Air Mata Alya
Alya kecewa karena Raka tidak mempercayainya.
Malam berangkulat dingin di atas kawasan apartemen Sudirman, menyisakan kerlip lampu kota yang memantul samar pada kaca jendela studio arsitektur milik Raka. Suasana ruangan yang luas itu terasa sunyi, hanya diselingi oleh deru halus penyejuk udara dan denting jam dinding yang berdetak lambat. Raka berdiri di tepi meja kerja utamanya, menyandarkan kedua telapak tangannya pada tepian kayu tebal. Di hadapannya, terhampar draf laporan keuangan proyek kawasan hunian bernilai miliaran rupiah yang baru saja dilaporkan merugi secara mendadak.
Pintu kaca studio terdorong pelan. Alya melangkah masuk membawakan sebuah map biru tebal. Wajahnya yang semula tampak tenang mendadak menyerap gelombang ketegangan yang memancar kuat dari tubuh Raka.
"Ka, ini salinan berkas transaksi vendor yang kamu minta tadi sore," kata Alya pelan, mengikis jarak menuju meja Raka.
Raka tidak langsung menjawab. Pria itu menaikkan pandangannya perlahan, menatap Alya dengan sorot mata yang sarat akan kekecewaan dan kecurigaan yang menusuk. "Al, tolong jawab jujur. Siapa saja yang punya akses ke kode otorisasi rekening proyek ini selain aku?"
Alya tertegun sejenak, menghentikan langkahnya tepat dua tindak di depan meja. "Cuma aku dan kamu, Ka. Kenapa emangnya?"
Raka menarik napas panjang, lalu melempar lembar draf transfer dana di atas meja tepat ke arah Alya. "Setengah jam yang lalu, bank konfirmasi ada pengalihan dana operasional sebesar lima ratus juta rupiah ke rekening pihak ketiga. Dan transaksi itu disetujui pakai kunci enkripsi pribadi kamu."
Wajah Alya mendadak pucat pasi. Ia menyambar lembaran kertas tersebut dengan jemari yang bergetar hebat. "Nggak... Ini nggak mungkin, Raka! Aku nggak pernah merasa menyetujui transfer dana apa pun hari ini!"
"Tapi data sistem menunjukkan sebaliknya, Alya!" suara Raka mulai meninggi, memecah keheningan studio. "Kode otorisasi itu cuma ada di laptop kamu dan di dalam ingatan kamu. Gimana bisa uang itu pindah kalau bukan kamu yang menekan tombol persetujuan?!"
Alya mendongak, matanya yang jernih mulai tergenang oleh lapisan air tipis. "Jadi kamu mikir aku yang memindahkan uang itu?! Kamu mikir aku mengkhianati kamu dan firma ini?!"
"Aku nggak bilang gitu, Al," sahut Raka dengan nada dingin yang dipaksakan, berusaha menahan amarah yang membakar dadanya. "Tapi semua bukti fisik di depan mata menunjuk ke kamu. Kamu tahu persis kalau proyek ini lagi di bawah pengawasan ketat, tapi kenapa transaksi berbahaya ini bisa lolos dari akun kamu?"
Alya memegang dada kirinya, merasa diserang oleh pria yang paling dipercayainya di dunia ini. "Ka, kita udah jalanin firma ini bareng-bareng! Kamu tahu persis integritas aku seperti apa! Kenapa begitu ada masalah, hal pertama yang kamu lakuin justru mencurigai aku?!"
"Karena aku bertanggung jawab atas seluruh isi studio ini, Alya!" bentak Raka emosional, melangkah mengikis barikade meja di antara mereka. "Aku butuh kepastian teknis, bukan sekadar alasan perasaan!"
Air mata pertama Alya menetes membasahi pipinya. Rasa kecewa yang mendalam merayap cepat di dadanya saat melihat betapa cepatnya rasa percaya Raka runtuh hanya karena deretan angka di atas kertas. Peristiwa ini menjadi pemicu utama dari retaknya ikatan emosional mereka, mengubah kehangatan yang selama ini terjalin menjadi benteng keraguan yang membeku dalam sekejap.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, kecanggokan tebal menyelimuti atmosfer studio. Tidak ada lagi sapaan hangat atau gelak tawa kecil di sela-sela jam kerja. Raka duduk di ruang kerjanya yang berdinding kaca transparan, memantau setiap pergerakan Alya yang sedang membereskan dokumen di meja seberang.
Alya melangkah menuju pintu ruangan Raka, mengetuk kaca dua kali sebelum mendorongnya terbuka. Matanya masih sembap, memancarkan kepedihan batin yang mendalam setelah perdebatan semalam.
"Ka, aku mau meletakkan laporan rekonsiliasi audit internal ini," ujar Alya dengan suara datar dan parau.
Raka mengambil berkas itu tanpa memandang wajah Alya secara langsung. "Terima kasih. Nanti malam auditor independen bakal datang buat memeriksa seluruh akun pribadi di studio ini."
Alya menghentikan gerakannya, menatap Raka dengan tatapan tak percaya. "Akun pribadi? Maksud kamu, akun bank pribadi aku juga bakal diperiksa?"
Raka menegakkan posisi duduknya, menyilangkan jemari di atas meja. "Ini prosedur standar, Al. Buat membersihkan nama baik kamu dari tuduhan penggelapan dana itu, kita harus buka semua data secara transparan."
"Transparan?" Alya tertawa hambar, sebuah tawa yang dipenuhi kepahitan murni. Air mata kembali menetes mengaliri pipinya yang halus. "Ini bukan soal prosedur, Raka. Ini soal kamu yang bener-bener menyudutkan aku sebagai tersangka utama."
"Aku cuma mau mencari kebenaran, Alya!" balas Raka, suaranya terdengar tegas namun ada getaran cemas di dalamnya. "Kalau kamu memang nggak salah, kenapa kamu harus takut sama audit itu?"
"Aku nggak takut sama auditnya, Raka!" seru Alya penuh kepedihan, tangisnya pecah di dalam ruangan yang sempit itu. "Yang bikin aku takut dan sakit hati adalah fakta bahwa pria yang aku cintai... pria yang janji bakal selalu berdiri di samping aku... ternyata orang pertama yang meragukan kejujuran aku!"
Raka terpaku di kursinya, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan saat melihat lelehan air mata Alya yang mengalir tanpa henti.
"Aku selalu berpikir kepercayaan kita itu tak tergoyahkan," lanjut Alya berbisik seraya mengusap air matanya dengan ujung lengan kemejanya. "Tapi ternyata, hanya butuh satu dokumen palsu buat bikin kamu memandang aku seperti seorang penjahat."
"Al... bukan seperti itu maksud aku—" Raka berusaha berdiri dan melangkah mendekat.
"Jangan mendekat, Ka," tahan Alya seraya mundur satu langkah, mengangkat tangannya di udara. "Mulai hari ini, aku akan ikuti semua proses audit kamu. Tapi jangan harap suasana di antara kita bisa kembali sama seperti dulu."
Keputusan Alya untuk menarik diri secara emosional dan menerima proses audit formal mengunci titik plot pertama mereka. Garis pemisah telah ditarik dengan tegas; kekecewaan mendalam Alya atas hilangnya rasa percaya Raka mengubah keretakan kecil menjadi jurang pemisah yang nyata di antara mereka.
°˖✧✿✧˖°
Dua hari kemudian, proses pemeriksaan auditor independen mencapai puncaknya. Ketegangan di dalam studio kian meluap ketika sang ketua tim auditor melangkah keluar dari ruang server membawa berkas temuan sementara.
Raka dan Alya duduk berhadapan di ruang rapat utama. Suasana begitu dingin, diperparah oleh tatapan mata Alya yang selalu mengarah ke luar jendela, menolak untuk bertatap mata dengan Raka.