Pertengkaran Pertama
Raka dan Alya bertengkar hebat.
Asap hitam tebal masih membubung tinggi ke udara saat mobil tua Raka berhenti mendadak di tepi jalan tanah Desa Pesisir. Bau sangit kain terbakar dan kayu hangus menyeruak tajam, menusuk hidung Raka dan Alya begitu mereka melangkah keluar dari kendaraan. Di hadapan mereka, sisa-sisa bangunan gudang penyimpanan tenun tradisional telah berubah menjadi puing-puing hitam yang mengepulkan uap panas.
"Pak Joko! Bagaimana keadaan Pak Joko?!" jerit Raka seraya berlari menembus kerumunan warga desa yang sedang bahu-membahu memadamkan sisa api dengan ember air.
Budi berlari mendekati Raka dengan wajah belepotan jelaga hitam dan mata merah akibat asap. "Mas Raka! Alhamdulillah Pak Joko selamat! Warga berhasil mendobrak pintu belakang sebelum api membesar ke ruang penjagaan!"
Alya menghembuskan napas lega, memegang dada yang berdegup kencang. "Ya Tuhan, syukur alhamdulillah..."
Namun lega itu hanya bertahan setitik. Raka melangkah mendekati puing-puing bangunan, menatap tumpukan gulungan kain tenun tradisional yang telah menjadi abu. Kain-kain eksklusif yang dikerjakan selama tiga bulan oleh belasan perajin lokal—kain yang menjadi modal utama persentasi dan produksi lini pertama PT Nusantara Perkasa—kini musnah tak berbekas.
"Semuanya habis, Mas," pangkas Budi lirih, menundukkan kepala. "Stok benang sutra, alat tenun bukan mesin yang baru kita beli, dan seluruh hasil tenun pesanan PT Nusantara... tidak ada satu pun yang bisa diselamatkan."
Raka mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana bisa api menjalar secepat ini? Gudang ini tidak punya instalasi listrik yang rumit!"
"Polisi desa sedang memeriksa lokasi, Ka," sela Alya pelan, menyentuh lengan Raka yang kaku. "Kita harus tenang dulu. Yang penting tidak ada korban jiwa."
Raka menepis tangan Alya secara halus namun tegas, matanya menyala menatap puing-puing. "Bagaimana aku bisa tenang, Alya?! Tenggat waktu pengiriman pertama ke PT Nusantara tinggal dua minggu lagi! Tanpa stok kain ini, kontrak jutaan rupiah itu batal demi hukum, dan kita harus membayar ganti rugi penalti!"
"Kita bisa jelaskan kejadian ini pada Pak Dananjaya," ujar Alya mencoba memberi jalan keluar. "Ini musibah, Raka! Kebakaran adalah force majeure. Pihak PT Nusantara pasti mau memberi kita perpanjangan waktu."
"Kamu tidak paham dunia bisnis besar, Alya!" bentak Raka, suaranya meninggi di tengah bising warga yang berkerumun. "PT Nusantara sudah menyiapkan jadwal peluncuran lini pakaian etnik bulan depan! Mereka sudah sewa tempat pertunjukan, bayar model, dan sebar undangan! Mereka tidak akan peduli gudang kecil kita terbakar atau tidak!"
Alya tertegun, terkejut mendengar nada bicara Raka yang begitu keras di depan banyak orang. "Raka... aku cuma mencoba memberi saran. Kamu tidak perlu membentakku seperti itu."
"Saranmu tidak realistis, Alya!" balas Raka tajam, mengusap wajahnya yang terasa panas. "Kamu terbiasa berpikir kalau semua masalah bisa diselesaikan dengan negosiasi manis dan nama besar keluargamu. Tapi di dunia tempatku berdiri, kegagalan berarti kehancuran total!"
"Raka! Jaga bicaramu!" pangkas Alya, matanya mulai berkaca-kaca karena teraniaya oleh tuduhan itu. "Aku di sini berdiri membantumu dari pagi! Aku meninggalkan rumahku, melupakan semua kenyamanan demi berjuang bersamamu! Kenapa kamu malah menyerangku?!"
"Karena dari awal kamu tidak pernah benar-benar mengerti seberapa besar risiko yang kupikul!" teriak Raka meluapkan amarah yang selama ini mengendap. "Kalau proyek ini gagal, ayahmu akan kembali memandangku sebagai pemuda tidak berguna! Dan aku... aku akan kehilangan segalanya!"
Alya memandang Raka dengan tatapan tak percaya, rasa sakit hati yang teramat dalam menusuk dadanya. "Jadi selama ini kamu bertaruh bukan demi aku, Raka? Tapi demi gengsimu di depan Ayah?!"
°˖✧✿✧˖°
Pertengkaran di lokasi kebakaran itu meninggalkan luka memar yang dalam di antara mereka berdua. Sore harinya, suasana di kantor konveksi Raka terasa dingin memedihkan. Tidak ada lagi percakapan hangat atau canda tawa seperti biasanya. Raka duduk di meja kerjanya yang berantakan dengan tumpukan berkas tagihan penalti, sementara Alya duduk di sofa sudut ruangan, menatap kosong ke luar jendela yang dibasahi hujan gerimis.
"Kita harus menghitung ulang sisa sisa modal yang tersisa di rekening usaha," kata Raka membuka suara, suaranya datar dan kaku tanpa memandang Alya.
Alya menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Aku sudah memeriksa pembukuan tadi siang. Sisa kas kita hanya cukup untuk membayar gaji karyawan bulan ini dan memberi kompensasi kecil untuk perajin di desa."
"Artinya kita tidak punya modal untuk membeli benang baru dan menyewa alat tenun pengganti," simpul Raka dingin.
"Aku bisa minta bantuan Ayah," usul Alya pelan namun ragu-garu. "Ayah sudah memberikan restunya di bandara kemarin. Beliau pasti mau membantu meminjamkan modal atau merekomendasikan pinjaman bank."
Raka membanting pulpen di tangannya ke atas meja. Dentam kerasnya membuat Alya melonjak kaget.
"Tidak akan pernah!" tegas Raka dengan mata membelalak marah. "Aku tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uang dari ayahmu!"
"Kenapa kamu harus seangkuh ini, Raka?!" seru Alya, berdiri dari sofanya dan melangkah mendekati meja Raka. "Ini keadaan darurat! Kebakaran itu musibah! Meminta bantuan keluarga sendiri bukan berarti kamu menjual harga diri!"
"Keluarga sendiri?" Raka tertawa miris, tawa yang sarat rasa sakit hati. "Ayahmu baru kemarin sore berhenti menghina dan menyabotase usahaku, Alya! Sekarang, begitu aku jatuh kena musibah, aku harus mengemis padanya? Agar dia bisa menepuk dadanya dan berkata bahwa tanpa uangnya aku ini tidak ada apa-apanya?!"
"Ayah sudah berubah, Raka! Beliau sudah minta maaf di depanmu!" balas Alya lantang. "Kenapa hatimu begitu sempit dan penuhdendam?! Kenapa gengsimu lebih tinggi daripada masa depan usaha dan orang-orang yang bekerja padamu?!"
"Ini bukan soal gengsi, Alya! Ini soal kehormatan!" bentak Raka seraya berdiri, menyejajarkan tingginya dengan Alya. "Kalau aku menerima uang ayahmu sekarang, seluruh perjuanganku selama enam bulan ini jadi lelucon! Faris dan teman-teman bisnismu akan tertawa dan bilang kalau pada akhirnya Raka cuma pemuda miskin yang menumpang hidup pada keluarga Subroto!"
Alya menatap Raka dengan air mata yang menetes deras di pipinya. "Jadi pikiran orang lain dan penilaian Faris lebih penting buatmu daripada kelangsungan hubungan kita?!"
"Aku melakukan ini justru demi hubungan kita!" teriak Raka. "Aku mau menikahimu sebagai pria yang berdiri di atas kakinya sendiri! Bukan sebagai pria bentukan bantuan ayahmu!"
"Tapi kamu tidak berdiri sendirian, Raka!" tangis Alya pecah. "Aku ini calon istrimu! Masalahmu adalah masalahku juga! Tapi kamu selalu membuat tembok tinggi, seolah-olah aku ini orang luar yang tidak berhak ikut memutuskan jalan keluar!"
"Karena keputusanmu selalu jalan pintas!" tembak Raka tanpa memikirkan perasaan Alya. "Sama seperti waktu kamu diam-diam menemui Faris dan menandatangani dokumen investasi itu! Kamu selalu memilih jalan paling mudah tanpa memikirkan dampaknya padaku!"
Kata-kata Raka bagaikan sembilu yang menyayat hati Alya. Wanita itu membeku, menatap Raka dengan raut wajah hancur berkeping-keping.
°˖✧✿✧˖°