Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Perpisahan Sementara

Perpisahan Sementara

Mereka memutuskan mengambil jarak.

Angin malam berembus kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke balik jaket kulit Raka. Di dalam ruang tamu rumah konveksi yang sempit, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada bunyi mesin jahit yang berderit, yang terdengar hanyalah detik jam dinding tua dan napas berat yang saling bersahutan di antara mereka berdua. Raka duduk menunduk di atas sofa usang, kedua tangannya menangkup wajahnya yang terlihat begitu lelah dan hancur, sementara Alya berdiri kaku di dekat jendela, menatap kosong ke luar jalanan yang basah oleh sisa hujan sore tadi.

"Kamu dengar sendiri apa kata Budi tadi di telepon, Alya," ucap Raka memulai pembicaraan, suaranya parau dan bergetar hebat menahan amarah yang membuncah di dalam dadanya. "Faris bukan cuma saingan bisnis yang kotor. Dia adalah kriminal yang nekat membakar habis gudang kita di Desa Pesisir!"

Alya perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Raka dengan mata yang menyisakan genangan air mata. "Aku tahu, Raka... aku juga sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka Faris bisa berbuat sekeji itu hanya karena rasa sakit hati dan ambisinya yang tidak kesampaian padaku."

"Ini bukan lagi soal persaingan sehat di dunia mode, Alya," tukas Raka tajam, mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Alya. "Ini sudah menyangkut keselamatan jiwa kita, keselamatan para perajin di desa, dan kelangsungan hidup usaha yang kita bangun dengan darah dan keringat!"

"Lalu apa rencana yang ada di kepala batukmu sekarang, Raka?" tanya Alya lirih, melangkah mendekati sofa tempat Raka duduk. "Kamu mau mendatangi apartemen Faris dan menghajarnya habis-habisan? Kamu mau membuat keributan yang justru akan menjebakmu ke dalam penjara?"

"Kalau itu satu-satunya cara agar dia jera dan membayar semua kerugian kita, akan kulakukan!" bentak Raka setengah emosi, berdiri mendadak hingga sofa di belakangnya berderit keras.

"Jangan bodoh, Raka!" teriak Alya, suaranya meninggi mencerminkan kepedihan dan ketakutan yang teramat sangat. "Kalau kamu menggunakan kekerasan, kamu sedang masuk ke dalam perangkap yang sengaja dia pasang untuk menghancurkanmu secara hukum! Faris punya koneksi, dia punya uang untuk menyewa pengacara terbaik!"

"Jadi aku harus diam saja?!" balas Raka, mendekati Alya dengan tatapan menyala. "Aku harus membiarkan pria brengsek itu berkeliaran bebas setelah merusak semua impianku di depan matamu?!"

"Bukan itu maksudku!" tangis Alya pecah, air matanya tumpah membasahi pipinya. "Tapi bukan dengan cara emosional seperti ini kita menghadapinya, Raka! Kita serahkan semuanya pada pihak kepolisian! Biar hukum yang menghukum Faris!"

Raka tertawa hambar, sebuah tawa penuh keputusasaan dan kepahitan. "Polisi? Kamu percaya polisi bisa bergerak cepat tanpa ada tekanan dari keluarga besarmu, Alya? Kamu lupa siapa keluarga Faris? Mereka adalah kolega bisnis terpandang di kota ini!"

Mendengar ucapan Raka, Alya tertegun mundur satu langkah. Hatinya seperti disayat sembilu mendengar nada curiga yang kembali terpancar dari suaranya. "Jadi... kamu masih meragukanku? Kamu masih mengira aku akan melindungi Faris?"

Raka menyadari kesalahannya begitu melihat luka mendalam di mata Alya, namun egonya yang kadung tersulut emosi membuatnya sulit meredam kata-kata selanjutnya. "Bukan itu maksudku, Alya... tapi situasi ini membuat kita tidak bisa berpikir jernih lagi."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di ruangan itu mendadak senyap, menyisakan ketegangan yang kian mengental di antara Raka dan Alya. Pertengkaran demi pertengkaran yang terus menerus terjadi dalam sebulan terakhir seolah menggerogoti fondasi cinta yang susah payah mereka bangun. Raka kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa, memijat pelipisnya yang berdenyut pening, sementara Alya menghapus air matanya dengan punggung tangan, menatap pria di hadapannya dengan tatapan asing.

"Raka," bisik Alya dengan suara yang sangat tenang, namun justru terdengar lebih menakutkan daripada sebuah bentakan. "Kita sudah lelah."

Raka mendongak, menatap Alya dengan kening berkerut. "Apa maksudmu?"

"Kita berdua sama-sama lelah," ulang Alya, melangkah pelan mendekati meja kerja Raka untuk mengambil tas tangan dan syal miliknya. "Setiap kali masalah datang, kita bukannya saling merangkul dan mencari solusi bersama, tapi kita malah saling menyerang, saling mencurigai, dan melukai satu sama lain dengan kata-kata."

"Alya, jangan bicara seperti itu," cegah Raka, berdiri dari tempat duduknya dan mencoba melangkah mendekati Alya. "Aku sedang kalut. Kebakaran itu, ancaman Faris... semuanya membuatku gila."

Alya mengangkat tangannya, mengisyaratkan Raka untuk tidak mendekat. "Aku juga gila, Raka. Aku gila karena setiap hari harus menghadapi ketakutan kalau-kalau kamu akan meledak lagi, kalau-kalau egomu akan kembali merendahkan pengorbananku."

"Aku tidak bermaksud merendahkanmu, Alya! Aku hanya ingin melindungi harga diriku sebagai pria!" bela Raka dengan nada putus asa.

"Harga dirimu selalu menjadi dinding tertinggi di antara kita, Raka!" seru Alya, suaranya bergetar menahan isak tangis yang mendera dadanya. "Setiap kali kita melangkah maju satu langkah, ego dan ketakutanmu selalu menarik kita mundur dua langkah ke belakang. Hubungan ini... hubungan kita sudah tidak sehat lagi."

Raka terpaku mendengar kalimat itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Kamu... kamu mau mengakhiri semua ini? Kamu mau meninggalkan aku?"

Alya menelan ludahnya susah payah, menatap Raka dengan pandangan penuh luka dan kerinduan yang bercampur aduk menjadi satu. "Bukan mengakhiri, Raka... tapi kita butuh jarak. Kita butuh waktu untuk mendinginkan kepala dan menata kembali hati kita masing-masing."

"Jarak?" ulang Raka tak percaya. "Alya, kita sedang menghadapi ancaman besar dari Faris! Ini bukan saatnya untuk mengambil jarak!"

"Justru karena ancaman inilah kita harus mengambil jarak, Raka," tegas Alya, memegang erat tali tas tangannya. "Kalau kita terus bertahan dalam kondisi emosi yang hancur seperti ini, kita berdua hanya akan saling menghancurkan dari dalam sebelum Faris sempat menyentuh kita."

"Aku tidak bisa kalau harus berjauhan darimu, Alya!" rintih Raka, melangkah maju dan meraih kedua tangan Alya dengan erat. "Kamu adalah satu-satunya alasan aku bertahan di kota ini! Kalau kamu pergi, aku tidak punya apa-apa lagi!"

Alya menatap tangan Raka yang menggenggam jemarinya, lalu perlahan namun pasti melepaskan genggaman itu. "Kamu masih punya usahamu, Raka. Kamu punya impianmu yang harus kamu buktikan. Tapi untuk saat ini... biarkan aku pulang ke rumah ayahku. Biarkan aku menenangkan diri selama beberapa minggu ke depan."

Raka menggelengkan kepalanya pelan, air mata pria itu akhirnya tumpah juga. "Ini hukuman buatku, kan? Kamu menghukumku atas semua kebodohanku kemarin?"

Lihat selengkapnya