Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Foto Lama

Sepuluh bulan. Itu jarak waktu antara malam Alya menutup pintu apartemen dan undangan pernikahan yang kini tergeletak di meja kerja Raka—kertas tebal bermotif daun emas, nama Dimas dan Sinta tertulis rapi di bagian depan, dan di pojok kanan bawah, dua nama yang dicetak berdampingan seperti sebuah kebetulan yang kejam: Raka dan Alya, meja tujuh.

Raka tidak tahu apakah Alya akan datang. Ia tidak bertanya pada siapa pun. Selama sepuluh bulan terakhir, mereka hidup seperti dua garis sejajar yang dulu pernah bertemu di satu titik—masih mengarah ke arah yang sama, tapi tidak lagi bersentuhan. Alya menerima penugasan proyek di Singapura selama enam bulan, lalu memperpanjangnya menjadi sembilan. Kabar itu sampai ke Raka lewat Mbak Rina, bukan dari Alya sendiri, dan ia memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih jauh.

Hidupnya kini sederhana dan teratur. Ia pindah ke apartemen kecil dekat kantor, belajar masak lebih dari satu menu, dan berhenti menyimpan karcis ke mana pun. Kotak cincin perak itu masih ada di laci, tapi ia sudah jarang membukanya. Ia bahkan mulai bisa mendengar lagu-lagu lama mereka di radio tanpa mengganti stasiun.

Pagi ini, pukul sembilan, ia tiba di gedung resepsi lebih awal karena Dimas memintanya membantu menata galeri foto. "Lo kan sahabat gue yang paling jago soal naruh barang di tempat yang bener," katanya di telepon semalam. Raka hanya bisa tertawa kecil.

Di ruang persiapan, sebuah kardus bertuliskan "MEMORI DIM-SIN" menunggu dibuka. Raka membukanya, dan napasnya tertahan.

Di atas tumpukan foto pernikahan yang baru dicetak, seseorang—entah siapa—meletakkan sebuah album lama. Album biru kusam yang halamannya menguning. Raka mengenalnya bahkan sebelum membukanya. Itu album mereka. Album Alya dan Raka, yang seharusnya sudah lama ia kembalikan atau ia buang.

Pembuka Bab: ±274 kata

༺♡༻ Peristiwa Pemicu

Jari Raka membuka halaman pertama sebelum sempat berpikir. Polaroid pertama: pasar malam tahun lalu, Alya memegang es potong, tertawa dengan mata setengah terpejam, dan Raka di sampingnya tampak seperti pria paling beruntung di dunia. Polaroid kedua: mereka di atas motor tua, Alya memeluk pinggangnya dari belakang, tulisan di bawahnya dengan spidol biru—"motor mogok jam 11 malam, untung ada kamu."

Halaman demi halaman. Foto kopi pertama mereka di kedai dekat kampus. Foto ulang tahun Alya dua tahun lalu, wajahnya penuh krim kue. Foto mereka di pantai, basah karena hujan, dan di sudut foto tertulis kalimat yang membuat tenggorokan Raka menyempit: "Hujan nggak pernah salah. Asal ada kamu."

"Ketemu barang lama?"

Suara itu membuat Raka terlonjak hampir menjatuhkan album. Ia berbalik, dan dunia seolah menyempit menjadi satu titik di tengah ruangan.

Alya berdiri di ambang pintu, mengenakan dress sage yang jatuh anggun di tubuhnya, rambut diikat sederhana, tersenyum sopan seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar di balik senyumnya. Lebih kurus. Lebih tenang. Lebih jauh.

"Ly... kamu datang," kata Raka, dan suaranya terdengar seperti milik orang lain.

"Aku yang ngirim albumnya ke Dimas," kata Alya, melangkah masuk pelan. "Aku nemuin di kardus barang-barangku yang masih nyangkut di gudang kantor. Ada banyak barang kamu juga di dalamnya. Aku pikir, daripada aku buang, lebih baik dikembalin lewat yang berhak." Ia berhenti dua langkah darinya, dan untuk sesaat keduanya hanya saling menatap seperti dua orang asing yang mencoba mengenali bekas luka masing-masing.

"Sepuluh bulan," kata Raka akhirnya.

"Sembilan bulan sembilan belas hari," koreksi Alya, lalu langsung tersadar betapa aneh kalimat itu terdengar. Ia mengalihkan pandangan ke album. "Maaf aku ngintip-ngintip duluan. Aku pasang albumnya pagi-pagi, terus nggak tega ninggalin."

Raka menatap halaman terbuka di pangkuannya—Alya yang tertawa di pasar malam—lalu menatap Alya yang berdiri di depannya sekarang. "Kenangan masa lalu," katanya lirih, "ternyata suka ngintip balik ya."

"Kenangan nggak pernah ngintip, Rak," jawab Alya pelan. "Dia cuma nunggu di tempat semula, sampai kita berani lihat lagi."

Raka mengangguk pelan, tidak tahu harus memegang album itu atau meletakkannya. Kehadiran Alya di ruangan yang sama—bau parfum yang masih ia kenali, cara Alya memegang ujung dress saat gugup, kebiasaan lama yang entah kenapa masih bertahan—membuat sepuluh bulan terasa seperti ilusi. Seperti waktu tidak pernah berjalan, hanya berpura-pura.

"Singapur bagus?" tanyanya, mencari aman di percakapan paling dangkal yang bisa ia temukan.

"Rapi. Disiplin. Mahal." Alya tersenyum tipis. "Kamu?"

"Masih di perusahaan lama. Udah naik jabatan." Raka mengangkat bahu. "Hidupnya... rapi juga, kayaknya."

"Rapi," ulang Alya, dan ada sesuatu yang lembut namun perih di nadanya. "Kita akhirnya sama-sama hidup rapi, ya."

Di luar, terdengar tawa tamu-tamu pertama mulai memenuhi aula resepsi. Musik pengiring latihan berdenyut samar. Dunia terus berjalan, tidak peduli dua orang ini sedang berdiri di tengah puing-puing masa lalu mereka sendiri.

"Kita harus keluar," kata Alya akhirnya. "Dimas bakal cari kita. Dan meja tujuh... kelihatannya sudah nungguin kita berdua."

༺♡༻

Meja tujuh adalah meja paling jauh dari pintu masuk. Kebetulan yang nyaris sempurna, karena tidak ada yang bisa kabur tanpa melewati setengah tamu undangan. Raka dan Alya duduk bersebelahan dengan jarak yang canggung, saling memberi ruang seolah ada dinding tak kasat mata di antara kursi mereka.

Resepsi berjalan hangat. Makanan datang, foto keluarga berbaris, dan sepuluh menit pertama berlalu dalam keheningan yang mereka berdua rawat dengan gigih.

"Foto-fotonya bagus," kata Alya akhirnya, menunjuk galeri di dinding. "Yang lo pasang tadi."

"Masih ada tiga lembar yang belum kepasang," kata Raka. "Polaroid yang dari pantai."

"Yang basah karena hujan itu?"

"Iya. Yang ada tulisannya di sudut."

Alya diam sejenak. "Lo masih inget tulisannya."

"Hujan nggak pernah salah," kata Raka pelan. "Asal ada kamu. Susah dilupain, tulisan gituan. Spidolnya juga masih gue simpen di kantong jaket sampe sekarang."

"Lo masih nyimpen spidol itu?"

"Gue masih nyimpen banyak hal, Ly." Kalimat itu terlontar sebelum Raka sempat menahannya, dan ia memutuskan untuk tidak menariknya kembali.

Alya menatapnya dari samping. "Aku juga," katanya hampir berbisik. "Tapi nyimpen dan balik itu dua hal berbeda, Rak."

Malam semakin larut. Sesi foto bersama Dimas dan Sinta memaksa seluruh meja tujuh berkumpul di depan kamera, dan Raka mendapati dirinya berdiri tepat di samping Alya, bahunya hampir bersentuhan dengan bahunya. "Satu, dua, tiga!" teriak fotografer, dan di detik-detik sebelum rana tertutup, Alya berbisik tanpa menoleh.

"Lo kelihatan baik-baik aja. Aku lega."

Lihat selengkapnya