Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Pertengkaran Terbesar

Dua minggu bisa terasa seperti dua tahun ketika dihabiskan dalam keheningan. Sejak malam Alya menyimpan amplop karcis ke dalam tasnya, apartemen itu berubah menjadi wilayah netral—dua orang asing yang kebetulan tidur di bawah satu atap. Mereka bertukar sapa pagi, berbagi kulkas tanpa berbagi percakapan, dan tidur di ruangan yang sama namun berjarak seperti dua kota yang terpisah lautan.

Raka menghitung hari di kalender seperti orang menghitung sisa napas.

Kadang, pada jam-jam paling sepi, ia membayangkan percakapan yang tidak pernah terjadi—Alya tertawa di seberang meja, menceritakan bosnya yang aneh, meminta pendapatnya soal warna cat kamar. Bayangan itu makin jelas justru karena makin jauh dari kenyataan. Raka mulai lupa kapan terakhir kali Alya menatapnya lebih dari tiga detik tanpa tedung.

"Tahan dikit lagi," bisiknya pada diri sendiri setiap malam. "Dua belas hari lagi. Sepuluh hari. Sembilan." Ia tidak tahu persis apa yang ia tunggu—apakah Alya akan melempar amplop itu kembali, atau melempar senyum pertamanya setelah dua minggu.

Sembilan hari pertama, Alya pulang larut setiap malam—bukan untuk lembur, ia tahu itu. Hanya untuk tidak berada di rumah bersamanya. Tiga hari berikutnya, Raka yang memilih pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah Alya tertidur. Sisa-sisa hari-hari itu mereka lewati dengan kalimat pendek yang dingin: "Listrik udah dibayar." "Aku ambil galon ya." "Kamu makan?"

Tidak ada pertengkaran. Justru itu yang mengerikan. Raka lebih dulu pernah melihat Alya marah, pernah melihatnya menangis, pernah mendengarnya berteriak. Tapi Alya yang diam ini—Alya yang tersenyum sopan seperti resepsionis kepada tamu yang tidak disukai—membuatnya merasa sedang dipenjara tanpa dinding.

Di laci nakasnya, dua karcis ke Bandung masih tersimpan utuh, tak pernah dibuka. Raka sering memegangnya sebelum tidur, membaca tanggal keberangkatan yang tinggal dua puluh jam lagi, dan bertanya-tanya apakah ia sedang menunggu sebuah awal atau merayakan sebuah akhir.

Ia tidak tahu bahwa malam ini, di dapur apartemen yang sama, Alya berdiri membelakanginya dengan sebuah surat di tangan—sebuah surat yang isinya akan mengubah dua minggu keheningan menjadi badai yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.

༺♡༻

Alya pulang pukul delapan malam, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia memasuki apartemen dengan wajah yang tegas, seolah sudah mengambil keputusan besar. Raka sedang mencuci piring ketika suara langkahnya yang berbeda membuatnya menoleh.

"Alya? Kamu pulang awal," katanya, tak mampu menyembunyikan nada harap.

"Aku harus ngomong sama kamu," jawab Alya. Ia duduk di kursi meja makan, menaruh tas di lantai, dan menempatkan surat itu di hadapan Raka seperti meletakkan batu di atas meja. "Duduk."

Raka mengelap tangannya dengan lap, duduk perlahan. Jantungnya berdebar menahan firasat buruk. "Ada apa?"

"Kamu tahu proyek besar yang aku kerjakan sama Dimas bulan lalu?" Alya menarik napas. "Kantor pusat perusahaan klien itu di Singapura. Mereka menawariku posisi. Senior. Gaji tiga kali lipat. Mulai bulan depan."

Raka merasakan darahnya berhenti mengalir sepersekian detik. "Mulai... bulan depan? Kamu sudah terima?"

Alya menatapnya lurus-lurus. "Aku mau dengar jawaban kamu dulu. Dua minggu lalu kamu minta waktu buat membuktikan kepercayaan bisa dibangun lagi. Malam ini, aku mau tahu—apakah ada yang masih bisa dibangun, Raka? Karena kalau tidak, aku akan terima tawaran ini dan terbang bulan depan."

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau. Raka menatap surat di meja, lalu menatap Alya. Semua yang tertahan dua minggu pecah sekaligus.

"Pokoknya ini bukan keputusan final," lanjut Alya, suaranya lebih pelan namun tetap tegas. "Tawaran ini masih bisa aku tolak. Tapi aku mau tahu dulu, jujur, tanpa topeng—masih ada nggak alasan buat aku tinggal? Bukan alasan seperti rumah kontrakan atau nyicun kulkas bareng. Aku nanya soal kita, Rak. Soal kita berdua."

"Aku nggak ngerti kamu," Raka menggeleng pelan, mencoba meredam suaranya yang mulai bergetar. "Kamu datang bawa surat kepindahan ke negara lain, terus kamu tanya apakah masih ada alasan buat kamu tinggal? Kamu pikir aku mau main tebak-tebakan?"

"Aku bukan mau main tebak-tebakan! Aku capek jadi satu-satunya orang yang berani ngomongin masalah kita! Selama dua minggu ini kamu cuma diam, diam, diam! Kamu pikir diam itu berjuang? Diam itu cuma nunggu, Rak! Dan aku sudah nunggu dua minggu tanpa satu tanda dari kamu!"

Raka membuka mulut untuk membantah, tapi kata-kata Alya menghantam tepat sasaran.

"Jadi ini cara kamu mengancam aku? Pindah ke negara lain?" suaranya naik. "Setelah semua yang kita lewatin, solusimu adalah pergi sejauh mungkin?"

"Ini bukan ancaman, Rak. Ini pertanyaan. Satu pertanyaan yang pantas aku tanyakan setelah tiga tahun." Alya menyilangkan tangan, tapi matanya berkaca-kaca. "Apakah kamu masih mau berjuang untuk kita?"

Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh. "Berjuang? Aku yang berjuang dua minggu ini, Ly! Aku yang menunggu, yang berharap, yang menyimpan karcis Bandung itu seperti orang bodoh! Dan kamu datang dengan surat kepindahan? Itu namanya menyerah!"

"Atau itu namanya mencoba bertahan hidup dari hubungan yang sudah lama sakit!" balas Alya, ikut berdiri. "Kamu pikir aku nggak lihat bagaimana kamu menghitung hari di kalender? Kamu pikir aku nggak tahu kamu nungguin keberangkatan itu seperti nungguin vonis? Aku capek, Rak. Aku capek jadi orang yang harus dipercaya setiap hari. Dan malam ini aku butuh jawaban, bukan ceramah!"

༺♡༻

Raka tertawa getir, suara yang tidak ia kenali sendiri. "Jawaban? Kamu mau jawaban? Baik, aku kasih. Aku mau kita seperti dulu, Ly! Aku mau pulang kerja dan nggak harus takut kamu ada di mana sama siapa! Aku mau tidur tanpa cek ponselmu di kamar mandi! Aku mau jadi pacar, bukan pengawas!"

"Dan aku mau jadi kekasih, bukan tersangka!" balas Alya, air matanya akhirnya jatuh. "Tapi kamu sudah memilih peranku sejak tiga tahun lalu, Rak! Setiap pria yang senyum sama aku, setiap jadwalmu yang berubah, setiap pesan yang nggak langsung kamu balas—semua jadi bukti di kepala kamu! Kamu nggak pernah benar-benar percaya, dan kamu tahu kenapa?"

"Kenapa?" tantang Raka.

"Karena kamu nggak pernah benar-benar percaya sama dirimu sendiri!" teriak Alya. "Kamu takut aku ninggalin kamu untuk pria yang lebih berhasil, lebih tenang, lebih segala! Dan daripada ngakuin itu, lebih mudah buat kamu bikin aku yang salah!"

Raka mundur selangkah, tersentak seolah ditampar. "Jangan bawa-bawa itu—"

"Kenapa? Sakit?" Alya menyeka air matanya kasar. "Kita berdua tahu itu yang paling sakit. Tiga tahun lalu, saat kita renggang, aku salah karena nerima cincin dari mantanku. Tapi kamu pernah tanya kenapa aku nerima? Karena waktu itu aku nggak yakin kamu mau bertahan! Kamu dingin selama berbulan-bulan, Rak, dan aku cuma manusia yang butuh diingatkan bahwa aku berharga!"

"Aku dingin karena aku kelelahan kerja untuk masa depan kita!" Raka membenturkan telapak tangannya ke meja. "Semua yang aku lakukan, aku lakukan buat kita!"

"Tapi masa depan itu punya aku di dalamnya nggak, sih?" Alya menatapnya tajam. "Atau cuma punya versi aku yang udah kamu atur? Yang kerja deket rumah, yang nggak punya teman pria, yang selalu bisa dihubungi, yang nggak akan pernah bikin kamu cemas? Karena kalau gitu, kamu nggak sayang sama aku, Rak. Kamu sayang sama pengaturan."

Kata-kata itu menghantam Raka tepat di tempat paling rapuhnya. Amarahnya yang tadi membuncah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih panik. Ia merasa sedang kehilangan pijakan.

"Kalau memang aku segitu buruknya," katanya pelan namun tajam, "kenapa kamu bertahan tiga tahun? Kenapa kamu nggak pergi dari dulu?"

Alya diam sesaat. Saat ia menjawab, suaranya sudah tenang—dan ketenangan itu lebih mengerikan dari teriakan mana pun. "Karena aku selalu berharap kamu berubah. Tapi malam ini, dengan surat ini, aku sadar sesuatu. Aku nggak bisa menghabiskan hidupku menunggu seseorang berubah jadi orang yang cuma ada di kepalaku."

"Aku nggak minta kamu berubah!"

"Kamu minta aku membuktikan kesetiaan setiap hari! Itu perubahan, Rak! Itu bukan cinta, itu pemeriksaan!" Alya menghela napas berat. "Dan yang paling lucu—aku pernah berubah. Demi kamu. Kamu aja nggak pernah tahu."

Lihat selengkapnya