Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Telepon yang Tak Terjawab

Hujan turun sejak sore tanpa tanda-tanda akan reda. Naya duduk di tepi sofa ruang tamu, memeluk lututnya, matanya tertuju pada ponsel di meja kayu jati yang sudah lama tidak menyala. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Raka, suaminya, belum juga pulang. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Hanya keheningan yang terasa semakin pekat, seiring dengan aroma kopi yang sudah dingin di cangkir keramik biru kesukaannya.

Tujuh tahun pernikahan mereka, dan Naya terbiasa dengan segala kebiasaan Raka. Suaminya itu selalu mengabari, bahkan hanya lewat pesan singkat: "Macet, sayang. Maaf." atau "Ada rapat tambahan, pulang agak malam." Namun dua bulan terakhir, kebiasaan itu pelan-pelan menghilang, seperti pasang surut yang tak lagi mengenal waktu. Pesan singkatnya berkurang, panggilannya sering tidak terjawab, dan senyumnya—senyum yang dulu Naya anggap sebagai rumah—kini jarang menghiasi wajahnya.

Naya meraih ponselnya, mengetuk nama "Suami" di daftar kontak. Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, tiga kali, lalu terputus. "Nomor yang Anda hubungi tidak aktif," demikian pesan operator itu. Padahal, dua jam lalu, Naya melihat centang biru di pesan WhatsApp-nya. Ponsel Raka aktif. Raka hanya tidak menjawab.

"Kenapa kamu jadi seperti ini, Raka?" bisik Naya pada ruangan kosong. Suara hujan di luar jendela seakan menjawab dengan ketukan yang makin keras, seperti jari yang mengetuk meja menuntut kejelasan.

Di dapur, masakan kesukaan Raka—rendang daging yang sejak pagi Naya masak dengan hati-hati—sudah kehilangan kehangatannya. Lilin di meja makan yang sempat Naya nyalakan untuk makan malam romantis sudah habis, meninggalkan genangan lilin yang membeku, persis seperti harapan Naya malam itu. Ia berdiri, mematikan lampu ruang tamu, dan memutuskan menunggu di kamar.

Namun sebelum naik, matanya menangkap sesuatu di meja konsol dekat pintu: jam tangan Raka, yang selalu suaminya pakai ke mana-mana, tergeletak di atas tumpukan amplop. "Jam tangan?" Naya mengerutkan dahi. Itu pemberian ayah Raka sebelum wafat, benda yang tidak pernah sekali pun lepas dari pergelangan suaminya. Sesuatu yang janggal mulai berdesir di dada Naya, tetapi ia menepisnya cepat. Jangan berpikir buruk dulu, ia membisikkan pada dirinya sendiri, seperti yang selalu ia lakukan. Tetapi malam itu, bisikan itu terdengar lebih seperti doa ketimbang keyakinan.

༺♡༻

Ponsel Naya bergetar. Bukan telepon dari Raka, melainkan pesan langsung dari Dina, sahabatnya: "Nay, kamu di mana? Ini Raka sama cewek di kafe Senja. Aku lagi di meja sebelah mereka. Kamu tahu?"

Jantung Naya berdegup dua kali lebih cepat. Tangannya gemetar saat membuka tautan yang Dina kirim. Sebuah video pendek: Raka, dengan kemeja biru yang pagi tadi ia pakai saat berangkat kerja, duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut sebahu. Mereka tertawa. Wanita itu menyentuh tangan Raka sejenak, dan Raka tidak menarik tangannya.

Naya menelepon Dina. "Din, itu benar Raka? Mataku nggak salah lihat, kan?"

"Iya, Nay. Gue nggak bohong. Mereka udah di sini sejak setengah jam lalu. Muka suami lo senyum-senyum banget," jawab Dina, suaranya berbisik penuh perhatian. "Gue cuma mikir, lo harus tahu dari gue, bukan dari orang lain."

"Wanita itu siapa?"

"Gue nggak kenal. Rambutnya sebahu, pakai blazer cokelat. Cantik, Nay. Maaf, gue harus jujur."

Naya menekan ponselnya ke dada. "Din, mereka pegangan tangan?"

"Enggak, Nay. Tapi itu... chemistry-nya ada. Maaf, gue nggak mau nyakitin lo," jawab Dina hati-hati. "Lo mau gue samperin? Gue bisa pura-pura ketemu."

"Tidak. Jangan." Naya menarik napas. "Kalau memang ada sesuatu, aku mau melihatnya dengan mataku sendiri. Bukan lewat cerita orang."

Di kaca spion, wajahnya pucat, matanya memerah. "Lima tahun kita menikah, Din. Lima tahun dia tidak pernah sekali pun lupa memberi kabar. Apa yang berubah? Apa yang salah denganku?"

"Nay, dengerin gue. Kalau suami lo salah, itu salah dia. Bukan salah lo. Jangan mulai nyalahin diri sendiri sekarang."

Naya menutup telepon tanpa pamit. Napasnya memburu. Ia kembali menekan tombol panggil "Suami". Satu kali... dua kali... lima kali. Tak ada yang diangkat. Pesan WhatsApp terkirim, centang biru, tanpa balasan.

"Lima belas menit," gumamnya sambil meraih jaket dan kunci mobil. "Aku cuma butuh lima belas menit."

Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota saat Naya menyetir dengan tangan yang masih gemetar. Hujan menyerang kaca mobil seperti ribuan tuduhan. Dalam perjalanan, ia membayangkan segala kemungkinan: pekerjaan? Teman lama? Atau... Ia tak sanggup menyelesaikan kalimat terakhir itu.

Kafe Senja hanya sepuluh menit dari rumah. Begitu mobil Naya memasuki area parkir, ia melihatnya: motor Raka, terparkir di pojok, tertutup sebagian oleh tenda kafe. Begitu dekat dari rumah, pikir Naya dengan perih, sementara aku mengira kamu lembur jauh di kantor.

Naya mematikan mesin mobil, tetapi kakinya tidak kunjung turun. Dari kejauhan, melalui kaca besar kafe yang berembun, ia melihat siluet Raka dan wanita itu masih duduk berhadapan. Raka mengangkat tangannya, seolah sedang menunjukkan sesuatu, lalu tertawa. Wanita itu tertawa juga.

"Keluar, Naya," bisiknya pada diri sendiri. "Keluar dan tanya langsung." Namun tangannya justru mengunci pintu mobil. Malu, takut, dan marah bercampur menjadi satu. Ia meraih ponsel, mengetik pesan terakhir untuk Raka malam itu: "Aku lihat kamu. Di kafe Senja. Jawab teleponku SEKARANG."

Tiga titik mengetik muncul... lalu hilang. Tak ada balasan yang masuk. Hanya hujan yang terus turun, menggenang di atap mobil, seakan menahan Naya di tempatnya bersama keberanian yang tidak kunjung datang.

༺♡༻

Naya pulang lebih dulu, dengan hati yang lebih dingin dari hujan di luar. Ia mematikan semua lampu, berpura-pura tidur saat Raka akhirnya tiba pukul sebelas malam.

"Aku pulang," sapa Raka dari ambang pintu kamar, suaranya terdengar letih.

Naya membuka mata perlahan. "Jam berapa sekarang?"

"Setengah dua belas. Maaf, lembur. Ada proyek yang harus selesai besok." Raka melepas kemejanya, tidak menatap Naya. "Kamu belum tidur?"

"Sudah. Terbangun karena kamu buka pintu."

Naya mengamati suaminya dengan cermat. Raka melempar kemeja birunya ke keranjang cucian. Bau kopi dan sesuatu yang manis—vanila, atau parfum wanita—menyelinap ke hidung Naya. Ia menelan tuduhannya. Belum saatnya. Ia butuh kepastian, bukan kekacauan.

Ke esokan harinya, Raka berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. "Ada meeting pagi," katanya sambil mencium puncak kepala Naya, sebuah kebiasaan yang akhir-akhir ini terasa seperti transaksi, bukan kasih sayang.

Naya tersenyum tipis. "Hati-hati."

Begitu pintu tertutup, Naya duduk di meja makan, membuka laptop, dan mulai mencari tahu. Ia tahu kata sandi akun cloud Raka—suaminya tidak pernah menggantinya. Di sana, ia menemukan foto-foto yang tersinkronisasi: screenshot undangan ulang tahun mertuanya, daftar hadiah, dan satu foto yang membuat darahnya membeku: foto cincin berlian, dengan catatan kecil di bawahnya: "Untuk S—, terima kasih sudah mau membantu."

Naya membaca ulang kalimat itu lima kali. "Untuk S." Sinta? Sarah? Siapa?

Malam itu, Raka kembali tidak menjawab tiga panggilan Naya. Ia datang pukul sepuluh dengan alasan yang berbeda: "Ada client dadakan dari Surabaya."

"Client?" Naya akhirnya membuka mulut. Ia menyilangkan tangan di dada. "Client yang menyuruhmu minum kopi di Senja semalam?"

Raka terdiam. Wajahnya yang tadinya santai kini menegang. "Kamu... tahu dari mana?"

"Dina lihat kamu. Dengan seorang wanita. Blazer cokelat. Rambut sebahu." Suara Naya bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap tenang. "Aku meneleponmu lima kali, Raka. Lima kali. Kamu lihat pesanku, tapi kamu tidak jawab."

"Naya, itu bukan seperti yang kamu kira—"

"Lalu seperti apa?!" bentak Naya, seluruh ketenangannya runtuh seketika. "Karena dari sudut pandangku, suamiku diam-diam minum kopi dengan wanita lain, berbohong soal lembur, dan tidak pernah menjawab telepon istrinya!"

"Aku tidak bisa jelaskan sekarang," Raka menghela napas panjang, memegang kepalanya. "Aku minta waktu. Seminggu. Dua minggu. Setelah itu aku janji, semuanya jelas."

"Jelas?" Naya tertawa getir. "Kamu minta aku percaya begitu saja? Setelah semua kebohonganmu?"

"Aku tidak selingkuh," kata Raka tegas, menatap lurus ke mata Naya. "Itu satu-satunya hal yang bisa aku katakan sekarang."

Lihat selengkapnya