Kesibukan yang Memisahkan
---
Lampu indikator server di ruang kerja Raka berkedip merah tanpa henti, memancarkan ritme panik yang seolah selaras dengan detak jantungnya sendiri. Jarum jam dinding menunjuk pukul sembilan malam, namun berkas arsitektur sistem perbankan di layarnya masih menumpuk tanpa muara. Di tempat terpisah, koridor rumah sakit bernuansa putih pucat menyambut langkah gontai Alya setelah menyelesaikan jaga malam tiga puluh enam jam berturut-turut.
Ponsel di samping papan ketik Raka bergetar pelan. Sebuah pesan suara dari Alya masuk, berdurasi hanya dua belas detik. Raka menekan tombol putar sambil menyandarkan punggungnya yang pegal pada sandaran kursi kerja.
"Raka, maaf banget... aku baru selesai tindakan darurat di UGD. Janji makan malam kita malam ini sepertinya harus batal lagi. Aku benar-benar tidak kuat jalan, kepalaku berat sekali."
Raka menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa kasar oleh kelelahan. Ia segera menekan ikon mikrofon untuk membalas.
"Tidak apa-apa, Al. Lagipula server kantor sedang krisis total sejak sore tadi. Aku juga kemungkinan besar baru bisa pulang lewat tengah malam. Kamu langsung istirahat ya, jangan lupa minum air hangat."
"Kamu juga jangan lupa makan, Raka. Jangan cuma minum kopi hitam terus," balas Alya lewat pesan singkat tiga menit kemudian.
"Iya, nanti aku pesan makanan lewat aplikasi kalau pekerjaanku sudah selesai," tulis Raka singkat sebelum kembali menatap deretan kode program yang seperti tak ada habisnya.
Hubungan yang dulunya dipenuhi gelak tawa di kedai kopi langganan kini berubah menjadi pertukaran pesan formal dan kaku. Mereka tinggal di kota yang sama, hanya terpisah jarak delapan kilometer, namun kesibukan membangun tembok tak kasatmata yang kian hari kian tebal.
Dua hari kemudian, mereka mencoba mencuri waktu untuk bertemu lima belas menit di area parkir rumah sakit tempat Alya bekerja. Raka sengaja menghentikan mobilnya di bawah naungan pohon trembesi yang rimbun, membawa segelas cokelat panas kesukaan Alya.
"Terima kasih cokelatnya, Raka," ucap Alya lembut saat masuk ke dalam mobil. Matanya yang sayu memperlihatkan kantung mata kehitaman yang jelas.
"Kamu kelihatan lelah sekali, Al. Apa jadwal jagamu minggu ini memang sepadat itu?" tanya Raka sambil menatap lekat wajah kekasihnya.
"Sangat padat. Dokter senior sedang tugas luar kota, jadi seluruh pasien bangsal dipimpinkan ke timku," jawab Alya pelan. Ia menyeruput cokelat panas itu anggun. "Kamu sendiri bagaimana? Wajahmu juga pucat sekali."
"Proyek migrasi data nasional ini tenggat waktunya dipercepat dua minggu oleh direksi. Aku hampir tidak pernah tidur lebih dari empat jam sehari," jawab Raka seraya memegang jemari Alya yang terasa dingin.
"Kita sudah hampir dua minggu tidak mengobrol dengan benar, Raka. Setiap kali aku telepon, kamu sedang rapat. Setiap kali kamu telepon, aku sedang di ruang operasi."
"Aku tahu, Al. Tapi ini fase krusial karierku. Setelah proyek ini rampung bulan depan, aku janji kita ambil libur panjang bersama."
Alya menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan, perpaduan antara kerinduan dan kepasrahan yang mendalam. "Aku selalu mendengar janji bulan depan itu sejak tiga bulan yang lalu, Raka."
"Kamu menyindirku?" tanya Raka dengan nada suara yang sedikit meninggi, tersengat oleh ucapan Alya.
"Bukan menyindir, Raka. Aku hanya merasa kita sedang berjalan di dua jalur berlawanan yang tidak pernah bertemu lagi."
Raka mengalihkan pandangannya ke arah kemudi, mencengkeram lingkar kemudi dengan jemari yang menegang. "Aku bekerja keras seperti ini juga demi masa depan kita, Alya. Tolong mengerti sedikit."
"Aku mengerti, Raka. Tapi apa artinya masa depan kalau di masa kini kita perlahan-lahan menjadi dua orang asing yang saling melupakan?"
Ponsel Alya tiba-tiba berbunyi nyaring, memutus ketegangan yang mulai membakar udara di dalam mobil. Nama perawat jaga muncul di layar layar sentuhnya.
"Dokter Alya, pasien kamar 402 mengalami penurunan saturasi mendadak!" suara perawat terdengar panik dari pengeras suara.
"Baik, saya segera ke atas!" tegas Alya cepat. Ia langsung mematikan sambungan telepon dan menatap Raka. "Aku harus kembali ke dalam, Raka."
"Hati-hati, Al," gumam Raka pelan tanpa menatap matanya.
Alya membuka pintu mobil, ragu sejenak di ambang pintu sebelum berkata, "Telepon aku nanti malam kalau kamu sudah tidak rapat."
"Akan kuusahakan," jawab Raka dingin sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
°˖✧✿✧˖°
Seminggu berlalu tanpa ada dialog bermakna di antara mereka. Pada Sabtu siang yang terik, Alya akhirnya meminta Raka menemuinya di sebuah kafe sepi di pinggiran Jakarta Selatan. Tempat itu menjadi saksi ketika Alya meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja kayu.
"Apa ini, Al?" tanya Raka heran sambil mengaduk es kopinya yang mulai mencair.
"Surat penerimaan program riset klinis spesialis di Surabaya. Durasi programnya enam bulan," terang Alya datar namun tegas.
Raka meletakkan sendok pengaduknya hingga berdenting keras menabrak gelas kaca. "Surabaya? Sejak kapan kamu mendaftar program riset sejauh itu tanpa pernah berdiskusi denganku?"
"Aku mendaftar empat bulan lalu, Raka. Saat itu aku mencoba membicarakan ini, tapi kamu sibuk membalas surel kien sampai tidak mendengarkanku," potong Alya cepat.
"Tapi enam bulan itu waktu yang sangat lama, Al! Kamu tahu sendiri jadwal kerja kita sekarang saja sudah membuat kita hampir tidak pernah bertemu. Bagaimana kalau kamu pindah ke luar pulau?"
"Justru karena itu, Raka! Selama ini kita ada di kota yang sama tapi terasa seperti terpisah ribuan kilometer. Apakah ada bedanya jika aku di Surabaya?"
Raka menyandarkan tubuhnya, menatap Alya tak percaya. "Jadi kamu menganggap keberadaanku selama ini tidak ada artinya?"
"Bukan begitu, Raka. Ini kesempatan besar untuk karier spesialisku. Sama seperti proyek migrasi data besarmu yang selalu kamu nomor satukan di atas segalanya!"
"Aku melakukan semua ini untuk mengumpulkan modal pernikahan kita, Alya! Apa kamu tidak pernah paham?" suara Raka meninggi hingga memancing perhatian kasir kafe.
Alya menggelengkan kepala pelan, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Pernikahan bukan cuma soal modal uang, Raka. Pernikahan butuh jiwa yang hadir, bukan hanya dompet yang tebal."
"Aku selalu berusaha hadir untukmu, Alya!"
"Kapan, Raka? Sebutkan satu kali saja dalam dua bulan terakhir kamu benar-benar hadir tanpa memegang ponsel atau melihat laptop saat bersamaku!" tantang Alya dengan nada bergetar.
Raka bungkam seketika. Pertanyaan Alya menghantam tepat di pusat kesadarannya, meninggalkan kesunyian yang menyiksa di antara deru pendingin ruangan.