terbukanya tabir rahasia yang selama ini terendam rapat. Keheningan di kafe itu mendadak sarat dengan muatan emosional, menandai dimulainya babak baru yang menguji keterbukaan di antara mereka.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, Raka memboyong Alya ke taman kota yang lebih sepi untuk melanjutkan pembicaraan yang terputus. Angin sore berembus dingin menyapu dedaunan kering di sekitar bangku taman yang mereka duduki. Di bawah naungan pohon rindang, suasana terasa tenang namun penuh antisipasi.

Raka menatap profil samping wajah Alya yang tampak serius. "Kita di sini sekarang, Al. Nggak ada orang lain, nggak ada gangguan. Cerita sama aku, apa kisah yang belum selesai itu?"

Alya menggenggam erat tali tasnya, menatap lurus ke arah kolam kecil di depan mereka. "Lima tahun lalu, sebelum aku kenal kamu dan sebelum aku masuk ke firma arsitektur, aku pernah bertunangan secara informal dengan seorang pria bernama Aris."

Raka menahan napasnya sejenak. Nama itu baru pertama kali terdengar di telinganya. "Pertunangan?"

"Iya," angguk Alya pelan. "Kami merancang masa depan bersama. Aris itu sahabat kakakku yang meninggal. Keluarga kami sangat dekat, dan hubungan itu dirancang bukan cuma karena perasaan, tapi juga karena janji keluarga."

"Lalu kenapa hubungan itu berakhir?" tanya Raka hati-hati, berusaha menjaga nada suaranya tetap datar dan tak menghakimi.

Alya menoleh menatap Raka, suaranya terdengar tercekat. "Hubungan itu nggak pernah berakhir secara resmi, Ka. Itu masalahnya."

Raka mengerutkan dahi, kejutan terpancar jelas dari raut wajahnya. "Maksud kamu gimana? Nggak pernah berakhir?"

"Suatu malam, lima tahun lalu, Aris menghilang tanpa jejak," jelas Alya dengan bibir bergetar. "Dia meninggalkan semua proyeknya, keluarganya, dan aku... cuma dengan satu catatan kecil yang bilang dia harus pergi demi melindungiku dari masalah finansial keluarganya. Setelah itu, dia lenyap."

"Dan kamu menunggu dia?" tanya Raka, merasakan desakan rasa cemas yang samar di dadanya.

"Awalnya iya," aku Alya jujur. "Aku menghabiskan waktu dua tahun mencari tahu keberadaan dia. Tapi setelah nggak ada hasil, aku memutuskan buat menyerah dan menata hidupku lagi. Sampai akhirnya aku bertemu kamu, Raka. Kamu yang bikin aku percaya lagi kalau aku bisa mencintai orang lain dengan utuh."

Raka menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna fakta baru yang menghantam hubungannya secara mendadak. "Lalu amplop cokelat kemarin?"

"Aris balik ke Jakarta minggu lalu," bisik Alya. "Dia ngirim surat itu buat minta maaf dan minta satu pertemuan terakhir buat menyelesaikan ikatan pertunangan yang ter gantung itu."

Raka berdiri dari bangku taman, melangkah dua tindak lalu membelakangi Alya. "Kenapa baru sekarang kamu cerita soal Aris, Al? Kenapa selama ini kamu simpan ini sendirian?"

Alya ikut berdiri, mengikis jarak di antara mereka dan memegang lengan baju Raka dari belakang. "Karena aku pikir dia nggak akan pernah kembali, Ka! Aku takut kalau aku cerita dari awal, kamu bakal merasa cuma jadi bayang-bayang masa lalu aku!"

"Tapi kenyataannya sekarang dia kembali, Al!" tegas Raka membalikkan badan, menatap Alya dengan mata yang sarat akan rasa terluka. "Dan ikatan itu ternyata masih ada di antara kalian."

"Nggak ada perasaan itu lagi buat Aris, Raka!" seru Alya penuh emosi, air matanya mulai menetes. "Hati aku cuma buat kamu! Tapi aku butuh menyelesaikan urusan ini secara terhormat supaya kita bisa melangkah tanpa ada beban masa lalu."

Keputusan Alya untuk mengungkap rahasia pertunangan masa lalunya dan kembalinya Aris mengunci titik plot pertama mereka. Garis keraguan baru telah ditarik; kejujuran Alya kini memaksa Raka untuk menghadapi kenyataan bahwa ada bayang-bayang pria lain yang harus diselesaikan sebelum masa depan mereka benar-benar bersih.

°˖✧✿✧˖°

Dua hari berlalu setelah pengakuan di taman. Hubungan Raka dan Alya diselimuti canggung yang tak kasat mata. Meski mereka tetap bertemu di studio arsitektur untuk mengurus pekerjaan, perbincangan di antara mereka terasa hemat dan dibatasi oleh beban emosional yang belum terurai.

Sore itu, di ruang rapat studio yang sepi, Raka sedang memeriksa cetak biru proyek ketika Alya melangkah masuk dengan ragu-ragu. Alya mengenakan pakaian serba hitam, tampak rapi seolah hendak menghadiri pertemuan penting.

"Ka," sapa Alya lirih.

Lihat selengkapnya