Jangan Pergi
Alya meminta Raka tidak meninggalkannya.
Udara di dalam apartemen terasa jauh lebih dingin dari biasanya, menyerap setiap sisa kehangatan yang tertinggal di antara dinding-dinding minimalis itu. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul dua pagi, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memejamkan mata. Raka berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota, sementara Alya duduk meringkuk di atas sofa panjang dengan selimut tebal melilit tubuhnya yang gemetar hebat.
"Kamu benar-benar harus pergi sekarang?" suara Alya terdengar begitu rapuh, hampir tenggelam oleh deru angin malam yang menepis kaca jendela.
Raka tidak langsung menjawab. Punggungnya masih membelakangi Alya, menatap lurus ke luar seolah mencari jawaban di antara ribuan lampu kendaraan yang melintas di jalan raya bawah sana. Keputusannya sudah bulat, tiket penerbangan ke luar negeri sudah berada di dalam saku mantelnya, namun setiap detik yang berlalu membuat beban di dadanya terasa semakin menyesakkan.
"Semuanya sudah diatur, Aly," jawab Raka dengan nada datar yang dipaksakan, berusaha menyembunyikan getaran di tenggorokannya. "Kontrak kerja itu tidak bisa ditunda lagi. Ini kesempatan besar untuk masa depan kita... masa depan yang selalu kita bicarakan bersama."
Alya menggelengkan kepala dengan cepat, matanya yang sembab menatap punggung pria itu dengan penuh keputusasaan. "Masa depan apa yang kamu maksud kalau pada akhirnya aku harus sendirian di tempat ini? Kita tidak pernah membicarakan tentang kamu yang pergi sejauh ini tanpa aku."
Raka berbalik perlahan, menatap wajah wanita yang telah menemaninya melewati separuh perjalanan hidupnya. Ada luka yang menganga di sana, luka yang ia ciptakan sendiri dengan tangannya. "Aku tidak pergi selamanya, Alya. Hanya beberapa bulan. Waktu akan berjalan cepat, dan sebelum kamu sadar, aku sudah kembali berdiri di sini."
"Waktu tidak berjalan cepat bagi orang yang ditinggalkan, Raka!" seru Alya, suaranya pecah di tengah kalimat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia melepaskan selimut yang melilit tubuhnya dan bangkit berdiri dengan langkah gemetar. "Kamu pikir menghitung hari sendirian di apartemen ini adalah hal yang mudah? Kamu pikir bayanganmu di setiap sudut ruangan ini tidak menyiksaku setiap hari?"
Raka melangkah mendekat, berniat untuk merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, namun Alya mengangkat tangan kanannya, menyuruh pria itu berhenti tepat satu langkah darinya. Jarak yang tercipta di antara mereka terasa begitu menyakitkan, jauh lebih jauh daripada ribuan kilometer jarak geografis yang akan memisahkan mereka esok hari.
"Jangan mendekat kalau pada akhirnya kamu tetap akan melangkah pergi," bisik Alya lirih, suaranya sarat akan kekecewaan yang mendalam.
"Tolong, cobalah mengerti posisiku," bujuk Raka, tatapannya menyuarakan permohonan agar Alya mau melunakkan hatinya. "Aku melakukan ini demi kita. Demi kehidupan yang lebih mapan saat kita menikah nanti. Semua pengorbanan ini ada tujuannya."
"Aku tidak pernah meminta kemapanan dengan bayaran kebersamaan kita, Raka," balas Alya tajam, menatap tepat ke dalam bola mata pria itu. "Aku hanya ingin kamu ada di sini, di sisiku, menghadapi hari-hari biasa bersama-sama. Kenapa hal sederhana itu begitu sulit untuk kamu pahami?"
°˖✧✿✧˖°
Kenyataan pahit itu menggantung di udara, membuat keheningan kembali merayap di antara mereka, kali ini terasa jauh lebih pekat dan mematikan. Raka mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, menyadari bahwa argumen rasional apapun yang ia keluarkan tidak akan pernah mampu meredakan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam diri Alya.
"Koper itu..." Alya menunjuk sebuah koper hitam besar yang berdiri tegak di dekat pintu masuk apartemen. "Koper itu seperti monster yang siap menelanmu dan membawamu menjauh dariku. Setiap kali aku melihatnya, rasanya ada bagian dariku yang ikut mati."
Raka mengikuti arah pandangan Alya, lalu menunduk menatap lantai. "Aku harus membereskannya sejak minggu lalu agar tidak terburu-buru. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tersiksa seperti ini."
"Tapi kenyataannya memang seperti itu," sahut Alya cepat, suaranya bergetar hebat. Ia melangkah mendekati koper tersebut, menyentuh permukaannya yang dingin seolah benda mati itu adalah musuh bebuyutannya. "Kamu sibuk menyiapkan keberangkatanmu, sementara aku sibuk menyiapkan mental untuk menghadapi hari-hari tanpa suara tawamu di apartemen ini."
"Alya, kumohon..." Raka menghela napas panjang, mencoba meredam rasa bersalah yang kian menghimpit dadanya. "Jangan membuat perpisahan ini menjadi semakin sulit untuk kita berdua. Aku butuh dukunganmu, bukan air mata dan kemarahan seperti ini."
Mendengar kata-kata itu, tawa sinis lolos dari bibir Alya. Ia mendongak, menatap Raka dengan sorot mata yang menyiratkan luka luar biasa. "Dukungan? Kamu menyebut penolakan hatiku sebagai kurangnya dukungan? Kamu meminta aku untuk berdiri di bandara besok pagi, melambaikan tangan dengan senyuman manis sementara hatiku hancur berkeping-keping? Itu bukan dukungan, Raka. Itu namanya siksaan."
"Bukan itu maksudku..."
"Lalu apa?" potong Alya tajam. "Kamu sudah mengambil keputusan sendiri sejak sebulan yang lalu. Kamu hanya memberitahuku sebagai bentuk formalitas, bukan untuk meminta persetujuanku. Keputusan itu sudah bulat bahkan sebelum kamu mendiskusikannya denganku."
Raka terdiam. Alya ada benarnya. Tawaran pekerjaan di luar negeri itu datang secara mendadak, dan dalam euforia kesuksesan karier pertamanya di tingkat internasional, ia memang langsung menerimanya tanpa memikirkan secara matang dampaknya terhadap hubungan mereka. Ketika ia akhirnya memberi tahu Alya, segalanya sudah diurus oleh perusahaan, menyisakan sedikit ruang untuk kompromi.
"Aku akui aku salah karena terlalu terburu-buru," kata Raka akhirnya dengan nada suaranya yang melunak, mengakui kelemahannya di hadapan wanita itu. "Tapi kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, Aly. Kalau aku menolaknya, aku akan menyesal seumur hidupku karena melewatkan peluang besar."
"Dan kalau kamu pergi, aku yang akan menyesal seumur hidupku karena membiarkanmu pergi dariku," balas Alya lirih, pertahanan terakhirnya runtuh sudah. Air mata kembali membasahi wajahnya yang pucat. Ia menjatuhkan diri kembali ke atas sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sementara tubuhnya terisak pelan.
Raka tidak tahan lagi melihat pemandangan itu. Ia melangkah cepat, mengabaikan jarak yang tadi diminta Alya, lalu berlutut di hadapan wanita tersebut. Tangannya dengan lembut menarik tangan Alya yang menutupi wajah, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Dengarkan aku," ucap Raka sungguh-sungguh, menatap lurus ke dalam mata Alya yang basah. "Tidak ada yang berubah di antara kita. Jarak itu hanya angka di atas peta. Perasaan ku padamu tidak akan pernah berkurang sedikit pun, sejauh apapun aku melangkah."
°˖✧✿✧˖°
Alya perlahan menggelengkan kepala, air matanya terus mengalir tanpa henti. "Kamu naif kalau percaya jarak tidak mengubah apa-apa, Raka. Waktu yang berbeda, lingkungan yang baru, kesibukan yang menyita seluruh perhatian... semua itu perlahan-lahan akan mengikis kita. Kita akan menjadi orang asing bagi satu sama lain."
"Kita bukan pasangan yang labil, Alya," sanggah Raka, berusaha meyakinkan wanita itu sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. "Kita sudah melewati banyak hal bersama selama lima tahun ini. Apakah keyakinanmu pada kita serapuh itu?"
"Ini bukan soal keyakinan!" seru Alya, suaranya kembali meninggi karena frustrasi. "Ini soal kenyataan hidup sehari-hari. Siapa yang akan menemanimu saat kamu sakit di sana? Siapa yang akan mendengarkan keluh kesahmu setelah lelah bekerja seharian? Bukan aku, Raka. Orang lain yang akan mengisi ruang-ruang itu, bukan aku."
Raka tertegun mendengar kejujuran yang terlontar dari bibir Alya. Ketakutan terbesar wanita itu ternyata bukan sekadar kesepian, melainkan ketakutan akan kehilangan tempat di dalam hidup Raka. Rasa bersalah kembali mencengkeram hatinya dengan kuat, membuatnya menyadari bahwa ambisi kariernya telah mengorbankan rasa aman yang selama ini ia berikan kepada Alya.
"Tidak akan ada orang lain," ucap Raka tegas, jemarinya menggenggam jemari Alya yang terasa dingin. "Hatiku sudah sepenuhnya milikmu. Tidak ada ruang bagi siapapun di sana. Percayalah padaku."
"Kepercayaan itu mahal harganya, Raka, dan sulit untuk dikembalikan kalau sudah retak," bisik Alya dengan suara serak. Ia menarik tangannya pelan dari genggaman Raka, lalu membuang muka ke arah jendela. "Aku lelah merasa cemas setiap kali ponselku berdering. Aku lelah membayangkan skenario-skenario buruk di kepalaku setiap kali kamu terlambat membalas pesan."
"Kalau begitu, ikutlah denganku," ucap Raka tanpa berpikir panjang, sebuah kalimat yang sebenarnya sudah lama ia simpan namun ragu untuk diucapkan karena berbagai pertimbangan logis.
Alya menoleh dengan cepat, menatap Raka dengan mata terbelalak kaget. "Ikut? Maksudmu... meninggalkan pekerjaanku di sini, meninggalkan keluargaku, dan mengekor di belakangmu seperti bayangan?"