Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Penyesalan

Penyesalan

Raka menyadari kesalahannya.

Asap hitam pekat yang membubung tinggi di atas langit Desa Pesisir dua hari lalu kini telah mengendap, meninggalkan sisa abu dingin dan keheningan yang mencekam di bengkel kerja Raka. Di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter yang dipenuhi gulungan kain dan pola baju yang setengah jadi, Raka duduk sendirian di tepi bangku kayu panjang. Keheningan di ruangan itu terasa begitu memekakkan telinga, berbanding terbalik dengan gemuruh penyesalan yang membakar rongga dadanya. Udara pagi terasa lembap, membawa aroma jelaga yang masih menempel di dinding-dinding triplek bengkel, seolah menjadi pengingat abadi atas bencana yang hampir merenggut seluruh kerja keras mereka.

Ia menatap meja kerja Alya yang kosong di sudut ruangan dengan pandangan kosong. Sebuah cangkir keramik berisi sisa teh melati yang sudah dingin masih berdiri di atas tumpukan sketsa rancangan. Di samping cangkir itu, tergeletak sebuah buku catatan bercover cokelat milik Alya yang terbuka pada halaman catatan keuangan usaha mereka. Raka mengulurkan tangannya yang gemetar, meraih buku itu, lalu membacanya perlahan di bawah pendar lampu neon yang berkedip pelan, meresapi setiap baris angka yang ditulis dengan ketelitian seorang wanita yang selama ini tulus mendampinginya.

"Mas Raka..." Budi melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa sebuah map kertas berwarna cokelat tua. "Laporan inventaris kain dari desa tetangga yang dibawa Mbak Alya kemarin sudah selesai diperiksa oleh tim PT Nusantara Perkasa."

Raka mendongak, matanya yang sembab dan memerah menatap sahabat setianya itu. "Bagaimana hasilnya, Bud? Apakah ada cacat atau kekurangan pada stok cadangan itu?"

"Semuanya sempurna, Mas," jawab Budi seraya meletakkan map itu di atas meja Raka dengan hati-hati. "Pak Dananjaya sangat puas. Beliau bahkan bilang kalau lini busana etnik minggu depan akan menjadi pameran terbesar yang pernah mereka sponsori. Semua pesanan lima ratus potong kain sudah lengkap dan siap dikirim sore ini."

Budi menghela napas panjang, menatap Raka dengan tatapan cemas yang mendalam. "Tapi... kenapa wajahmu seperti orang yang kehilangan seluruh dunianya, Mas? Padahal masalah besar kita sudah teratasi."

Raka memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, menekan pelipisnya yang berdenyut kencang akibat kurang tidur dan stres berkepanjangan. "Karena aku memang sudah kehilangan duniaku, Bud. Aku berhasil menyelamatkan kontrak bisnis ini, tapi aku telah menghancurkan hati wanita yang paling berharga dalam hidupku."

"Mbak Alya belum menghubungi Mas Raka sama sekali sejak rapat kemarin?" tanya Budi lembut, menarik sebuah kursi plastik dan duduk di hadapan Raka untuk memberikan dukungan moril.

"Tidak ada satu pesan pun, Bud," bisik Raka, suaranya parau dan sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Teleponku dialihkan ke kotak suara. Pesan singkatku cuma dibaca tanpa dibalas. Aku mendatangi rumahnya tadi malam, tapi satpam kompleks bilang Mbak Alya tidak ingin menerima tamu siapa pun."

Raka membalik halaman buku catatan Alya. Di sana, tertulis perincian arus kas dengan tulisan tangan Alya yang rapi dan halus. Di lembar paling belakang, terdapat garis-garis angka yang memperlihatkan bagaimana Alya mencairkan seluruh dana tabungan deposito pribadinya—tabungan yang sebenarnya disiapkannya untuk biaya pendidikan S2 di luar negeri—hanya untuk menyewa gudang cadangan dan membeli bahan benang sutra tambahan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Raka.

"Lihat ini, Bud..." rintih Raka, menyodorkan buku itu ke hadapan Budi dengan tangan yang bergetar hebat. "Dia mengorbankan impian pribadinya demi menyokong usahaku. Dia menguras tabungannya agar aku tidak bangkrut di hadapan Pak Dananjaya dan ayah kandidat penanam modal itu. Dan apa yang kukatakan padanya saat gudang kita terbakar?"

"Mas Raka cuma panik waktu itu... emosi sesaat," bisik Budi mencoba menenangkan sahabatnya.

"Tidak, Bud! Aku bukan cuma panik, aku sangat jahat!" bentak Raka pada dirinya sendiri, kemarahan meluap dari matanya yang basah. "Aku menuduhnya memanfaatkan nama besar keluarganya. Aku bilang dia cuma tahu jalan pintas! Aku menuduhnya tidak pernah mengerti penderitaanku, padahal di saat aku cuma bisa marah-marah dan meratapi nasib, Alya sudah bekerja di balik layar menyelamatkan kehormatanku!"

"Mas..." Budi mencoba menyela, namun Raka langsung memotongnya dengan pengakuan yang penuh siksaan batin.

"Aku ini pria yang sangat picik, Budi," potong Raka dengan air mata yang mulai menetes menembus selimut gengsinya. "Ego dan harga diriku yang terlalu tinggi telah membutakan mataku. Aku begitu takut direndahkan oleh keluarga Alya, sampai-sampai aku merendahkan cinta dan ketulusan Alya sendiri."

°˖✧✿✧˖°

Penyesalan yang terus menggerogoti pikiran Raka membuat pemuda itu tidak sanggup lagi berdiam diri di dalam kantornya yang terasa begitu menyesakkan. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Raka membulatkan tekadnya untuk melakukan sesuatu. Ia meraih jaket kulitnya yang tergantung di balik pintu, mengambil kunci motor tua miliknya, lalu bergegas keluar tanpa mengindahkan panggilan Budi dari arah dapur yang mencemaskan keadaannya.

Ia mengendarai sepeda motornya menembus jalanan kota yang padat, membelah arus lalu lintas menuju kawasan perumahan elit di pinggir kota. Di sana, berdiri sebuah rumah megah berarsitektur kolonial milik keluarga Subroto. Rumah yang selama ini selalu membuat Raka merasa terintimidasi dan kerdil setiap kali melintas di depannya, membawa sejuta rasa minder yang kini bercampur aduk dengan rasa bersalah yang teramat besar.

Raka memarkir motornya di luar pagar besi setinggi dua meter. Pak Hadi, satpam paruh baya yang bertugas menjaga gerbang, melangkah keluar dengan raut wajah serba salah begitu melihat Raka melepas helmnya dan mendekati pos penjagaan.

"Selamat pagi, Pak Hadi," sapa Raka, berusaha tersenyum meski bibirnya terasa kaku dan gemetar. "Apakah Alya ada di dalam rumah?"

Pak Hadi menghela napas pendek, menatap Raka dengan rasa iba yang terpancar di matanya yang keriput. "Mas Raka... Non Alya ada di dalam rumah, Mas. Tapi maaf sekali, Mbak Alya pesan dari kemarin supaya tidak membukakan pintu kalau Mas Raka yang datang."

"Tolonglah, Pak Hadi..." pangkas Raka dengan nada memohon, menggenggam tralis besi pagar dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya cuma butuh waktu sepuluh menit untuk bicara dengannya. Saya harus meminta maaf atas kesalahan besar yang saya perbuat."

"Maafkan saya, Mas Raka. Ini perintah langsung dari Non Alya," jawab Pak Hadi ragu-ragu. "Bahkan Pak Subroto sendiri tadi pagi berpesan agar tidak membiarkan Mas Raka mengganggu Non Alya yang sedang tidak enak badan di kamarnya."

"Saya tidak akan pergi sebelum bisa bertemu Alya, Pak," tegas Raka dengan tekad bulat. Ia melangkah mundur satu tapak, mematikan mesin motornya, lalu berdiri tegap di samping trotoar di depan gerbang utama. "Saya akan menunggu di sini sampai Alya mau menemui saya."

Pak Hadi menggeleng-gelengkan kepala prihatin. "Hari ini diperkirakan hujan deras akan turun, Mas. Jangan menyiksa diri seperti ini di tengah jalan."

"Ini belum sebanding dengan rasa sakit hati yang kuberikan padanya, Pak," sahut Raka lirih, membuang pandangannya ke arah jendela lantai dua rumah besar itu.

Satu jam berlalu, lalu dua jam berikutnya berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Langit cerah berangsur-angsur berubah menjadi keabu-abuan diselimuti awan mendung tebal yang menggantung rendah. Angin dingin berhembus kencang menghempaskan daun-daun kering di sepanjang jalan kompleks. Raka tetap berdiri di tempatnya, matanya menatap lurus ke arah jendela kamar Alya yang tertutup rapat oleh tirai kain berwarna putih bersih.

Dari balik jendela lantai dua yang tertutup tirai tipis itu, Alya sebenarnya berdiri memperhatikan sosok Raka. Ia menggenggam cangkir teh hangatnya dengan jemari yang bergetar hebat. Hatinya teriris melihat pemuda yang dicintainya berdiri kaku di luar sana, menantang angin dingin tanpa kepastian apa pun.

"Kenapa kamu harus sekeras kepala ini, Raka?" bisik Alya pelan, air matanya menetes perlahan menelusuri pipinya yang pucat. "Kenapa kamu baru menyadarinya setelah kamu menghancurkan hatiku sampai tak berbentuk?"

Rasa sakit akibat ucapan tajam Raka di malam kebakaran itu masih menancap dalam di benak Alya. Kata-kata yang menudingnya tidak pernah mengerti penderitaan, tuduhan bahwa ia hanya memanfaatkan uang dan nama besar keluarganya, telah merobek rasa percaya diri yang dibangunnya selama bertahun-tahun di samping Raka.

Dua puluh menit kemudian, titik-titik air hujan mulai berjatuhan dari langit dengan deras. Hujan gerimis cepat berubah menjadi curahan air yang sangat sangat lebat, menyiram bumi dengan dentuman keras di atas atap-atap rumah. Dalam hitungan detik, pakaian Raka basah kuyup sepenuhnya. Rambut hitamnya lepek menempel di dahi, dan tubuhnya mulai menggigil kencang dihantam hawa dingin musim hujan yang menusuk tulang.

Namun Raka tidak bergerak setapak pun dari posisinya. Ia mengepalkan tangannya di samping paha, berdiri tegap menatap jendela kamar Alya di tengah derasnya guyuran hujan yang tak kenal ampun.

°˖✧✿✧˖°

Derasnya hujan yang mengguyur tidak juga menyurutkan niat Raka untuk mendapatkan maaf. Tubuhnya kini bergetar hebat, bibirnya membiru, dan pandangannya mulai kabur akibat air hujan yang masuk ke dalam matanya. Namun, rasa dingin di kulitnya tak sebanding dengan rasa panas membakar di dalam dadanya akibat penyesalan yang mendalam. Setiap rintik hujan yang menerpa wajahnya seolah memukul ingatan Raka pada setiap ucapan kasar yang dilontarkannya kepada Alya malam itu.

Di dalam rumah, sebuah langkah kaki mantap terdengar mendekati ruangan atas. Pak Subroto, ayah Alya, melangkah masuk ke kamar anaknya dengan memegang sebuah cangkir kopi panas. Pria berambut uban itu berdiri di samping Alya, menatap ke arah luar jendela tempat Raka berdiri kuyup di tengah jalanan yang banjir.

"Pemuda itu masih di sana, Alya," ujar Pak Subroto dengan suara berat dan tenang, namun penuh makna tersirat.

Alya menyapu air matanya cepat-cepat dengan punggung tangan, berusaha membuang muka. "Biarkan saja dia, Yah. Nanti kalau sudah lelah, dia pasti pulang sendiri."

Lihat selengkapnya