
Maafkan Aku
Raka meminta maaf dan mereka berdamai.
°˖✧✿✧˖°
Cahaya lampu meja belajar yang temaram menyinari sudut ruangan apartemen yang sunyi. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, namun ketegangan di antara Raka dan Alya justru semakin memuncak. Setelah berhari-hari terjebak dalam perang dingin, pertengkaran hebat, dan kata-kata tajam yang saling melukai, malam ini mereka akhirnya duduk berhadapan di ruang tamu. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mencairkan suasana hingga akhirnya Raka menarik napas panjang, memecah kesunyian yang terasa mencekik.
"Alya, kumohon, dengarkan aku sebentar saja," ucap Raka dengan suara serak, tatapannya menyuarakan penyesalan yang mendalam. "Aku tidak ingin kita terus menerus berada dalam situasi seperti ini. Aku tahu aku salah."
Alya melipat kedua tangannya di depan dada, membuang muka ke arah jendela kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota di luar sana. "Salah di bagian mana, Raka? Bagian saat kamu mengabaikan perasaanku, atau bagian saat kamu memutuskan segalanya seorang diri?"
"Semuanya," jawab Raka cepat, tanpa keraguan. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke arah wanita itu, meskipun jarak beberapa jengkal masih memisahkan mereka. "Aku salah karena terlalu egois mengejar karier dan mengesampingkan apa yang benar-benar penting di hidupku. Aku salah karena membuatmu menangis dan merasa sendirian."
Alya menoleh perlahan, menatap mata pria yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu. Ada sorot kelelahan yang luar biasa di sana. "Kamu baru menyadari itu sekarang, setelah hampir menghancurkan segalanya di antara kita? Setelah berhari-hari kita saling mendiamkan dan menyiksa diri sendiri?"
"Aku menyadarinya setiap detik, Alya," suara Raka bergetar, mencerminkan betapa hancurnya ia selama masa-masa dingin tersebut. "Setiap kali aku melihat tempat tidur yang kosong di sebelahku, setiap kali aku mendengar ponselku berdering dan berharap itu darimu... saat itulah aku sadar betapa bodohnya aku."
Alya menelan ludah dengan susah payah, merasakan pertahanan dingin yang ia bangun perlahan mulai runtuh. "Kebanggaan dan ego memang sering kali membuat kita buta, Raka. Kamu terlalu asyik dengan duniamu, dan aku terlalu gengsi untuk menurunkan nada bicaraku."
"Kita berdua sama-sama keras kepala," aku Raka pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman pahit. "Tapi aku yang memulai semua kekacauan ini. Dan malam ini, aku ingin mengakhirinya. Aku ingin kita kembali seperti dulu."
"Kembali seperti dulu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Raka," bisik Alya, suaranya melembut namun tetap menyiratkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. "Bekas luka dari pertengkaran kita kemarin masih terasa perih di dadaku."
°˖✧✿✧˖°
Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini bukan keheningan yang penuh kemarahan, melainkan keheningan yang memberi ruang bagi hati untuk merenung. Raka menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri yang saling bertautan di atas paha. Ia tahu bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus seluruh rasa sakit yang telah ia torehkan di hati Alya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa percaya lagi padaku, Aly?" tanya Raka sungguh-sungguh, kepalanya mendongak kembali untuk menatap mata wanita itu. "Katakan apa saja, dan aku akan melakukannya."
Alya menghela napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ia merapikan helai rambutnya yang menutupi wajah sebelum menjawab. "Aku tidak butuh janji-janji manis atau pembuktian yang muluk-muluk, Raka. Aku hanya ingin kamu belajar mendengarkan. Mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati."
"Aku berjanji, mulai sekarang tidak ada lagi keputusan yang aku ambil sendiri tanpa melibatkanmu," kata Raka cepat, menyambut ucapan Alya dengan komitmen yang kuat. "Kita adalah sebuah tim. Apapun yang terjadi kedepannya, kita akan menghadapinya bersama-sama, berdampingan."
Alya menatap lurus ke dalam bola mata Raka, mencari setitik kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni. Ketegangan yang selama ini membeku di dalam dadanya perlahan-lahan mencair, digantikan oleh kehangatan yang sudah lama hilang.
"Aku juga minta maaf," bisik Alya akhirnya, suaranya terdengar sangat rapuh namun penuh makna. "Aku terlalu cepat tersulut emosi dan menutup diri dari penjelasanmu. Aku membiarkan rasa takutku mengendalikan segalanya."
Mendengar pengakuan itu, Raka langsung merentangkan kedua tangannya, tidak lagi sanggup menahan diri untuk tidak mendekati wanita tersebut. "Kamu tidak perlu meminta maaf, Alya. Kamu punya hak untuk merasa marah."
Tanpa menunggu ragu lagi, Alya menerjang ke dalam pelukan Raka, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Tangisannya yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah seketika, membasahi kemeja yang dikenakan Raka. Semua beban, kecemasan, dan rasa sakit yang menumpuk selama berhari-hari seolah lenyap tersapu oleh kehangatan pelukan itu.
Raka mendekap tubuh Alya dengan erat, membelai rambut panjang wanita itu penuh kasih sayang sementara bibirnya terus membisikkan kata-kata penenang. "Maafkan aku, sayang. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah ragu akan hal itu."
°˖✧✿✧˖°
Pelukan itu berlangsung lama, seolah mereka ingin menebus setiap detik waktu yang terbuang sia-sia karena ego dan kesalahpahaman. Di dalam dekapannya, Alya merasakan kedamaian yang luar biasa, rasa aman yang sempat hilang kini kembali merasuki setiap jengkal jiwa raganya.
"Jangan pernah ulangi lagi masa-masa dingin seperti kemarin," ucap Alya di balik dada Raka, suaranya terdengar teredam namun sangat jelas di telinga pria itu. "Rasanya sangat menyiksa hidup di bawah atap yang sama tapi seperti orang asing."