Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #63

Hari-Hari Tanpa Alya

Hari-Hari Tanpa Alya

Raka merasakan kehampaan.

Kehampaan itu tidak datang seperti badai gemuruh yang menghantam dada dengan benturan keras, melainkan merayap pelan bagai kabut dingin yang memenuhi setiap sudut apartemennya. Setiap sudut ruangan menyimpan jejak keberadaan Alya yang enggan pudar dari ingatan. Cangkir keramik biru bermotif bunga matahari yang retak sedikit di bagian gagangnya masih bertengger bisu di atas meja kerja kayu. Kuas-kuas lukis dalam wadah kaca tua, sketsa wajah Raka setengah jadi yang ditinggalkan begitu saja di atas kanvas berkain blacu, serta aroma minyak lavender yang samar-samar masih tertinggal di bantal sofa lusuh.

"Ka, kamu belum menyentuh makananmu sejak tadi siang," tegur Dion seraya meletakkan sebungkus nasi padang yang mulai dingin di atas meja kaca. Dion memandangi sahabatnya dengan tatapan khawatir yang teramat sangat dalam.

Raka tidak bergeming sedikit pun. Tatapan matanya yang sayu tertuju lurus pada jendela kaca luar yang basah disiram gerimis sore kota Jakarta yang tak kunjung reda. "Dia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun, Yon. Apakah aku membuat kesalahan yang begitu besar dalam hubungan ini sampai dia harus menghilang bagaikan asap ditelan angin malam?"

"Alya punya alasannya sendiri, Raka. Kamu kenal dia melebihi siapa pun di dunia ini. Alya bukan tipe perempuan yang lari dari masalah tanpa pertimbangan yang matang," jawab Dion dengan suara pelan namun menenangkan. Ia menarik kursi kayu dan duduk persis di hadapan Raka. "Mungkin ini bukan tentang kamu. Mungkin ini tentang rahasia masa lalu keluarganya yang selama ini selalu coba dia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang."

"Tapi kenapa harus sekarang?" Raka memutar tubuhnya cepat, matanya memerah menahan gejolak emosi yang terpendar selama tiga hari terakhir. "Kami baru saja merencanakan pameran seni bersama untuk bulan depan. Kami membicarakan masa depan dan impian kami minggu lalu di kedai kopi. Dan kemarin, saat aku datang ke studionya di Kebayoran, pintunya terkunci rapat dengan gembok besi besar. Ponselnya mati total tanpa sinyal. Ibu kosnya hanya bilang bahwa Alya membawa satu koper hitam besar tepat sebelum fajar menyingsing."

Dion menghela napas panjang dan berat. "Kemarin malam, aku sempat mampir ke kafe kecil di sudut jalan tempat Alya biasa mengerjakan sketsa lukisannya. Mas Danu, manajer kafe itu, memberikan sesuatu padaku. Dia bilang Alya menitipkannya beberapa jam sebelum dia pergi meninggalkan kota ini."

Jantung Raka berdegup kencang seketika, dadanya bergemuruh parah. "Sesuatu? Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang padaku, Dion?"

"Karena aku ingin memastikan kamu dalam kondisi cukup tenang untuk menerimanya," Dion merogoh saku dalam jaket kulit hitamnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel lilin merah tua. "Alya berpesan khusus pada Danu, amplop ini hanya boleh diberikan kepadamu jika dalam waktu tiga hari dia benar-benar tidak kembali ke studio."

Raka merebut amplop itu dari tangan Dion dengan jemari yang gemetaran hebat. Jari-jemarinya membelai lembut tulisan tangan Alya yang sangat ia kenali—rapi, sedikit miring ke kanan, dengan tinta hitam pekat. Di bagian depan amplop itu tertulis namanya: *Untuk Raka, Penjaga Mimpiku*.

"Bukalah sekarang," bisik Dion halus seraya menepuk bahu sahabatnya. "Mungkin jawaban dari segala pertanyaan yang menyiksa batinmu selama tiga hari ini ada di dalam sana."

Raka menelan ludah yang terasa begitu pahit di kerongkongan. Kehampaan yang menyiksanya kini bertransformasi menjadi gelombang rasa cemas yang sangat membakar jiwa. Selama beberapa detik yang menegangkan, ia hanya mampu menatap amplop cokelat di tangannya, merasa takut jikalau isinya akan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ia genggam erat-erat.

"Bagaimana jika tulisan ini adalah ucapan selamat tinggal yang abadi darinya?" tanya Raka lirik, suaranya bergetar parau dan pecah.

"Maka kamu harus mengetahuinya sekarang daripada hidup dalam ketidakpastian yang membunuhmu pelan-pelan," sahut Dion dengan nada tegas dan pasti. "Buka amplop itu, Raka. Hadapi kenyataan itu seperti pria sejati."

Dengan jemari yang dingin dan hati yang berdebar kencang, Raka perlahan merobek pinggiran amplop cokelat tersebut, menyibak lembaran kertas misterius yang siap mengubah arah jalan takdir kehidupan mereka berdua selamanya.

°˖✧✿✧˖°

Di dalam amplop cokelat tebal itu, terdapat sebuah tiket kereta api komuter kelas eksekutif tujuan Stasiun Hall Bandung untuk jadwal keberangkatan sore ini tepat pukul 15.00 WIB, beserta selembar kertas memo berwarna krem yang beraroma wangi mawar samar.

Raka membukanya dengan tergesa-gesa dan membaca deretan kalimat pendek yang ditulis Alya dengan goresan pena yang bergetar:

*“Raka sayang, maafkan aku karena harus pergi tanpa berani mengucapkan pamit secara langsung di hadapanmu. Jika kamu masih percaya padaku dan ingin memahami alasan di balik semua kebohongan ini, datanglah ke Stasiun Hall Bandung pukul tiga sore ini. Aku akan menunggumu di dekat menara jam tua peron utama. Jangan pernah mengajak siapa pun, termasuk Dion. Ada mata-mata yang selalu mengawasi gerak-gerik kita. Jika kamu tidak muncul sebelum jam empat sore, anggaplah kita tidak pernah bertemu dalam kehidupan ini. — Alya.”*

"Apa isi tulisan di kertas itu, Ka?" tanya Dion penasaran sambil mencoba mengintip kertas memo di tangan Raka.

Raka segera melipat memo itu rapat-rapat dan memasukkannya ke saku kemeja bagian dalam. "Tiket kereta ke Bandung. Keberangkatan sore ini pukul tiga tepat."

"Bandung?" Dion mengerutkan dahi dengan raut cemas. "Untuk apa Alya menyuruhmu pergi ke Bandung secara mendadak begini? Ini terasa berbahaya, Raka. Kamu ingat pria kaya bernama Broto yang mengancam studio Alya minggu lalu?"

"Aku tidak peduli apakah ini jebakan atau bahaya, Yon," tegas Raka sambil meraih jaket dan kunci mobilnya di atas meja. "Gagasan hidup tanpa tahu keberadaan Alya jauh lebih menakutkan daripada seluruh ancaman Pak Broto di dunia ini."

"Tapi kamu tidak boleh pergi sendirian tanpa persiapan!" seru Dion menahan lengan Raka.

"Alya mewanti-wanti dengan tegas agar aku datang sendiri," jawab Raka menatap lurus mata sahabatnya. "Tolong jaga rumah ini, Dion. Jika sampai pukul delapan malam nanti aku belum memberikan kabar, baru kamu boleh bertindak mencari bantuan."

"Janji padaku kamu akan berhati-hati, Ka!" panggil Dion dari pintu.

"Aku janji, Yon!" seru Raka tegas.

Tanpa menunggu balasan lagi, Raka berlari menuruni anak tangga menuju area parkiran. Gerimis di luar telah berganti menjadi hujan deras yang mengguyur Jakarta, mengiringi langkah terburu-burunya menuju Stasiun Gambir. Di dalam mobil yang melaju kencang, ia mencoba menekan tombol panggilan ke nomor Alya sekali lagi. Namun suara operator yang dingin kembali terdengar: *Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.*

"Bertahanlah sebentar lagi, Alya," bisik Raka pada dirinya sendiri seraya menekan pedal gas lebih dalam menembus kemacetan kota. "Aku pasti datang untukmu."

°˖✧✿✧˖°

Kereta Argo Parahyangan meluncur cepat menembus rintik hujan deras dan deretan perbukitan hijau menuju kota Bandung. Raka duduk bersandar di kursi nomor 8A dekat jendela kaca, menatap dentingan air hujan yang membasahi kaca dengan benak yang terombang-ambing oleh spekulasi liar.

"Permisi, apakah kursi di samping Anda ini kosong?" sebuah suara wanita berbusana blazer formal memecah heningnya lamunan Raka.

Raka menengadah kaget lalu mengangguk pelan. "Ya, silakan duduk, Mbak."

Wanita berkacamata elegan itu duduk merapikan mantelnya. Setelah beberapa menit keheningan tercipta di antara mereka, wanita itu tiba-tiba menoleh dan berbisik pelan, "Kamu Raka, kan? Pelukis muda kekasih Alya?"

Raka terperanjat hebat, tubuhnya menegak seketika dengan kewaspadaan tinggi. "Siapa Anda sebenarnya? Bagaimana bisa Anda mengenali wajahku?"

Lihat selengkapnya