Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

Aku Lelah Dicemburui

Aku Lelah Dicemburui

Alya mengungkapkan luka yang selama ini dipendam.

Malam beranjak larut, menyisakan bias lampu kota yang menembus kaca jendela apartemen Raka. Suasana di dalam ruangan itu terasa pengap, meskipun pendingin udara berdengung lembut di sudut plafon. Raka berdiri di depan meja dapur, menuangkan air mineral ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Pikirannya dipenuhi oleh kilas balik kejadian sore tadi di galeri seni, tempat di mana Alya tampak berbincang akrab dengan rekan kerjanya yang bernama Dimas.

Pintu apartemen terbuka, dan Alya melangkah masuk sambil melepaskan tas kerjanya di atas sofa. Wajah wanita itu menyiratkan kelelahan setelah seharian penuh mengurus pameran arsitektur.

"Kamu baru pulang, Al?" tanya Raka tanpa membalikkan badan, nadanya terdengar kaku dan dingin.

Alya menghela napas lelah, melepas sepatu hak tingginya. "Iya, Ka. Macet banget di jalan tadi. Kamu udah makan?" tanya Alya balik, mencoba mencairkan suasana dengan senyuman tipis.

Raka meletakkan gelasnya di atas meja pantry, lalu berbalik menatap Alya tajam. "Tadi sore aku ke galeri. Aku lihat kamu sama Dimas ketawa-tawa di dekat koridor pameran. Sebenernya apa sih hubungan kamu sama dia?"

Senyuman di wajah Alya seketika lenyap. Kelopak matanya mengerjap perlahan, menyerap tuduhan yang terlontar begitu saja dari mulut pria yang dicintainya. "Kamu merhatiin aku dari jauh lagi, Ka? Kamu ngikutin aku ke galeri?"

"Bukannya ngikutin, aku cuma kebetulan lewat sana," sangkal Raka cepat, meski nada suaranya justru meninggi. "Tapi yang aku lihat bukan kebetulan, Al. Kalian keliatan deket banget. Dia bahkan nyentuh bahu kamu waktu kalian ngobrol."

Alya melangkah mendekat, menatap manik mata Raka dengan rasa tidak percaya. "Dia cuma ngebantu aku nentuin layout tata letak galeri, Raka! Nggak ada apa-apa di antara kita selain urusan pekerjaan!"

"Pekerjaan atau bukan, gerak-gerik kalian udah kelewatan!" bentak Raka, emosinya meledak begitu saja. "Aku nggak suka pacar aku terlalu akrab sama pria lain di belakang aku!"

Alya tertegun, mundur selangkah seolah mendapat hantaman fisik. Napasnya mulai memburu, dan dadanya bergemuruh menahan amarah serta rasa sesak yang teramat sangat. Tuduhan cemburu buta ini bukan yang pertama kali terjadi; hal serupa sudah berulang kali menghantam hubungan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Benteng kesabaran Alya yang selama ini dijaga rapat-rapat mulai retak, memicu luapan emosi yang siap meledak kapan saja.

°˖✧✿✧˖°

Ketegangan di ruang tamu semakin pekat. Raka masih berdiri dengan lengan bersilang di dada, menampakkan raut wajah keras yang enggan mengalah.

"Kamu selalu bersikap berlebihan setiap kali aku dekat sama rekan kerja pria, Ka," ucap Alya dengan suara bergetar, menahan air mata yang mendesak keluar. "Pertama Ardi, lalu Kevin, dan sekarang Dimas. Nggak ada habisnya kecurigaan kamu!"

"Aku curiga karena aku peduli, Al!" sahut Raka membela diri, menatap Alya lurus-lurus. "Sebagai pria, aku tahu cara pria lain memandang perempuan. Aku nggak mau kekasih aku didekati sembarangan."

"Peduli atau posesif?!" seru Alya, suaranya naik satu oktav memecah kesunyian malam apartemen. "Ada beda tipis antara rasa sayang sama kekangan, Raka! Dan kamu udah melewati batas itu sejak lama!"

Raka mendengus sinis, membuang muka ke arah jendela. "Oh, jadi sekarang aku dituduh mengekang kamu? Hebat. Padahal aku cuma minta kamu bisa jaga batasan diri di depan umum."

Alya menggelengkan kepalanya perlahan, jemarinya mengepal erat di sisi tubuhnya. Rasa kecewa yang tertahan selama berbulan-bulan kini mendesak naik ke kerongkongannya. "Jaga batasan? Aku selalu menjaga sikap aku, Raka. Tapi mata kamu yang dipenuhi rasa cemburu selalu melihat segalanya secara salah!"

"Jangan membela diri, Alya!" potong Raka tajam. "Faktanya kamu memang terlalu ramah sama mereka!"

"Karena aku seorang arsitek dan desainer, Raka! Pekerjaan aku menuntut aku buat berinteraksi sama banyak orang!" teriak Alya, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Kalau kamu nggak bisa percaya sama profesi aku dan interaksi sosial aku, kenapa dari awal kamu pacaran sama aku?!"

Pertengkaran hebat ini menandai titik plot pertama di mana akar permasalahan hubungan mereka terkuak secara transparan. Bukan lagi soal Dimas atau pria lainnya, melainkan rasa cemburu toksik yang dipelihara Raka dan mulai mencekik kebebasan bernapas Alya dalam menjalani hari-harinya.

°˖✧✿✧˖°

Hari-hari berikutnya di studio dipenuhi oleh kecanggokan yang menyiksa. Raka dan Alya memilih saling mendiamkan diri, bekerja dalam batas profesionalitas yang sangat kaku. Setiap kali berpapasan di lorong kantor atau ruang rapat, keduanya langsung membuang muka.

Sore itu, Alya sedang merapikan beberapa maket bangunan di meja kerjanya ketika Raka melangkah masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Pria itu membawa selembar dokumen cetak konfirmasi perjalanan dinas.

"Al, akhir minggu ini kamu harus berangkat ke Bandung buat survei lokasi proyek baru," kata Raka dengan nada datar tanpa ekspresi.

Alya mendongak, menatap lembaran kertas di tangan Raka sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. "Kenapa harus aku? Bukannya jadwal survei itu bisa dipegang sama tim lapangan yang lain?"

"Tim lapangan lagi fokus ke proyek pusat perbelanjaan," jawab Raka dingin. "Kamu arsitek utamanya, jadi kamu yang paling paham detail strukturnya."

Lihat selengkapnya