Pesan Misterius
Sebuah pesan dari Faris membuat Raka semakin curiga.
Malam melarut di dalam ruang kerja studio arsitektur Raka, menyisakan deru angin yang bergesekan halus dengan dinding kaca apartemen. Lampu meja membiaskan cahaya temaram, menimpa lembaran draf proyek yang berserakan di atas meja kayu. Raka duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, mengusap lelah wajahnya seraya menatap layar ponsel yang menyala di dekatnya. Keheningan ruangan yang tadinya menenangkan mendadak koyak saat sebuah getaran nyaring memecah malam.
Denting notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal berderet di layar ponselnya. Raka mengernyitkan dahi, meraih gawai tersebut dengan cermat. Ketika ia menggeser layar pengunci, nama pengirim di dalam isi pesan itu membuat seluruh aliran darahnya berdesir dingin: Faris.
"Raka, jangan pernah percaya sepenuhnya sama apa yang Alya bilang soal malam itu. Dia menyembunyikan sesuatu dari kamu. Kalau kamu mau tau kebenarannya, datang sendiri tanpa Alya."
Raka mengepalkan jemarinya di sekeliling ponsel, dadanya bergemuruh hebat. Faris—pria yang selama ini menjadi sosok bayang-bayang di balik beberapa keretakan proyeknya—tiba-tiba muncul membawa tuduhan yang menusuk tepat pada jantung kepercayaannya terhadap Alya.
Pintu ruangan terdorong pelan, dan Alya melangkah masuk membawakan segelas teh hangat. Wajah wanita itu tampak teduh, memancarkan kelelahan yang sama setelah seharian mengurus berkas administrasi studio.
"Ka, ini teh hangat buat kamu," sapa Alya pelan seraya meletakkan cangkir di samping laptop Raka. "Kamu belum mau istirahat? Udah hampir jam satu malam."
Raka dengan cepat membalikkan layar ponselnya ke bawah, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang meski degup jantungnya berpacu kencang. "Makasih ya, Al. Bentar lagi aku beres-beres kok."
Alya mengamati perubahan sikap Raka yang mendadak kaku. Ia mengikis jarak di antara mereka, menyentuh lembut bahu Raka. "Kamu kenapa, Ka? Raut wajah kamu langsung berubah gitu pas aku masuk."
Raka menatap manik mata Alya, mencari ketulusan di sana. Namun, bayang-bayang pesan misterius dari Faris mendadak berdiri di antara tatapan mereka. "Nggak ada apa-apa, Al. Cuma rada pusing liat kalkulasi struktur proyek."
"Beneran cuma itu?" tanya Alya berbisik, memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh selidik namun lembut. "Kalau ada masalah, kamu selalu bisa cerita sama aku, Ka. Nggak ada yang perlu ditutup-tutupin."
Raka menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Iya, Alya. Aku tau. Kamu juga kalau ada apa-apa selalu cerita sama aku, kan?"
Alya sempat tertegun sejenak, matanya berkedip halus sebelum ia menyunggingkan senyum balasan dan mengangguk. "Tentu aja. Aku nggak pernah sembunyiin apa pun dari kamu."
Pernyataan Alya yang begitu mantap berbenturan keras dengan kalimat ancaman dalam pesan misterius Faris. Pesan dari Faris menjadi peristiwa pemicu yang menanamkan benih kecurigaan pertama di batin Raka. Rasa percaya yang tadinya tak tergoyahkan kini mendadak goyah, diselimuti oleh keraguan tak kasat mata tentang apa yang sebenarnya disimpan oleh wanita yang paling dicintainya itu.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, suasana studio dipenuhi kesibukan yang riuh, namun keheningan emosional di antara Raka dan Alya justru kian menebal. Raka tak bisa memusatkan pikirannya pada draf rancangan di hadapannya. Kata-kata Faris terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Ketika Alya sedang pergi ke ruang arsip di lantai bawah, Raka memutuskan untuk melangkah mendekati meja kerja Alya. Rasa curiga yang membakar dadanya mendorongnya melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di atas meja Alya, sebuah buku agenda kecil bersampul kulit hitam tergeletak rapat.
Raka merogoh ponselnya, membacakan kembali pesan dari Faris secara berbisik. "Dia menyembunyikan sesuatu dari kamu..."
Dengan jemari yang bergetar halus, Raka membentangkan buku agenda tersebut. Lembar demi lembar berputar cepat hingga matanya tertuju pada sekumpulan catatan bertanggal bulan lalu—tepat pada hari di mana proyek mereka hampir mengalami kebocoran data. Di sana, tertulis nama 'Faris' yang dilingkari dengan tinta merah tebal, diiringi catatan singkat: 'Pertemuan rahasia di resto Senopati. Jangan sampai Raka tau.'
Pintu studio mendadak terbuka. Alya melangkah masuk membawakan berkas fisik. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Raka berdiri di samping mejanya dengan buku agenda terbuka di tangan.
"Raka?" panggil Alya, suara wanita itu mendadak meninggi karena terkejut. "Kamu... kamu buka-buka agenda pribadi aku?"
Raka mengangkat buku tersebut, menatap Alya dengan pandangan terluka dan penuh selidik. "Apa maksud catatan ini, Alya?"
Alya membelalakkan matanya, merona merah melingkupi wajahnya akibat rasa terkejut dan marah yang bercampur aduk. "Raka, kamu nggak punya hak buat lancang membuka barang pribadi aku!"
"Aku punya hak saat nama Faris ada di sini, Alya!" bentak Raka, kehilangan kesabarannya. Ia menunjukkan halaman berkulit hitam itu tepat di depan wajah Alya. "Kamu bilang kamu nggak pernah sembunyiin apa pun dari aku! Tapi apa ini?! Kenapa kamu temuan rahasia sama Faris tanpa sepengetahuan aku?!"
Alya melangkah maju, merebut buku agendanya dengan kasar dari tangan Raka. "Kamu nggak paham situasinya, Ka! Itu bukan seperti apa yang kamu pikirkan!"
"Kalau bukan seperti yang aku pikirkan, kenapa harus disembunyikan?!" seru Raka emosional, menatap Alya dari jarak dekat. "Pesan misterius dari Faris semalam beneran nyata! Dia bilang kamu simpan rahasia dari aku, dan ternyata buku ini ngebuktiin itu!"
Alya menahan napasnya, matanya mulai membasah oleh genangan air mata kekecewaan. "Kamu lebih percaya pesan dari Faris dibanding aku, Raka? Kamu menduga aku pengkhianat?!"
"Aku nggak bilang kamu pengkhianat, Al!" sahut Raka dengan nada suara bergetar. "Aku cuma butuh kejujuran kamu! Kenapa kamu harus temuan rahasia sama pria yang jelas-jelas mau menjatuhkan firma kita?!"
Alya menunduk dalam-dalam, meremas buku agendanya rapat-rapat di dada. "Aku nggak bisa cerita sekarang, Ka. Ada hal yang harus aku lindungi."
Jawaban Alya yang mengambang serta pengakuan atas pertemuan rahasia itu mengunci titik plot pertama mereka. Keraguan telah berubah menjadi kenyataan pahit; benteng kepercayaan di antara Raka dan Alya resmi retak, menyeret hubungan mereka ke dalam pusaran prasangka yang kian pekat.
°˖✧✿✧˖°
Dua hari setelah perdebatan di studio, hubungan Raka dan Alya jatuh ke titik paling dingin. Mereka berdua berinteraksi hanya sebatas profesionalitas pekerjaan, menghindari tatapan mata langsung setiap kali berpapasan di lorong kantor.
Sore itu, ketegangan kian memuncak ketika Faris secara terang-terangan mengirimkan draf penawaran proyek baru ke email resmi firma milik Raka. Penawaran tersebut berisi detail kalkulasi teknis yang sangat identik dengan draf rahasia yang selama ini hanya diakses oleh Raka dan Alya.
Raka mencetak berkas tersebut dengan tangan gemetar oleh amarah yang tertahan. Ia berjalan cepat menuju ruangan kerja Alya dan menghempaskan kertas-kertas itu ke atas meja.
"Lihat ini, Alya!" perkas Raka dengan suara bass yang menekan. "Ini draf proyek revitalisasi kita! Gimana bisa Faris punya rincian angka dan desain struktur yang persis sama sampai ke bagian detailnya?!"
Alya yang sedang mengetik di komputernya terkejut, mendongak menatap berkas di atas mejanya. Ia membaca lembar demi lembar dengan raut wajah memucat. "Nggak mungkin... Ini berkas rahasia kita, Ka!"
"Memang rahasia!" seru Raka sinis, menyilangkan tangan di dada. "Dan cuma dua orang yang punya akses penuh ke server ini: aku dan kamu! Sekarang coba jelaskan sama aku, gimana berkas ini bisa ada di tangan Faris kalau bukan karena pertemuan rahasia kamu waktu itu?!"
Alya berdiri dari kursinya, matanya berkaca-kaca menatap Raka dengan rasa terluka yang amat sangat. "Kamu beneran nuduh aku yang bocorin draf ini ke Faris?! Kamu pikir aku tega ngancurin karya yang kita bangun sama-sama dari nol?!"