Sebelum enam minggu itu mengubah segalanya, ada sebuah sore yang seharusnya menjadi tanda. Sore yang biasa, sore yang tampak tidak penting, tapi sebenarnya membawa garis takdir di dalamnya.
Raka sedang menonton televisi dengan kepala di pangkuan Alya ketika ponselnya bergetar. Pesan dari atasannya, Pak Bram.
"Raka, besok jangan masuk siang. Ada kabar penting soal proyek baru. Kabar bagus."
"Kabar bagus katanya," kata Raka sambil menyodorkan layar ponselnya ke Alya.
Alya membaca, lalu menyiku lengan Raka pelan. "Wah, ini pasti soal promosi yang kau bilang-bilang itu. Kalau benar, traktiran ya. Nggak nego."
"Iya, Bu. Kalau benar, aku traktir seminggu."
"Seminggu? Oke, dicatat." Alya mengangkat ponselnya seolah memotret wajah Raka. "Bukti. Bukti sah."
Mereka tertawa. Di luar, hujan turun tipis-tipis, dan Jakarta berkilau basah seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mengkhawatirkan. Mereka sudah tiga tahun bersama — cukup lama untuk merasa aman, cukup lama untuk percaya bahwa cinta yang sudah bertahan sejauh ini akan selalu bertahan.
Tapi malam itu juga, di ujung kota, di kantor Alya, sebuah memo internal beredar: struktur organisasi akan dirombak, dan satu kursi kepala divisi akan dibuka. Kursi yang selama ini hanya Alya dan segelintir orang lain yang berani memimpikannya.
Dua telepon bergetar di dua rumah berbeda malam itu. Dua kesempatan besar. Dua jalan yang kelihatannya memanjang ke arah yang sama — tapi diam-diam mulai berbelok, satu derajat demi satu derajat, seperti jarum kompas yang pelan-pelan dimainkan tangan tak kasat.
Tidak ada dari mereka yang tahu bahwa cinta yang paling diuji bukanlah cinta yang dihadang badai besar. Cinta yang paling diuji adalah cinta yang dihadang kesibukan kecil yang datang setiap hari, membawa alasan yang masuk akal, dan mengetuk pelan-pelan sampai suatu saat tidak ada lagi yang tersisa di balik pintu.
"Bang," panggil Alya sebelum tidur, sudah setengah mengantuk.
"Hm?"
"Apapun kabar besok... aku bangga sama kau."
"Terima kasih, Ly. Aku juga. Sama kau. Selalu."
Mereka tidak tahu bahwa "besok" itu adalah awal dari sesuatu yang akan menguji kalimat-kalimat indah mereka.
༺♡༻
Kabar bagus Pak Bram ternyata lebih besar dari dugaan Raka. Perusahaan memenangkan tender proyek Kirana — proyek infrastruktur skala besar, pertama kalinya perusahaan itu ditugaskan memimpin, bukan sekadar ikut serta.
"Raka, kau tim inti. Bahkan lebih dari itu." Pak Bram menatapnya dari balik meja. "Aku mau kau jadi koordinator lapangan. Ini proyek dua tahun. Kalau berhasil, namamu naik tingkat. Kariermu... aku nggak perlu jelasin panjang lebar, kan?"
"Dua tahun, Pak?" Raka menelan ludah. "Koordinator lapangan artinya..."
"Artinya kau hidup di proyek. Minggu pertama kick-off, kau di Prapat. Laporan tiap Jumat." Pak Bram menutup mapnya. "Aku tahu ini berat. Tapi kesempatan kayak ini nggak dateng dua kali, Nak."
Malam itu Raka pulang membawa kabar besar itu, dan di meja makan Alya sudah menunggu dengan kabar besarnya sendiri.
"Bang, kau duluan," kata Alya, mata berbinar.
"Nggak, kau duluan. Mukamu kayak habis menang undian."
"Aku masuk shortlist kepala divisi!" Alya hampir melompat dari kursinya. "Cuma aku sama Mbak Ranti! Kalau aku dapet, ini loncatan dua tingkat, Bang. Gaji, fasilitas, semuanya!"
"Ly, itu keren banget!" Raka memeluknya. "Aku bangga banget sama kau."
"Terus kau? Kabar bagusnya apa? Janji nggak boleh bohong."
Raka menarik napas panjang. "Aku jadi koordinator proyek Kirana. Proyek dua tahun. Minggu depan aku mulai. Dan..." Ia berhenti.
"Dan?"
"Dan seminggu pertama ini kritis banget, Ly. Kick-off. Mungkin aku nggak bisa pulang cepat. Mungkin weekend juga."
Alya melepaskan pelukannya pelan-pelan. "Oh."
"Ly, ini proyek terbesar dalam hidup aku."
"Aku tahu, Bang. Aku seneng kok. Beneran." Ia tersenyum, tapi senyumnya seperti kemeja yang disetrika terburu-buru — ada bagian yang kusut dan disembunyikan. "Cuma... kita kan udah lama planning ke Bandung minggu depan. Tiketnya udah aku beli."
Raka terdiam. Tiket Bandung. Penginapan kecil di pinggir kebun teh yang sudah Alya incar sejak bulan lalu.
"Ly... kira-kira bisa geser nggak? Sebulan lagi, dua bulan—"
"Refund aja, Bang." Suaranya masih tenang. Terlalu tenang. "Proyekmu kan nggak bisa digeser. Bandung mah bisa kapan aja."
"Ly, jangan gitu. Kita cari jalan tengah—"
"Nggak ada jalan tengah, Bang." Alya mengambil piringnya dan berdiri. "Kau jadi koordinator, aku masih ngantri jadi kepala divisi. Kita berdua menang malam ini. Cuma menangnya di dua lapangan berbeda, dan kita nggak bisa nonton pertandingan masing-masing."
"Itu artinya apa?"
"Aku juga nggak tahu," bisik Alya, dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya gemetar. "Takutnya, kita berdua menang... tapi nggak ada yang nangkepin kita pas selebrasi."
༺♡༻
Minggu-minggu pertama proyek Kirana berjalan persis seperti ramalan terburuk. Raka berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, kadang bahkan tidak pulang sama sekali. Rapat koordinasi, laporan harian, kendala teknis — proyek dua tahun itu menyerap waktunya seperti pasir hisap.
Sementara itu, di kantornya, Alya berada dalam mode perang. Presentasi demi presentasi, lembur demi lembur, karena Mbak Ranti — saingannya — tidak main-main.
Awalnya mereka bertahan dengan baik. Pesan pagi. Pesan malam. Telepon singkat sebelum tidur.
"Hari ini gimana, Bang?"
"Hujan terus, alat berat susah jalan. Tapi kemajuan lumayan. Kau?"
"Presentasi sama direksi besok. Aku deg-degan."
"Kau pasti bisa. Kau kan Alya."
Tapi pelan-pelan, "pasti bisa" berubah jadi satu-satunya kalimat yang tersisa, karena waktu untuk kalimat lainnya sudah habis terpakai.
Percikan pertama muncul di akhir bulan pertama. Alya merayakan kelulusan presentasinya — direksi menyukai proposalnya — dan ia menunggu Raka di restoran dekat kantornya, dengan kabar bahwa ia akhirnya unggul tipis dari Mbak Ranti.
Raka berjanji datang jam tujuh. Jam sembilan, ia menelepon.