Aku Percaya Padamu
Raka berusaha mempercayai Alya.
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kaca kedai kopi tua, membiaskan garis-garis cahaya kemerahan di atas meja kayu tempat Raka dan Alya duduk berhadapan. Keheningan terasa melingkupi mereka, begitu berat hingga denting sendok mengaduk cangkir porselen di sudut ruangan terdengar begitu nyaring. Raka menatap jemarinya yang saling bertaut erat, mencoba meredakan guncangan di dadanya.
"Aku cuma butuh kejujuranmu, Alya," ujar Raka membuka percakapan, suaranya pelan namun menyimpan ketegangan yang amat dalam.
Alya menatap Raka dengan mata yang menyorotkan kecemasan luar biasa. "Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu, Raka. Kenapa kamu mendadak meragukanku seperti ini?"
Raka helai napas panjang. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku kemeja, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di samping cangkir kopi Alya. Di layarnya, tertera pesan singkat dari nomor yang sangat mereka kenal—nomor milik Faris.
"Faris mengirimkan ini padaku tadi malam," kata Raka, menatap lurus mata Alya. "Dia bilang kamu menemuinya secara sembunyi-sembunyi di restoran hotel dua hari yang lalu, tepat saat aku sedang berada di luar kota mengurus pengiriman tenun."
Alya terperanjat. Wajahnya seketika memucat, dan jemarinya yang memegang cangkir bergetar hebat. "Raka, ini... ini tidak seperti apa yang dibayangkan olehmu."
"Lalu seperti apa, Alya?" tanya Raka, mencondongkan badannya ke depan. "Kenapa kamu harus menemui pria yang hampir menghancurkan hubungan kita tanpa memberi tahu aku terlebih dahulu?"
"Karena Faris mengancam akan membatalkan seluruh pasokan benang sutra untuk perajinmu di desa jika aku tidak mau menemuinya!" seru Alya, suaranya bergetar menahan tangis yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Raka mengepalkan tangannya di atas meja. "Kamu bisa bilang padaku, Alya! Kita bisa cari jalan keluar sama-sama. Kenapa kamu harus mengambil risiko melangkah sendirian mendekati pria itu lagi?"
"Karena aku tidak mau kamu terbeban lagi, Ka!" pangkas Alya, air matanya menetes membasahi pipi. "Kamu baru saja sembuh dari cedera tanganmu. Usahamu baru mulai bangkit kembali setelah disabotase. Aku cuma ingin melindungimu dari jerat Faris dan Ayah!"
"Melindungiku dengan cara menyembunyikan rahasia dariku?" tawar Raka dengan tawa miris. "Alya, kamu tahu seberapa keras aku berjuang untuk mempercayaimu di tengah semua tekanan keluarga besar kalian? Saat Faris kembali, hatiku sudah cukup koyak. Sekarang kamu bertindak di belakangku?"
"Aku mohon, Raka... percayalah padaku," bisik Alya pasrah, mencoba meraih jemari Raka di atas meja. "Di restoran itu, aku cuma menegaskan padanya kalau aku tidak akan pernah kembali padanya. Aku menolak semua tawarannya."
Raka menatap tangan Alya yang menyentuh jemarinya. Di dalam benaknya, pertarungan hebat antara rasa cemburu, ketakutan akan kehilangan, dan rasa sayangnya pada Alya saling beradu tanpa ampun.
"Aku mencintaimu, Alya," kata Raka lirih, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Alya. "Tapi kepercayaan yang retak itu sangat sulit untuk disembuhkan. Aku ingin mempercayaimu, tapi Faris punya ribuan cara untuk membuat aku terlihat kerdil di depanmu."
"Raka, jangan katakan itu," tangis Alya pecah. "Aku memilihmu! Dari awal sampai detik ini, hanya kamu yang ada di hatiku!"
"Kalau begitu, buktikan padaku kalau kamu tidak menyimpan rahasia lain lagi di belakangku," tegas Raka.
°˖✧✿✧˖°
Suasana sore di bengkel konveksi Raka terasa makin menyesakkan. Angin kencang membawa aroma hujan dari luar, beradu dengan suara deru mesin jahit yang tak berhenti berputar. Raka berdiri di sudut ruangan, memandangi tumpukan kain tenun dengan pikiran yang tak berada di tempatnya. Kalimat-kalimat Alya di kedai kopi tadi pagi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Langkah kaki terdengar mendekat. Budi, kawan setianya, meletakkan selembar kertas catatan produksi di atas meja potong.
"Mas Raka, ada yang mau ketemu di depan," ujar Budi dengan raut wajah ragu.
Raka mendongak, menyapu pelipisnya yang berkeringat. "Siapa? Vendor bahan atau dari pihak PT Nusantara?"
"Bukan, Mas. Orang suruhan Pak Subroto... dan Mas Faris," jawab Budi pelan, seolah takut menyulut amarah rekannya.
Raka menarik napas panjang, merapikan kemejanya yang agak kusut, lalu berjalan menuju area penerimaan tamu. Di sana, seorang pria berstelan jas rapi berdiri menunggunya dengan amplop cokelat di tangan.
"Ada perlu apa lagi keluarga Subroto mengirim utusan ke sini?" tanya Raka dingin, berdiri tegak tanpa berniat menyapa ramah.
Pria itu tersenyum tipis dan menyodorkan amplop tersebut kepada Raka. "Saya pengacara keluarga Raden Mas Subroto. Saya ke sini hanya untuk menyampaikan dokumen kesepakatan investasi yang telah ditandatangani oleh Mbak Alya dua hari lalu."
Dada Raka serasa disambar petir di siang bolong. "Dokumen apa? Alya tidak pernah menandatangani apa pun dengan kalian!"
"Silakan diperiksa sendiri, Mas Raka," ujar pengacara itu santai. "Mbak Alya menyetujui suntikan dana dari perusahaan Mas Faris untuk menopang sisa utang yayasan keluarga Subroto. Sebagai imbalannya, Mbak Alya bersedia kembali menjadi jajaran direksi di yayasan tersebut—tempat di mana Mas Faris juga menjabat sebagai ketua dewan pembina."
Raka menerima amplop itu dengan tangan yang mendadak terasa kaku. Ia membuka lipatan kertas di dalamnya dan melihat tanda tangan Alya tertera jelas di atas meterai. Tanda tangan yang sangat ia kenali.
"Ini tidak mungkin..." bisik Raka, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin hujan di luar.
"Mbak Alya melakukan ini demi menjaga nama baik keluarganya, Mas," lanjut sang pengacara dengan nada penuh penekanan. "Beliau tahu bahwa usaha konveksi Anda, meskipun sukses, tidak akan pernah sanggup menutup beban finansial sebesar itu dalam waktu singkat. Ini bukti bahwa pada akhirnya, Mbak Alya harus bersikap realistis."
Pengacara itu membungkuk sopan lalu melangkah pergi, meninggalkan Raka yang berdiri mematung di tengah ruangan. Kertas dokumen di tangannya bergetar hebat seiring guncangan emosi yang membakar dadanya.
"Mas Raka... Mas tidak apa-apa?" tanya Budi prihatin seraya mendekat.
"Budi... tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Raka pelan, namun nadanya begitu kelam hingga Budi tak berani membantah dan langsung melangkah mundur.
Raka meremas kertas itu kuat-kuat. Janji Alya tadi pagi bahwa ia tidak menyimpan rahasia apa pun seketika hancur berkeping-keping. Rasa percaya yang coba dibangunnya kembali roboh dalam sekejap, menyisakan reruntuhan kepedihan dan amarah yang luar biasa.
"Kenapa kamu bohong lagi padaku, Alya?" gumam Raka pada keheningan ruangan, matanya menatap nanar ke arah hujan deras yang mulai membasahi kaca jendela.
°˖✧✿✧˖°
Gumpalan awan hitam menggantung rendah di atas kota saat Raka memacu mobil tuanya menuju rumah tua keluarga Subroto. Amarah dan rasa dikhianati mendorong pemuda itu untuk meminta penjelasan langsung, tak lagi peduli pada larangan atau ancaman hukum yang pernah dilayangkan padanya.
Mobilnya berhenti dengan cericit rem yang tajam di depan gerbang kayu berukir. Tanpa memedulikan hujan gerimis yang mulai turun, Raka melangkah lebar menyeberangi pelataran rumah dan langsung menuju pendopo utama.
"Alya!" teriak Raka, suaranya menggema memecah ketenangan rumah tua itu. "Alya! Keluar kamu!"
Pintu ukir utama terbuka kasar. Raden Mas Subroto muncul dengan tongkat kayunya, didampingi oleh Faris yang berdiri gagah di belakangnya.
"Laki-laki tak tahu sopan santun!" bentak Pak Subroto, menunjuk Raka dengan tongkatnya. "Berani-beraninya kamu berteriak di rumah saya!"
"Di mana Alya, Pak?!" tuntut Raka, matanya menyala menatap Pak Subroto lalu beralih tajam ke arah Faris. "Suruh Alya keluar dan jelaskan maksud kertas sialan ini!"
Raka melemparkan kertas dokumen kesepakatan investasi yang telah diremasnya ke atas meja kayu pendopo.
Faris terkekeh pelan, melangkah maju mendekati meja. "Kenapa kamu harus emosi begitu, Raka? Alya mengambil keputusan yang dewasa demi keluarganya. Kamu harusnya sadar diri kalau posisi finansialmu tidak akan pernah bisa menyamai apa yang bisa kuberikan pada keluarga ini."
"Aku tidak bicara denganmu, Faris!" bentak Raka. "Aku mau Alya yang menjelaskan langsung di depanku!"
Pintu dalam terbuka kembali, dan Alya melangkah keluar dengan raut wajah panik dan mata sembap. "Raka! Kenapa kamu ke sini?"
Raka menatap Alya dengan pandangan yang campur aduk antara sakit hati dan amarah yang mendalam. "Kenapa aku ke sini? Aku ke sini buat menagih janji kejujuranmu tadi pagi, Alya! Kamu bilang kamu tidak menyimpan rahasia apa pun dari aku!"
Alya melihat kertas dokumen di atas meja, dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi. "Raka... ini... aku bisa jelaskan."
"Penjelasan apa lagi, Alya?!" seru Raka, suaranya bergetar hebat. "Kamu menandatangani kerja sama dengan perusahaan Faris! Kamu bersedia duduk di satu dewan pembina bersama pria ini! Apakah ini yang kamu sebut menolak semua tawarannya?!"
"Aku terpaksa, Raka!" teriak Alya, air matanya kembali tumpah. "Ayah hampir ditahan polisi dua hari lalu karena tuntutan utang lama yayasan! Faris satu-satunya orang yang punya dana tunai saat itu untuk mencabut laporan itu!"
"Lalu kenapa kamu tidak bicara padaku?!" balas Raka, melangkah satu tapak lebih dekat. "Kenapa kamu selalu menjadikan aku orang terakhir yang tahu masalahmu? Apakah karena di dalam hatimu, kamu memang menganggap aku tidak akan sanggup membantumu?!"
"Bukan begitu, Raka! Bukan!" jerit Alya hysterical, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak mau usahamu yang baru berkembang dijadikan jaminan untuk utang keluarga kami! Aku tidak mau kamu hancur demi menyelamatkan gengsi Ayah!"
"Tapi kamu lebih memilih menghancurkan kepercayaanku padamu!" kata Raka dengan nada suara yang mendadak merendah, sangat pelan, namun berbobot begitu tebal hingga membuat Alya tertegun membisu. "Aku berjuang enam bulan, menahan sakit, dicurangi, bahkan hampir mati di jalanan... semuanya cuma buat membuktikan kalau aku layak berdiri di sampingmu secara terhormat. Tapi ternyata, di saat krisis datang, kamu tetap berpaling pada kekuatan uang Faris."