Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Rahasia Faris

Tidak ada yang terlihat mencurigakan ketika Faris pertama kali muncul di kantor Alya. Justru sebaliknya — semuanya terlihat biasa, kebetulan, dan menyenangkan.

Ia datang sebagai konsultan dari Arunika, perusahaan mitra yang ditugaskan membantu divisinya merombak sistem pelaporan. Tinggi, rapi, senyumnya punya senjata rahasia berupa lesung pipi di sisi kiri, dan cara bicaranya yang membuat semua orang merasa menjadi orang paling penting di ruangan.

"Tim yang kerja sama dengan kita tiga bulan ke depan: aku, dan... kalian semua yang beruntung." Ia menutup presentasinya dengan candaan ringan, dan ruang rapat tertawa.

Alya tertawa paling akhir. Ia sedang berada di fase hidup yang sibuk tapi menyenangkan: hubungannya dengan Raka stabil, pekerjaannya mulai diperhitungkan, dan untuk pertama kalinya namanya disebut-sebut dalam pembicaraan promosi. Faris, bagi Alya, adalah tambahan kecil yang tidak penting dalam kesehariannya — orang yang menyapa di lift, yang menyelipkan komentar lucu di grup kerja, yang menawarkan diri membantu ketika sistemnya error.

"Alya, kan? Aku dengar proposal integrasi datamu itu bagus," katanya di kantin, minggu pertama. "Kalau butuh telinga buat rehearse presentasi, aku kebetulan jago pura-pura jadi direksi."

"Kebetulan berkali-kali, ya?" canda Alya.

"Kebetulan itu sebenarnya hasil perencanaan yang dirias." Faris tertawa. "Tapi serius. Tanpa pamrih. Aku di sini cuma tiga bulan, jadi bersikeras ninggalin kesan baik."

Dan begitulah biasanya awal dari segala hal yang berbahaya: tidak pernah terlihat berbahaya di awal. Tidak ada orang yang berkata pada Alya bahwa senyum dengan lesung pipi itu datang membawa peta yang sudah digambar jauh-jauh hari, bahwa setiap pertemuan "kebetulan" punya jadwal di belakangnya, dan bahwa Alya bukanlah kebetulan dalam rencana itu.

Alya adalah tujuannya.

Di belakang senyum Faris, ada pertanyaan yang sudah lama menggantung dan belum terjawab: berapa banyak yang bisa kuperoleh darimu sebelum kau sadar bahwa kita tidak sedang berteman?

Tiga bulan. Itulah waktu yang ia punya. Dan Faris selalu menyukai pekerjaan dengan tenggat waktu.

༺♡༻ Peristiwa Pemicu

Peristiwa pemicunya kecil dan tampak baik: presentasi proposal Alya di hadapan direksi.

Seminggu sebelum hari-H, sistem presentasinya rusak tepat ketika ia sedang berlatih sendirian di ruang rapat, pukul delapan malam. Semua orang sudah pulang. Semua IT sudah offline. Dan Faris — kebetulan, katanya — masih di kantor.

"Masalahmu bukan sistemnya," katanya, duduk di sampingnya setelah sepuluh menit mengutak-atik. "Masalahmu strukturnya. Datamu bagus, tapi kau naruh kesimpulan di akhir. Direksi kita baca dari atas. Pindahin kesimpulanmu ke slide dua."

"Hah? Slide dua itu kan agenda—"

"Agenda nggak perlu slide. Mulai dari kenapa mereka harus peduli." Faris membuka laptopnya. "Coba kau presentasiin ke aku. Aku jadi direktur yang paling galak. Kalau kau bisa bikin aku angguk, besok-besornya kau bisa hadapi siapapun."

Alya ragu. "Ini rahasia perusahaan, Faris. Aku nggak bisa—"

"Kau nggak kasih aku apa-apa. Kau cuma ngomong. Aku cuma dengerin." Ia menepuk laptop Alya. "Dan aku nggak nanya soal datamu. Aku nanya soal ceritamu. Beda."

Malam itu mereka latihan sampai kantor sepi menyimpan gema langkah satpam ronde. Dan presentasinya, seminggu kemudian, berjalan seperti keajaiban. Direksi mengangguk. Bahkan direktur operasional yang paling pelit pujian berkata, "Baru kali ini ada orang yang paham kami baca dari mana."

Malam itu Alya menelepon Raka dengan semangat yang tidak ia sembunyikan.

"Bang, presentasinya pecah. Direksi seneng banget."

"Gila, Ly. Aku bilang kan, kau bisa." Suara Raka berhenti sebentar. "Eh, tapi kau tadi latihan sama siapa? Aku dengar ada suara cowok di belakang pas kau kirim voice note."

"Oh, itu Faris. Konsultan mitra. Dia kebetulan masih di kantor, terus bantuin aku latihan." Alya tertawa. "Orangnya baik banget, Bang. Nggak nyangka deh, orang sebaik itu masih ada."

Ada jeda sepersekian detik di seberang. Jeda yang terlalu pendek untuk disebut masalah, tapi cukup panjang untuk dicatat oleh hati.

"Oh. Ya udah, baguslah kalau dia bantu." Raka mengalihkan topik. "Eh, Besok aku sama Pak Bram ada meeting penting. Kabarnya sih ada proyek gede masuk."

"Proyek gede gimana?"

"Belum boleh dibilangin. Kalau jadi, aku ceritain lengkapnya, ya?"

"Iya. Semoga jadi, Bang." Alya tersenyum ke ponselnya. "Aku bangga sama kau."

Di ujung lain kota, Raka tersenyum balik. Di kantornya, Faris — yang katanya pulang jam sembilan — duduk di mobilnya yang parkir di basement, mengetik pesan ke nomor tak tersimpan:

"Dia menang presentasi. Kepercayaannya naik. Tahap satu selesai. Berikutnya: buat dia terbiasa cerita soal Raka ke aku."

Balasan datang satu kata: "Lanjut."

༺♡༻

Sejak malam presentasi itu, Faris hadir di hampir setiap hari kerja Alya. Tidak pernah berlebihan — justru itulah seninya. Sebuah kopi yang muncul di mejanya "kebetulan kakinya lewat." Komentar yang selalu pas di grup kerja. Tawaran bantuan yang selalu datang tepat ketika Alya kewalahan.

"Alya, kau nggak curiga apa sama orang itu?" tanya Sinta suatu siang, setelah Faris melambaikan tangan dari mejannya seberang ruangan.

"Curiga kenapa?"

"Dia terlalu pas, Sin. Terlalu tau momen." Sinta menyeruput es kulinya. "Cowok nggak pernah se-pas itu kecuali ada maunya. Itu bukan ramalan, itu pengalaman hidup."

"Eh, nggak semua cowok kayak mantan-mu, Sin." Alya tertawa. "Faris tuh udah punya pacar, katanya. LDR, perempuannya kerja di luar negeri. Sering dia cerita."

"Cerita ke kau? Cowok dengan pacar, menceritakan pacarnya ke perempuan lain?" Sinta mendengus. "Itu namanya bukti pendukung, bukan bukti tidak bersalah."

Alya mengibaskan tangan, tapi benih keraguan itu — sekali ditanam — mulai tumbuh dengan caranya sendiri. Yang membuatnya tumbuh bukan peringatan Sinta, melainkan hal-hal kecil yang mulai ia perhatikan sendiri.

Faris, misalnya, hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya. Semua obrolan berpusat pada Alya. Pekerjaannya. Harinya. Hubungannya.

"Eh, ngomong-ngomong, Raka masih sibuk kayak dulu?" tanya Faris suatu sore, mereka sedang menunggu lift. "Kemarin kudenger dari kau dia ada meeting sama atasannya."

"Masih. Katanya ada proyek gede mau masuk. Bahkan belum boleh dia ceritain." Alya tertawa. "Aku sampai penasaran."

"Proyek gede gimana? Tender? Atau proyek internal?"

"Nggak tahu. Dia nggak bilang. Rahasia perusahaan katanya." Lift terbuka. "Eh, kenapa sih kau nanya?"

"Hm? Nggak kenapa-kenapa." Faris tersenyum lesung pipinya bekerja. "Aku kan suka cerita soal industri. Kalian berdua sama-sama di konstruksi, menarik aja."

Alya masuk ke lift. Untuk sepersekian detik, pertanyaan itu bergema. Kalian berdua sama-sama di konstruksi. Faris tahu Raka bekerja di mana. Faris selalu tahu. Dan Alya tidak pernah ingat memberi tahu.

Minggu-minggu berjalan. Polanya makin terasa: setiap kali Alya menceritakan sesuatu tentang Raka, ada pertanyaan lanjutan yang terdengar santai. Setiap kali Alya menutup topik itu, Faris selalu punya jalan kembali yang halus.

"Hari ini Raka jadwal rapat sama siapa sih, sampe nggak bisa anterin kau?" tanyanya ketika Alya mengeluh kehujanan di depan kantor.

"Ya, namanya juga karyawan. Bukan aku yang nentuin jadwal rapatnya." Alya mengibas air di lengannya. "Kenapa emang?"

"Nggak, aku heran aja. Kalau aku punya kau, aku nggak bakal ninggalin kau kehujanan."

Kalimat itu melayang di udara terlalu lama untuk disebut bercanda. Alya menatap Faris. Faris menatap papan nama jalan. Dan senyum itu — senyum lesung pipi — tidak muncul untuk pertama kalinya.

Malamnya, Alya bercerita ke Raka lewat telepon.

Lihat selengkapnya