༺♡༻ Rumah yang Terasa Sepi ༺♡༻
Ada kehilangan yang tidak ditandai dengan kepergian seseorang, melainkan dengan berubahnya suasana rumah setelahnya.
Pagi itu, rumah Alya terasa lebih luas daripada biasanya.
Bukan karena ada perabotan yang dipindahkan atau ruangan yang diperbesar. Rumah itu tetap sama. Sofa putih masih berada di ruang keluarga. Lukisan bunga masih tergantung di dinding. Meja makan masih menyimpan vas kecil berisi bunga segar yang setiap pagi diganti oleh asisten rumah tangga.
Namun, ada sesuatu yang hilang.
Sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diganti, dan tidak bisa dikembalikan hanya dengan menata ulang ruangan.
Alya duduk sendirian di meja makan.
Di hadapannya, secangkir teh hangat mulai kehilangan uap. Sepiring roti panggang masih utuh. Ia sudah duduk hampir dua puluh menit, tetapi belum menyentuh sarapannya.
Biasanya, pagi seperti ini akan dipenuhi suara Arga.
Entah suara langkahnya ketika turun dari tangga, suara kursi yang ditarik, atau sapaan sederhana yang selalu berhasil membuat Alya tersenyum.
“Selamat pagi, calon istriku.”
Dulu, Alya sering berpura-pura kesal mendengar panggilan itu.
“Jangan mulai pagi-pagi, Arga.”
Lalu Arga akan tertawa.
Sekarang, tidak ada siapa-siapa.
Alya menatap kursi kosong di seberang meja.
Kursi yang beberapa waktu lalu pernah diduduki Arga ketika mereka sarapan bersama.
Ia masih ingat bagaimana laki-laki itu selalu mengambil potongan buah dari piringnya.
“Arga, itu punya aku.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa diambil?”
“Karena punya kamu biasanya lebih enak.”
Alya tersenyum kecil mengingatnya.
Namun, senyum itu segera hilang.
Ia menunduk, meremas ujung lengan bajunya.
“Kenapa aku masih mengingat semuanya?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Alya akhirnya mengambil cangkir teh, tetapi tangannya berhenti sebelum menyentuh bibir.
Ia mengembalikannya ke meja.
Hari itu, ia menyadari bahwa rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman baginya kini justru menjadi tempat paling sulit untuk ditinggali.
Bukan karena rumah itu berubah.
Melainkan karena seseorang yang membuatnya terasa seperti rumah tidak lagi berada di sana.
༺♡༻
Setelah sarapan yang tidak benar-benar ia nikmati, Alya berjalan menuju ruang keluarga.
Ia membawa sebuah buku, berharap dapat mengalihkan pikirannya. Namun, baru beberapa halaman dibaca, matanya kembali tertuju pada meja kecil di dekat sofa.
Di atas meja itu terdapat sebuah kotak hadiah berwarna biru tua.
Kotak yang pernah diberikan Arga kepadanya.
Alya menatapnya cukup lama.
Kemudian ia meraih kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang tipis berwarna emas putih dengan liontin kecil berbentuk hati.
Alya mengeluarkannya perlahan.
Kenangan kembali datang.
“Kenapa gelang?” tanyanya ketika Arga memberikan hadiah itu.
“Karena aku ingin kamu selalu membawa sesuatu dariku.”
“Kalau aku tidak memakainya?”
“Aku akan kecewa.”
“Berarti aku harus memakainya?”
Arga tersenyum.
“Tidak harus. Tapi kalau kamu memakainya, aku akan senang.”
Alya menatap gelang itu.
Dulu, benda kecil tersebut membuatnya merasa begitu dicintai.
Sekarang, benda itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Ponselnya berdering.
Alya terkejut.
Ia meletakkan gelang itu di meja, lalu mengambil ponselnya.
Panggilan dari ibunya.
“Iya, Bu?”
“Sayang, kamu sudah sarapan?”
“Sudah.”
“Benar-benar sudah?”
Alya melirik roti yang masih utuh.
“Sudah, Bu.”
Ibunya terdiam sebentar.
“Kamu terdengar sedih.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Alya.”
Satu kata itu cukup membuat pertahanan Alya melemah.
Ia memejamkan mata.
“Iya, Bu?”
“Kamu masih memikirkan Arga?”
Alya tidak langsung menjawab.
Di seberang telepon, ibunya menghela napas.
“Tidak apa-apa kalau masih memikirkannya.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu bilang tidak apa-apa?”
Alya menunduk.
“Karena aku tidak ingin Ibu khawatir.”
“Ibu akan tetap khawatir kalau kamu terus menyembunyikan perasaanmu.”
Alya menggigit bibir.
“Bu…”
“Iya, Sayang?”
“Apa rumah bisa terasa berbeda hanya karena seseorang tidak ada?”
Ibunya terdiam.
Kemudian menjawab dengan suara lembut.
“Bisa.”
“Kenapa?”
“Karena rumah bukan hanya dinding dan perabotan. Rumah juga menyimpan kebiasaan, suara, dan kenangan.”
Alya menatap ruang keluarga.
“Kalau begitu, bagaimana cara membuatnya terasa seperti dulu lagi?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
“Tidak semua hal harus terasa seperti dulu lagi, Alya.”
Alya menunduk.
“Kenapa?”
“Karena kamu juga sedang berubah.”
Air mata Alya mulai menggenang.
Ibunya melanjutkan,
“Yang penting bukan memaksa rumah itu kembali seperti dulu. Yang penting, kamu belajar merasa nyaman di dalamnya, meskipun keadaan sudah berubah.”
Alya mengusap sudut matanya.
“Aku sedang mencoba, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Kadang aku merasa bersalah.”
“Bersalah karena apa?”
“Karena masih mencintai Arga.”
Ibunya terdiam.
“Alya, mencintai seseorang bukan kesalahan.”
“Tapi kalau cinta itu membuatku terus sedih?”
“Perasaanmu tidak salah. Yang perlu kamu jaga adalah bagaimana kamu menghadapi perasaan itu.”
Alya menarik napas.
“Aku ingin bisa bangun pagi tanpa langsung mengingatnya.”
“Suatu hari nanti, mungkin kamu bisa.”
“Kapan?”
“Tidak ada yang tahu.”
Alya tersenyum getir.
“Jawaban Ibu selalu begitu.”
“Karena Ibu tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak bisa Ibu pastikan.”
Hening.
Kemudian ibunya berkata,
“Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Jangan merasa harus kuat setiap waktu.”
Alya menutup mata.
“Baik, Bu.”
“Dan makan siang nanti jangan lupa.”
Alya tertawa kecil.
“Iya, Bu.”
Panggilan berakhir.
Alya meletakkan ponsel.
Namun, sebelum ia sempat mengambil buku, sebuah pesan masuk.
Dari Arga.
Arga: Kamu sudah makan?
Alya membeku.
Matanya tertuju pada layar.
Pesan itu sederhana.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada kata-kata besar.
Hanya pertanyaan yang dulu begitu biasa, tetapi kini terasa seperti sesuatu yang sangat ia rindukan.
Alya mengetik balasan.
Sudah.
Ia berhenti.
Kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi.
Sudah, kamu?
Jarinya menggantung di atas tombol kirim.
Ia menghapus kembali.
Akhirnya, Alya mematikan layar ponselnya.
Namun, pesan itu sudah cukup untuk membuat pagi yang sepi terasa semakin berat.
Karena terkadang, satu kalimat sederhana dari seseorang yang kita rindukan mampu membuka seluruh kenangan yang selama ini berusaha kita tutup.
༺♡༻
Siang hari, Alya mencoba melakukan hal-hal yang biasanya ia sukai.
Ia membuka lemari pakaian, memilih sebuah gaun sederhana, lalu menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Setelah itu, ia turun ke dapur dan membantu menyiapkan makan siang.
Asisten rumah tangga yang sedang menata bahan makanan menoleh.
“Nona Alya, biar saya saja.”
Alya menggeleng.
“Tidak apa-apa, Bu Sari. Aku ingin membantu.”
“Baik, Nona.”
Alya mengambil beberapa sayuran.
Tangannya bergerak memotong wortel, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di dapur.
Ia teringat satu sore ketika Arga pernah mencoba memasak bersamanya.
“Kamu yakin bisa?” tanya Alya.
“Aku bisa memasak.”
“Memasak mi instan bukan berarti bisa memasak.”
Arga tertawa.
“Kalau begitu, ajari aku.”
Alya menggeleng sambil tersenyum.
“Kamu ini anak konglomerat, tetapi tidak tahu cara memotong bawang.”
“Aku tahu cara memotong bawang.”
“Coba.”
Arga mengambil pisau.
Beberapa menit kemudian, potongan bawang itu justru berukuran tidak beraturan.
Alya tertawa sampai matanya berair.
“Ya ampun, Arga!”
“Apa?”
“Ini bawang atau potongan batu?”
“Yang penting rasanya.”
“Kalau rasanya juga tidak enak?”
“Berarti kamu harus tetap memakannya.”
Alya tersenyum ketika mengingatnya.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Pisau di tangannya berhenti.
Bu Sari memperhatikan.
“Nona?”
Alya tersentak.
“Iya?”
“Tidak apa-apa?”
Alya menunduk.
“Tidak apa-apa.”
Bu Sari tidak memaksa.
Tetapi ketika Alya kembali memotong sayuran, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak tahu mengapa kenangan sekecil itu terasa begitu menyakitkan.
Mungkin karena ia tidak hanya merindukan Arga.
Ia merindukan dirinya sendiri ketika masih bisa tertawa tanpa memikirkan kemungkinan kehilangan.
---
Setelah makan siang, Alya menerima kunjungan Nayla.
Nayla datang tanpa pemberitahuan panjang, membawa dua kotak makanan dan sebuah tas kecil.
“Assalamu'alaikum!”
Alya yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh.
“Wa'alaikumussalam.”
Nayla berjalan mendekat.
“Aku membawa makanan.”
Alya tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Karena aku tahu kamu pasti tidak makan dengan benar.”
“Aku sudah makan.”
“Benarkah?”
Alya mengangguk.
Nayla menatapnya dengan curiga.
“Berapa banyak?”
Alya terdiam.
Nayla menghela napas.
“Nah.”
“Aku benar-benar sudah makan.”
“Kalau begitu, makan lagi tidak akan membuatmu rugi.”
Nayla meletakkan kotak makanan di meja.
Alya tersenyum kecil.
“Kamu seperti Ibu.”
“Bagus. Berarti aku bisa dipercaya.”
Mereka duduk berdampingan.
Nayla membuka kotak makanan.
“Ini sup ayam. Masih hangat.”
Alya menatapnya.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Makan.”
Alya mengambil sendok.
Namun, baru satu suapan, ia berhenti.
Nayla memperhatikannya.
“Alya?”
“Iya?”
“Kamu benar-benar baik-baik saja?”
Alya menunduk.
“Kenapa semua orang menanyakan itu?”
“Karena wajahmu seperti orang yang belum tidur tiga malam.”
Alya tersenyum getir.
“Aku tidur.”
“Tidur berapa jam?”
“Tidak tahu.”
Nayla menghela napas.
“Alya.”
Alya meletakkan sendok.
“Aku hanya sedang lelah.”
“Karena Arga?”
Alya terdiam.
Nayla tidak langsung melanjutkan.
Ia memberi Alya waktu.
Akhirnya Alya berkata,
“Rumah ini terasa sepi.”
Nayla menatapnya.
“Sepi?”
Alya mengangguk.
“Padahal banyak orang di sini. Ada Bu Sari, ada yang menjaga rumah, ada Ibu yang sering menelepon. Tapi tetap saja terasa sepi.”
Nayla menunduk.
“Aku mengerti.”
“Benarkah?”
“Tidak sepenuhnya. Tapi aku tahu rasanya ketika seseorang yang biasanya ada tiba-tiba tidak ada.”
Alya menatapnya.
“Arga masih ada.”
“Iya.”