Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

Teman yang Menjadi Provokator

Pagi itu datang dengan kabut tipis yang menyelimuti jendela kamar Raka. Dia sudah terjaga sejak subuh, mata terbuka lebar menatap langit-langit putih yang mulai memudar menjadi warna krem akibat usia. Ponselnya tergeletak di samping bantal, layarnya gelap sejak pesan terakhir dari Alya semalam. Kalimat itu masih berputar-putar di kepalanya seperti lagu yang salah diputar: Tanyakan sama Raka tentang malam itu. Tentang kenapa Papa kamu pergi.

Raka tidak mengerti. Apa yang dimaksud ibu Alya? Papa Alya pergi? Raka hampir tidak pernah bertemu dengan ayah Alya. Pria itu sibuk dengan bisnisnya, sering keluar kota, dan dalam lima tahun hubungan mereka, Raka hanya berjumpa dengannya tiga kali. Tiga kali yang singkat, formal, dan tidak pernah bermasalah. Bahkan di pertemuan terakhir mereka, Papa Alya hanya mengangguk singkat dan berkata, "Jaga Alya baik-baik," sebelum pergi meninggalkan ruangan.

Dia bangkit dari tempat tidur, kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu yang dingin. Di meja rias, cermin memantulkan wajahnya — mata merah, rambut berantakan, dan bekas gigitan di bibir bawah yang dia sendiri tidak sadar kapan membuatnya. Semalam, setelah pesan Alya, dia tidak tidur. Dia hanya berbaring, mencoba mengingat setiap malam, setiap pertemuan, setiap percakapan yang mungkin berhubungan dengan ayah Alya. Tapi ingatannya hampa. Seperti buku dengan halaman yang sengaja dicabut.

Raka mengambil ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama Alya. Dia ingin menelepon. Dia ingin menjelaskan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Tapi sesuatu menahannya. Kalau dia menelepon sekarang, dalam kondisi emosional seperti ini, dia mungkin akan mengatakan hal yang salah. Atau lebih buruk — Alya mungkin akan mendengar ketakutan di suaranya, dan ketakutan itu akan menular.

Dia meletakkan ponselnya kembali. Pukul enam pagi. Masih terlalu dini untuk menelepon. Tapi terlalu larut untuk tidur kembali. Raka berjalan ke dapur, membuat kopi hitam yang dia minum tanpa gula — pahit, seperti perasaannya saat ini. Di luar jendela, kota mulai bangun. Mobil-mobil mulai mengisi jalanan. Dan Raka, di tengah apartemennya yang sunyi, merasa semakin terjebak dalam labirin pertanyaan yang tidak punya pintu keluar.

Dia duduk di sofa, menatap cangkir kopi yang menguap di tangannya. Lima tahun. Selama lima tahun, dia merasa hubungannya dengan Alya kuat. Tapi kali ini, Raka merasa sesuatu yang berbeda. Seperti ada tangan tak terlihat yang dengan sengaja menarik benang-hubungan mereka, membuat simpul demi simpul yang semakin ketat dan menyakitkan.

Dan entah kenapa, nama Farel muncul di benaknya. Teman lama yang tiba-tiba menghilang. Teman yang dulu pernah bilang, "Hati-hati sama cewek kaya, Rak. Mereka mainnya beda."

༺♡༻

Pukul delapan pagi, ponsel Raka berdering. Namun yang muncul bukan Alya, melainkan nama yang tidak pernah dia sangka akan muncul di pagi yang suram ini: Farel.

Farel. Teman kuliah Raka. Dulu mereka dekat — sangat dekat — sampai dua tahun lalu, ketika sebuah perselisihan kecil soal proyek bisnis membuat mereka menjauh. Sejak itu, Farel menghilang dari radar Raka. Tidak ada kabar, tidak ada pertemuan, tidak ada penjelasan. Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka seperti tirai tipis yang tak pernah terangkat. Raka pernah mencoba menghubungi Farel beberapa kali di awal, tapi panggilannya tidak pernah diangkat. Perlahan, Raka menyerah. Dia menganggap persahabatan mereka sudah selesai, dikubur bersama proyek bisnis yang gagal.

Raka ragu sejenak, lalu mengangkat.

"Halo, Rak," suara Farel terdengar ramah, terlalu ramah untuk seseorang yang sudah dua tahun tidak bicara. "Lama nggak ketemu. Gimana kabarnya?"

"Farel?" Raka tidak bisa menyembunyikan keheranan. "Ini beneran lo?"

"Iya, gue. Jangan kaget gitu dong. Gue cuma pengin ngobrol. Kita kan dulu temen baik."

"Dulu," Raka menekankan kata itu. "Dua tahun lo menghilang, terus tiba-tiba nelpon. Ada apa?"

"Wah, masih kesel ya?" Farel tertawa pelan. "Gue ngerti, gue ngerti. Tapi dengerin, Rak. Gue nelpon bukan buat masalah lama. Gue nelpon soal sesuatu yang lebih penting. Soal lo. Dan soal cewek lo itu."

Raka merasakan denyut nadinya berdetak lebih cepat. "Maksud lo?"

"Alya, kan namanya? Gue dengar dia mau berangkat ke luar negeri. Magang dua tahun. Dan gue juga dengar... hubungan kalian lagi nggak baik-baik aja."

"Dari mana lo tahu?" suara Raka menajam.

"Kota ini kecil, Rak. Kabar burung terbang cepat. Apalagi kalau yang cerita adalah orang dalam." Ada jeda sejenak. "Rak, gue nggak mau jadi orang yang nyampur urusan orang. Tapi gue sayang sama lo. Dulu kita temenan, dan gue nggak tega lihat lo dibodohi."

"Dibodohi?" suara Raka meninggi. "Farel, kalau lo nelpon buat nyebelin—"

"Bukan!" Farel memotong. "Gue serius. Ada hal yang harus lo tahu tentang Alya. Tentang keluarganya. Tentang... malam itu."

Raka membeku. Malam itu. Kalimat yang sama persis dengan yang ibu Alya ucapkan semalam.

"Lo tahu apa?" tanya Raka, suaranya turun menjadi bisikan.

"Bukan lewat telepon, Rak. Kita ketemuan. Sekarang. Di kafe lama kita, yang di dekat kampus. Gue tunggu setengah jam. Kalau lo nggak datang, ya udah. Tapi inget — gue cuma pengin lo tahu kebenarannya sebelum terlambat."

Telepon diputuskan. Raka menatap layar ponselnya, hati berkecamuk. Farel. Teman lama yang tiba-tiba muncul dengan kabar tentang Alya. Tentang malam itu. Apa hubungannya? Dan mengapa semua orang tiba-tiba membicarakan "malam itu"?

Dengan tangan gemetar, Raka mengambil jaketnya. Dia tidak punya pilihan. Dia harus tahu.

༺♡༻

Kafe itu masih sama persis seperti dulu — meja-meja kayu tua, aroma kopi yang menusuk, dan lagu-lagu jazz yang diputar dari speaker usang di sudut ruangan. Foto-foto hitam putih para musisi legendaris masih menghiasi dinding, debu tipis menempel di bingkainya. Farel sudah duduk di meja pojok, tempat favorit mereka dulu. Dia tersenyum melambai saat melihat Raka masuk, seolah dua tahun keheningan tidak pernah terjadi.

"Duduk, Rak. Gue pesenin kopi lo yang biasa. Americano, panas, tanpa gula."

Raka menarik kursi, duduk berhadapan, dan langsung ke inti. "Jangan basa-basi. Lo tahu apa? Dan kenapa sekarang?"

Farel mengangkat alisnya, lalu menghela napas. "Oke. Langsung aja. Lo inget nggak, sekitar tiga tahun lalu, waktu kita masih kuliah semester akhir?"

"Ingat. Terus?"

"Waktu itu, ada malam di mana lo minum bareng gue dan beberapa teman. Lo mabok berat, Rak. Sampai nggak inget apa-apa. Lo sampai muntah di toilet kafe, dan gue yang ngejemput lo pulang."

Raka mengernyit. "Gue inget pernah mabok. Tapi nggak inget detailnya."

"Detailnya adalah," Farel mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya turun hampir menjadi bisikan, "malam itu, setelah lo mabok, lo ngomong banyak hal. Hal-hal yang mungkin lo sendiri nggak sadar lo omongin. Hal-hal yang seharusnya nggak pernah keluar dari mulut lo."

"Kayak apa?"

"Lo bilang... lo nggak suka keluarga Alya. Lo bilang ibunya sombong, ayahnya arogan, dan lo cuma pacaran sama Alya karena lo kasihan dia. Lo bilang keluarga mereka pikir mereka lebih tinggi dari orang lain. Lo bilang lo pengin balas dendam sama keluarganya — tunjukin kalau lo bisa dapetin anak perempuan mereka meski mereka nggak suka sama lo."

Raka tertawa, tapi tawa itu keluar kaku dan pahit. "Itu omongan mabok, Farel. Lo nggak bisa anggap serius omongan orang mabok. Setengah dari omongan orang mabok itu nggak ada dasarnya."

"Gue tahu. Tapi masalahnya, Rak..." Farel berhenti sejenak, matanya menatap Raka tajam. "Ada orang lain yang denger omongan lo malam itu."

"Siapa?"

"Papa Alya."

Dunia Raka seperti berhenti berputar. "Apa?"

Lihat selengkapnya