Ada fase dalam sebuah hubungan di mana segalanya terasa terlalu tenang sampai salah satu pihak mulai menunggu badai. Bagi Raka dan Alya, fase itu datang enam bulan setelah mereka kembali bersama. Tiga tahun luka lama perlahan ditambal dengan kebiasaan-kebiasaan kecil: Alya mulai meninggalkan catatan tempel di kulkas, Raka mulai belajar memasak satu menu baru setiap minggu, dan keduanya berhenti saling memeriksa ponsel.
Malam itu, Raka pulang kerja membawa sekotak kue tart kecil—ulang tahun Alya jatuh besok, dan ia sudah merencanakan kejutan sederhana: makan malam di apartemen, lalu kue, lalu satu pertanyaan yang sudah ia simpan terlalu lama di dada. Di saku jaketnya, sebuah kotak kecil berisi cincin tunangan yang sudah tiga bulan disimpan di laci meja kerjanya. Bukan cincin mahal. Hanya cincin perak dengan batu kecil hasil tabungan diam-diam yang ia sisihkan dari setiap gaji. Ia ingin segalanya sempurna. Ia bahkan sudah membayangkan wajah Alya—kaget, lalu tertawa, lalu menangis—seperti adegan yang sudah diputar berulang di kepalanya selama berbulan-bulan.
"Besok hari yang baik," katanya pada diri sendiri di lift, menepuk saku jaketnya untuk memastikan kotak itu masih ada. "Hari yang paling baik."
Alya belum pulang. Pesan terakhirnya masuk pukul empat sore: "Meeting kelar agak malem ya, sayang. Jangan tungguin, makan dulu aja." Raka tersenyum membaca panggilan "sayang" yang sudah lama tidak mereka pakai. Ia menyimpan kue di kulkas, menata dua lilin kecil di meja makan, lalu duduk di sofa sambil membaca ulang pesan itu seperti orang membaca surat cinta.
Pukul delapan malam, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari Alya. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan satu foto.
Raka menatap layar itu lama. Terlalu lama. Di foto itu, Alya duduk di kafe dengan pria lain—pria yang wajahnya tidak asing—tertawa lepas, dan tangannya terlihat menyentuh lengan pria itu seperti sesuatu yang sudah biasa. Di bawah foto itu, satu kalimat pendek yang akan mengubah segalanya: "Bang, maaf ganggu. Kamu pantas tahu."
༺♡༻
Raka tidak langsung bereaksi. Ia menatap foto itu sampai matanya perih, mencari sudut yang salah, pencahayaan yang menipu, wajah yang mirip tapi bukan. Tapi itu Alya. Baju kuning yang ia belikan bulan lalu, rambut yang diikat setengah persis seperti yang Alya minta ke penata rambut kantor, gelang tangan anyaman yang mereka beli bersama di pasar malam tahun lalu. Semua detail kecil itu menjeratnya seperti bukti yang tidak bisa dibantah.
Jantungnya berdetak di tenggorokan. Sebagian dirinya berteriak bahwa ini pasti salah paham—Alya punya banyak teman kantor, Alya pernah memperkenalkannya lewat video call, Alya tidak mungkin. Tapi sebagian lain, bagian yang berakar pada malam-malam tiga tahun lalu, berbisik lirih: kamu sudah pernah dikelabui, dan waktu itu juga kamu yang terakhir tahu.
Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir dari dapur ke jendela, lalu kembali lagi. Pemandangan kota dari lantai dua belas biasanya menenangkannya. Malam ini, lampu-lampu itu hanya terlihat seperti saksi yang tidak mau bersaksi.
Dia harus tenang. Ia harus bijak. Tapi bijak adalah hal tersulit di dunia ketika foto pacarmu sedang tertawa dengan pria lain beredar di ponselmu, dikirim oleh hantu yang tidak mau menampakkan wajahnya.
Ia mengetik balasan dengan jempol yang gemetar. "Siapa kamu? Dari mana dapat foto ini?"
Balasan datang dua menit kemudian. "Nggak penting aku siapa. Yang penting bang tahu, Mbak Alya sering ketemu cowok ini. Nama dia Dimas. Kantor sama. Mereka deket banget."
Raka mengetik lagi, kali ini lebih cepat, lebih kasar. "Fitnah. Aku percaya sama pacar aku."
"Ya udah. Percaya aja." Nomor itu mengirim satu foto lagi. Kali ini Alya dan pria bernama Dimas itu berjalan berdampingan di trotoar, jarak mereka terlalu dekat untuk disebut sekadar rekan kerja—atau setidaknya begitulah tampaknya di mata Raka yang sedang gemetar. "Cuma satu saran, bang. Cek aja ponselnya waktu dia tidur. Atau tanya pelan-pelan soal dia. Liat reaksi Mbak Alya."
Ponsel Raka terasa panas di genggamannya. Ia ingin melemparnya ke dinding. Ia ingin menelepon Alya saat itu juga dan berteriak meminta penjelasan. Tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap dari amarah menahannya—ingatan tentang tiga tahun lalu, tentang cincin yang dulu, tentang bagaimana ia hampir kehilangan Alya karena tuduhan yang ia lemparkan tanpa bukti.
"Kalau aku nanya sekarang, aku sama aja kayak dulu," bisiknya pada ruangan kosong.
Ia mematikan ponsel, menyalakannya lagi, mematikan lagi. Kue tart di kulkas tiba-tiba terasa seperti benda asing. Lilin-lilin di meja makan menunggu dengan kesabaran yang menyakitkan. Dan ketika pintu apartemen akhirnya terbuka pukul sebelas malam, Raka sudah duduk di sofa dengan senyum yang ia latih di depan cermin sebanyak tiga kali.
"Hai," sapa Alya lelah sambil melepas sepatu. "Maaf banget telat, proyek baruku rada ribet."
"Nggak apa-apa," kata Raka. "Aku masakin kamu mie ya?"
Namun saat Alya berjalan ke kamar mandi, ponselnya tertinggal di meja, layarnya menyala sekali—pesan masuk dari kontak bernama "Dimas K." Raka menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ia tidak berpaling.
༺♡༻
Malam itu Raka tidak tidur. Ia berbaring di samping Alya yang tertidur lelap setelah makan mie dan memeluknya sebentar sambil mengucapkan terima kasih untuk kejutan yang belum sempat terjadi—kue dan lilin akhirnya disimpan tanpa dibuka. Begitu napas Alya memburu pelan, Raka meraih ponselnya dari nakas.
Jari-jarinya bergetar ketika membuka pesan masuk dari "Dimas K." Isinya polos, memalukan dengan kepolosannya: "Min, file yang tadi aku kirim via drive ya, jangan lupa dicek ulang bagian revisi klien. Maaf telat, tadi nganterin kamu sampai depan komplek." Tidak ada kata sayang. Tidak ada emoji. Tidak ada apa pun yang bisa disalahkan.
Tapi justru itu yang aneh. Kalau memang semua normal, kenapa Alya tidak pernah cerita soal pria ini? Enam bulan mereka bersama, dan nama Dimas tidak pernah sekali pun disebut.
Keesokan pagi, Raka memutuskan memeriksa tanpa terlihat memeriksa. Saat sarapan, ia bertanya dengan nada sesantai yang mampu ia kumpulkan.
"Eh, kamu kan bilang proyek barumu berat. Timnya banyak orang nggak?"
Alya menyeruput kopinya. "Lima orang. Kenapa?"
"Nggak, cuma nanya. Yang bantu kamu siapa aja?"
"Ada Mbak Rina dari divisi finance, terus dua orang dari tim teknis." Alya menggulung mie-nya. "Oh, sama Dimas. Dia yang paling ngerti soal desain sistemnya, jadi kami sering diskusi."
Nama itu keluar begitu saja. Tanpa ragu, tanpa tedung. Raka menelan ludahnya.
"Dimas itu cowok?"
Alya mengangkat alis, setengah bercanda. "Iya. Kenapa, mau kenalan?"
"Nggak, cuma—" Raka berdeham. "Cuma heran kamu belum pernah cerita."
"Ya karena dia cuma temen kerja, Rak." Alya tersenyum, lalu menatapnya lebih teliti. "Kamu kenapa? Kok kayak wartawan dadakan?"
Raka tertawa pelan, tertawa yang ia benci karena terdengar cempreng di telinganya sendiri. "Nggak apa-apa. Besok ulang tahun kamu, aku cuma mau pastikan semuanya baik-baik aja."
Namun seharian itu, di kantor, Raka tidak bisa berkonsentrasi. Nomor tak dikenal itu mengirim satu pesan lagi saat istirahat makan siang. Kali ini bukan foto. Kali ini tangkapan layar percakapan—percakapan antara Alya dan seseorang berinisial "D".
"Kamu tahu nggak sih, aku selalu nungguin notif dari kamu." "Jangan gitu dong, nanti ada yang baper." "Udah baper dari dulu."
Raka hampir menjatuhkan ponselnya di kantin. Tangannya dingin. Seseorang menyapanya dan ia bahkan tidak mendengar.