Senja itu turun perlahan di atas kota yang mulai menyalakan lampu-lampunya satu per satu. Raka berdiri di balkon apartemennya, memegang ponsel yang sudah dua jam tidak berbunyi. Layarnya menyala, lalu padam. Lalu menyala lagi. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar.
Semua berawal sekitar dua minggu lalu, tepat setelah pertemuan keluarga Alya. Sejak hari itu, Alya berubah. Perubahannya bukan jenis yang dramatis — tidak ada pertengkaran, tidak ada kata putus — melainkan perubahan senyap yang jauh lebih menyiksa. Pesan-pesannya yang dulu selalu panjang dan hangat kini hanya beberapa kata. "Udah makan belum?" berubah menjadi "udah." "Aku kangen" berubah menjadi "oh." Semua menjadi dingin, ringkas, dan efisien.
Raka mencoba menepis kecemasannya dengan berbagai alasan. Mungkin Alya sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. Mungkin dia sedang lelah. Mungkin ada masalah keluarga yang tidak mau dia ceritakan. Namun di sudut hatinya, Raka tahu alasan-alasan itu hanya alasan. Sesuatu telah retak, dan dia tidak tahu di mana letak retakannya.
Malam itu, sekitar pukul delapan, Raka akhirnya mengambil keputusan. Jika Alya tidak menghubunginya, maka dialah yang akan menghubungi. Bukan lewat pesan singkat yang mudah diabaikan. Tapi lewat telepon. Langsung. Seperti yang selalu mereka lakukan dulu, sebelum segalanya menjadi dingin. Jari Raka menekan nama Alya di layar. Nada sambung berdering satu... dua... tiga kali.
Dan saat suara Alya akhirnya terdengar di ujung sana, Raka langsung tahu bahwa malam ini tidak akan berjalan seperti yang dia harapkan.
༺♡༻
"Halo," sapa Alya. Suaranya datar, hampir tanpa intonasi.
"Alya, akhirnya kamu angkat," Raka menarik napas lega. "Aku udah coba hubungin dari tadi."
"Oh, maaf. Baru lihat."
Baru lihat. Padahal status Alya aktif lima menit lalu, menanggapi komentar salah satu temannya di media sosial. Raka menelan amarahnya yang mulai menjalar. "Alya, kita perlu ngomong. Aku ngerasa ada yang beda belakangan ini. Kamu jauh."
Hening sejenak. "Jauh gimana? Aku di rumah kok."
"Itu bukan yang aku maksud dan kamu tahu." Raka berusaha menahan nada suaranya tetap tenang. "Dua minggu ini kamu beda. Kamu jarang ngabarin. Kalau aku tanya kabar, jawabannya singkat-singkat. Kayak... kayak kamu lagi berusaha jaga jarak sama aku."
"Aku enggak."
"Alya, aku kenal kamu. Lima tahun kita bareng. Aku tahu kalau kamu lagi sembunyiin sesuatu."
Gelombang hening yang lebih panjang menyusul. Raka bisa mendengar suara televisi samar dari sisi Alya, lalu suara pintu yang ditutup. "Raka, aku lagi capek. Bisa nggak kita bahas ini nanti?"
"Kapan 'nanti'nya? Tiap aku mau bahas, selalu ada 'nanti'."
"Ya tapi sekarang emang bukan waktu yang tepat—"
"Kenapa enggak? Aku di sini, kamu di sana, kita udah terhubung. Apa lagi yang kurang tepat?"
"Raka, stop." Suara Alya akhirnya meninggi, lalu turun lagi pelan. "Aku serius. Aku lagi enggak pengen ngomongin ini."
Raka merasakan dadanya menghangat. "Kenapa? Ada apa sebenarnya? Kalau ada masalah, bilang. Kalau aku salah, bilang. Jangan diem aja kayak gini, Alya. Ini nyiksa."
"Enggak ada yang nyiksa. Kamu aja yang kebanyakan mikir."
"Kebanyakan mikir?!" Raka hampir tertawa geli. "Kita jarang ketemu karena kamu selalu bilang sibuk. Pesan kamu kaku. Kamu bahkan enggak nanya kabar aku lagi. Dan aku disebut kebanyakan mikir?"
"Kalau kamu ngerasa gitu, mungkin memang begitu kenyataannya."
Kalimat itu menghantam seperti pukulan telak. Raka membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Di ujung sana, Alya menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan, hampir bisikan, "Raka... aku butuh waktu. Buat diri aku sendiri. Bisa kamu kasih itu ke aku?"
"Waktu buat apa? Buat menjauh?"
"Buat mikir."
"Nggak, jawab aku dulu." Suara Raka bergetar. "Apa aku udah ngelakuin sesuatu?"
Hening. Sangat lama. Lalu Alya menjawab, "Ada hal yang mungkin kamu perlu tahu. Tapi bukan lewat telepon. Kapan-kapan aja ya, Raka. Maaf."
Telepon diputuskan. Nada sibuk menggema di telinga Raka, dan senja itu benar-benar menjadi malam tanpa balasan.
༺♡༻
Raka tidak bisa tidur malam itu. Kalimat Alya berputar-putar di kepalanya: Ada hal yang mungkin kamu perlu tahu. Hal apa? Apa yang seharusnya dia tahu? Pikirannya berlari ke segala arah yang gelap — ada orang lain, ada rahasia keluarga, ada keputusan besar yang dibuat tanpa melibatkannya.
Keesokan paginya, Raka menelepon sahabatnya, Dimas.
"Bangun, Mas. Aku butuh ngomong."
"Jam segini? Lo kepikiran lagi soal Alya, ya," jawab Dimas dengan suara serak. "Gue tau dari nadanya aja."
"Kemarin dia bilang ada sesuatu yang harus gue tahu. Terus katanya dia butuh waktu buat mikir. Gue nggak ngerti, Mas. Kalau emang ada masalah, kenapa nggak langsung dibicarain?"
Dimas terdiam sejenak. "Lo udah nanya langsung ke dia kenapa perubahannya?"
"Udah. Dia bilang gue kebanyakan mikir."
"Terus?"
"Terus gue makin bingung. Masa iya cuma gara-gara gue kebanyakan mikir, semua jadi dingin kayak gini? Lima tahun, Mas. Lima tahun kita nggak pernah kayak gini."
"Gue boleh jujur?" tanya Dimas. "Sebelum dia berubah, ada yang beda nggak dari sisi lo? Ada yang berubah dari lo?"
Raka terdiam. Perlahan, kejadian dua minggu lalu muncul kembali dalam ingatannya. Pertemuan keluarga Alya. Malam itu, ibu Alya sempat menariknya ke sudut ruangan.
"Raka, kamu tahu kan Alya itu anak satu-satunya," kata Ibu Alya saat itu, dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Papa dan Mama cuma pengin dia punya masa depan yang... mapan. Pasti kamu ngerti maksud Mama."
Raka ingat bagaimana dirinya menjawab dengan yakin, "Saya janji akan berusaha, Bu. Saya serius sama Alya."
"Berusaha itu beda sama bisa, Nak."
Percakapan itu terhenti ketika Alya datang dan mengajak Raka makan. Tapi sekarang, di pagi yang kelabu ini, kata-kata ibu Alya terdengar jauh lebih tajam.
"Mas... gue barusan inget sesuatu. Waktu pertemuan keluarga Alya dua minggu lalu, ibunya sempat ngomong sesuatu ke gue."
"Apa?"