Pagi itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah ikut menyerap suasana hati Raka. Ia berdiri di depan jendela apartemennya, memegang secangkir kopi yang sudah lama dingin tanpa disadari. Malam sebelumnya, Alya kembali pulang larut—ketiga kalinya dalam seminggu—dengan alasan lembur yang terdengar makin tipis setiap kali diucapkan.
Raka mengusap wajahnya. Ia benci perasaan ini. Kecemburuan yang dulu pernah menghancurkan hubungannya dengan Alya tiga tahun lalu kini merayap kembali, seperti asap yang menyelinap lewat celah pintu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan pernah lagi menjadi pria yang menuduh tanpa bukti, yang menebak-nebak sampai menebas kepercayaan mereka berdua.
Namun janji itu terasa rapuh pagi ini. Di layar ponselnya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal mengabarkan hal yang belum sempat ia proses: "Bang, kemarin Mbak Alya makan malam sama Mas Dimas di kafe di Kemang. Saya lihat sendiri. Maaf ya, bang, saya cuma kasih tahu."
Raka menatap pesan itu untuk kesekian kalinya. Bukan pesannya yang menyakitkan, melainkan keheningan Alya semalam—Alya yang biasanya bercerita panjang lebar tentang harinya, tapi kemarin hanya menjawab dengan gumaman pendek sebelum tertidur.
Ia menarik napas panjang. Hari ini, pikirnya, ia akan meminta penjelasan. Bukan menuduh. Bukan menebak. Hanya bertanya. Tapi pertanyaan, ia tahu, bisa menjadi pisau yang sama tajamnya dengan tuduhan.
༺♡༻
Alya bangun pukul setengah delapan dan langsung merasakan ketegangan di udara. Raka duduk di meja makan dengan ekspresi yang susah dibaca—bukan marah, bukan sedih, melainkan sesuatu di antaranya yang lebih menakutkan.
"Selamat pagi," sapa Alya hati-hati.
"Pagi," jawab Raka tanpa menoleh. "Kopi di teko. Masih hangat."
Alya menuang kopi dan duduk di seberang Raka. Ia mencoba memulai percakapan kecil, tetapi jawaban Raka dingin dan pendek, seperti seseorang yang menahan sesuatu yang besar. Ketegangan itu akhirnya pecah ketika Alya berdiri untuk mengambil tisu.
"Alya," panggil Raka. "Kemarin kamu pulang jam berapa?"
"Setengah sebelas, kan aku bilang—"
"Lebih, kan?" potong Raka, akhirnya menatapnya. "Aku bangun jam setengah dua, kamu baru masuk kamar. Kamu bilang lembur, tapi lembur sampai jam segitu?"
Alya menatap Raka, bingung. "Ada klien yang revisi dadakan, Rak. Aku bahkan kirim foto mejaku ke grup, kamu bisa cek. Kenapa tiba-tiba jadi interogasi?"
Raka diam sejenak. Ia merogoh saku dan meletakkan ponselnya di meja, layar menghadap Alya, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal.
"Kalau lembur, kenapa ada orang yang lihat kamu makan malam sama Dimas di Kemang?" tanya Raka, suaranya rendah namun bergetar. "Siapa yang kirim pesan ini? Atau lebih penting—apa yang sebenarnya terjadi kemarin?"
༺♡༻
Alya membaca pesan itu dua kali, dan wajahnya berubah dari bingung menjadi marah yang tertahan.
"Jadi kamu percaya pesan anonim dari orang yang bahkan tidak kamu kenal?" katanya, suaranya meninggi. "Sebelum bertanya padaku langsung, kamu sudah menilai dulu, ya?"
"Aku sedang bertanya sekarang," balas Raka. "Kemarin. Kamu dan Dimas. Kemang. Ada apa di sana?"
Alya menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Dimas memang mengajakku makan malam. Sebagai teman. Dia baru putus cinta, Rak, dan kita kerja bareng di proyek yang sama. Itu bukan kencan."
"Teman," Raka mengulang kata itu seperti rasanya pahit di lidah. "Teman yang bikin kamu pulang jam dua malam? Teman yang nggak kamu ceritakan sama aku? Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa disembunyikan?"
"Aku nggak menyembunyikan apa-apa!" Alya berdiri, kursinya terseret menimbulkan bunyi keras. "Aku bilang lembur karena memang aku lembur! Makan malam itu ada di tengahnya, bukan penggantinya! Dan kenapa harus aku laporkan setiap langkah ke kamu?"
"Karena kita pacaran, Alya! Karena tiga tahun lalu kita hampir hancur karena hal yang persis seperti ini!"
Keheningan menyusul teriakan Raka. Alya menatapnya lama, dan ada sesuatu yang retak di matanya.
"Jadi itu masalahnya," katanya pelan. "Kamu nggak cemburu karena kemarin. Kamu cemburu karena kemarin tiga tahun itu. Kamu nggak pernah benar-benar memaafkan aku, ya?"
Raka terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Alya benar sebagian, tapi rasa sakitnya menolak mengakuinya.